
Lalu mereka bertiga menunggu di teras rumah dengan barang bawaannya.
"Bagaimana perasaan ibu?" tanya Xavier kepada ibunya Serafin.
"Ibu sangat gugup, Gio...ibu takut Almira akan membenci ibu dan ayahmu karena telah menelantarkannya selama kurang lebih 18 tahun ini!!" jawab Serafin.
"Gio lebih gugup lagi, ibu!! Gio dan Almira pernah saling mencintai, tapi pada akhirnya takdir mengatakan lain." jawab Xavier.
"Ayo kita berangkat..." Giandra sudah berteriak, lalu mereka memasukan sedikit bawaan yang akan mereka bawa.
"Aduh...belum ketemu aja hatiku sudah tak karuan rasa begini!!" bisik Xavier.
"Ya Allah, andaikan saja Almira itu bukan adikku...betapa bahagianya rasa hatiku.!!"
"Seandainya ada sebuah keajaiban ya??? sebuah fakta yang mengungkapkan bahwa kami tak ada pertalian darah sama sekali!!"
"Hei...jangan melamun, Gio!!" Giandra menepuk pundak putranya yang duduk di sebelah kusir kereta.
"Kira-kira kita sampai keseberang berapa lama, kek?" tanya Serafin.
"Jika kita berangkat pagi begini satu jam perjalanan menggunakan kereta, sampai di pelabuhan kita menumpang klotok untuk sampai di seberang kurang lebih lima jam...kalau tak ada halangan lewat dzuhur kita sampai di seberang."
"Besok pagi baru kita mencapai bandara..." jelas kakek Kojiro.
"Maklumlah kek, sudah 18 belas tahun kami terkurung di lembah jadi sudah tak tau lagi perkembangan dunia luar!!" jawab Giandra sambil terkekeh.
Hampir satu jam kemudian...
"Ayah...apakah ayah tidak merasa?" bisik Serafin pada Giandra suaminya sementara kakek Kojiro dan Xavier yang tadi pindah duduk kedekat ayah Kojiro sedang tidur...tidur ayam.
"Ayah merasa aneh aja, Sera...kalau ini jalan menuju kepelabuhan penyeberangan klotok (tau klotokkan? Itu lho perahu yang agak besar dengan mesin dan bisa mengangkut kendaraan roda dua juga) tentu semakin kesini akan semakin ramai tapi ini kok perasaan sepi banget...ayah hampir tak mendengar bunyi suara angin sekalipun.
"Coba ayah sibakan tirai kereta itu yah...tanya sama kusirnya kapan kita sampai?" kata Serafin.
Giandra menyibak tirai kereta, pemandangan pertama yang membuat dia kaget setengah mati adalah si kusir kereta.
"Astaghfirullah...." suara Giandra tercekat di tenggorokan.
"Ada apa yah?" tanya Serafin juga ikut kaget sementara Kojiro dan Xavier juga terbangun karena mendengar suara berisik itu."
"Kusir itu, Sera!! kusir itu menjalankan kereta tapi ngga ada kepalanya...terus kepalanya ada di pangkuannya sendiri dan matanya tadi sedang melirik pada ayah dan tersenyum menyeringai.
__ADS_1
"Dan kudanya itu hanya terdiri dari tulang kerangka kuda tanpa daging, Sera!!" Giandra bergidik.
Kakek Kojiro dan Giandra mencoba menyibakan tirai jendela di samping mereka duduk.
"Ini jalan menuju kelembah kematian, Xavier!!" kata kakek Kojiro tertahan.
Xavier yang memang tidak tau menau tentang lembah kematian tenang saja, tetapi Giandra, Serafin dan kakek Kojiro yang sudah lama berkecimpung di dunia persilatan tampak pucat wajah mereka.
"Dari mana kamu mendapatkan kereta ini, Giandra?" bisik kakek Kojiro pelan.
"Tadi pagi di ujung desa pas Giandra mau mencari kereta tapi tak satupun yang kelihatan, hanya kereta ini saja yang ada baru dia mau dibayar harganya agak miring ya kuambil saja dari pada ngga ada!!"
"Ini kereta kendaraan orang-orang lembah kematian, Giandra...yang duduk ngejongkrong memangku kelapa eh kepalanya itu adalah Aragon penjaga lembah pintu pertama."
"Sebaiknya kita cepat keluar dari kereta ini sebelum Aragon membawa kita masuk melewati pintu pertama...siapapun yang sudah masuk kedalam lembah maka tak akan pernah selamanya bisa keluar lagi kecuali mereka yang menginginkan kita untuk pergi dalam keadaan hidup tentunya." jawab kakek Kojiro.
Serafin mencoba mendobrak pintu dengan kekuatannya tapi berkali-kali dia terpental seperti membentur sesuatu yang keras tapi tak kasat mata.
Semua sudah mencobanya tapi tak satupun yang bisa melakukannya.
"Giovanno, gunakan kalung yang melingkar di lehermu itu...karena kalung kepala naga itu adalah penangkal dari segala ilmu hitam...kerahkan tenaga dalammu serap kekuatan kalungmu itu lalu hempaskan."
Xavier dengan cepat mengikuti aba-aba dari ayah angkatnya. Dia menggenggam erat kalung miliknya menyerap segala kekuatan yang ada di dalam kalung itu, dannn....
Pintu kereta kencana yang ditarik oleh kuda tengkorak itu meledak dahsyat. Dengan cepat mereka berempat berlompatan dan dengan ilmu lari cepat yang mereka miliki mereka kembali dari arah datangnya kereta kencana tadi.
"Lari...terus lari jangan menoleh lagi kebelakang!! Jika kita lengah maka tabir penghubung alam kita dan alam mereka akan tertutup tanpa kita sadari."
Mereka terus berlari tanpa menghiraukan lagi tawa melengking mengerikan dari Aragon.
"Aduh...napasku sudah hampir putus yah... kata Xavier terengah-engah!!"
"Sudah kamu jangan mengeluh terus Xavier, dari pada kamu tak bisa keluar dari tempat ini?"
Mereka berempat tiba di luar tabir pembatas bertepatan dengan menutupnya celah gaib yang menghubungkan dunia manusia dengan dunia gaib.
"Siapa sih mereka itu?" tanya Xavier entah ditujukan kepada siapa. Yang jelas wajah mereka yang tadi pucat pasi bisa berdarah kembali.
"Mereka adalah anak buah ratu Hikaru...." jawab kakek Kojiro.
"Padahal aku berharap kita bisa menikmati bekal dulu sebelum naik klotok keseberang pulau." kata kakek Kojiro.
__ADS_1
*
*
"Kenapa kamu gelisah Chucky?" tanya Matsuyama pada Almira.
"Entahlah Cowi, aku merasa abangku Xavier sedang dalam bahaya besar....entah mengapa aku sejak tadi kepikiran dia terus!!" kata Almira.
"Bukannya kamu memang selalu memikirkan dia setiap menit?" tanya Matsuyama.
"Iya sih!!" jawab Mira sambil nyengir.
Matsuyama menginap di tempat kediaman Almira untuk menghemat uang. Walaupun harus menghadapi cemberutan dan keketusan kakek Dahlan.
"Tapi serius aku mencemaskan mereka, Cowi!!" jawabku
Matsuyama meraih tangan Almira, menggenggamnya dan memejamkan matanya berusaha masuk kedalam alam bawah sadar Almira.
"Kamu benar!! Xavier dan ayahnya kakek Kojiro beserta dua orang laki-laki dan perempuan entah siapa baru saja lolos dari bahaya."
"Bahaya apa Cowi??" kataku semakin penasaran karena penjelasan Matsuyama yang mengambang.
"Mereka naik kereta kencana milik Aragon menuju lembah kematian...untuk mereka cepat menyadari, jika tidak bisa-bisa mereka pulang hanya tinggal nama!!"
"Siapa itu Aragon? "tanyaku pada Matsuyama.
"Aragon adalah penjaga pertama lembah kematian. Dia mempunyai kebiasaan unik dan mengerikan yaitu suka melepaskan kepalanya dan memangkunya kepalanya di atas pangkuannya.
"Lembah kematian... Aragon....aku sama sekali tak mengenal mereka!!" jawabku.
"Kamu memang sebaiknya tak usah mengenalnya...apalagi berharap bertemu dengannya lagi...!"
Almira terdiam. Pikirannya masih tertuju pada Xavier.
"Semoga kamu baik-baik saja abangku...kekasihku." bisik Almira.
"Hei...apa maksudnya kalian saling berpegangan tangan di dapur begini?? kata kakek Dahlan melotot melihat kearah keduanya.
*
*
__ADS_1
***Bersambung...
Untunglah mereka berempat bisa keluar dari lembah kematian, ikuti terus kisah mereka selanjutnya ya guys...dapatkah mereka berempat bertemu dan berkumpul kembali??