
"Karena aku mencintaimu Almira!!" Hiro buru-buru membuang pandangannya kearah lain tak mau beradu pandang pada pemilik mata boneka tapi tajam seperti elang itu karena dia selalu mati kutu jika sudah ditatap dengan tajam oleh Almira.
Hahaha....
"Cinta kamu bilang Hiro? Karena jatuh cinta itulah yang membuat aku jatuh sejatuh-jatuhnya seperti sekarang ini...andai dulu tak ada cinta tentu aku tak akan sesakit ini." Almira tertawa geli tapi air mata luruh juga dari kelopak matanya.
"Ayo Mira, kita cari tempat berteduh..sepertinya akan ada badai malam ini!!" Hiro memandang kelangit lalu memandang kelautan lepas, di mana gelombang sudah mulai naik meninggi.
"Aku tidak mau Hiro...biarlah badai akan menenggelamkanku sekalian."
"Jangan bodoh Almira, hidupmu bukan hanya untuk hari ini...kamu tidak ingin membalaskan kematian kedua orang tuamu?" Hiro memandang tajam padanya.
"Karena ulah sang ratu Hikaru dan para anteknya hingga ayah dan ibumu terbunuh, kamu dan Giovanno harus terpisah belasan tahun...kamu harus mencintai kakakmu sendiri hingga membuat kalian berdua sama-sama terpuruk seperti saat ini."
Almira terdiam mendengar ucapan Hiro. Hatinya yang tadi berkecamuk akan rasa kecewa kini mulai terbuka perlahan.
"Ayolah ngga ada waktu untuk berpikir lebih lama, badai akan segera datang." Hiro menarik tangan Almira membawanya kesebuah goa yang letaknya lebih tinggi sehingga jika air laut pasangpun tempat itu tak akan tergenang oleh air.
Petir mulai sambar menyambar ketika Hiro membuatkan api unggun di dalam goa itu agar Mira tak kedinginan.
Almira meringkuk di sudut goa. Tubuhnya menggigil. Hiro meraba keningnya terasa sangat panas tetapi kaki dan dan tangannya terasa dingin seperti es.
"Mira...Mira...Dia demam tinggi sekali!!" Hiro melepas jaketnya dan menyelimuti tubuh Mira.
Karena demam tinggi, Almira mengigau dalam tidurnya. Hiro tak henti-hentinya mengompres dahi Almira. Menjaga api unggun agar tetap menyala. Sementara di luar hujan badai menggila menyebabkan air laut pasang semakin tinggi.
"Pak...pak Xavier...jangan tinggalkan Mira sendiri...Mira sayang sama bapak!!" Matanya terpejam tetapi mulutnya terus mengigau memanggil-manggil nama Xavier. Air matanya terus mengalir membasahi pipinya.
Hiro menatap iba pada gadis cantik itu. Dia terus menjaga Almira dan dengan setia selalu mengganti kompresan di dahinya.
__ADS_1
Tiba-tiba matanya tertuju pada sesuatu yang berdiri tegak di pintu goa.
"Ngga usah mengagetkanku Kadir, masuklah...cuaca di luar sangat buruk nanti kamu bisa masuk angin dan kembung." Rupanya Kadir yang datang menghampiri mereka.
Kadir mendesis lalu masuk mendekati Almira dan menjilati keningnya yang terasa sangat panas.
Sementara di rumah pantai...
"Masuklah Giovanno...sampai kapan kamu akan berdiri di tepi pantai begini? Badai akan segera menaikan gelombang tinggi, kamu sudah basah kuyup begini!!" Kojiro terus membujuk putranya itu.
Gio akan tetap di sini menunggu Almira ayah!!" Teriak Giovanno berusaha melawan kerasnya suara petir yang menggelegar.
"Tunggulah di dalam nak, jangan menyiksa dirimu seperti ini!!" Hati Kojiro sakit melihat keadaan Xavier seperti ini.
Sementara di dalam rumah, kakek Dahlan pun terlihat panik dan bingung. Almira pergi mulai sore tadi hingga menjelang malam belum kembali.
Hiro yang ditugaskannya untuk mencari Almirapun belum kelihatan batang hidungnya. Termasuk Kadir yang ikut menyusul untuk mencari.
"Ih...begonya aku ngapain juga senyum-senyum begini!!" Kakek Dahlan merutuki dirinya sendiri.
"Kasihan kamu anak sableng...sedari kecil sudah sableng begitu dewasa mau mulai waras malah putus cinta...aku takut kamu malah akan menjadi lebih sableng dari sebelumnya."
"Sejak kamu ketemu Xavier, ternyata Xavier mampu mengubahmu perlahan kembali kekodratmu menjadi seorang wanita!! Kamu bisa lebih feminim, lebih sabar tidak lagi suka meledak-ledak, tidak suka tawuran dan trek-trekan lagi!! Benar juga sih, gimana tu anak sableng tidak down hati dan perasaannya...orang yang mampu merubah dia menjadi lebih baik, mampu menaklukan hati batunya, orang yang sangat dia cintai ternyata adalah kakak kandungnya sendiri."
Kakek Dahlan memandang kearah pantai yang berkabut karena badai, dia masih melihat sosok Xavier dan ayahnya berdiri.
"Kasihan juga Xavier Giovanno...dia juga amat terpukul dengan semua kejadian ini!! Baru tadi pagi mereka berangkat kekampus bareng masih kelihatan sangat mesra, tiba-tiba sore ini mereka berdua mengalami kejadian pahit yang tak akan terlupakan sepanjang hidup oleh mereka berdua."
"Aku ingin membantu, tapi membantu apa? Jika sudah begini tak ada yang bisa dilakukan."
__ADS_1
"Masa aku harus menjungkir balikan waktu membuat Mira dan Xavier terlahir sebagai dua orang yang berbeda, bukan sebagai dua orang saudara kandung!!"
"Ayolah Giovanno...bangkit...kamu harus kuat, siapa yang akan menjaga adikmu, siapa yang akan membalaskan dendam kedua orang tua kalian."
"Kalau kamu sebagai kakak malah mempunyai jiwa yang rapuh, bagaimana kamu bisa melindungi orang yang kamu cintai? Walaupun rasa cinta kita kalian kini sebagai saudara kandung bukan lagi sebagai sepasang kekasih." Kata Kojiro.
Kata-kata motivasi dari ayahnya membuat Xavier tersadar. Dia harus bangkit. Dia masih mempunyai Almira yang harus dia lindungi dan dia jaga, seperti janjinya saat itu akan tetap mencintai dan menyayangi Almira walaupun dengan cara yang berbeda.
Dengan tubuh menggigil akhirnya Xavier Giovanno berjalan tertatih meninggalkan pantai menuju kerumah.
Dengan telaten orang tua itu merangkul tubuh Xavier sambil berjalan.
Dia tahu mungkin luka di tubuh mampu Xavier tahan rasa sakitnya karena kelihatan di mana lukanya dan bisa diobati , tapi luka di hati? Siapa yang bisa melihat di mana terlukanya dan bagaimana cara menyembuhkannya?"
"Gantilah bajumu yang basah kuyup itu Giovanno lalu minumlah teh jahe ini untuk mengurangi rasa dinginmu." Kakek Dahlan menyodorkan segelas teh jahe hangat pada Giovanno.
Giovanno segera mengganti pakaiannya lalu tangannya yang gemetar segera meminum teh jahe itu.
"Di mana kamu sekarang dek? Apakah kamu baik-baik saja? Apakah Hiro dan Kadir bisa menemukanmu?" Pertanyaan itu terus yang berkecamuk di dalam kepalanya.
"Apa kamu sudah makan? Kamu hanya makan tadi siang saja...malam ini kamu belum makan."
"Aku sudah terbiasa memasak makanan dan membawakan bekal untukmu, menyuapimu sampai kamu kenyang." Giovanno tersenyum getir mengingat semua kenangan yang telah dilaluinya bersama Almira selama beberapa bulan ini.
"Giovanno, are you okay?" Kojiro jadi cemas melihat Giiovanno tersenyum sendiri sambil melamun.
*
*
__ADS_1
***Bersambung...
Jangan lupa mampir, membaca, like, komen, vote, favorit dan rate nya.🙏🙏