
Ayo kelamaan...saya yang malah jadi lapar melihatmu manggut-manggut begitu..."
Ditariknya tanganku tanpa mempedulikan lagi tatapan tanda tanya dari mahasiswa mahasiswi yang melihat kami.
"Pelan-pelan napa pak? Ngga akan lari kantin di kejar."
"Saya lapar Mira, dari pada kamu yang saya makan? Hayo!!"
"Bu, saya pesan bakso...kamu pesan apa Mira? Hei...bengong aja...kamu mau makan apa!!"
"Eh iya, saya bakso juga sama es teh," Jawabku.
"Kamu ngeliatin apa sih? Jangan bilang kamu lagi liatin cowok lain ya...saya cemburu."
"Ngga usah lebay deh pak, lagian siapa juga yang ngeliatin cowok?"
"Habis kamu ngeliatin apa? Kok serius banget sih??"
"Bapak coba liat kearah pohon dekat tembok itu!!"
"Lho itukan Alia, sama siapa dia?"
"Itu sudah yang jadi pertanyaan saya, karena waktu itu Alia bilang tidak punya teman siapapun selain saya."
"Tampaknya mereka sedang membicarakan sesuatu yang serius...tapi apa ya?"
"Kepo...kalau mau tau ya datangi aja pak, ikut nimbrung dengan mereka!!" Kataku santai.
"Seperti tidak punya pekerjaan saja Mira, daripada saya nimbrung dengan mereka...lebih baik saya pelototi pacar saya supaya tidak melirik laki-laki lain."
Uhuk...uhuk...
Cepat-cepat aku menyeruput es tehku mendengar perkataan Xavier.
"Bapak lho...entar kalau ada yang dengar disangka beneran saya pacaran sama dosen saya sendiri."
"Biar aja, jangan kata hanya orang satu kampus...satu dunia tau juga saya ngga peduli."
"Sudah makan aja dulu pak, ntar tuh pentolan bakso menggelinding pindah ke dalam mangkok saya."
"Disuruh makan kok malah melototi saya thoh pak Xavier!!" Kataku.
"Mira...kamu tuh gadis yang unik...tomboy, jutek, cuek, dingin tapi cantik dan menarik."
"Ya...ya...saya memang cantik dan menarik..." Kataku lagi.
Tak sengaja mataku melirik kearah Alia berdiri.
__ADS_1
"Pak...bapak pernah liat ke dua mahasiswa yang sedang bersama Alia itu, nggak?: Tunjukku dengan ekor mataku.
"Sepertinya mereka itu dari fakultas ekonomi deh..." Xavier ikut memandang kearah mereka berdiri.
"Wajah mereka bukan seperti orang sini, ya? Pak...pak..." Aku mengguncang lengan Xavier.
"Sekarang giliran bapak yang bengong...kayak ayam ketelan karet."
"Bukan Mira, saya itu seperti pernah melihat ke dua orang itu, tapi saya lupa pernah liat di mana!!"
"Tampaknya mereka berdua kembar ya pak...kayaknya mereka berasal dari kotanya Kotaro Minami deh..."
"Kotaro Minami siapa?" Xavier mendelik padaku.
"Itu pemerannya satria baja hitam tempo dulu...masa bapak ngga pernah nonton? Ngga gaul banget sih"
"Jepang maksudmu? Kok pakai muter-muter segala macam."
"Kamu benar Mira, terus kok Alia bisa kenal mereka ya?"
"Ya bapak tanya sama mereka bertiga, kenapa kok bisa saling kenal...begitu!!!"
"Ishhh... ngomong sama kamu ini kok menjengkelkan banget sih, Mira?"
"Ya sudah tau saya jengkelin kok masih mau..." Aku menjawab dengan santai sambil menyeruput es tehku.
"Ehemmmm...pacaran melulu..." Tiba-tiba saja Alia sudah muncul di depan kami.
"Pak Xavier sama Mira ke kantin ngga ngajak-ngajak...tadi kamu bilang ngga mau ke kantin, giliran pujaan hati yang ngajak...akhirnya mau juga!!"
"Ini pak Xavier yang ngajak...aku lho ngga punya uang sepeserpun!!" Jawabku dengan jujur.
"Jujur banget ucapannya sayang..." Xavier merangkulku mesra di depan Alia.
Uhuk...uhuk...
Aku keselek lagi mendengar panggilan mesra Xavier...dan jantungku seakan mau copot saat Xavier merangkulku dengan mesra.
"Perasaan kamu selama duduk di sini sudah keselek berkali-kali, Mira!!"
Aku dan Xavier tak menyadari tatapan tajam Alia pada kami. Tapi tatapan bengis itu berubah menjadi tatapan manis saat aku dan Xavier mengobrol lagi dengannya.
"Pak...sekarang teman saya yang cantik ini tinggal di mana? Kok saya jadi ngga percaya ya saat dia bilang ngontrak rumah di dekat rumah kakek Dahlan dulu."
Sambil pura-pura memegang tangan Xavier yang ada di pundakku, aku menekan sedikit untuk memberi isyarat agar Xavier tak mengatakan apapun.
"Kan dia dan kakek Dahlan memang tinggal tak jauh dari situ, Alia..." Jawab Xavier.
__ADS_1
"Boleh dong kapan-kapan ajak aku mampir ke rumah kontrakanmu, Mira!!"
"Boleh...tapi tidak sekarang-sekarang ya...aku mau pacaran dulu sama pak Xavier..."Jawabku sekenanya.
Entah mengapa aku merasa ada yang tak beres pada Alia...entah apa, untuk saat ini aku belum tau tapi aku pasti akan menemukan kebenaran itu.
"Ayo Mira, bapak ada mata kuliah sehabis istirahat ini...Alia kita berdua duluan ya..." Aku dan Xavier berdiri dan pamit duluan.
Setelah aku dan Xavier jauh, tatapan Alia kembali menyorot dingin. Bangku batu tempat dia duduk di kantin bolong sampai sebatas dua ujung jarinya saat Alia menusukan dua jarinya itu ke bangku batu tadi.
Tunggu saya nanti ya...jangan pulang duluan, kita pulangnya bareng." Kata Xavier.
Kami berpisah di lorong kampus. Saat di kelokan mau menuju ke ruangan kelasku, aku bertabrakan dengan seorang mahasiswa.
"Aduh maaf kak...saya ngga sengaja..."
Aku dan dia sama-sama jatuh terduduk. Tapi dia telah lebih dulu berdiri lalu mengulurkan tangannya untuk membantuku bangun.
"Lho...cowok ini tadi yang sedang mengobrol serius dengan Alia tadikan?" Aku membatin.
Ternyata dilihat dari jarak dekat begini, laki-laki ini manis sekali. Bola matanya yang coklat selalu berbinar, senyumannya dan dari keseluruhan dirinya yang menarik adalah matanya. Walaupun dia memiliki tatapan mata yang sangat tajam, tetapi tak bisa dipungkiri bahwa dia memiliki mata yang sangat indah.
Tiba-tiba dia mengulurkan tangannya. "Perkenalkan, namaku Hiro...nama kakak siapa?"
"Namaku Almira...dan tak usah memanggilku dengan embel-embel kakak...karena umurku jauh lebih muda darimu..cukup memanggil Mira saja..." Jawabku ketus.
Awalnya dia mengerutkan dahinya mendengar bicaraku yang rada judes, tapi lama-lama dia tersenyum.
"Kenapa kamu senyum-senyum? Memangnya kamu anggap aku melawak?" Dengusku rada kesal padanya.
"Tidak kakak eh...Almira cantik...kamu semakin bertambah cantik jika marah begini."
"Tau ah..." Kataku lalu melenggang pergi meninggalkan Hiro.
"Aku suka sama kamu Mira, seandainya kamu tau...aku berani membohongi Sima saudara kembarku hanya untuk melindungimu."
"Seandainya Sima yang waktu itu melemparmu dengan shuriken beracun, bisa di pastikan kamu akan sekarat...setidaknya kalaupun kamu bisa sembuh, antara dua pilihan yaitu kamu cacat atau gila seumur hidupmu."
"Tapi harus kuakui juga bahwa kamu memiliki ketahanan tubuh yang luar biasa dan kamu juga memiliki peliharaan yang mampu menghadapi jahatnya racun kelabang biru itu."
Ehem...
Hiro agak terkejut saat Sima saudara kembarnya sudah berdiri tak jauh dari belakangnya.
***Bersambung....
Jangan lupa dukungannya ya guys...like, komen, vote, favorit dan rate nya...terima kasih🙏🙏
__ADS_1