
"Lho...apakah kalian tidak bertemu?? Matsuya sudah pergi hampir dua minggu lalu untuk menyusulmu!!" kata Serafin juga jadi mulai was-was
"Tidak ada ketemu bu...Almira kan baru saja keluar dari istana Kebebitak...jadi ngga tau!!" kata Almira.
"Aduh...kemana Matsuyama pergi mencarimu, ya?? ibu kok jadi khawatir lagi, ibu pikir kalian sudah bertemu dan bersama!!" sela Serafin mulai terlihat cemas.
Sementara mereka yang sedang berduka sibuk untuk mengurus pemakaman Xavier, Matsuyama bersama si putih kudanya di pinggir sebuah lembah bertemu dengan dua saudara kembar yang mendapat julukan ketua dan wakil ketua yang tak lain adalah Hiro dan Sima.
Secara tak sengaja mereka bertiga bertemu di lembah sunyi itu.
"Ouhhh kita bertemu dengan adik kita tercinta, Sima??" kekeh Hiro tapi bukan pertemuan karena senang tapi mata penuh dendam dari Hiro dan Sima.
Matsuyama juga terlihat waspada karena dia sudah mendengar juga tentang silsilah keluarganya yang kedua kakaknya itu sangat membencinya.
"Apa kabar kak Hiro dan kak Sima??" tanya matsuyama.
"Buruk...!!" kata Hiro sinis.
"Kabar kami buruk sejak ibu kami dibunuh perlahan-lahan oleh ayah dan ibunu!!" jawab Hiro ketus.
"Maafkan ayah dan ibuku, kak...demi arwah mereka aku mohon...mereka berdua sudah mendapatkan ganjarannya.
"Segampang itukah??" tanya Hiro sinis.
"Jadi apa yang harus aku lakukan kak?" tanya Matsuyama.
"Kita tarung saja Matsuya, kita buktikan siapa yang terhebat, putra Miku...atau putra dan putri Abesira!!" kata Hiro penekanan.
Tiga orang saudara yang dulu bersaudara kini telah menjadi musuh bebuyutan.
Turun dari kudamu, Matsuya di sini pertarungan kita tak akan terganggu oleh siapapun!!" kata Hiro.
Mau tidak mau Matsuyama turun dari kudanya. Sebenarnya dia tidak ingin bertarung dengan saudaranya sendiri, bagaimanapun dia, Hiro dan Sima dulu sering bersama walaupun bukan saudara kandung tetapi mereka sangat dekat, Hiro selalu melindungi dia dari apapun.
Kini mereka berhadapan lagi, tapi bukan sebagai saudara melainkan sebagai musuh bebuyutan.
Hiro dan Sima langsung mengeluarkan jurus-jurus andalan mereka. Tampaknya mereka tidak main-main untuk menghadapi Matsuyama, begitu pula dengan Matsuyama yang mengandalkan kecepatan geraknya menghadapi kedua saudara kembar itu.
Kita tinggalkan ketiga saudara tiri yang saling berhadapan untuk saling membunuh itu.
Kita kembali ke prosesi pemakaman Xavier yang diwarnai kesedihan dan derai air mata.
Almira memakai setelan hitam dan berkerudung hitam begitu juga dengan anak-anaknya.
Sebagian para mahasiswa dan mahasiswi Xavier juga berdatangan untuk memberikan penghormatan terakhir untuk dosen tampan idola mereka semua.
Suasana pemakaman sudah agak sunyi karena mereka satu persatu sudah meninggalkan tempat itu. Tristan sudah kembali terlebih dahulu karena tak bisa terlalu lama berada di dunia manusia seperti dulu lagi. Begitupun Bilygong yang kini sudah menjadi raja kembali.
Kini hanya tinggal Almira sendiri yang masih duduk terpekur seorang diri di sana.
Sebuah tangan mengusap bahunya dengan lembut.
"Kita pulang yuk...Xavier jadi sedih melihatmu seperti ini!!" Almira menoleh dan ternyata Aliandhara yang berdiri di belakangnya.
"Mengapa bang Xavier pergi secepat ini, bang Ali??" suara isak Almira membuat Aliandhara juga sedih.
"Xavier pergi bukan karena kesalahanmu, tapi karena Allah menyayangi dia dan meminta dia cepat kembali padaNya."
"Almira akan menjaga permata yang abang titipkan pada Almira hingga mereka dewasa bang...Revita dan Xander adalah anugrah terindah yang abang amanatkan untuk Mira...Selamat jalan abangku...mantan suamiku!!" 😥😥
Almira berdiri menyeka air mata terakhirnya untuk Xavier dan mengikuti langkah Aliandhara meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Sementara pertarungan dua lawan satu antara tiga saudara tiri itu masih berlangsung sengit.
Walaupun dikeroyok oleh dua orang tidak membuat Matsuyama gugup, justru membuat lelaki muda semakin menunjukan keperkasaannya.
Pada jurus ke 100 dada Sima terkena tendangan berantai dari Matsuyama membuat perempuan muda itu terkapar muntah darah.
Melihat saudara kembarnya terlempar jauh dan diam tak bergerak membuat Hiro naik pitam.
Sehingga dua puluh jurus kemudian engsel bahu Matsuyama terlepas terkena tendangan Hiro tapi Hiropun harus membayar mahal saat dadanya terkena pukulan telapak tangan Matsuyama.
Kedua saudara itu mengerang kesakitan, karena pukulan keduanya sama-sama mengandung racun jahat.
Keduanya sudah sama-sama kepayahan hingga tiga puluh jurus kemudian mereka berdua saling mendaratkan pukulan lagi.
Kali ini tidak ada ampun, Hiro benar-benar menyusul saudara kembarnya. Dia merangkak mendekati Sima dan menggenggam tangannya.
"Da...ri ke..cil ki..ta ber..sa..ma dan ma..ti...pun ki...ta ha..rus ber...sa...maaaa!!"
Sementara saat menjelang ajal menjemput, Matsuyama sempat terpikir pada anak dan istrinya.
"Maafkan abang Mira, maafkan daddy Miranda...jaga putri kita baik-baik sayang!!" lirih Matsuyama.
Dia masih sempat melihat kedatangan Rana dan Rini kearahnya.
"Matsuyama..." teriak kedua saudara kembar itu.
"Rana...Rini...sampaikan maafku untuk istriku ya...karena umurku tak akan lama lagi!!" kata Matsuyama semakin lemah.
Rini berusaha menyalurkan hawa murni kedalam tubuh Matsuyama tetapi Rana menggelengkan kepalanya, kondisi Matsuyama yang sekarat malah akan membuatnya semakin menderita.
Keadaan Matsuyama semakin lemah hingga akhirnya kepalanya terkulai di pangkuan Rana.
Kecil bersama...karena dendam dan juga cinta membuat ketiganya harus menebus dan membayar dengan nyawa mereka.
Seminggu telah berlalu saat Almira memutuskan pulang kepeternakan bersama keluarganya diantar helikopter oleh ayahnya tuan Kelvin.
Di peternakanan mereka disambut oleh Rana dan Rini serta Yula dan Yuli.
"Terima kasih kalian sudah menjaga peternakan ini, apa kalian bertemu dengan suamiku??" tanya Almira.
Keempat muda mudi itu saling pandang.
Tiba-tiba Rini menarik tangan Almira menuju ke perbukitan di belakang peternakan.
"Kamu mau membawaku kemana Rini??" tanya Almira.
Sementara Giandra, Serafin, dan Miranda serta si kembar Revita dan Xander hanya mengikuti dari belakang.
"Lho, kok ada tiga makam di sini?? ini makam siapa Rini??" tanya Almira mulai merasa tidak enak.
"Majulah di situ ada namanya!!" kata Rini dengan suara tercekat.
Almira membaca satu persatu nana di batu nisan itu kemudian dia berteriak histeris tak sadarkan diri, untung Rana ada di dekatnya dan menyambar tubuhnya.
Giandra dan Serafin yang panik lalu mendekat kearah tiga makam itu.
"Hiro...Sima dan Matsuyama..." Giandra terduduk lemas.
Baru seminggu lalu dia kehilangan anak dan mantan menantunya, sekarang dia harus kehilangan menantunya lagi.
"Apa yang sebenarnya terjadi??" tanya Giandra.
__ADS_1
"Mereka bertiga saling bertarung dan saling membunuh!!" kata Rana dan Rini.
"Lalu kami berempat berinisiatif memakamkan mereka bertiga di sini." Jawab Rana.
***********
Almira duduk di taman belakang kediaman tuan Kelvin ayahnya. Semenjak suami dan mantan suaminya meninggal dalam waktu yang hampir bersamaan, Almira memutuskan untuk kembali ke mansion ayahnya bersama ketiga anaknya.
Kakek Kojiro dan keluarga Kadir masih tinggal di rumah pantai. Giandra dan Serafin ditemani para sahabat silumannya tinggal di peternakan.
"Hai...!!" sapa Aliandhara...
"Bagaimana keadaanmu selama enam bulan ini??" tanya Aliandhara lagi.
"Abang baru pulang??" tanya Almira tanpa menjawab pertanyaan Aliandhara.
"Abang nampaknya betah tinggal di negeri Paman Sam ya??" kata Almira.
"Abang mau menjenguk ayah dan Rafa?? mereka ada di ruang keluarga sedang bersama keluarga Thamrin membahas pernikahan Alia dan Thamrin!!" jawab Almira.
"Abang sudah bertemu mereka...abang memang sengaja menemui kamu...abang mau melamar seorang wanita!!" kata Aliandhara.
"Kok ijin ke Mira?? apapun dan siapapun wanita pilihan abang tentu itulah yang terbaik untuk abang!!" sahut Almira.
"Tentu abang harus ijin padamu dulu, karena abang...wanita yang akan abang lamar itu, kamu!!"
JEDAR...
Bagai mendengar suara petir di telinganya Almira terkejut bukan main.
"Ini semua salah abang, seandainya sejak dulu abang melamarmu...tentu hidupmu tak akan sengsara seperti ini." Kata Aliandhara.
"Almira tidak bisa langsung menjawabnya bang!!" sahut Almira lirih atas jawaban pada laki-laki yang pertama singgah di hatinya itu.
"Abang tak punya banyak waktu Mira, jika kamu jawab sekarang kita akan kembali pergi bersama ke negeri Paman Sam tapi jika kamu menolak maka abang akan pergi sendiri dan entah kapan akan datang kemari lagi!!" kata Aliandhara.
"Beri waktu sampai besok bang!!" mohon Almira.
Seminggu kemudian...
Tempat kediaman tuan Kelvin sangat ramai karena akan ada dua pernikahan yang diadakan sekaligus hari ini...
Pernikahan Alia dan Thamrin serta pernikahan Almira dan Aliandhara.
Sejauh apapun terpisah jika memang jodoh pasti akan dipertemukan kembali begitupun Almira dan Aliandhara, kini mereka dipersatukan kembali walaupun terpisah oleh keadaan, kini tiba waktunya keadaan berpihak pada mereka berdua.😊😊😊
...****TAMAT****...
Visual tokoh
Shahnaz Almira
Aliandhara Antonio
Xavier Giovanno Giandra
__ADS_1
Kakegawa Matsuyama