Mr.Playboy Vs Miss.Dingin

Mr.Playboy Vs Miss.Dingin
Bab 113 Pertemuan Ular Dan Naga


__ADS_3

"Aku lawanmu, monyet sialan!!" teriak Kojirò dan siap membantu kakek Dahlan.


Pasukan siluman kera dan para mahluk astral itu ikut turun dan mulai ikut berkelahi.


"Kamu menjauhlah Alia...perintah pangeran Redo..."


"Aku tak ingin melihat kekasihku terluka..." tetaplah diam di sana ya!!" kata pangeran Redo memperingati Alia.


Alia mundur tetapi dia cukup cerdas, karena tidak memilih mundur kedekat Levia dan Sheira yang sudah menantinya dengan seringai jahat mereka.


Alia memilih mundur mendekati kelompok Serafin dan Giandra.


"Maju Kojiro...aku di belakangmu memberi dukungan!!" kata kakek Dahlan.


"Oke aku maju duluan, nanti kamu susul aku menghajarnya!!" kata Kojiro.


Sementara Xavier dan Almira, pangeran Redo dan Tristan pun maju menghadapi ratu Hikaru.


"Yunda Refanya..." pangeran Redo membungkukan badan di hadapan Almira.


"Redo, adikku!!" kata Almira tercekat.


Dia dan Redo berbeda ayah. Saat masih berupa janin, Almira dititipkan pada rahim Serafin. Karena takut Hikaru akan mengambil bayinya.


Setelah sekian lama hidup dalam kesendirian akhirnya dia di jodohkan dengan ayah Redo dari bangsa naga juga.


Ratu Nilakandi terpaksa harus menerima perjodohan itu walaupun dia sangat mencintai Kelvin Antonio suami pertamanya.


Pada akhirnya saat pangeran Redo berumur 2 tahun, sang ayah pergi bertarung lalu akhirnya gugur.


Mata ratu Nilakandi menatap dua sosok lelaki yang baru tiba di tempat itu.


Matanya tak berkedip saat awal melihat pria yang sudah berumur tetapi masih kelihatan sangat tampan itu.


Itulah tuan Kelvin yang datang bersama Aliandhara untuk melihat putrinya, tetapi tak disangka dia justru bertemu dengan mantan istrinya di sana.


Kecantikan ratu Nilakandi bahkan tak membuat pandangan tuan Kelvin mengarah pada mantan istrinya itu.


Fokusnya ada pada Almira yang mulai membuka serangan dengan jurus-jurusnya.


"Dia masih membenciku setelah belasan tahun berlalu!!" bisik ratu Nilakandi pelan.


"Ayah, lihat wanita yang sangat cantik yang berdiri di bawah pohon itu.


"Sejak tadi dia selalu memandang pada ayah, apakah ayah mengenalnya?" tanya Aliandhara perlahan.


"Tidak!!" kata Kelvin Antonio lalu fokus kembali melihat kearah pertarungan putri dan menantunya.


Badai serangan bertubi-tubi dari keempat elemen itu menggempur ratu Hikaru seperti air bah.


Tetapi bukan sang ratu kegelapan namanya jika tak mampu menghalau keempat penyerang itu.


Almira yang sedang hamil muda sering menjadi incaran kuku-kuku tangan sang satu yang seperi silet tajamnya.


"Hati-hati sayang..." kata Xavier sangat khawatir dengan keselamatan istrinya.


Ratu Hikaru menyeringai buas apalagi dia mencium bau janin di perut Almira. Sehingga serangannya dia fokuskan pada Almira sambil berkali-kali meneteskan air liurnya.


"Lindungi Almira..." seru Tristan pada pangeran Redo yang langsung maju mendampingi Xavier dan menyuruh Almira mundur keposisi belakang.


Ratu Hikaru menggeram marah karena sasarannya mundur.


Ratu Nilakandi dan tuan Kelvin tampak cemas melihat keadaan putri mereka.


Sementara Serafin dan Giandra maju membantu kakek Kojiro dan kakek Dahlan melawan Kebebitak bersama pasukan kera nya.


Retttt...


"Anjrottt..."


Kakek Dahlan tampak sangat marah karena celananya robek terkena cakaran dari salah satu siluman kera itu.


"Dasar siluman bodoh...berani-beraninya kamu merobek celana kesayanganku!!" teriak kakek Dahlan.


Huhuhu...ngok...ngok


Para siluman itu tertawa riuh...


"Untung bijimu tidak ikut tersangkut dengan kuku-kuku kami....hihihi!!!"


"Awas kau ya, setan alas..." teriak kakek Dahlan geram.


Dia menggosok kedua telapak tangannya semakin lama semakin cepat sehingga mengeluarkan cahaya api kebiruan.


"Jangan panggil namaku Dahlan Tosiro jika tak bisa membuat semua bulu-bulu di tubuh kalian rontok.


"Aku tak akan membunuh kalian, tapi aku akan membuat bulu-bulu di tubuh kalian rontok dan tak akan tumbuh lagi selamanya sehingga kalian menjadi kera tak berbulu!!"


Hiaat...


Sepuluh ekor siluman kera yang mengeroyoknya tak sempat menghindari jaring api yang bergulung melingkar dan mengikat tubuh mereka.


Wusss...


Api itu membakar habis bulu-bulu mereka dan menyisakan tubuh mulus licin berekor milik mereka.


Kesepuluh kera siluman yang rata-rata wanita, sontak berteriak kaget mendapati tubuh telanjang mereka persis seperti manusia.


Mereka lari kalang kabut menutupi bagian tubuh mereka. Sementara Kebebitak menggeram sangat marah pada kakek Dahlan melihat apa yang dilakukan oleh kakek itu pada anak buahnya.

__ADS_1


Whuahahahaha...suara tawa ramai malah membuat suasana tidak menegangkan dan mencekam lagi.


Sementara mereka yang berada di pihak Ratu Hikaru merah mengelam karena marah wajah mereka.


Perlahan Levia dan Sheira mendekati Alia yang sedang lengah. Tapi untunglah sejak awal Matsuyama mengawasi gerak gerik mereka berdua dan ternyata tepat dugaannya, Levia dan Sheira mencari kesempatan untuk mendekati Alia.


Karena memang Matsuyama lah yang posisinya menganggur. Di saat ayahnya dan Hiro serta Daniah sibuk membantu kelompok Xavier, tugas Matsuyama dan Kadir mengawasi keadaan sekitar.


Sesosok siluman wanita tampak mendekati Aliandhara dan tuan Kelvin.


"Hua....ada hantu!!" teriak Aliandhara yang memang penakut.


"Hantu??? mana hantu???" kata siluman itu celingukan.


"Kamu hantu nya, bodoh!!! pergi sana kamu jauh-jauh jangan mendekatiku, kalau tidak..."


"Kalau tidak apa, tampan?? kamu mau apa?? lagi pula kurang ajar sekali mulutmu, aku kamu sebut hantu!!"


Tiba-tiba...


Wussshhh...


Aaahhhh...


Terdengar teriakan siluman wanita itu saat sekujur tubuhnya berwarna hijau seperti lumut.


Whuahahaha....


Aliandhara tertawa keras melihat seluruh tubuh siluman itu berwarna hijau.


"Hebat...sekarang kau bertransformasi menjadi Hulk!!"


Setelah menyemburkan bisa nya. Kadir lalu melompat ke tanah.


"Terima kasih Kadir yang ganteng!!" kata Aliandhara saat melihat Kadir berdiri di hadapannya.


"Siapa kau??? bentak siluman perempuan itu.


"Aku tau kamu juga sama sepertiku, sama-sama mahluk jelmaan...siapa kau sebenarnya?" sentaknya lagi.


"Hei hantu bodoh...jelas-jelas dia ular, masih saja kamu tanyakan lagi...di mana sih kamu taruh otakmu?? ataukah kamu memang tak punya otak?" kata Aliandhara.


"Dasar manusia dongo....aku sudah katakan sejak tadi, aku itu bukan hantu, aku itu siluman...kamu punya telinga ngga sih? dasar manusia bodoh!!" umpat siluman itu menggerutu.


"Yeee...gitu aja marah..." cibir Aliandhara.


"Ya marahlah...sejak tadi aku tuh kamu katain hantu...aja...sudah warnaku sehijau ini masih kamu katain aku hantu!!" gerutu siluman itu.


"Ya sudah aku minta maaf, kamu minggirlah aku mau melihat mereka yang bertarung, kamu menghalangiku dengan warna hijaumu itu yang seperti ulat bulu berjalan!!" kata Aliandhara.


"Kan temanmu itu yang mengubah warnaku jadi begini!!" gerutunya sambil menyingkir dan berdiri di samping Aliandhara.


"Kalian berdua mau apa mendekati gadis itu??" tanya Matsuyama pada Shiera dan Levia.


"Siapa si ganteng yang imut ini, Levia??" tanya Shiera sambil tersenyum genit menatap Matsuyama dari rambut sampai ke kaki.


Si Matsuyama yang kocaknya ngga ketulungan jadi tertarik untuk mengerjai Shiera.


"Hai cantik...kamu ini memiliki segalanya yang kamu inginkan nampaknya, kecuali satu!!" kata Matsuyama juga balas senyum-senyum.


Perasaan Levia sudah ngga enak melihat tindak tanduk Matsuyama yang tiba-tiba berubah jadi so sweet pada Shiera.


"Oh ya??? apa yang menurutmu kurang dariku, tampan??" tanya Shiera sambil tak lepas menatap Matsuyama.


"Anu...menurutku kamu itu sedikit kurang..." Matsuyama sengaja menggantung kalimatnya.


"Kurang apa?? mengapa tidak kamu lanjutkan ucapanmu!!" tanya Shiera.


"Kamu itu kurang waras!!" hahaha....Matsuyama tertawa ngakak.


"Jaha*nam..." umpat Shiera.


"Nah benarkan, pasti ada kata-katanya yang ngga beres, karena aku hapal mati dengan perangainya bocah sialan ini!!" gumam Levia.


Shiera yang tak mengenal Matsuyama tampak marah sekali. Seumur hidupnya baru sekali ini ada yang mengatainya kurang waras alis gila!!


Tangan Shiera sudah terkepal lalu dengan sekali hentak dia melompat mau meremas mulut Matsuyama.


Pancingan Matsuyama berhasil. Dia tau kemampuan Alia. Jika hanya untuk menghadapi Levia sendiri mungkin dia masih sanggup tetapi menghadapi Shiera juga?? salah-salah nanti Alia akan tertangkap kembali.


Karena Matsuyama pernah melihat kehebatan dan ketangguhan Shiera saat berkelahi melawan geng mafia tempo hari saat Xavier belum menikah dengan Almira.


Matsuyama hanya menggeser sedikit posisi berdirinya sehingga pukulan Shiera hanya lewat tiga jari dari wajahnya.


Shiera memang tidak ingat pada Matsuyama karena saat bertemu tempo hari fokusnya ke Xavier saja.


Belum sempat Matsuyama membenarkan posisinya, kaki kanan Shiera kembali berkelebat.


Mau tak mau kali ini Matsuyama harus menangkis. Karena sabetan kaki Shiera mengarah ke tempurung lututnya, Matsuyama lalu menangkis serangan kaki Shiera dengan balas menendangnya pula.


Levia dan Alia meringis mendengar suara tukang kaki beradu saling tendang membuat telinga mereka terasa ngilu.


Baku tendang terus berlanjut hingga keduanya melompat kebelakang sambil mengerang kesakitan.


Levia menolong Shiera untuk berdiri tetapi kemudian Shiera roboh lagi ke tanah karena kakinya teramat sakit.


Alia menolong Matsuyama yang masih mampu berdiri dengan kedua kakinya walaupun berdirinya sudah miring kanan dan kiri.


Sementara perkelahian ratu Hikaru pun berlangsung alot. Ketiga pria tampan itu seolah saling berlomba untuk melindungi Almira membuat ratu Hikaru merasa sangat geram.

__ADS_1


Di jurus yang ke seratus dia merubah arah serangannya. Tubuhnya melentur seperti karet mencari celah untuk menusuk perut Almira.


"Kenapa sih ratu gila itu mengincar perut Mira terus, bang??" teriak Almira.


"Dia ingin memusnahkan bayi kita yang kamu kandung itu sayang, karena kekuatan bayi dalam kandunganmu sangat luar biasa." teriak Xavier sambil terus melepaskan pukulannya pada tangan dan kaki ratu Hikaru yang bisa memendek dan memanjang.


"Mundur..."teriak Mira, akhirnya..." satukan kekuatan kita!!" perintahnya.


Lalu tangan mereka saling menggenggam satu dengan yang lain.


Keluarkan mutiara naga dari dalam tubuh kita!!" teriak Almira.


Empat buah cahaya biru keluar dari tubuh mereka masing-masing saling berputar dan membentuk satu sosok besar dan bertanduk.


"Naga biru!!" teriak ratu Hikaru tercekat.


Naga biru itulah dua puluh tahun lalu yang memusnahkan hampir setengah kekuatannya membuat dia seperti manusia lumpuh tak berguna dan bersembunyi di goa Simbra bersama Levia.


Kini mahluk mengerikan itu muncul di hadapannya dalam wujud yang lebih mengerikan daripada dahulu.


Naga biru yang bersemayam di dalam tubuh keempat anak muda yang ada di depannya.


Naga biru itu menghembuskan nafas sedingin es tetapi kemudian di lain waktu dia mampu menghembuskan nafas api dari lubang hidungnya.


Naga biru itu memandang menyorot tajam pada Hikaru.


"Raja di atas raja, junjungan kami kaum naga!!" ucap ratu Nilakandi membungkukan badannya begitu pula dengan pangeran Redo untuk memberi hormat.


Sosok yang tingginya lebih dari 10 meter itu balas mengangguk dan tiba-tiba dia mengeluarkan suara...


"Hikaru...kejahatanmu sudah kelewat takarannya...bangsa kami banyak yang kamu bantai bersama pengikutmu."


"Nilasari dan Nilakandi juga harus menderita karena kutukanmu pada kaum kami...cucu-cucuku semuanya harus hidup terpisah dan hidup menderita selama bertahun-tahun juga karenamu!!"


"Seharusnya dulu aku langsung saja memusnahkan manusia jahat penganut ilmu hitam sepertimu, karena jika hanya diambil setengah dari kekuatanmu maka kamu akan bangkit kembali dengan kejahatanmu yang baru lagi.


Bukannya gentar, ratu Hikaru malah tertawa terbahak-bahak menantang sang raja Naga.


"Hei raja Naga...kamu pikir aku takut menghadapimu?? tunggulah kamu di situ raja dungu!!"


Lalu Hikaru berkomat kamit membacakan sebuah mantera. Setelah selesai tiba-tiba tubuhnya menjadi mulur memanjang. Semakin panjang dan menyerupai tinggi raja naga. Tubuh Hikaru berubah. Tangan dan kakinya perlahan menghilang di gantikan sosok berkilat panjang, hitam dan bersisik. Di kepalanya ada mahkota seperti mutiara hitam.


"Sinoe..." bisik ratu Nilakandi tercekat melihat ular besar seperti anaconda itu.


Sinoe adalah ratu ular junjungan para siluman dan para penganut ilmu sesat. Sorot matanya berwarna merah seperti api dan dari mulutnya yang bergigi taring mengucur terus menerus semacam cairan kental berwarna hitam.


Sontak mereka semua yang berada tempat itu menghentikan pertarungan untuk melihat perubahan yang terjadi pada ratu Hikaru.


"Aduh aku jadi kepengen pipis??" kata Kakek Dahlan sementara kakek Kojiro matanya membola menatap ular besar itu seperti ular zaman prasejarah saja.


"Jangan-jangan ratu Hikaru itu adalah ratu yang hidup di zaman prasejarah ya..." bisik kakek Dahlan seorang diri.


"kita tentukan di malam bulan purnama merah ini siapa yang mati dan siapa yang akan bertahan!!" ucap Sinoe pada raja naga biru.


"Ayo kita semua menyingkir kalau tidak mau mati dilibas oleh ekor mereka berdua..." teriak Giandra lalu menarik Serafin untuk menjauh.


Mereka semua menjauh dan seolah lupa pada pertempuran masing-masing.


Aliandhara membantu tuan Kelvin yang tadi jatuh terduduk karena kaget yang luar biasa.


"Kanda..." suara ratu Nilakandi terdengar samar tetapi masih mampu di dengar oleh Aliandhara.


Nilakandi ingin datang dan menolong mantan suaminya itu, tetapi sikap cuek Kelvin yang seolah tak mengenalinya, lagi-lagi membuat langkah kakinya terhenti.


"Maafkan aku, kanda...seandainya kamu tau bagaimana pengorbananku untuk seluruh kaumku agar terbebas dari kutukan jahat ratu Hikaru...tentu sikapmu padaku tak akan seperti ini."


"Aku tau bahwa aku salah telah mengkhianatimu dan menikah dengan ayahnya Redo, itu agar anak-anakku kelak mampu memberantas kejahatan ratu jahat itu dan membuatnya musnah untuk selamanya dari muka bumi ini."


"Serafin...Giandra....apa kabar kalian berdua?? aku senang sekali masih diberi kesempatan untuk bertemu dengan para sahabatku lagi..." kata Kakegawa


Mereka bertiga saling mengurai pelukan satu dengan yang lain.


"Mana Axelo??" tanya Giandra memandang berkeliling mencari sosok mantan suami dari ratu Hikaru itu.


"Axelo sepengetahuanku sedang menyepi di sebuah lembah sunyi. Dia sudah tak mau lagi berurusan dengan urusan duniawi." Kata Kakegawa.


"Ayah..."


Hiro datang mendekat bersama Daniah istrinya.


"Hai...siapa ini?? bukankah ini Hiro kecil yang dulu katanya mau menikahi Almira jika sudah dewasa nanti?? sudah dewasa kamu sekarang?? lalu mana saudari kembarmu yang jutek itu, siapa namanya?? ya...ya...kalau tidak salah namanya Sima, ya!!" kata Serafin.


"Halo juga paman Giandra, bibi Serafin...senang bisa bertemu lagi!!" kata Hiro.


"Senang bisa bertemu paman dan bibi...namaku Daniah, aku istrinya Hiro!!" Daniah langsung memperkenalkan diri tanpa diminta pada kedua orang tua Almira dan Xavier itu.


"Wow...kau sudah punya istri sekarang, Hiro??? selamat ya!!" ucap Serafin dan Giandra bersamaan.


Hiro tampak canggung mendengar ucapan selamat dari kedua orang tua Almira itu.


Sebenarnya dia tak begitu suka mendengar Daniah memperkenalkan diri sebagai istrinya tetapi mau bagaimana lagi??"


Mereka masih sempat saling bersilaturahmi sebelum pertarungan besar antara Sinoe si ular jelmaan dari ratu Hikaru dan raja naga biru junjungan semua kaum naga.


*


*


***Bersambung...

__ADS_1


Siapa kira-kira yang akan keluar sebagai pemenangnya? Sinoe atau raja naga biru??


Jangan lupa mampir, baca, like, komen, vote, favorit dan rate nya ya all reader...dan terima kasih banyak atas dukungannya.🙏🙏


__ADS_2