Mr.Playboy Vs Miss.Dingin

Mr.Playboy Vs Miss.Dingin
Bab 157 Malam Penuh Petaka


__ADS_3

"Mengapa kamu tidak pergi juga, Bonita??? ini masalahku, aku tidak ingin melibatkanmu dalam hal ini...aku berterima kasih padamu dalam beberapa hari ini selalu ada di sampingku untuk membantuku, pergilah selagi masih ada kesempatan Bonita...jika terjadi sesuatu padamu, apa yang akan aku katakan pada paman Bara Seta nanti??"


Bonita menggelengkan kepalanya.


"Melindungimu adalah tugas yang diembankan oleh ayah kepadaku. Aku tau semua resiko yang harus kuhadapi.


"Kita akan menghadapi bersama kedua manusia ular itu." Kata Bonuta mantap.


"Apa kalian mendiskusikan tentang bagaimana cara mati yang enak untuk kalian??" tanya Rini dengan seringai mengerikannya.


"Sombongnya kamu manusia jadi-jadian....yang menentukan hidup dan mati manusia itu Yang Maha Kuasa bukan di tangan mahluk salah kaprah seperti kalian..."


"Bagaimana kalian mau mengalihkan tugas menjadi malaikat maut?? berdiri aja susah harus terputar-putar di atas ekor dulu!! berdiri di atas kaki dulu baru boleh menyombongkan diri, bukan berdiri di atas ekor begini!!" kata Matsuyama semakin membuat mahluk setengah manusia setengah ular itu menjadi murka.


Melihat Matsuyama mencoba membuat emosi kedua siluman ular itu, Bonita tak mau kalah.


"Aku yang bukan manusia aja punya anggota badan utuh, kalian ini mahluk apa??? kok setengah ular setengah manusia gini, laluadakah kira-kira laki-laki atau perempuan yang akan menyukai kalian??" kata Bonita terus membakar emosi kedua mahluk itu.


"Siapa yang mau?? satunya ngga punya lubang, yang satu lagi ngga punya batang!! hahaha!!" tawa Matsuyama dan Bonita tampak riuh.


"Manusia jaha*nam!!" kata Rini marah lalu...


WUUTT...


Dia mengibaskan ekornya kearah Bonita dan Matsuyama.


BRAKKK...


Pohon besar di belakang mereka tumbang terkena sabetan ekor Rini yang murka.


"Bagus...pancing terus kemarahan keduanya sehingga membuat mereka menyerang kita membabi buta...dengan begitu tenaga mereka akan terkuras." bisik Matsuyama pada Bonita.


"Sabar Rini...jangan terpancing emosi...mereka sedang memancing emosi kita!!' kata Rana yang tampaknya lebih sabar dari Rini saudaranya.


"Apakah kamu saudaranya?? kau tampan dan baik, jauh berbeda dengan saudara perempuanmu yang beringas ini, apa sih makanannya? bangkai nagakah??" kelakar Matsuyama disambut lagi oleh tawa Bonita.


Makin mendidihlah darah Rini mendengar cemoohan yang ditujukan padanya.


"Rana bodoh...tunggu apa lagi?? serang mereka berdua!!" suara Rini menggelegar keseluruh penjuru hutan.


Rana sedikit tergugu mendengar bentakan saudari segera mengeluarkan jurus-jurus andalan mereka.


Berkali-kali Matsuyama hampir terkena sabetan ekor dari Rana dan Rini, hanya kecepatan geraknya saja yang bisa menghindarkannya dari sabetan ekor dua siluman ular itu.


BUGHH...


Bonita terlempar jauh saat ekor Rini menghantam telak dadanya.


Tampak Bonita menyemburkan darah coklat kehitaman dari mulutnya.


"Bonita???" teriak Matsuyama.


Dari tempatnya berdiri Rini tampak menyeringai melihat Bonita menelungkup di atas rerumputan.


"Sekarang giliranmu manusia pembunuh!!" teriak Rini mempercepat serangannya.


"Ini tak bisa dibiarkan...aku punya anak istri, aku tidak mau mati konyol di tangan dua manusia ngga jelas ini!!" gumam Matsuyama.


Dia menarik samurai yang membelit seperti sabuk di pinggangnya sangking lentur dan tipisnya bentuk samurai itu.


Dihunusnya samurai itu dan mengatakan pada Rini dan Rana.


"Kamu tahu wahai dua ular siluman?? samurai ini aku dapatkan dari dalam perut ibu kalian yang lalu kupakai juga untuk merobek perut ibu kalian agar dapat keluar dari dalam perut itu."


"Sekarang dengan samurai ini juga aku akan menebas salah satu anggota tubuh kalian berdua."


Wajah Matsuyama menjadi berubah dingin. Tak ada lagi seringai lucu dari wajahnya yang ada hanya seringai buas dan sorot mata membunuh.


Samurai di tangan Matsuyama berubah seperti baling-baling berputar cepat seperti bayangan. Dengan kecepatan gerak yang luar biasa samurai itu bersiuran di udara mengurung Rana dan Rini membuat dua ekor siluman ular itu kelabakan dibuatnya.


Bonita duduk bersila di lapangan berumput mengatur napasnya yang terasa sesak karena luka di dalam dadanya terkena hantaman ekor Rini tadi.


AAAGGGHHHH....

__ADS_1


Lengan Rini tergores samurai di tangan Matsuyama. Seketika darah yang mengalir di goresan itu menghitam pertanda ada racun di ujung samurai Matsuyama.


Rini mengerenyit menahan sakit akibat racun yang menjalar dengan cepat.


KRAAKKK...


Rana terlihat bergidik melihat saudarinya mematahkan tulang lengannya sendiri mencegah merambatnya racun keseluruh pembuluh darahnya...lalu dengan cepat dia menotok luka dipatahan lengannya untuk menghentikan pendarahannya.


"Itu baru lenganmu, aku tadi berencana ekormu yang akan aku tebas!!" seringai maut bermain di wajah tampan Matsuyama.


"Aku mau lihat jika tanpa ekor, bisakah kamu tetap berdiri??" tanya Matsuyama lagi.


Rini menggeram marah.


"Formasi silang, Rana!!" teriaknya tiba-tiba.


Lalu dua ekor ular besar mereka saling menyilang seakan tidak memberi jalan pada Matsuyama untuk bergerak.


"Terserah kalian mau pakai formasi apa, jangan salahkan aku jika samuraiku menebas salah satu anggota tubuh kalian lagi!!" kata Matsuyama.


Pertarungan sengit kembali terjadi. Pada jurus kelima puluh bahu Matsuyama terkena cakaran kuku Rini membuat Matsuyama terhuyung-huyung.


BUUUGGHHHH....


Belum hilang rasa sakit di bahunya, perut Matsuyama kembali terkena pukulan Rana.


Bonita yang melihat keadaan Matsuyama menjadi sangat cemas.


"Jika lari sekalipun kami tak akan mungkin mampu lepas dari kejaran dua siluman ular itu...bagaimana ya??? keadaan Matsuyama semakin mengkhawatirkan." Kata Bonita semakin merasa cemas.


BRAAKKKK...


Kembali tubuh Matsuyama terpental jauh memuntahkan darah segar.


Kesempatan itu tak disia-siakan oleh Bonita, dengan cepat dia menyambar tubuh Matsuyama dan melarikannya kearah Snow yang merumput lebih jauh dari pertempuran itu.


"Cincin...usap cincin di jari tanganku bonita!!" kata Matsuyama sebelum akhirnya jatuh tak sadarkan diri di atas punggung Snow.


Dengan cepat kedua ular siluman itu mengejar kearah jatuhnya Matsuyama tadi.


"Sialannnn...." umpat Rini saat tak menemui korbannya terkapar di sana.


Dia hanya melihat ceceran darah di tanah berumput itu....tapi mana Matsuyama??


"Apakah gadis dari dunia bawah tanah itu telah menyelamatkan dia??" kata Rini pada saudaranya Rana.


"Tetapi mereka tak mungkin hilang secepat itu dari pandangan mata kita!!" kata Rana sambil mengawasi di sekitarnya.


"Cepat kita kejar Rana...jangan sampai manusia bedebah yang telah membuat kita menjadi yatim piatu itu lolos begitu saja!!" teriak Rini memberi aba-aba.


Dengan gerakan luar biasa cepat, kedua ular siluman itu mengejar kearah datangnya Matsuyama tadi.


Tapi setelah sekian lama mencari...dia tak juga menemui laki-laki itu.


"Kok bisa hilang secepat itu??" kata Rini berkata pada Rana saudaranya.


"Mereka tak mungkin lari jauh Rini...apalagi si Matsuyama itu dalam keadaan terluka parah!!" kata Rana.


"Tapi mereka hilang kemana Rana??? mereka bagai lenyap ditelan bumi!!" kata Rini.


Kedua saudara anak dari Sinoe itu terus berkeliling mencari jejak Matsuyama.


Sementara Bonita tidak berani memacu Snow dengan cepat, takut derap kaki kuda itu mengundang pendengaran kedua ular siluman tersebut.


Dia hanya memacu perlahan dan berkat cincin sakti di tangan Matsuyama, mereka bertiga tak terlihat oleh mata manapun termasuk mata Rini dan Rana.


Setelah dirasa cukup jauh dari Rini dan Rana, Bonita berhenti untuk mengecek keadaan Matsuyama.


"Untung dia termasuk orang yang kuat, jika tidak pasti tulang dadanya sudah melesak terkena hantaman ekor ular yang seperti dahan kelapa itu!!" gumam Bonita.


Bonita berhenti di pinggir sungai. Wujud ketiganya sudah nampak kembali. Bonita membaringkan tubuh Matsuyama untuk membersihkan luka-lukanya.


"Untung lukanya tidak begitu parah..." kata Bonita.

__ADS_1


Dia melihat sekeliling tempat itu untuk mencari tempat berteduh malam ini, matanya yang tajam menangkap ada sebuah goa kecil di balik lebatnya semak belukar.


Kembali Bonita menarik tubuh Matsuyama yang sudah dia bersihkan masuk ke goa itu. Snow mengikuti dari belakang dan berhenti di samping pintu goa yang ada ditumbuhi pohon besar.


"Snow...kamu merumput di sini ya...sementara tuanmu dan aku beristirahat di dalam goa agar tuanmu tidak kedinginan!!" kata Bonita.


Seolah mengerti, kuda putih itu meringkik pelan lalu merumput kembali di sekitar mulut goa.


Menjelang malam Matsuyama mulai sadar tetapi tubuhnya mengalami demam tinggi.


"Almira....Almira...." Matsuyama mengigau memanggil nama istrinya.


Dengan telaten Bonita mengompres dahi Matsuyama yang panas tetapi dari pinggang ke bawah terasa begitu dingin seperti es batu.


Tubuh Matsuyama menggigil kedinginan.


"Almira...sayang...peluk abang!!! abang sangat kedinginan!!" suara Matsuyama terdengar lirih.


Di dalam pandangan matanya, Bonita sudah seolah menjelma menjadi Almira istri yang sangat dirindukannya.


Matsuyama spontan memeluk Matsuyama walaupun di luar sadarnya.


Awalnya Bonita tak membalas pelukan Matsuyama itu, dia bingung harus bersikap bagaimana...tetapi akhirnya dia balas memeluk Matsuyama untuk memberikan kehangatan pada tubuh Matsuyama yang menggigil.


Merasa dipeluk oleh Almira, Matsuyama semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Bonita.


"Abang kangen sama kamu Mira?? peluk abang lebih erat lagi...jangan tinggalkan abang ya, Mira!!" lagi-lagi Matsuyama bermain dalam halusinasinya beranggapan bahwa Bonita adalah Almira.


Matsuyama mencari-cari bibir merah milik istrinya. Bonita bingung dia harus bagaimana saat Matsuyama melu*mat bibir tipisnya.


Lama kelamaan dia terbawa dalam permainan bibir Matsuyama.


Kedua insan itu saling berpagutan dan saling melu*mat bibir. Saat Bonita ingin menuntut lebih dari sekedar ciuman panas, tiba-tiba Matsuyama ambruk ke belakang dan jatuh tak sadarkan diri kembali.


"Ahhh....Matsuyama!! kamu hampir membuatku gila dengan dekapan dan kecupanmu!!" kata Bonita mendesah.


Dia melirik kebawah kearah celana Matsuyama. Dia melihat benda menonjol yang tadi menegang telah kembali pada bentuknya semula.


"Apa rasanya jika benda kenyal ini masuk ke dalam tubuhku??" gumam Bonita berfantasi dengan pikiran nakalnya.


Entah mendapat keberanian dari mana tangannya walaupun gemetar mulai meraba benda itu. Awalnya Bonita hanya berani meraba dan memegang dari luar, tetapi kata hatinya menginginkan lebih.


Dia menyelusupkan tangannya untuk menyentuh langsung benda kenyal yang kini menegang kembali.


Rasa penasaran membuat pikirannya menggila. Dibukanya segel penutup tongkat pusaka itu untuk melihatnya secara langsung.


Bonita berdecak kagum walaupun wajahnya memerah tetapi dia enggan memalingkan pandangan matanya.


Tangannya terus bermain lincah. Sementara Matsuyama yang pingsan tidak merasakan apapun juga saat benda keramatnya diobok-obok oleh seseorang.


Pikiran Bonita sudah gelap dikuasai oleh naf*sunya sendiri tanpa sadar dia sudah membuka seluruh pakaiannya dan ikut berbaring di samping Matsuyama.


Dengan nekat dia mencoba memasukan benda yang sudah mengeras itu kedalam goa miliknya sendiri.


Bonita menguasai permainan sendiri menggoyangnya sendiri hingga mencapai puncak kenikmatannya pun juga sendiri.


Tak lama dia mengerang kelelahan dan terbaring lemas di samping Matsuyama yang belum sadar dari pingsannya.


Di pertengahan malam demam Matsuyama sudah menurun. Dia mulai menggeliat dari pingsannya. Matanya mengerjap-ngerjap sesaat untuk menguasai sekitarnya dan mengembalikan kesadarannya terlebih dahulu.


Perlahan dia duduk dan alangkah kagetnya Matsuyama melihat tubuh telan*jang Bonita sedang tertidur pulas di sampingnya.


"Ya Tuhan...apa yang sudah terjadi?? apa yang telah aku lakukan?? tetapi aku tak merasakan apapun semalam selain tubuhku yang menggigil karena demam tetapi mengapa sekarang Bonita sudah tertidur di sampingku tanpa sehelai benangpun??" pikiran Matsuyama bergejolak hebat berusaha mengingat apa yang telah terjadi dengannya dan Bonita semalam.


*


*


****Bersambung....


Bagaimanakah jadinya dengan pernikahan Matsuyama dan Almira?? akankah masuk kembali orang ketiga di antara kisah cinta mereka??


Jangan lupa ikuti terus lanjutannya ya readers🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2