
Tuan Anderson, Xavana dan Bilygong tampak asyik memilih-milih sesuatu sambil tertawa-tawa gembira seperti sebuah keluarga bahagia.
"Cie...cie yang sedang memandang mantan terindah!!" kata Levia menggoda Valeria yang matanya tak lepas memandang sosok Xavana cinta masa lalunya.
"Ayah...sebaiknya kita bertiga beli baju couple...ayah, daddy, Xavana!!" mereka bertiga tertawa gembira saat mengenakan tiga baju yang sama.
Xavana seperti seorang anak kecil yang mencoba mencari baju couple kian kemari untuk mereka bertiga tanpa lelah.
"Waktunya kita makan Xavana...daddy juga ayah pasti lapar!!" kata tuan Anderson menyudahi keasyikan mereka.
Saat mereka asyik menunggu pesanan makanan datang, mata mereka bertiga bertatapan dengan mata para tiga wanita cantik yang ada di depan mereka.
"Valeria...." desis Xavana membuat tuan Anderson dan Bilygong mencari siapa yang di maksud oleh desisan Xavana tadi.
Tiba-tiba Valeria berdiri menghampiri mereka bertiga.
"Hai manta tunangan, hai mantan ayah mertua dan hai ayah Bilygong!!" kata Valeria sambil tersenyum.
Wajah Xavana mendadak kecut melihat Valeria.
"Wah ayah Bilygong hebat ya??? jauh-jauh dari dalam goa berkumpul dan berbaur dengan manusia tajir seperti mereka, ayah Bilygong kenal mereka di mana??" tanya Valeria kurang ajar.
"Jaga mulutmu, Vale...jangan berbicara yang bukan-bukan di depan ayahku!!" sentak Xavana sementara Bilygong dan tuan Anderson nampak tenang-tenang saja mendengar celotehan wanita itu.
"What??? ayahmu kamu bilang??? bukannya ayahmu itu tuan Anderson??" tanya Valeria lagi.
"Kenapa kamu selalu sibuk mengurusi urusan orang lain, Valeria?? sebaiknya kalian bertiga mengurusi suami kalian di istana bukannya melayap kemana-mana seperti ini seperti perempuan malam saja!!" kata Bilygong pedas.
"Suami mereka??" kata Xavana dan tuan Anderson bersamaan.
"Iya...suami mereka bertiga adalah putraku dari istri pertamaku namanya Kebebitak..." sahut Bilygong.
Xavana dan tuan Anderson tercengang mendengarnya.
"Wah...kalian hebat bisa saling akur ya?? aku jadi iri!!" seringai mengejek Xavana sungguh menyakitkan bagi Valeria.
Dia menghentakan kakinya kelantai dan kembali ke mejanya.
"Kamu juga sih cari gara-gara!!" kata Levia.
"Tapi apa maksud perkataan ayah dari kanda Kebebitak itu ya??" gumam Valeria.
"Perkataan apa??" tanya Shiera dan Levia kompak.
"Katanya dia itu ayah Xavana!!" kata Valeria.
"Bisa jadi kali mereka anak dan ayah karena terkadang kalau kulihat wajah kanda Kebebitak itu ada kemiripan dengan Xavana...tapi Xavana kan manusia tulen sedangkan kanda Kebebitak itu siluman kera kayak Sun Go Kong tapi lebih ganteng kanda Kebebitak sih bulu atasnya cuma sedikit tapi bulu di bawahnya lebat banget!!" kata Levia menyeringai mesum.
"Dasar otak ngeres...!!" kata Shiera.
"Kayak situnya ngga!!" kata Levia ngga mau kalah.
"Sullivan tuh yang kenyang!!" kata mereka sambil tertawa.
********
"Bang..." kata Almira mengintip ke dalam kamar.
Di dalam kamar Xavier, Revita dan Xander saling tidur berpelukan sementara Miranda juga tengah tertidur pulas di dalam boks nya.
Almira masuk perlahan kemudian duduk di pinggir ranjang memandang ketiganya.
"Kalian yang akur ya...maaf mommy tidak bisa bersatu lagi dengan ayah kalian, terlalu sakit rasanya bekas luka pengkhianatan yang di torehkan oleh bang Xavier di hatiku!!" gumam Almira lirih.
Dia teringat saat dia masih memperjuangkan cinta dan rumah tangganya, sementara Xavier malah berbagi cinta dan cerita dengan Sullivan meninggalkannya sendirian di rumah pantai hanya ditemani oleh almarhum kakek Dahlan.
Terlalu sakit memang jika harus diingat, tetapi dari hasil pernikahan mereka juga ada Xander dan Revita.
Almira tidak boleh egois jika menghalangi putra putrinya bertemu dengan ayahnya.
Saat Almira hendak beranjak berdiri, tiba-tiba tangannya di tarik oleh Xavier jatuh ke dalam pelukannya.
Almira ingin berteriak tetapi Xavier memalangkan jari telunjuknya di bibir Almira agar tidak berisik supaya tidak membangunkan ketiga anak-anak itu.
"Tidurlah sebentar dalam pelukan abang..." bisik Xavier ketelinga Almira.
"Abang kangen saat-saat seperti ini bersamamu!!" bisik Xavier lagi.
Akhirnya Almira membiarkan tubuhnya dipeluk oleh Xavier, mendengarkan debaran jantung Xavier yang berkejaran tepat di telinganya.
Mendengarkan bisikan Xavier tepat di telinga...
"Abang kangen dek, seandainya bukan karena kebodohan abang yang tidak bisa bersikap tegas, tentu sekarang kita masih bersama dalam menjalani biduk rumah tangga.
Tiba-tiba Miranda menangis terbangun dari tidurnya.
Itu menjadi alasan bagi Mira untuk melepaskan diri dari dekapan tangan Xavier.
Cup...cup...cup
"Sayang ada apa?? Tanya Almira.
"Dedek Mira pipiskah atau pup kah??" kata Almira.
Kelembutan yang dimiliki oleh Almira di balik sikap bar-bar nya itulah yang membuat anak-anak betah bersama dengannya.
Dan Xavier tau teramat jauhnya perbedaan sikap antara Almira dan Sullivan.
Almira yang lemah lembut dan mandiri sedangkan Sullivan yang manja dan kekanakan juga cengeng.
Sementara itu....
"Kalian curang perginya lama sekali!!" kata Sullivan merajuk pada ketiga temannya.
"Aku di sini kesepian tau..." kata Sullivan.
"Lho....kanda Kebebitak kemana?" tanya Levia.
__ADS_1
"Kanda Kebebitak sudah dua hari pergi menemui orang-orangnya!!" kata Sullivan.
"Sulli kamu tau siapa yang kami temui di luar sana?? kami bertemu dengan ayah kanda Kebebitak mungkin bersama putranya yang lain??"
"Apa menurut kalian kanda Kebebitak tau akan hal ini??" tanya Sullivan lalu disambut dengan gelengan kepala kedua sahabatnya.
"Jangan-jangan ayah Bilygong sudah menjadi seorang pengkhianat!!" lirih Sullivan.
"Pengkhianat gimana maksudmu, Sulli??" tanya Levia.
"Ah, sudahlah...jangan ikut campur urusan mereka...biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri!!" kata Shiera.
"Betul itu...aku tidak mau terlibat terlalu dalam dengan urusan mereka!!" kata Levia diikuti anggukan kepala dari Sullivan.
*******
"Yula...kemarilah...mengapa kamu hanya mondar mandir di luar pagar begitu??" tanya Matsuyama pada sahabatnya itu.
"Apa Almira belum kembali??" tanyanya pada Matsuyama.
"Belum Yula, aku sudah mencoba menelpon istriku tapi sinyal di peternakan beberapa hari ini jelek jadi panggilan tidak bisa tersambung." Kata Matsuyama.
"Apa ada kabar yang kamu bawa Yula??" tanya Matsuyama lagi.
"Masuklah Yula bicaralah di dalam!!" kata Matsuyama tetapi Yula menggeleng sepertinya ada sesuatu yang ditakuti olehnya.
Dia hanya menyerahkan secarik kertas yang dilipatnya rapi lalu dia berpamitan pergi.
Dengan cepat Matsuyama mengambil gulungan kertas itu dan menyimpannya di saku celananya.
Dia masuk ke dalam kamar dan membaca pesan yang ditulis dengan tulisan tangan itu.
"Hati-hati...sang ketua mengincarmu dan Almira...berat dugaan yang membunuh kedua orang tuamu adalah orang-orang sang ketua dan bukan putra putri Sinoe, kalian telah diadu domba...
Saat kamu merobek perut Sinoe dan keluar dari dalam perutnya sebenarnya Sinoe belum mati...tiba- tiba ada yang datang belakangan dan ambil kesempatan memenggal kepala ular siluman itu lalu menjatuhkan fitnah keji padamu sehingga kedua anak Sinoe mencari dan ingin membunuhmu.
Berhati-hatilah...
Matsuyama kembali melipat surat itu dan menyimpannya rapat-rapat.
Sore ini dia ingin menelpon istrinya lagi, mungkin dia besok akan menjemput anak dan istrinya, Matsuyama takut akan terjadi sesuatu di sana.
Ddrrrtttt....dddrrrttt....
π±"Halo..."
Suara yang sangat dirindukan oleh Matsuyama terdengar merdu.
π±"Dek..."
Hanya itu yang bisa Matsuyama ucapkan untuk mewakilkan perasaannya saat ini.
π±"Abang??? benarkah ini abang Matsuyama??"
Suara dari seberang sana terdengar sangat gembira.
Ada nada kekecewaan dalam nada suaranya.
π±"Maaf Mira sayang, sinyal di sini sangat buruk sehingga abang susah untuk menghubungimu...bagaimana putri kita?? apakah dia sehat?"
Suara Matsuyama tampak bergetar. Apalagi dia ingat jika dia sudah menikahi Bonita.
π±"Abang kenapa?? abang sakit??"
Suara Matsuyama yang sedikit bergetar rupanya tertangkap oleh telinga Almira.
π±"Abang hanya terlalu kangen padamu!! ya sudah ya, cuaca di sini mulai memburuk lagi, abang matikan dulu ponselnya...love you sayang...."
π±"Love you abang!!"
Tanpa sepengetahuan Almira, ada sepasang telinga yang ikut mendengarkan percakapan kedua suami istri itu.
"Tidak...Almira tidak boleh pulang, aku harus merundingkan pada Xander dan Revita untuk mencegah mommy mereka pulang kembali ke peternakan."
Rupanya Xavierlah yang telah mencuri dengar percakapan Almira dan Matsuyama tadi.
Dia memang tidak rela Almira meninggalkan dirinya dan anak-anak lagi untuk pulang kepeternakan.
"Jangan tinggalkan abang lagi dengan Xander dan Revita di sini, dek...entah mengapa abang merasa akan terjadi sesuatu padamu jika kamu kembali kepeternakan." Lirih suara Matsuyama.
"Ayah ingin kami membantu agar mommy tidak jadi pergi meninggalkan kita kan??" suara Revita yang menggandeng Xander terdengar di telinga Xavier membuat laki-laki muda itu terlonjak karena kaget.
"Aduh, anak-anak...kalian berdua membuat ayah kaget, tau!!" kata Xavier yang disertai oleh senyuman Xander dan Revita.
********
"Mommy...mommy...." teriakan Revita yang nyaring mengagetkan orang satu mansion.
Almira yang baru saja menidurkan Miranda juga ikut kaget dibuatnya.
Kakek Kojiro, Aliandhara dan tuan Kelvin yang sedang bercengkerama duduk di ruang keluargapun terkaget dibuatnya.
Bergegas Almira lari ke kamar anak-anaknya di sebelah kamarnya dan Miranda.
"Ada apa Revita?? kenapa berteriak-teriak begitu??"tanya Almira pada putrinya itu.
"Xander sakit, mommy...badannya panas banget!!" kata Revita menangis melihat kembarannya sakit.
Xavier dan yang lainnya juga datang tergopoh-gopoh masuk ke kamar.
"Ada apa dengan anak kita, dek??" tanya Xavier cemas.
"Revita sakit, bang!!" sahut Almira.
"Sebaiknya ayah teleponkan dokter keluarga aja, ya??" sahut tuan Kelvin.
"Tapi di luar hujan badai yah...Alia dan Redo aja terjebak badai di kampus ngga bisa pulang ke mansion!!" kata Aliandhara.
__ADS_1
"Jadi kita harus bagaimana??" tanya tuan Kelvin sangat panik.
"Mommy...mommy...jangan puyang tinggalin sandel, levita dan ayah..." igau anak usia dua tahun setengah itu.
"Iya sayang...mommy nanti bilang sama daddy Matsuyama kalau mommy dan adik Miranda ngga jadi pulang dulu kepeternakan karena Xander sedang sakit." Jawab Almira menciumi wajah putranya.
"Mommy sini aja sama ayah temanin Sandel ya??" kata Xander pelan.
"Bang, tolong bawa Miranda kemari...kita tidur di sini aja nemenin Xander!!" kata Mira.
"Tapi besok kamu ngga akan pulang ke peternakan ninggalin anak-anak kan dek??" tanya Xavier cemas.
"Ngga bang, biar aku bilang ke bang Matsuya kalau kepulanganku di tunda dulu sebab Xander sakit dan ngga mau di tinggal!!" kata Mira lagi.
Lalu setelah agak tenang semua keluar menyisakan satu keluarga kecil itu saja di dalam kamar.
Tanpa Almira lihat, Xavier, Xander dan Revita saling mengedipkan mata mereka satu dengan yang lain.
(Memang anak-anak dan ayah yang kurang ajarππ).
Akhirnya malam itu Revita tidur di sofa dekat adik bayinya Miranda sedangkan Xander tidak mau jaug dari ayah dan mommynya membuat Almira tidur seranjang dengan Xavier tapi dibatasi ditengah oleh Xander.
Hati Almira berdegup kencang begitu pula dengan Xavier. Apalagi Xavier selalu memandanginya membuat Almira cepat-cepat memejamkan matanya untuk pura-pura tertidur agar menghindari tatapan mata tajam sang mantan yang mampu mengobrak abrik pertahanan hatinya.
Sementara Xander dan Revita hanya saling pandang lalu tersenyum melihat mommy dan ayahnya salah tingkah seperti itu.
Sementara di peternakan....
Hati Matsuyama diliputi kehampaan dan kecemasan.
Hampa karena harus terpisah jauh dengan istri tercinta dan cemas memikirkan apa yang akan dia jelaskan nanti saat Almira kembali tentang pernikahan keduanya dengan Bonita.
"Matsuya...sejak kepulanganmu dua hari yang lalu, ayah lihat kamu terlihat gelisah dan cemas, sebenarnya ada apa??" tanya Giandra lalu duduk di samping menantunya itu.
"Ayah, bolehkah Matsuya menanyakan sesuatu pada ayah??" kata Matsuyama pelan.
"Jika hanya pertanyaan akan ayah jawab sebisa mungkin, Matsuya...asal kamu jangan meminta uang saja pada ayah, karena ayah tak pernah memegang uang sepeserpun." Kata Giandra.
Matsuyama tersenyum mendengar perkataan ayah mertuanya itu.
"Yah, apakah selama ayah menikah dengan ibu Serafin, ayah pernah membohongi ibu??" tanya Matsuyama pelan.
Giandra menoleh dulu ke dalam rumah sebelum menjawab.
"Pernah!!" kata Giandra setengah berbisik.
"Apa itu yah??" tanya Matsuyama.
"Ayah pernah memakan ubi bakar bagian ibumu tetapi karena takut ibumu marah pada ayah maka ayah fitnahlah Giovanno saat masih kecil dulu, ayah bilang Giovannolah yang mengambil dan mencurinya.
"Apakah ibu percaya??" kata Matsuyama.
"Sebenarnya ibumu tidak percaya begitu saja karena ibumu tau bahwa saat Giovanno masih kecil dia tidak terlalu suka makan ubi bakar." kata Giandra lagi.
"Tetapi karena tidak ada bukti yang mengarah ke ayah, mau tidak mau ibumu percaya!! Giandra mengakhiri ceritanya sambil celingukan melihat kearah dalam.
"Memangnya kenapa Matsuyama?? kamu punya rahasia yang harus kamu sembunyikan dari Almira istrimu??" tanya ayah mertuanya itu seolah sudah tau apa yang ingin di sampaikan oleh Matsuyama.
"Ayah...Matsuya mohon maaf beribu maaf...Matsuya tidak sanggup untuk menyimpan beban ini sendirian!!" suara Matsuyama terasa tercekik di tenggorokan.
"Sebenarnya kamu ada masalah apa, Matsuya??" tanya Giandra pelan tetapi sebagai lelaki dewasa sebenarnya dia sudah bisa menangkap apa yang nanti akan diceritakan oleh menantunya itu.
"Yah...Matsuyama dijebak!!" kata Matsuyama tercekat.
Lalu Matsuyama menceritakan bagaimana kronologi kejadian sampai dia harus menikah lagi dengan wanita lain.
"Tapi Matsuyama berani bersumpah bahwa Matsuyama sama sekali tidak berniat untuk mengkhianati pernikahan Matsuyama dengan Almira, yah...karena bagi Matsuyama Almiralah satu-satunya wanita yang sangat Matsuya cintai!!"
"Siapa wanita yang telah menjebakmu itu, Matsuya??" Giandra berusaha berlaku setenang mungkin.
"Namanya Bonita, yah...dia putri paman Bara Seta sendiri."
JEDARRRR...
Bagaikan petir yang menyambar di depan wajahnya tubuh Giandra tampak gemetar menahan hawa amarah yang mulai merasuki dirinya.
"Tetapi ayah jangan marah kepada paman Bara Seta, paman tidak ikut menjebakku bahkan beliau tidak tau menahu tentang hal ini!!"
"Ini permainan licik putrinya yah, dia telah memperko*sa Matsuyama saat Matsuyama merasakan sakit akibat hantaman ekor anak dari Sinoe itu dan mengalami demam tinggi."
"Maksudnya gimana sih, Mstsuyama...kok jadi kamu yang diperko*sa oleh putri si Bara Seta itu, gimana ceritanya??" tanya Giandra kurang begitu mengerti maksud Matsuyama.
"Dia mengambil kesempatan di saat Matsuya pingsan, dia melucuti seluruh pakaian Matsuyama dan lalu bergerak sebagai pemain tunggal!!" kata Matsuyama.
"Maksudmu dia menancapkan sendiri miliknya ke tongkat pusakamu saat kamu dalam keadaan pingsan, begitukah kira-kira" tanya Giandra.
Matsuyama hanya mengangguk lesu.
"Bukan hanya sampai di situ saja yah, Matsuyama dituntut untuk menikahi dia." kata Matsuyama lirih.
JEDARRR...
Sekali lagi Giandra merasakan petir itu menghantam dadanya.
"Kamu telah mengkhianatinya dua kali, Matsuyama...!!" kata Giandra.
"Pertama kamu sudah melakukan penyatuan raga dengan gadis itu, yang kedua kamu juga pada akhirnya menikahi dia walaupun dengan terpaksa." Kata Giandra pelan.
"Maafkan aku yah...sekali lagi tak ada niat sama sekali di hati Matsuya untuk menyakiti hati Almira!!"
*
*
****Bersambung....
Apakah kejujuran Matsuyama akan mendatangkan mala petaka bagi keluarga kecil mereka???
__ADS_1
Haloooo reader yang aku cintai...jangan lupa beri dukungannya yaππππππ