Mr.Playboy Vs Miss.Dingin

Mr.Playboy Vs Miss.Dingin
Bab 131 Ternyata


__ADS_3

"Kau siapa??" tanya Valeria.


"Namaku Kebebitak...tapi kamu bisa memanggilku Kebe!!" sahut Kebebitak tetapi matanya liar menjelajahi setiap jengkal tubuh Valeria.


Ada perasaan risih di hati Valeria tetapi dia tidak mungkin menampik bahwa Kebebitak sangatlah tampan.


"Mau apa kamu membawaku kemari tuan Kebebitak?" tanya Valeria.


"Dan ini...baju apa yang aku kenakan ini?" tanya Valeria merasa risih apalagi sejak tadi pria aneh di hadapannya memandang tubuhnya terus menerus.


"Apa maumu tuan?" tanya Valeria pada Kebebitak yang hanya diam saja.


Tiba-tiba lelaki kekar tinggi besar di hadapannya membuka jubah hitamnya.


Mata Valeria melotot melihat pemandangan yang dia lihat di depannya.


Benda di bawah pinggang lelaki itu menunjuk kasar pada Valeria yang membuat Valeria sedikit bergidik.


Dengan kasar lelaki itu mendorong tubuh Valeria dan mencabik-cabik pakaiannya.


Tanpa ampun dia menghujamkan senjata pusaka itu dibawah perut Valeria yang menyebabkan Valeria berteriak dan memberontak, untuk selanjutnya tak ada lagi penolakan dari Valeria, gerakan liar si empunya senjata pusaka semakin membuat Valeria jatuh bangun.


Dua jam telah berlalu saat keduanya terkapar tak berdaya.


"Aku ingin pulang..." kata Valeria.


"Aku tak akan mengijinkanmu pulang...kamu di sini saja jadi pelepas dahagaku!!" kata Kebebitak.


Kita tinggalkan Kebebitak dan Valeria yang sedang melemaskan otot-otot tegang mereka. Kita kembali di mansion kediaman tuan Kelvin.


Almira sedang mengajak Xander dan Rafa bermain di taman belakang Mansion.


Almira duduk termenung sambil mengawasi kedua buah hatinya sedang bermain.


Tak jauh dari mereka pemuda bungkuk yang bernama Raga itu sedang memotong rumput. Mira tak menyadari jika semenjak tadi pemuda bungkuk itu sedang mengawasi dia.


"Sayang....sampai abang bela-belain punya punuk seperti unta begini demi apa coba...demi bisa dekat denganmu dan putra kita Xander."


"Jika abang tak menyamar seperti ini mana mungkin kamu mau abang dekati!!" Si bungkuk yang ternyata adalah Xavier yang menyamar tampak berkaca-kaca kedua kelopak matanya.


Apalagi dilihatnya Xander yang baru belajar duduk itu berkali-kali menguap menahan kantuk.


"Dasar bocah nakal..." senyum Xavier merekah melihat lucunya wajah putranya yang sedang berusaha menahan kantuk itu.


Bluk...


Hua...hua...


Xander benar-benar jatuh kesamping lalu menangis keras.


"Sayang...kalau ngantuk kita bobo aja yuk!! sudah nangisnya ya cup..cup..." kata Almira lalu menggendong dan mendiamkan tangisan putranya.

__ADS_1


Bukannya diam Xander malah menangis dengan keras.


Karena sibuk mendiamkan Xander, Almira tak sadar jika si bungkuk sudab berdiri di belakangnya.


"Nyonya...mari saya coba untuk menggendong, siapa tau tuan kecil mau diam!!" kata Xavier yang menyamar mengangsurkan tangannya.


Seketika Xander sendiri yang mengangsurkan tangannya pada pria bungkuk itu.


"Sini tuan muda sama om Raga..." kata si bungkuk.


Xander langsung terdiam dan menyenderkan dagunya pada bahu Raga dan perlahan matanya tertutup dan tertidur saat si bungkuk menggendongnya sambil menepuk pantat dan mengusap bahunya perlahan.


"Tuan muda Xander sudah tidur nyonya di mana saya mau menaruhnya?" tanya Raga.


"Langsung dibawa ke dalam aja, Raga...!!" kata Alira.


Almira melangkah di depan diikuti Raga yang sedang menggendong Xander.


Saat Raga yang bungkuk menidurkan Xander di dalam boks bayinya, Almira mencium bau yang tak asing baginya.


"Bau ini??? ini seperti bau parfum kesukaan bang Xavier...tapi tak mungkin ah..." gumam Almira.


Setelah menidurkan Xander si bungkuk itu berdiri sambil menunduk lalu melangkah pergi.


"Terima kasih ya Raga!!" kata Almira .


"Sama-sama nyonya...saya akan melanjutkan pekerjaan saya lagi." Kata Raga.


"Raga..."


Tiba-tiba Almira memanggil si bungkuk.


Deg...


Jantung si bungkuk seperti berhenti berdetak, dia tau mantan istrinya itu mempunyai tatapan yang tajam.


Raga berhenti dan diam di tempatnya menunggu kelanjutan ucapan Almira.


"Kamu pulang hari atau memang tidur di sini?" tanya Almira.


"Saya pulang sebentar lagi, nyonya dan besok pagi saya harus ada di sini pukul enam pagi." Kata si bungkuk.


Akhirnya Almira membiarkan Raga pergi dari hadapannya.


Sementara itu...


"Bu, mengapa perasaan Matsuya tidak enak semenjak tadi ya?? ini sudah mau pukul lima sore, Matsuya mau melihat-lihat sekeliling peternakan sebentar ya, bu!!" kata Matsuyama pada Serafin.


Serafin yang sedang menemani Giandra duduk di teras menoleh kepada menantunya.


"Bukankah tadi kamu dan ayah sudah mengecek sekeliling?" tanya Serafin.

__ADS_1


"Ngga apa-apa bu, takut ada binatang buas saja yang masuk ke peternakan ini!!" kata Matsuyama.


"Apa mau ayah temani??" kata Giandra menawarkan diri.


"Tidak usah, yah...ayah temani ibu saja di sini!!" kata Matsuyama.


"Kiki...Koko...temani ayah..." teriaknya pada dua ekor anjing yang selalu setia menjaga dan menggiring ternak-ternak itu.


Guk...guk...guk...


Kedua ekor anjing itu tampak mengibas-ngibaskan ekornya lalu berlari-lari mengikuti Matsuyama.


Dengan teliti Matsuyama meneliti sepanjang peternakan.


Guk...guk...guk


Terdengar ramai Kiki dan Koko menggonggong kearah sudut peternakan yang ditumbuhi ladang jagung.


Matsuyama berputar mendekati kearah suara kedua anjing yang menyalak itu.


"Apa itu??" gumam Matsuyama pada dirinya sendiri melihat sosok hitam yang tengah digonggong oleh kedua anjing itu.


"Kiki...Koko...jangan terlalu dekat ayo kemari..." teriak Matsuyama.


Belum sempat Matsuyama menyelesaikan ucapannya, mahluk yang seperti kelelawar itu menerkam kearah Koko yang posisinya dekat dengannya.


Untung Matsuyama yang berdiri tegak itu sudah siap semenjak tadi, saat mahluk itu mau melompat menyerang salah satu anjing penjaga itu spontan Matsuyama mendorong tangannya sehingga serangkum angin menghalau mahluk itu dan menyelamatkan Koko.


"Mahluk apa itu? rupanya seperti kelelawar, aku sempat melihat mata berwarna sangat merah hidungnya kecil dan telinganya panjang seperti kelelawar terutama gigi-giginya sangat runcing sekali."


"Apakah ini ada hubungannya dengan ratu Hikaru?? tapi ratu Hikaru sudah tewas!!" gumam Matsuyama.


"ini tidak bisa dibiarkan, aku harus memagari seluruh peternakan ini, aku tidak mau terjadi apapun pada ternak-ternakku di sini."


"Mahluk itu terbang ke barat, aku yakin nanti malam dia pasti akan kembali lagi...aku harus cepat kembali dan memberitahukan kepada ayah dan ibu tentang hal ini."


Dengan cepat Matsuyama mengajak pulang kedua anjingnya lalu menceritakan apa yang dia lihat tadi pada Serafin dan Giandra.


Tak lama mereka bertiga tampak duduk bersila sambil berpegangan tangan. Mereka saling menyalurkan temaga dalam. Lingkaran tenaga dalam itu semakin lama semakin lebar hingga menutupi seluruh area peternakan dan membentuk pagar gaib yang tak kasat mata.


Setelah dirasa cukup. Dengan wajah dan tubuh mereka basah bersimbah dengan keringat, mereka menghentikan kegiatan mereka.


"Ayah rasa cukup dulu, semoga pagar gaib yang kita buat ini mampu menghalau para penyusup itu." Kata Giandra.


"Kamu harus hati-hati mulai


sekarang Matsuya..." kata Serafin .


*


**** Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2