
"Rafa adalah kelemahan Almira, jika aku bisa mengambil Rafa maka otomatis Almira dan Xavier tak punya pilihan lain selain menyerahkan diri mereka...masalahnya Rafa ini tak bisa kusentuh dengan tanganku...keturunan ratu Hikaru ataupun orang-orang ibundaku tak dapat menyentuh ketiganya!!" jawab Levia
"Lalu bagaimana rencanamu sekarang?" tanya Sima.
"Setidaknya kita harus mencegah dulu para pemilik batu mustika itu untuk bertemu dan bersatu, jika mereka kurang salah satunya maka kekuatan mereka tidak terlalu hebat, tetapi jika mereka bertiga telah bersatu maka bahaya lah bagi kita para penganut ilmu hitam."
"Purnama merah itu memiliki dua pertanda, pertama akan hancurnya golongan putih dan berjayanya golongan hitam atau malah sebaliknya.
Sima manggut-manggut tanda mengerti.
"Ibunda ratu sudah mengerahkan seluruh anak buahnya untuk menghalangi jalan ketiga orang itu untuk bersatu."
"Dan satu lagi yang harus kita waspadai...mahkuk melata yang memiliki bola matanya berwarna biru itu." kata Levia.
"Iya...aku jengkel sama mahluk melata jelek sialan itu...aku pernah digigit olehnya waktu mengintai rumah pantai mereka untung aku bisa menetralisir racun di tubuhku akibat gigitannya." kata Sima kelihatan sangat kesal.
"Kamu juga nampaknya harus mewaspadai itu!!!" tunjuk Levia pada sosok yang sedang mendekati mereka.
"Haduh...anak brengsek itu lagi!!" Lalu Sima mundur dan kabur sebelum Matsuyama menyadari kehadirannya.
*
*
"Apa kita tidak minta dijemput sama Kakek Dahlan aja kah yah?" tanya Xavier pada Kojiro.
"Ngga usah, bagaimana jika dari sini lita lewat arah pantai dan mengerahkan ilmu lari kita sampai di rumah?" usul Kojiro.
"Oke...siapa takut!!" kata Giandra bersemangat.
Lalu mulailah keempat orang itu berlari mengerahkan ilmu lari yang merek miliki sehingga hanya kelebatan warna pakaian mereka saja yang nampak.
"Ayo ayah...dasar uzur!!" Xavier melewati Kojiro.
"Anak kurang ajar...berani-beraninya ayahnya sendiri di bilang uzur!!" kata Kojiro.
Tak sampai 15 menit kemudian.
"Itukah rumahnya, Gio?" tanya Serafin pada Xavier.
"Iya bu...!" jawab Xavier.
"Tunggu..." kata kakek Kojiro.
"Mengapa aku merasa rumah itu terasa begitu aneh ya?? seperti ada aura-aura mistis yang berkeliaran di sekitar rumah itu."
__ADS_1
Giandra dan Serafin diam lalu mereka ikut memandang kearah rumah itu.
"Perasaan belum ada setengah tahun aku pergi meninggalkan rumah itu, tapi kenapa auranya seperti rumah 100 tahun tak berpenghuni?" kata Xavier.
Mereka berempat tiba di depan rumah. Rumah nampak sunyi seperti tak berpenghuni.
"Mungkin dia sedang kuliah sekarang!!" batin Xavier.
"Dahlan kemana ya??" kata Kojiro berkeliling rumah mencari sepupunya itu.
"Mengapa aura mistis sangat terasa di sekitar rumah ini ya?" gumam kakek Kojiro.
Rupanya bukan hanya kakek Kojiro yang beranggapan begitu, Serafin dan Giandrapun beranggapan sama.
"Sera...bulu badanku terasa meremang!!" kata Giandra. Serafin hanya mengangguk mengiyakan.
Tiba-tiba tampak dua sosok sedang berlari-lari sambil bersenda gurau. Si gadis sedang membawa tas belanjaan, mungkin mereka baru pulang dari supermarket.
Saat saling mendekat dua mata itu bertemu dan berpandangan lama sekali.
"Pak Xavier..." suara Almira tercekat di tenggorokannya.
Mereka berdua saling mendekat dan berpandangan lama sekali. Dan entah siapa yang memulainya lebih dulu mereka berdua saling berpelukan.
"Abang...." isak Almira antara sedih juga bahagia.
"Mira, lihatlah siapa mereka berdua?" kata kakek Kojiro sehingga dua insan yang saling mencintai tetapi harus terpisah karena keadaan itu melepaskan pelukan masing-masing!!"
Almira menatap sepasang suami istri yang memiliki paras rupawan itu walaupun mereka sudah tak muda lagi.
"Itu ayah dan ibu kita, Mira!!" kata Xavier sambil tetap menggandeng tangan Almira.
"Ayah dan ibu kita??" kata Almira.
"Iya, nak...ini ibu dan ini ayahmu!!" isak Serafin tertahan lalu memeluk putri yang hanya sebulan sempat dia gendong lalu akhirnya mereka terpisah sekian lamanya.
Ibu, ayah dan anak-anak mereka saling mengurai pelukan kerinduan.
"Hai...siapa kau anak muda yang berkulit seperti pualam?" sapa kakek Kojiro.
"Aku Matsuyama putranya Kakegawa kek!!" aku satu ayah lain ibu dengan kak Hiro dan kak Sima.
Xavier mengalihkan pandangannya pada Matsuyama. Dipandangnya pemuda berwajah sangat tampan di hadapannya itu lalu coba disandingkannya dengan Almira.
"Kakak tak usah cemburu pada kami, kita murni hanya bersahabat saja!!" kata Matsuyama seolah mengerti arti dari tatapan mata Xavier itu.
__ADS_1
"Apa kakekku ada di dalam bu?" tanya Almira.
"Tidak ada, sudah hampir setengah jam kami berada di luar tapi tak ada tanda-tanda kakekmu ada di dalam!!" sahut Serafin.
Matsuyama dan Almira saling berpandangan mendengar itu. Mereka jadi teringat kejadian semalam yang sukses membuat mereka ketakutan setengah mati.
"Mengapa kalian berdua saling pandang begitu? awas lho Matsuyama, ntar kamu naksir adikku lagi!!" kata Xavier setengah tak terima jika Matsuyama memandang Almira seperti itu.
"Cemburu nih yee!!" kata kakek Kojiro menggodanya.
"Sudahlah, kita masuk kedalam aja yuk...hari tampaknya mau turun hujan!!" kataku lalu mengajak mereka semua masuk.
"Bang...abang yang memasak ya!! aku kangen makan masakan abang!!" kataku memandang Xavier.
"Iya...nanti abang akan memasak makan malam untuk kita semua!!" katanya sambil mengajak rambut gadis yang terpaksa harus diakuinya sebagai adik itu.
Sementara kakek Kojiro, ibu Serafin, ayah Giandra dan Matsuyama sedang bercengkerama di depan ditemani teh melati dan berbagai macam cemilan yang dibawa oleh ibu Serafin.
"Kakek Dahlan kira-kira pergi kemana ya, Mira?? hari sudah mau petang dan hujan gerimis mulai turun begini!!" kata Xavier sambil mengiris ikan dan Almira membantu mengiris sayurannya.
"Bang!!!" aku menoleh kiri dan kanan dahulu sebelum menceritakan sesuatu padanya.
"Kakek Dahlan sekarang sudah banyak berubah!!" kataku.
"Kakek seperti berubah menjadi sosok ysng sangat misterius...jika siang tiba dan Mira sedang kuliah, kakek juga mulai tak ada di rumah, nanti malam baru kembali." sahutku pelan.
"Oh ya??? apa kamu melihat sesuatu yang ganjil pada diri kakek Dahlan?" tanya Xavier lagi sambil terus memasak.
"Mata kakek sekarang tampak berubah mengerikan, dan juga kakek tidak mau lagi jika aku pamit bersalaman dengannya di pagi hari."
"Semalam aku dan Matsuyama sampai ketakutan!!" lalu aku menceritakan perlahan detail kejadian semalam dan Xavier mendengarkannya dengan seksama."
"Tapi untung abang datang bersama kakek Kojiro, ayah dan ibu!! aku bahagia sekali!!" tak terasa aku memeluknya lagi dengan bahagia.
"Iya Mira, walaupun kita bertemu lagi hanya sebagai saudara bukan sebagai kekasih!!" Xavier menelan salivanya dengan susah payah.
"Tidak mengapa bang, kita terima saja keadaan ini mungkin jalan hidup kita memang ditakdirka bukan sebagai kekasih tetapi hanya sebagai saudara." ucapku berusaha setenang mungkin di hadapan Xavier.
*
*
***Bersambung...
Yeah...ππ akhirnya bertemu lagi!! semoga kalian cepat tau kisah yang sebenarnya tentang kalian...
__ADS_1
Ikuti terus kisah Almira dan Xavier ya!! Jangan lupa like, komen, vote, favorit dan ratenyaπππ