
"Anak bungsu Kakegawa itu, aku tau ilmu bela diri dan kesaktian yang dimilikinya hampir setara dengan Hiro dan Sima, tetapi dia tetap saja takut sama hantu!!"
"Tapi sebenarnya aku juga takut sih!!" kata kakek Kojiro sambil meringis dan masuk menuju dapur.
Aku melihat sesuatu yang ganjil pada sepupuku si Tosiro Dahlan itu. Aku memergokinya sedang makan daging mentah di kulkas.
Saat melihatku, dia pura-pura mengambil minuman dingin hanya sedikit tersenyum lalu masuk lagi ke dalam kamarnya.
Aku sebenarnya sudah tau yang ada di depanku ini bukanlah Tosiro, entahlah siapa dia, yang jelas dari sorot matanya kulihat dia sangat jahat.
"Kek, kakek melamun atau lagi bengong?" tanya Matsuyama yang tiba-tiba masuk ke dapur mengagetkannya.
"Hissshh kamu ini bikin aku kaget saja Matsuyama!!" kakek Kojiro terlihat sangat kesal.
"Kek, tadi aku menguping pembicaraan kakek Dahlan dengan seseorang, aku jadi khawatir dengan roh kakek Dahlan yang asli, di mana mereka menyekapnya?"
"Itulah Matsuyama, kita semua ingin menangkap kakek palsu itu, tapi nanti bagaimana nasib sepupukuTosiro?"
"Jadi apa yang harus kita lakukan kek? Sampai kapan kita akan membiarkan mahluk jahat itu bersemayam di dalam tubuh kakek Dahlan?"
"Kita tunggu waktu yang tepat, Matsuyama...purnama merah sebentar lagi, saat itu tiba pasti semua golongan hitam dan golongan putih keluar dari tempat persembunyiannya."
"Biasanya selalu ada mukjizat yang terjadi di malam itu.
"Sera, rasanya aku gemas sekali ingin menghajar kakek Dahlan palsu itu!!" kata Giandra.
"Terlebih aku ngga suka melihat cara dia memandangmu dengan mata berkilat-kilat seperti ingin menelanjangimu saja."
"Dasar kakek mesum!!" gerutu Giandra.
Istrinya hanya tersenyum kecil menanggapi kecemburuan suaminya.
"Biarkan saja yah, selama dia tidak menyentuhku..." kata istrinya.
"Kenapa kau Dahlan? kenapa wajahmu memerah dan menegang begitu?" tanya sosok putih yang terkapar di tempat tidur sehabis bergelut dengan kakek Dahlan palsu tadi yang membuat Matsuyama lari terbirit-birit sehabis mengintip mereka.
"Ahhh...tidak apa-apa!!" si kakek menyeringai sambil mengusap wajahnya berulang kali.
"Kamu menginginkan wanita cantik istri dari Giandra itu? jangan berpikiran yang macam-macam...dasar siluman kera!!" semprot wanita yang terbaring itu.
"Kamu menginginkannya sama saja kamu mengantarkan nyawamu pada mereka...mereka sudah tau siapa kau sebenarnya, mereka belum melakukan tindakan apapun karena mereka khawatir dengan tubuh kakek tua yang tubuhnya kamu pinjam ini. Jika mereka sudah tau celahnya bisa habis kamu dicincang oleh mereka!"
Siluman kera yang mengambil alih tubuh kakek Dahlan itu hanya menyeringai saja mendengarnya.
Kembali kepada Rafa dan Alia...
"Rafa...keluarlah, ayo makan malam bersama daddy!!" Aliandhara mengetuk pintu kamar putranya.
"Rafa, ingin sekali rasanya aunty berlari keluar untuk memeluk kakakku yang hampir setahun tidak bisa kusentuh itu."
Rafa menggelengkan kepalanya.
"Belum saatnya aunty, ada nanti masanya aunty bisa bersama dengan daddy dan kakek lagi tetapi sekarang demi kebaikan dan keselamatan aunty sebaiknya tahan dan urungkan dulu keinginan aunty itu." Sahut Aliarafa.
"Masuklah ke ruangan rahasia itu, dan tutuplah rapat pintunya agar siapapun tak bisa masuk kemari!!" kata Rafa kembali.
Setelah Alia di rasa aman, barulah Rafa keluar dari kamarnya. Dia tidak bisa menjamin bahwa Levia dan Sima sedang memperhatikannya di salah satu tempat yang tak di ketahui oleh sebab itu dia harus hati-hati karena dia tak ingin aunty yang di sayanginya itu sampai celaka karena kecerobohannya.
"Mengapa lama sekali membuka pintunya, nak?" tanya Aliandhara sambil mengucek gemas rambut Rafa.
__ADS_1
"Kakek dan auntymu sedang menunggu kita di ruang makan." Kata Aliandhara.
"Rafa habis dari kamar mandi, daddy!!" ucapnya.
"Pinter anak daddy sekarang sudah bisa ke kamar mandi sendiri!!" Aliandhara memeluk sayang putranya itu.
Di meja makan mereka saling menceritakan kejadian hari ini.
"Mengapa tanganmu sampai ke sikumu melepuh seperti itu Alia?"
Mereka semua memalingkan wajah ke arah Alia untuk melihat luka bakar itu.
"Tangan Alia habis kena api pembakaran sampah di kampus tadi yah??" jawab Alia ngasal.
"Ngapain kamu main api pembakaran sampah? seperti kurang pekerjaan saja!!" kata Aliandhara sementara Rafa hanya
menyeringai menatap kearah Alia.
Tentu saja tak mungkin Alia memceritakan hal yang tadi sore. Menceritakan jika dia dan Rafa mengadu ilmu dan kalah telak lalu meninggalkan luka di tangannya.
Mana luka bakar ini terasa sangat nyeri, dia dan Sima juga sudah berusaha untuk menyembuhkan tapi tidak bisa.
"Kalau jagoan kakek, apa saja pekerjaannya hari ini?" tanya tuan Kelvin pada Aliarafa cucunya.
"Rafa hari ini sangat senang kek, Rafa bisa bermain sekeliling mansion dan bisa melakukan semua yang ingin Rafa lakukan."
"Wah cucu kakek tambah besar tambah pintar, ya!! kakek bangga padamu, Rafa!!" ucap tuan Kelvin.
Rafa tampak senang sekali dengan pujian yang dilontarkan kakeknya.
"Daddy, kapan mommy Mira boleh main kemari lagi?" tanya Rafa
"Semenjak putus dengan pak Xavier, Almira sudah jarang kumpul bersama teman-temannya yang lain!!" jawab Alia.
"Putus dengan Xavier?" Aliandhara tampak mengerutkan dahinya.
"Memangnya mereka berdua itu pacaran ya!! kupikir mereka berdua itu kakak beradik karena ada sedikit persamaan antara Xavier dan Almira."
"Mereka sudah hampir bertunangan kak, tapi tidak jadi karena mereka memang bersaudara!!" jawab Alia.
Tuan Kelvin terdiam. Dia tampak berpikir. Dia pernah melihat kalung berliontin kepala naga yang sempat menyebul keluar dari kemeja Almira saat pertama kali gadis itu menyelamatkannya dan Aliandhara dari para musuh-musuhnya dulu.
Saat itu dia seperti pernah kenal kalung tersebut seperti milik seorang wanita yang menyebabkannya melajang hingga detik ini.
Dia dan si pemilik kalung itu dulu hampir menikah, tetapi karena latar belakang mereka berbeda membuat mereka berpisah.
Kelvin yang saat itu berusia sepuluh tahun lebih tua dari gadis remaja itu tentu saja mendapat pertentangan keras dari kedua belah pihak.
"Ayah mengapa bengong?" kata Aliandhara yang otomatis memutus ingatan tuan Kelvin pada gadis dari masa lalunya itu.
"Setahuku Almira sudah berkumpul kembali dengan kedua orang tuanya dan mereka tinggal di rumah pantai yang lumayan jauh dari sini." kata Alia menambahkan.
Deggg
Jantung tuan Kelvin berdetak dua kali lebih cepat.
"Dia masih hidup? benarkah dia belum meninggal? karena menurut kabar yang kudengar bahwa dia dan suaminya telah meninggal dunia dan putra angkat serta putri kandungnya juga dinyatakan menghilang."
"Putra angkat??? ya...ya...setauku dia hanya memiliki seorang anak perempuan yang baru lahir dan seorang bocah lelaki putra dari sahabat suaminya...apakah bocah lelaki itu adalah Xavier? Jadi dia dan Almira tak memiliki hubungan darah sama sekali...kasihan Aliandhara jika tau Xavier bukanlah saudara kandung Almira." batin tuan Kelvin bergejolak.
__ADS_1
"Ajaklah mommymu itu main kemari jika kamu merindukannya Rafa!!" kata Aliandhara.
"Ali..."
Tuan Kelvin memanggil putranya itu perlahan.
"Ada yang ingin ayah sampaikan dan bicarakan padamu, setelah makan malam temui ayah di kamar kerja ayah!!"
Aliandhara hanya mengangguk sementara Alia melirik dengan sudut matanya. Semua itu tak luput dari pengawasan mata tajamnya Rafa.
Mereka lalu makan malam tanpa suara dan setelah selesai Aliandhara dan tuan Kelvin masuk ke ruangan kerja tuan Kelvin. Alia beralasan kembali ke kamarnya, Rafa dengan didampingi bi Asih juga masuk ke kamarnya.
"Sialan...aku ingin sekali menguping pembicaraan Kelvin dan Aliandhara tetapi bocah naga itu selalu bersikap waspada dan terus mengawasiku...dasar!!!" Alia menggeram gusar.
"Apa yang mau ayah bicarakan denganku?" tanya Aliandhara pada ayahnya.
"Ali...ayah mau tanya, apakah kamu mempunyai perasaan dengan Almira?"
Mendapatkan pertanyaan yang tiba-tiba seperti itu membuat Aliandhara terdiam untuk beberapa saat lamanya sebelum menjawabnya.
"Mengapa ayah tanyakan itu padaku?" tanya Aliandhara lagi.
"Jika kamu memang mencintai Almira bersikaplah tegas." kata tuan Kelvin.
"Apa maksud ayah?" tanya Aliandhara.
"Kamu tau mengapa Almira dan kakeknya memutuskan pergi dulu dari mansion kita? itu semua karena ketidak tegasanmu terhadap Valeria.
"Sekarang ayah bertanya padamu, apakah setelah kamu menceraikan Valeria dulu kamu berniat rujuk kembali padanya suatu hari nanti?" Aliandhara menggeleng.
"Aoakah kamu masih mencintai mantan istrimu itu?" tanya tuan Kelvin lagi.
"Aku tidak tahu ayah, bagaimana perasaanku sendiri pada Valeria." jawab Aliandhara.
"Nah di situlah sudah letak kesalahanmu yang sangat fatal, Ali!!"
"Ayah pernah muda dan pernah merasakan juga bagaimana jatuh cinta, ayah tau di balik sikap ketus, jutek dan judesnya Almira padamu tapi ayah melihat ada binar cinta di matanya untukmu."
"Dia sering mencuri pandang padamu saat kamu sedang tidak melihat ke arahnya."
"Satu fakta yang mestinya tercerna dalam logikamu, jika Almira tak punya rasa apapun padamu, dia tidak akan pernah peduli pada Rafa."
"Kamu ingat bagaimana paniknya dia saat mendengar Rafa sedang sakit? bagaimana dia hampir semalaman juga ikut begadang menggendong dan menjaga Rafa yang memang tidak mau turun dari gendongannya?"
"Lalu di mana ibu kandung Rafa sendiri? dia seolah membutakan mata dan hatinya untuk suami dan anaknya?"
"Dia lebih memilih diam dalam gelimangan harta dan cinta palsu dari Xavana."
Tuan Kelvin nampak marah sekali. Tetapi seperti biasa dia selalu tenang dalam menahan gejolak emosinya.
*
*
***Bersambung...
Akankah Aliandhara menyadari semua kesalahannya selama ini??
Ikiti terus kisah cinta mereka ya guys🙏🙏
__ADS_1