
"Aku lapar, jika kita nanti menemukan warung makan...kita mampir sebentar ya....aku tak sabar ingin mencicipi masakan yang dibuat oleh manusia..." Rana berucap.
Mereka berdua terus berjalan menyusuri jalan setapak yang hampir tertutup oleh semak belukar itu!!
"Aduh...ternyata berat ya jadi manusia...kakiku rasanya melepuh berjalan tanpa alas kaki begini!!" kata Rini.
"Sudah Rini jangan mengeluh terus, kan mau kamu kita jadi begini!!" kata Rana.
"Diamlah...kamu lihat di depan sana ada warung makan, mari kita makan dulu kalau perut kita kosong kita akan kesulitan berpikir!!" kata Rana.
"Tapi jika kita terlalu kenyang, kita malah mau tidur melulu...secara kita kan ular!!" jawab Rini.
Lalu kedua kakak beradik itu melangkah memasuki warung makan yang cukup ramai itu.
"Siapa kalian berdua??" pemilik warung menatap tajam pada Rana dan Rini yang masuk ke warungnya dengan memakai baju lusuh tertutup debu tebal dari jalanan dengan tanpa memakai alas kaki pula.
Mereka berdua awalnya naik kuda tetapi karena Rini selalu terbalik saat naik ke punggung kuda, yang mestinya menghadap depan dia selalu naik dengan posisi menghadap ekor kuda.
Selain itu pula kuda tunggangan mereka selalu tidak tenang dan takut pada mereka berdua karena walaupun sudah menjelma menjadi manusia, naluri hewan berkaki empat itu tetap tidak bisa dibohongi kalau Rana dan Rini itu sangat berbahaya.
"Hei kalian berdua!!" kata pemilik rumah makan itu.
Rana dan Rini menoleh ke belakang mencari siapa yang dibentak oleh pemilik rumah makan bermata juling itu.
Dia membentak pada Rana dan Rini tetapi matanya tertuju pada sepasang muda mudi yang duduk di bangku dekat pintu masuk restoran.
"Apa maksudmu tuan?? bukankah kami sudah sedari tadi makan di sini??" tanya kedua muda mudi itu.
"Maaf nona...bukan kalian berdua yang kumaksudkan tetapi dua muda mudi yang berpakaian lusuh penuh debu itu!!" tunjuk si gemuk berperut buncit bermata juling yang berdiri di depan pintu restorannya sambil berkipas-kipas karena wajahnya yang berminyak selalu keringatan.
Rini yang bawaannya selalu cepat terbawa emosi otomatis amat tersinggung dengan ucapan si buntal gemuk yang menjengkelkan itu.
Berbeda denga Rana yang pembawaannya tenang dan kalem sama sekali tidak terpengaruh oleh ucapan pemilik rumah makan itu. Dia tetap saja melangkah masuk melewati si pemilik rumah makan.
"Aku bilang stop...ya...stop!!" si gemuk tampak marah melihat Rana dan Rini mencoba melangkah masuk.
"Heh buntal...kami itu mau makan...jangan kata hanya makananmu, kepalamu yang otaknya kosong dan mukamu yang keringatan itu saja bisa kami beli!!" bentak Rini.
"Sombong sekali kamu gadis lusuh!!" kata si gendut.
"Makanan di sini harganya mahal semua, apakah kamu sanggup membayarnya??" tanya si gemuk sombong.
Apakah satu uang emas cukup untuk membeli makananmu??" tanya Rana tenang.
__ADS_1
"Jika satu keping uang emas tidak cukup, mending kami makan di lain saja, kusumpahi rumah makanmu ini tidak laku!!" umpat Rini.
Mendengar satu keping uang emas, si gemuk bermata juling jadi berubah baik dan sopan pada Rana dan Rini.
Akhirnya dengan terpaksa dia membiarkan Rana dan Rini masuk dan makan di rumah makannya.
"Rana....aku rasanya masih dendam pada si buntal yang telah menghina kita itu!!" kata Rini.
"Rasanya pengen kuludahi semua makanan di sini agar semua yang makan di sini keracunan!!" geram Rini.
"Sudah Rin, biarkan saja...kamu harus belajar mengendalikan amarahmu!!" jawab Rana.
Semua orang menatap kearah Rana dan Rini...mereka berdua makan seperti orang tidak makan seminggu lamanya.
Setelah mereka selesai makan dan membayar lalu mereka pergi meninggalkan tempat itu.
Sekarang tujuan kita mau kemana ya, Rana??" tanya Rini.
"Tadi aku sempat menanyakan pada beberapa orang dimana peternakan Matsuyama ."
"Jadi sekarang kita harus menuju arah timur??" kata Rana.
Kedua kakak beradik itu tidak sadar jika mereka sedang diikuti oleh beberapa orang memakai topeng berwarna hitam dan berjubah hitam.
"Kamu yakin mereka anak Sinoe??" tanya salah satu teman mereka.
"Walaupun mereka merubah ekor menjadi kaki sekalipun, demi pundi emas...aku akan tetap mengenali mereka!!" jawab orang berjubah hitam di sebelah kiri.
"Rana apakah kamu merasa sepertinya sejak tadi ada beberapa orang yang mengikuti kita deh!!" kata Rini.
"Iya aku tau, mereka mengikuti kita sejak dari rumah makan tadi!!" jawab Rana.
"Apa maksud para cecunguk itu mengikuti kita?? jangan-jangan mereka berniat jahat lagi pada kita!!" ucap Rini.
"Teruskan saja langkahmu jangan berhenti, berbuatlah seolah kita berdua tidak menyadari jika kita sedang diuntit." jawab Rana.
Sementara itu di dunia bawah tanah....
Huek...huek...huek....
Bonita berkali-kali memuntahkan semua makanan yang dia makan tadi pagi tanpa tersisa.
Perutnya terasa mual seperti diaduk-aduk dengan sekop rasanya.
__ADS_1
"Kamu sakit, Bonita??" tanya ibunya.
"Bonita tidak tau bu, sejak bangun tidur tadi pagi kepala Bonita pusing banget dan rasanya perut Bonita juga mual banget." Kata Bonita sambil mencuci mulutnya.
"Kamu sudah telat berapa lama, nak??" tanya ibunya lagi.
"Bonita tidak ingat bu, seingat Bonita memang datang terlambat sih!!" kata Bonita.
"Kamu tidak sedang hamil kan, nak!!" tanya ibunya.
Bonita tampak terdiam dan berpikir mendengar perkataan ibunya.
"Perpisahanmu dengan Matsuyama sudah menginjak dua bulan ini Bonita??" kata ibunya lagi.
Bonita tau jika dia memang mengandung, anak yang dikandungnya itu bukanlah anak Matsuyama melainkan anak dari Rangga.
"Apakah aku harus katakan saja yang sejujurnya kepada ayah dan ibu, ya?? tetapi bagaimana nanti nasib Rangga?? apakah ayah tidak akan membunuhnya??" batin Bonita.
Sebaiknya aku harus segera menemui Rangga untuk mengatakan semua ini sebelum ayah dan ibu tau." Gumam Bonita pelan.
"Ahh...mungkin Bonita masuk angin biasa bu!!" jawab Bonita berusaha menyembunyikan kehamilannya.
Untung ibunya tidak lagi bertanya lebih lanjut terlebih lagi Bonita berusaha menahan rasa mual dan muntahnya dihadapan sang ibu.
Siang itu secara sembunyi-sembunyi dia menemui Rangga kekasihnya.
"Rangga, aku hamil!!" katanya tanpa basa basi lagi.
"Oh iya??? syukurlah impianku untuk menjadi seorang ayah bisa terwujud!!" kata Rangga terlihat bahagia.
"Tapi kamukan tau, Rangga...dalam aturan bangsa kita aku masih resmi sebagai istri Matsuyama kecuali Matsuyama sendiri yang berkata telah menceraikan aku, barulah aku bisa bebas dan bisa menikah dengan lelaki manapun." Kata Bonita.
"Ya kalau begitu kita harus segera mencari suamimu itu untuk segeta menceraikanmu!!" kata Rangga.
*
*
****Bersambung.....
Berhasilkah Rangga dan Bonita menemui Matsuyama tanpa sepengetahuan Bara Seta??
Ikuti terus perjalanan mereka ya reader...jangan lupa tekan like, komen, vote, favorit dan ratenyaππππ
__ADS_1