Mr.Playboy Vs Miss.Dingin

Mr.Playboy Vs Miss.Dingin
Part 110 Pernyataan Cinta


__ADS_3

"Bilis...kamu panggil saja dengan nama kakek Bilis!!" kata kakek misterius tersebut.


Akhirnya Xavana kembali kemobilnya dan melaju meninggalkan tempat itu.


Tak lama berselang setelah Xavana pergi, si kakek Bilis pun berdiri dan hendak beranjak pergi dari sana.


"Ayah...ayah dari mana??"


Seorang lelaki setengah baya yang sangat tampan menyapa kakek Bilis.


Ada keanehan pada lelaki setengah baya itu. Wajahnya memang sangat tampan tetapi ada bulu-bulu kasar yang menutupi sedikit permukaan wajahnya dan di bagian bo*kongnya yang tak tertutup celana menyebulkan ekornya.


"Ayah bosan ada di lingkungan para monyet, Kebe...ayah ingin jalan-jalan di pantai ini sekalian mengenang ibumu!!"


"Ayo kita pulang, jika menjelang maghrib tubuh kita akan berubah, bahaya jika ada yang melihat kita." Tegur sang putra yang ternyata adalah Kebebitak.


Kebebitak memang terlahir dari ayah siluman kera dan ibu manusia biasa.


"Sudahlah ayah...untuk apa mengingat ibu lagi? jika ibu memang cinta dan sayang pada ayah, apapun perwujudan ayah, ibu tidak akan meninggalkan ayah dan meninggalkan Kebe."


"Berarti ibu hanya melihat ayah sebagai sosok yang tampan setelah ayah kembali ke sosok ayah sebagai siluman kera, ibu malah meninggalkan ayah terpikat pada pria lain padahal saat itu ayah sedang berusaha untuk berubah menjadi wujud manusia seutuhnya."


"Ibu tega meninggalkan ayah dan meninggalkan Kebe yang masih kecil yang masih butuh cinta dan kasih sayang seorang ibu."


Kakek Bilis hanya terdiam mendengar ucapan putranya itu. Memang jauh di dalam hatinya dia masih sangat mencintai istrinya itu makanya dia sering diam-diam keluar dari alamnya, berjalan-jalan di pantai ini karena di tempat inilah awal dia bertemu dengan istri manusianya.


Makanya tadi kakek Bilis memandang kearah matahari yang posisinya semakin rendah dia takut wujudnya akan berubah dan sempat terlihat oleh sosok pemuda yang sejak awal dia melihatnya, ada getaran aneh dalam.hatinya saat pertama melihat Xavana berteriak seperti orang gila di pantai tadi.


"Pemuda itu usianya seperti tidak jauh beda dengan Kebebitak, mata itu mata hazel itu seperti mengingatkan aku pada seseorang yang tega menjadi pengkhianat cinta."


"Seorang pengkhianat yang bodohnya tak bisa aku lupakan, seorang pengkhianat yang aku puja seperti dewi!!" gumamnya.


****


Xavana merasakan hatinya lebih tenang setelah seharian diajak oleh kakek Bilis memancing di teluk, membakar ikan dan minum air kelapa yang langsung di petik dari pohonnya.


"Kamu dari mana Xavana?? stafmu di kantor tadi mengatakan kamu mulai pagi hingga sore tak ada di tempat." Tanya tuan Anderson.


Entah mengapa semenjak pulang dari pantai tadi dan bertemu dengan kakek Bilis, hatinya terasa hangat dan senang.


"Tadi Xavana memang tidak ke perusahaan, dad!! Xavana pergi menenangkan diri dahulu."


"Kenapa? pasti masalah cinta segi tiga lagi kan?" tanya daddynya.


Xavana tidak menjawab, dia hanya menganggukan kepala saja.


"Xavana, kamu dan Xavier itu kumpul bersama mulai kecil, daddy tak pernah membedakan kasih sayang di antara kalian."


"Daddy harap jangan hanya karena seorang wanita maka persaudaraan kalian terputus."


"Xavier dan gadis itu sudah bersama jauh sebelum kamu masuk dalam kisah cinta mereka, dalam hal ini kamu lah yang salah, bukan salah gadis itu apalagi salah Xavier...mengertikah kamu Xavana??" tanya tuan Anderson lagi.


"Iya daddy..." jawab Xavana.


"Daddy menyayangimu walaupun daddy tau mommymu saat menikah dengan daddy ternyata telah mengandungmu, daddy tau bahwa daddy salah telah merebut mommymu darinya, tapi apa mau di kata, daddy telah jatuh cinta pada mommymu saat pertama kali daddy melihatnya di pantai waktu itu!! " batin tuan Anderson kembali berkecamuk mengingat saat-saat itu.


****


"Ayah, mengapa melamun di sini?" Kebebitak menepuk bahu ayahnya yang tengah melamun di samping taman istana mereka.


"Eh, Kebe!!! bagaimana keadaan bakul rumbis istrimu?? apakah penyakitnya sudah mulai membaik??" tanya kakek Bilis.


"Ah, entahlah yah..aku juga bingung pada penyakit istriku itu!!" kata Kebebitak.


"Istrimu itu bukan sakit biasa, Kebe...Bakul Rumbis itu sakit hati karena kamu sering bercinta dengan ratu Hikaru...wanita mana yang tahan melihat suaminya bercinta dengan wanita lain, dan kamu pun kelewatan, hampir setiap malam, dari malam hingga pagi kalian berdua bergelut tetapi istrimu sendiri kamu abaikan." Kata kakek Bilis.


Kebebitak hanya bisa terdiam, dia mengakui bercinta dengan sang ratu yang benar-benar hebat seperti candu baginya, walaupun dia harus mengabaikan keberadaan istrinya sendiri.


"Berhentilah kamu bermain api? Kebe agar kamu tidak terbakar nanti!!"


"Iya ayah..." jawab Kebebitak.


****


"Rafa, aunty dengar jika Almira sudah menikah dengan pak Xavier, ya!!" tanya Alia saat mereka sedang berada di kamar tempat persembunyian Alia dari Levia dan ibundanya.


"Benar aunty dan Rafa sangat iba pada daddy."


"Tapi yah...sebenarnya ini salah daddy juga awalnya, dia mencintai mommy Mira tetapi dia menerima kembali mommy Valeria, wanita mana yang tak sakit hatinya disentak di depan wanita lain oleh laki-laki yang dia sayangi."


"Dan bodohnya lagi, daddy membiarkan mommy Mira pergi dari mansion ini." Kata Rafa.

__ADS_1


"Kamu benar, setelah Mira menikah dengan pak Xavier baru daddymu seperti orang kebakaran jenggot." Kata Alia.


"Benar memang kata pepatah lama, bahwa kita kadang terlambat menyadari sesuatu, setelah sesuatu yang berharga itu pergi dan menghilang barulah kita menyadari betapa berartinya dia di dalam kehidupan kita!!" Kata Alia.


"Aunty benar, itulah yang tengah terjadi dengan daddy sekarang ini...suka atau tidak, daddy sekarang harus menerima bahwa mommy Mira bukan lagi seperti yang dulu seperti saat pertama daddy mengenalnya."


"Iya, aunty ingat betul walaupun sambil marah-marah tetapi aunty lihat betapa wajahnya memerah saat daddymu sering menggodanya." Kata Alia mengingat kembali kenangannya bersama sahabatnya itu.


"Aunty sering kangen sama mommymu itu, kapan bisa seperti dulu lagi ya, Rafa??" tanya Alia dengan wajah sedihnya.


"Rafa kapan kira-kira aunty bisa menampakan diri dihadapan yang lainnya? aunty sudah kangen banget sama semuanya!!" tanya Alia.


"Apakah kamu tidak merindukanku?" tiba-tiba suara Rafa memberat, bukan lagi suara bocah berumur 4 tahun tetapi seperti suara seorang remaja dan Alia tau itu adalah suara pangeran Redo.


"Tapi kamukan setiap hari juga ada didekatku!!" kata Alia sambil memalingkan wajahnya yang sudah merah merona karena malu.


"Itukan sebagai Rafa, bukan sebagai Redo!!" katanya sambil tersenyum melihat perubahan wajah Alia.


"Coba liat aku?" tiba-tiba suara itu berkata dengan lembut.


Alia menoleh pada sosok Rafa yang kita sudah berubah menjadi sosok remaja yang sangat tampan.


Jika dia manusia biasa aja inginnya Alia menimpuknya dengan sandal yang dia pakai karena remaja 16 itu telah lancang mencintai gadis berumur 21 tahun seperti Alia.


Tetapi remaja itu juga yang mampu menimbulkan getar di hatinya yang selama ini tak pernah dia rasakan dari laki-laki manapun karena semua orang menilai dia sebagai gadis culun.


Sosok Redo mendekat membuat Alia menjadi berdebar dibuatnya.


Walaupun Redo baru berumur 16 tahun tetapi bentuk tubuh yang dia miliki tak kalah kekar dengan pria berusia 25 tahun.


Dengan aura yang luar biasa yang dia miliki sebagai seorang pangeran. Jika dia manusia biasa paling sekarang dia baru duduk dibangku kelas 10 atau kelas 11 sekolah menengah.


Bagaimana Alia tidak dag dig dug saat dia disukai remaja yang masih SMA? kadang dia tersenyum geli sendiri saat melihat tingkah Redo yang terkadang masih kekanakan bermanja-manja dengannya.


"Hei...jawab aku!! apakah kamu tidak merindukanku?" tanya Redo yang suaranya sudah sedemikian dekat dengan telinganya.


Alia mematung di tempat dia duduk. Debaran ngga jelas semakin keras padahal dia sering juga bercanda dengan Redo jika remaja itu sesekali keluar dari tubuh Rafa.


Tangan Redo menyelipkan anak rambut Alia, menyelipkan ke telinga gadis manis itu.


Kaca mata tebal Alia dia buka lalu, wus...kaca mata tak berdosa itu lenyap di kejauhan saat di tiup oleh Redo.


"Waduh...kamu kemanakan kaca mataku? kamu kan tau tanpa kaca mata itu aku tak dapat melihat dengan jelas? terus uang dari mana aku mau membelinya? sekarang aku tongpes!!" kata Alia sambil mengeluarkan isi kantongnya.


Redo tak menjawab. Telapak tangan halus dan sangat wangi tiba-tiba mengusap kedua mata Alia.


"Bagaimana?" tanya pangeran Redo kemudian.


Alia mengerjapkan matanya beberapa kali, aneh...matanya sekarang sangat jelas melihat apapun tanpa bantuan kaca mata yang bersentu-senti tebalnya itu.


"Mataku sudah tidak kabur lagi...terima kasih pangeran Redo!!" tanpa sadar masih dengan mode duduk Alia memeluk pinggang pangeran tampan itu.


Sekarang berganti pangeran Redo lah yang jadi berdebar tak karuan mendapat pelukan dari Alia seperti itu.


"Iya...iya sekarang lepas ya??? nanti aku khilaf...kamu mau seorang gadis dewasa dihamili remaja umur 16 tahun?" tanya Redo sambil mengurai senyum.


"Iisshh apaan sih??? tanya Alia sambil mencubit pinggang Redo dengan gemas padahal dia berusaha menutupi kegugupannya.


"Aku akan membawamu kembali bersama keluargamu dan membongkar kedok Alia palsu yang sedang enak-enakan di luar sana memakai status palsu darimu, dua hari lagi saat bulan purnama bersinar penuh, kamu bersabarlah!!" Redo mengusap lembut kepala Alia yang tanpa sadar masih memeluknya dan menyenderkan kepalanya di dada bidang Redo.


"Mengapa disebut purnama merah, pangeran?" tanya Alia mendongakan kepalanya memandang wajah tampan pria muda yang sudah menjadi kekasihnya itu.


"Karena warna bulannya yang berubah merah, di mana dua kekuatan hitam dan putih saling bertabrakan dan berlomba untuk jadi pemenangnya."


"Jika kekuatan putih keluar sebagai pemenangnya, maka selamatlah dunia...tapi jika kekuatan hitam yang keluar sebagai pemenangnya maka akan hancurlah dunia ini dengan berbagai kejahatan meraja lela."


"Oleh sebab itu terlahirlah 4 mahluk pilihan yan mempunyai 4 unsur kekuatan, air, api tanah dan udara...ketiga orang itu sudah diketahui yaitu aku, yunda Refanya dan suaminya Xavier dan satu lagi belum diketahui identitas dan keberadaannya."


"Aku sudah mencoba melacaknya dengan kekuatanku, tetapi hasilnya nihil..kekuatan yang dia miliki seolah menutup dan melindunginya dari apapun."


Ehemmm...


"Sampai kapan kamu akan terus memelukku seperti ini, cantik??" kata Redo sambil mengusap pipi Alia yang sesekali mendongakkan kepalanya menatap Redo yang sedang berbicara!!


Alia memukul dada bidang itu perlahan dengan wajahnya yang kembali merona kemerahan.


"Aku harus kembali ke dalam tubuh Rafa, kamu masuklah karena tampaknya ada seseorang yang sedang melangkah menuju kemari!!" kata Redo lalu menyatukan kembali dirinya ke dalan tubuh Rafa dan Alia kembali bersembunyi.


Benar saja Levia menyeringai di depan pintu Rafa sambil matanya menatap liar kesana kemari jelalatan berusaha menjelajah isi kamar.


"Mau apa aunty kemari??" tanya Rafa ketus sambil meneruskan permainan mrwarnainya.

__ADS_1


"Daddymu memanggilmu tampan...." katanya sambil menyeringai pada Rafa.


"Oo...ya sudah aunty duluan aja nanti Rafa menyusul!!" lalu Rafa berdiri menuju pintu dan menutupnya.


Levia memperhatikan apa yang dilakukan bocah itu, sama sekali tak ada yang aneh dia hanya menutup pintu secara biasa, tak ada juga yang istimewa tetapi mengapa dia tak bisa membuka pintu itu seolah pintu terkunci?


Karena pernah suatu hari dia penasaran dengan isi kamar Rafa dia mencoba membuka pintu itu saat sang bocah sedang pergi sekolah.


Tetapi jangankan membuka pintu, memegang gagang pintunya saja telapak tangannya rasa terbakar.


"Apa aku minta bantuan baby sitternya aja untuk membukanya, ya??" batin Levia.


"Jangan kamu berpikir untuk membuka pintu kamarku, aunty palsu!!" ucap Rafa datar membuat Levia mendengus sebal mendengarnya.


Lalu dengan menahan kemarahannya dia mengikuti Rafa menuju ruang makan.


"Hei...cucu kakek kok cemberut gitu??" tanya tuan Kelvin merentangkan kedua tangannya memeluk Rafa cucu kesayangannya.


"Alia...kapan kamu akan memberikan ayah cucu juga?" tanyanya pada putri palsunya itu.


Belum sempat Levia menjawab, Rafa sudah menjawab duluan keceplosan.


"Belum kek, kakek sabar aja!!" semua mata menatap Rafa heran dan membuat Redo sadar akan kesalahannya dan dia memperbaiki kata-katanya.


"Maksud Rafa, aunty kan masih muda paling dua atau tiga tahun lagi, iyakan aunty?" katanya menatap Levia.


"I..iya ayah!!" jawab Levia gugup.


"Ah...sudahlah ayo kita makan...daddy sudah lapar!!" kata Aliandhara.


"Daddy, kapan mommy Mira akan mampir kemari lagi? Rafa kangen sama mommy Mira!!" tanya Rafa membuat Aliandhara tertegun.


Tuan Kelvin yang melihat itu segera membantu memberi jawaban.


"Mommy Mira dan om Xavier sedang sibuk Rafa...nanti jika sudah tidak banyak pekerjaan lagi pasti mereka akan mampir kemari, secara perjalanan kesini itukan cukup jauh!!" kata tuan Kelvin pada Rafa.


Akhirnya mereka semua terdiam sambil menyantap makanannya tetapi tuan Kelvin tau bahwa Aliandhara sedang memendam rasa sedihnya setiap kali mengingat nama Almira disebutkan.


Kelvin Antonio juga jadi serba salah, ingin rasanya dia menjodohkan Almira putrinya dengan Aliandhara, tetapi Almira sudah mempunyai pilihan hatinya sendiri, yaitu Xavier.


Seandainya saja Valeria tidak kembali dalam kehidupan Aliandhara, tentu kedua anaknya itu sudah menikah...tetapi Valeria datang dan mengacaukan segalanya.


Terkadang sering tuan Kelvin kepergok melihat Aliandhara yang duduk melamun sambil memeluk erat foto Almira ke dadanya.


Dia tau Aliandhara sangat mencintai Almira sejak pertama mereka bertemu dulu tetapi karena sifat Aliandhara yang terkadang angin-anginan maka dia sering mengabaikan perasaannya itu yang sekarang membuatnya menyesal saat Almira melangkah pergi meninggalkannya sendiri.


****


"Sayang...kenapa kamu cemberut saja??" tanya Xavier pada sang istri yang sejak tadi mendiamkannya.


Almira tidak menjawab, wajahnya semakin kecut dan bibir sexy nya semakin maju bersenti-senti panjangnya.


"Ada apa sih sayang?? katakan jika abang punya salah, hemm!!" dia memeluk pujaan hatinya dengan penuh kasih sayang.


"Abang..." akhirnya Almira buka suara setelah sekian lama berdiam diri.


"Iya sayang, ada apa??" tanya Xavier dengan lembut seperti biasanya.


"Almira pengen makan seafood yang ada di dekat kampus, tetapi ini sudah malam dan di luar banyak hantu berkeliaran, Almira takut abang dimakan hantu tetapi Almira juga kepengen makan seafood!!" Almira mulai merengek dan menangis.


Sepanjang bersama Almira, tak pernah Xavier melihat istrinya itu menangis walau sesakit apapun, tetapi malam ini istrinya itu benar-benar menangis hanya karena keinginannya tidak bisa terpenuhi.


"Apa karena pengaruh kehamilannya ya??" gumam Xavier.


"Sudah kamu jangan menangis sayang, sini abang pinjam cincin dari Hiro itu agar keberadaan abang jadi tak terlihat oleh mereka yang berkeliaran di luar sana, abang akan menggunakan ilmu lari abang untuk mencapai kampus, oke??"


Akhirnya Almira mengangguk dan menghentikan tangisannya.


Dia membuka cincin pemberian Hiro itu pada suaminya.


"Kamu tunggu sebentar ya...abang akan pergi dulu, tetapi malam bayar rasa lelah abang dengan ini ya!!" Xavier menggesekan senjata pusakanya kelengan Almira membuat si empunya lengan jadi merah jengah wajahnya.


*


*


***Bersambung...


Purnama merah akan segera tiba, tapi bagaimana jika salah satu dari keempat unsur itu sedang mengandung?


Author mohon selalu dukungannya ya reader...sebab tanpa kehadiran kalian semua author bukan apa-apa dan bukan siapa-siapaπŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2