Mr.Playboy Vs Miss.Dingin

Mr.Playboy Vs Miss.Dingin
Bab 97 Kumiliki Dirimu


__ADS_3

"Boleh kak, dari pada kita bertiga menunggu bus yang lewat, lagi pula Almira perutnya sakit kena tendangan tadi." jawab Matsuyama.


Shiera membukakan pintu depannya untuk Xavier, sementara Almira duduk di belakang bersama Matsuyama.


Xavier dan Shiera terlibat obrolan serius, apalagi mereka berdua sama-sama dosen, sementara Almira dan Matsuyama hanya diam saja di belakang.


Sekarang Xavier sudah kembali mengajar lagi di kampus tempat Almira berkuliah.


Hubungannya dengan Shiera semakin dekat, setidaknya Shiera selalu melengketkan diri di samping Xavier. Dan Almira hanya bisa berdoa untuk kebahagiaan abangnya itu.


Almira berjalan gontai menuju taman belakang tempat dia biasa menyendiri.


Tak sengaja dia melihat pertengkaran Matsuyama dan Sima di sana.


"Baiklah...maunya kakak bagaimana? Matsuyama sudah meminta kakak pulang keperguruan secara baik-baik, jangan sampai Matsuyama menurunkan tangan keras pada kakak, karena kakak Matsuyama liat langkahnya sudah semakin tersesat jauh.."


"Coba saja anak ingusan!! gayamu sudah seperti orang yang paling tinggi ilmumu saja."


"Baik kak Sima jika kakak memaksa tapi tidak di sini, Matsuyama tidak mau membuat kehebohan di sin!!"


"Siapa takut padamu anak ingusan?? kita buktikan saja mulut besarmu itu."


Sima melesat pergi diikuti dengan Matsuyama. Almira yang tak ingin melihat sahabatnya celakapun juga ikut melesat pergi.


Kepergiannya hampir bersamaan dengan kedatangan Xavier ke tempat itu.


"Kemana dua bocah nakal itu...pagi-pagi sekali, belum.sempat mataku melek mereka berdua sudah ngilang ngacir berangkat kuliah duluan, aku pulang nanti malam mereka sudah pada tidur."


"Sudah 3 hari ini aku tidak bertegur sapa dengan Almira...ini pas mata kuliahku, awas saja jika mereka berdua tak ada, akan kusidang di rumah nanti." ujar Xavier.


"Kemana perginya mereka ya?? kata Xavier sambil celingukan.


"Pak Xavier Giovanno...saya mencari-cari bapak kemana-mana sekalinya sedang celingukan di sini!!" sapa seseorang yang membuat Xavier menoleh.


"Oohh ibu Shiera!!! ada perlu dengan saya?? sampai mencari saya segala?" tanya Xavier.


"Saya mau mengajak pak Xavier makan di kantin." Kata Shiera sambil tersenyum manis.


"Anda sedang mencari siapa di sini pak?" tanya Shiera lagi penasaran.


"Saya sedang mencari Almira dan Matsuyama!!" jawab Xavier.


Matsuyama dan Almira itu pacaran ya pak!!" tanya Shiera saat mereka berdua jalan bareng menuju kantin.


"Setauku sih bukan...mereka berteman baik!!" jawab Xavier.


"Ngga ada pertemanan di antara pria dan wanita dewasa jika tak ada hubungan khusus, pak!!" jawaban Shiera seperti memprovokator Xavier.


"Ngga boleh...Almira tidak boleh pacaran dengan siapapun..." jawab Xavier spontan.


"Ngga boleh gitu, pak...saya lihat mereka berdua cocok kok...yang satu imut yang satu chuby dan gemesin."


Wajah Xavier tambah tak karuan, berkali-kali dia membuang pandangannya agar suasana hatinya bisa stabil kembali.


"Mengapa aku tak rela jika Almira bersama dengan orang lain??? seharusnya aku tak boleh egois, aku hanya masa lalu Almira sebagai kekasihnya dan aku bukanlah lagi masa depannya."


Xavier menatap kosong kearah kejauhan. Dia masih berusaha mencari kemana Almira dan Matsuyama pergi.


Sementara Almira yang melesat mengikuti Matsuyama dan Sima berhasil sampai. Dia bersembunyi di balik semak belukar.


"Ayo bocah sombong, perlihatkan kemampuanmu...apakah kamu memang hebat atau hanya sekedar bualanmu saja!!" Sima berdiri menjejakan kedua kaki jenjangnya di pasir pantai.


"Aduh...mampu ngga Cowi melawan kakaknya itu ya!!" Almira jadi cemas melihat Matsuyama nampak tenang-tenang saja.


Sima nampak mengempeskan perutnya. Dadanya tampak menggembung besar sambil menyalurkan seluruh hawa murninya membagi ketangan kiri dan kanannya.


Hiaattt...


Sima meluruskan kedua lengannya kedepan mengarah Matsuyama.


Saat dua telapak tangan itu terbuka, dia mendorong pelan. Serangkum angin panas berwarna merah keabu-abuan meluncur cepat menghantam kearah Matsuyama.


Dengan tenang Matsuyama memutar kedua pergelangan tangannya lalu tampak serangkum angin sangat dingin tanpa warna datang menyongsong pukulan Sima.


Kedua kekuatan besar itu tampak saling dorong mendorong yang menimbulkan percikan angin panas dan dingin bersaman. Rambut dan kemeja yang di pakai Almirapun tampak berkibar.

__ADS_1


"Aduh...jangan sampai tali kutangku lepas terkena kerasnya hembusan angin ini ya???" kata Almira sambil mengarahkan tangan kirinya memegang belakangnya.


"Aman...aku tak mau saat membantu Matsuyama jika dia dalam keadaan terdesak, malah aset berhargaku gondal gandil ngga karuan tanpa penyangganya...apa nanti kata Matsuyama??? bisa habis-habisan aku diejek olehnya.


Kaki Sima tampak mulai goyah... hawa panas yang keluar dari telapak tangannya tampak mundur terdorong oleh hawa dingin dari tenaga dalam milik Matsuyama.


"Gila ni bocah...tenaga dalam yang dia miliki boleh juga...aku salah menilainya dan menganggapnya enteng."


Mendapati dirinya hampir kalah tiba-tiba Sima mengubah serangannya.


Dia melompat dua kali jungkir balik di udara untuk menghindari angin pukulan Matsuyama dan pukulannya sendiri.


Wussss....


Angin pukulan lewat di belakang Almira tanpa sempat dia hindari.


Tes....


Sebuah benda tampak putus terserempet angin tadi.


"Aduh...benerkan dugaanku...putus deh...bagaimana ini!!" Almira gelabakan saat merasakan benda putus di belakangnya adalah tali bra nya.


"Makanya kalau punya buah melon itu ditinggal di rumah jangan digendong kemana-mana...gendongannya lepas begini repotkan...perlu abang bantu pegang supaya tidak jatuh??"


Almira langsung jatuh terduduk sangking kagetnya mendengar suara Xavier dekat sekali di belakang telinganya.


Xavier langsung menangkap tubuhnya agar tidak terjerembab ke belakang.


"Mira...Mira...ini sih lebih besar dari buah melon, pantasan aja tali kutangmu ngga kuat menyangganya!!"


"Abang..." Almira memukuli Xavier yang telah membuatnya terkejut itu juga berusaha melepaskan diri dari lengan kekar Xavier yang melingkar di depan dadanya.


Bagaimana Xavier bisa sampai kesitu...


Flashback...


Sewaktu di kantin saat makan dengan Shiera, Xavier sangat gelisah...ucapan-ucapan Shiera yang bagaikan kompor mleduk sangat membakar hatinya.


Saat Shiera pamit sebentar ke toilet maka Xavier langsung membayar harga makanan mereka dan langsung ngibrit meninggalkan kantin itu.


Dia ijin tidak mengajar hari ini dan digantikan oleh asisten dosennya.


Dia berlari mengikuti nalurinya dan perasaan cintanya yang terhubung melalui ikatan batinnya dengan Almira.


Flashback off...


Awalnya dia ingin menegur Almira yang sedang sembunyi blasak blusuk di semak-semak tetapi tidak jadi saat dia melihat di depan sana Matsuyama dan Sima sedang beradu tenaga dalam.


Wussss...


Sekali lagi angin pukulan menghantam dan melewati mereka membuat posisi Almira yang sedang dipeluk Xavier dari belakang benar-benar hilang keseimbangannya.


Almira jatuh duduk di atas pangkuan Xavier.


"Bang, abang mengantongi kayu ya kok rasanya di pantatku ada yang ganjel??" kata Almira heran.


"Itu tongkat pusakaku..." jawab Xavier dengan wajah memerah.


"Ngapain sih pergi mengajar kok bawa tongkat pusaka segala??? purnama merah masih seminggu lagi jadi untuk apa di bawa kemana-mana dan tolong nih tangan dikondisikan ya...jangan gerayang kemana-mana!!" Almira menepuk berusaha melepaskan tangan Xavier yang mulai tidak tenang bergerilya di dadanya.


Bukannya melepaskan tangannya Xavier malah bertanya dengan suaranya yang mulai berat dan serak.


"Sayang...kamu pakai CD ngga!!" tanyanya.


"CD?? CD apa??" tanya Almira polos.


"****** ***** yang!!" suara Xavier sudah mulai sangat serak apalagi Almira yang duduk di pangkuannya bergerak terus dengan tidak tenang untuk melepaskan tangan Xavier dari dadanya.


"Ya pakailah bang...gila aja kali kemana-mana kok ngga pakai ****** *****...apalagi Mira hanya pakai celana kulot begini sudah di atas gondal gandil masa yang di bawah gondal gandil juga...aneh!!" kata Almira.


Xavier semakin tak terkendali. Tangannya terus bergerak liar sementara bibirnya juga bergerak liar di leher Almira.


" Duduk menghadap ke abang, sayang..." katanya dengan tatapan mata yang mulai berkabut diselimuti gairah.


"Tapi nanti Almira tidak bisa membantu Matsuyama jika dia dalam keadaan bahaya, bang!!" kata Almira mulai kesal dengan tingkah abangnya yang mulai dia rasa aneh itu apalagi sesuatu yang mengganjal dibelakangnya semakin lama semakin keras.

__ADS_1


"Apa sih yang keras banget ini??? aku kok jadi penasaran!!" pikir Almira dengan polosnya.


Akhirnya dia menuruti juga kemauan abangnya untuk duduk menghadap kearahnya.


Almira sudah tidak mampu lagi berkata-kata saat bibir ranumnya dibabat habis oleh Xavier sementara gerakan tangan Xavier malah membuatnya merasakan sensasi yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.


"Mira...abang masukan ya!!" desisan lirih suara Xavier.


"Apa yang dimasukan bang, mau dimasukan kemana?" tanya Almira.


"Berdiri sebentar..." perintah Xavier singkat.


Dan seperti kerbau dicucuk hidungnya Almirapun mengikuti saran abangnya.


Xavier membuka risleting celananya dan mengeluarkan tongkat pusakanya di depan Almira.


Almira yang memang tak pernah melihat seperti itu jadi takjub.


"Ini kah yang abang bilang tongkat pusaka? kok ukurannya segini aja? bagaimana mau di bawa berkelahi!!" tanyanya polos.


"Bertempurnya sama kamu!!" bisik Xavier.


Tangannya dengan tak sabar menarik kulot yang dipakai oleh Almira.


"Bang...apa-apaan sih??? kenapa kulot dan celana Mira dipelorotkan begini?" Almira jadi kalang kabut mau menariknya kembali.


"Buka dan duduklah menghadap abang di sini!!" perintah Xavier.


Dengan terpaksa Almira yang telah polos di bagian bawah duduk menghadap Xavier.


Xavier tampak memegang senjatanya yang sudah sangat mengeras.


"Sekarang kamu duduki ini, masukan pelan-pelan kesini dan dorong ya!!" perintahnya lagi.


Almira tampak meringis menahan sakit saat dia berusaha memasukan benda yang diarahkan Xavier itu untuk dia duduki.


"Sampai masuk sayang...mari abang bantu!!" desis Xavier.


"Sakit bang...Mira ngga tahan lagi...sakit banget!!" rintih Almira berusaha menahan pinggangnya yang didorong oleh Xavier ke bawah sementara dia mendorong dari bawah ke atas.


"Kamu rileks aja...sedikit lagi ya tinggal sedikit lagi sudah masuk semua!!"


"Berdarahkan bang...kayaknya ada yang luka deh!!" rintih Almira yang malah membuat Xavier menggila.


Almira dan Xavier mendengar ada sesuatu yang terkoyak di bawah sana saat penyatuan itu dengan sempurna terjadi.


"Digoyang begini Mira, maka sakitnya lama-lama tidak akan terasa lagi."


Berkali-kali Almira meneteskan air mata merasakan sakit di sekitar miliknya. Berkali-kali pula Xavier menghentakan miliknya.


Di depan sana Sima dan Matsuyama bertarung tenaga luar dan dalam sementara di semak belukar itu Xavier dan Almira bertarung peluh.


Xavier menggoyang semakin cepat dan menekan pinggang Almira semakin kuat agar kepemilikannya semakin melesak jauh ke dalam.


Ahhhh...


Keduanya mengerang bersamaan saat lahar panas itu bertemu.


"Bang...apa yang sudah abang lakukan pada Mira?? bagaimana jika kakek, ayah dan ibu sampai tau?? terus nasib kita bagaimana??" Almira terisak sambil dipeluk erat oleh Xavier.


"Abang akan mempertanggung jawabkan perbuatan abang padamu, Mira!! bisik Xavier di telinga Almira.


"Pertanggung jawaban apa bang?? Pertanggung jawaban sedarah??" rintih Almira.


"Siapa bilang kita bersaudara?? Kita tidak mempunyai hubungan darah sama sekali, Mira...persis seperti dugaan abang waktu itu!!"


"Apa??? Mira sangat terkejut mendengar perkataan Xavier padanya.


*


*


***Bersambung...


Author ngga usah banyak omong ya?? nanti author dihujat para readers..😁😁🙏🙏

__ADS_1


Ikuti terus lanjutan ceritanya...terima kasih...


__ADS_2