
"Apa itu kek??" tanya Xavier pada ayahnya.
"Tadi ayah mendapat penglihatan bahwa pernikahan Almira dan Matsuyama akan banyak sekali mengalami gangguan."
"Entah mengapa ada saja yang iri pada mereka berdua, bahkan ada yang ingin dengan sengaja mencelakai Almira!!" kata kakek Kojiro pelan.
Xavier tidak bisa menjawabnya. Dia sendiri saja bingung bagaimana caranya untuk membantu.
*****
"Apalagi rencanamu hari ini saudaraku??" tanya si jubah hitam yang perawakannya lebih kecil.
"Hari ini giliran wanita hamil tetapi masih sangat cantik itu untuk kugoda...aku mau lihat seberapa kuat iman bocah itu saat ada sesuatu yang menggoda istri kesayangannya."
"Good...aku akan mencari tau karena kudengar mereka ini mempunyai banyak musuh, barangkali ada yang bisa kita rekrut untuk menjadi sekutu kita.
"Aku mau lihat betapa hati para orang tua itu hancur saat rumah tangga anak kesayangannya juga hancur!!"
"Supaya mereka merasakan bagaimana sakitnya ibu saat mereka mendua di belakang ibu!!" geraham si tinggi besar sampai bergemeletuk menahan amarahnya.
"Sabar...itulah sejak dulu mengapa aku selalu menjadi pembangkang!!" kata si jubah di sebelahnya.
"Kami akan membalaskan sakit hatimu, bu...lewat anak kesayangan mereka!!" seringai si jubah bertubuh mungil.
*****
Flashback on
*****
"Hiro?? kamukah itu??" tanya seorang wanita tua saat mereka berselisihan di jalan kota menuju rumah kediaman keluarga Daniah.
Saat itu Hiro mengantarkan istrinya yang hendak mengunjungi keluarganya di kota.
Di tengah jalan dia berpapasan dengan seorang wanita yang sudah tua yang tadi menyapa Hiro!!
"Nenek siapa ya??" tanya Hiro karena jujur dia dan Sima seolah kehilangan tentang sebagian ingatan masa kecilnya...seolah ingatan itu sengaja dihapus karena sesuatu hal.
Nenek tua itu menatap Hiro dari ujung kaki hingga ujung rambut.
"Kamu terkena ramuan penghilang ingatan!!" kata nenek tua itu.
"Maksud nenek apa ya??" tanya tak mengerti.
"Begini saja...setelah selesai urusanmu di sini maka datanglah ke rumahku yang letaknya ada di ujung jalan itu!!" katanya sambil menunjuk rumah besar yang letaknya di kelokan jalan.
Karena penasaran dengan perkataan orang tua itu akhirnya setelah mengantarkan Daniah, Hiro lalu singgah ke rumah nenek tersebut.
Tok...tok
Ceklek...
"Oh Hiro...masuklah nak!!" kata si nenek.
Hiro duduk di ruang tamu yang besar itu sementara si nenek mengambilkannya minum.
"Silakan diminum dulu Hiro!!" kata nenek itu.
Hiro meminum teh di cangkir yang disediakan si nenek. Tiba-tiba dia merasa kepalanya terasa sangat sakit sampai Hiro berteriak memegang kepalanya.
Sekitar 15 menit berlalu, sakit di kepalanya mulai mereda. Dia memandang kesekelilingnya. Dia seperti tak asing dengan tempat itu karena dia sering ikut seseorang dulu main ketempat ini.
"Ibu Saki??" lirih Hiro menatap wanita tua yang ada di depannya.
"Syukurlah sayang...akhirnya kamu bisa ingat siapa ibu!!" katanya.
Ibu Saki adalah pengasuh Hiro dan Sima sebelum Miku datang ke perguruan mengambil alih untuk mengasuh mereka.
Hiro memeluk tubuh tua itu sambil menangis.
"Mengapa ibu pergi meninggalkan Hiro dan Sima?? kami sangat kesepian di rumah apalagi semenjak ibu meninggal dunia!!" kata Hiro.
Ibu Saki memeluk erat anak asuhnya itu.
"Keterlaluan memang Miku dan Kakegawa..." geram ibu Saki.
"Sebenarnya apa yang telah terjadi, bu??" kata Hiro.
Ibu Saki menghela napas dan mulai bercerita.
*****
Usia Hiro dan Sima saat itu baru menginjak 5 tahun. Tuan Kakegawa ayah mereka sering pergi mengunjungi perguruan lain dan terkadang lama baru kembali.
Sore itu saat Hiro, Sima, ibu mereka Abesira dan ibu Saki pengasuh mereka sedang duduk di gazebo, Kakegawa muncul dengan membawa seorang gadis belia yang sangat cantik.
"Siapa dia yah??" kata Abesira agak tidak suka dengan kedatangan si gadis.
"Namanya Miku bu, kedua orang tuanya meninggal dalam perang, dia yatim piatu...ayah kasihan padanya dan memutuskan untuk membawanya keperguruan untuk membantumu dan ibu Saki mengurus Hiro dan Sima yang sangat aktif!!" kata Kakegawa.
Si gadis cantik hanya menunduk di samping Kakegawa.
Akhirnya walaupun dengan berat hati, Abesira menerima kehadiran gadis belia itu di tengah keluarga mereka.
Saat itu di kota kelahiran Hiro dan Sima sedang dilanda prahara akibat perbuatan ratu Hikaru dan antek-anteknya.
Entah mengapa seiring waktu kesehatan Abesira terus menurun. Padahal diketahui bahwa Abesira memiliki ilmu kanuragan yang setara dengan Giandra saat itu.
Siang itu ibu Saki dijemput oleh menantunya karena anaknya akan melahirkan. Jadi tinggalah Hiro dan Sima di rumah.
Abesira ibunya pergi keperguruan Giandra dan Serafin untuk membahas bagaimana caranya mengadapi ratu Hikaru.
__ADS_1
Abesira pergi terlebih dahulu dan Kakegawa berjanji akan menyusul istrinya.
Entah mengapa di pagi hari itu hujan turun dengan derasnya.
Sebagai anak ysng hiperaktif Hiro dan Sima memang anak kembar yang tak bisa diam.
Karena ibu Saki tidak ada dan Abesira ibu mereka sedang pergi, maka kedua anak kembar ini berniat mencari ayah mereka.
Seluruh sisi perguruan sudah mereka datangi tapi ayah maupun Miku tak mereka temui.
Hingga akhirnya dua anak kembar itu berinisiatif menuju kamar belakang tempat kediaman Miku.
kedua anak itu berusaha membuka pintu tetapi pintu kamar terkunci dan tak kehilangan akal kedua bocah nakal tetapi cerdas itu berputar kearah jendela yang sedikit terbuka.
"Sima...kok ada suara-suara aneh dari dalam kamar ya??" kata Hiro.
"Suara apa??" tanya Sima.
"Suaranya seperti gini...uhuhuh...sssss....ahahah... enak tuan...lagi...begitu suaranya..." bisik Hiro ketelinga Sima.
Karena penasaran keduamya mengintip kedalam tepat pada saat Kakegawa dan Miku yang dalam keadaan tanpa memakai sehelai benangpun tengah bergulat di tempat tidur yang tak seberapa besar itu.
Keduanya tampak melihat ayah mereka yang tengah duduk berlutut di belakang tubuh Miku yang membelakanginya sambil memegang erat pinggang wanita muda yang tampak terguncang-guncang dengan keras akibat dorongan dan goyangan pinggang ayah mereka.
Tubuh keduanya sudah basah kuyup bermandikan keringat.
Lalu mereka melihat ayah mereka mendorong tubuh Miku agar terlentang di pembaringan lalu ayah mereka langsung menjatuhkan diri di atas tubuh wanita itu setelah sebelumnya ayah mereka seperti tengah memasukan sesuatu kesela-sela paha Miku yang terbuka lebar lalu mereka saling menggoyang dan mengeluarkan suara-suara yang Sima dan Hiro dengar tadi.
"Hiro...ayah dan Miku sedang apa sih??" kata Sima perlahan.
"Aku tidak tau...tetapi sebaiknya kita tinggalkan tempat ini sebelum mereka di dalam sana tau jika kita sedang mengintip mereka." kata Hiro lalu dia dan Sima lari meninggalkan tempat itu.
Sebenarnya Miku sudah mengetahui bahwa kedua bocah itu mengintip aktifitas panas mereka tetapi karena terlalu enak untuk diakhiri akhirnya dia membiarkan saja sampai hasrat di dalam.tubuh mereka tuntas.
"Dasar anak nakal...sebaiknya aku mencekoki ramuan penghilang ingatan agar mereka tidak melapor pada Abesira ibu mereka tentang pergulatan kami tadi." batin Miku.
"Hiro...mereka tadi sedang apa?? haruskah kita laporkan pada ibu atau ibu Saki tentang yang kita lihat tadi??" tanya Sima.
Belum sempat Hiro menjawab, Miku datang menghampiri mereka dengan senyum manisnya.
"Anak-anak...bibi buatkan minuman segar agar kalian ngga kedinginan di tengah udara dingin begini!!" ksta Miku.
Karena mereka polos akhirnya keduanya meminum teh jahe yang sudah diberi ramuan penghilang ingatan oleh Miku.
*****
"Abe, mengapa wajahmu terlihat agak pucat?? apakah kamu sakit??" tanya Serafin pada sahabatnya itu."
"Aku hanya sedikit kurang enak badan saja..." jawab Abesira.
"Ini suamimu mana, Abe?? kata Axelo suami dari Hikaru.
"Nah panjang umur...itu orangnya datang!!" kata Giandra menyambut kedatangan Kakegawa.
Abesira melihat ada yang aneh pada suaminya, nalurinya sebagai seorang wanita dan seorang istri mengatakan itu tetapi dia belum tau di mana letak keanehannya tersebut.
Sepanjang pertemuan berlangsung, Kakegawa tidak banyak bicara hanya menjawab seperlunya saja.
*****
Hari demi hari kesehatan Abesira semakin menurun.
Hingga tiba saatnya mereka harus bertarung menghadapi Hikaru.
"Bu, kamu yakin ingin ikut bertarung?? kondisimu sedang tidak sehat begini..." kata Kakegawa pada istrinya.
"Tidak apa yah...kita sudah lama menyusun strategi ini, tidak ada jalan lagi untuk mundur!!" kata Abesira.
"Lagian jika aku mati, kalian berdua akan bebas melakukan sekehendak hati kalian..." batin hati Abesira teriris pedih.
Sebenarnya dari awal dia telah tau tentang perselingkuhan suaminya dengan wanita yang bernama Miku itu.
Dia telah tau bahwa suaminya telah menikah dengan diam-diam bersama Miku, dia juga tau Miku saat itu tengah hamil muda.
Tetapi wanita perkasa itu dengan tegar dan tabah menghadapi semua seolah tak terjadi apapun dalam.rumah tangganya.
Dan sebagai wanita yang berilmu tinggi sebenarnya dia tau minumannya setiap pagi telah dicampur racun yang dosisnya sangat rendah oleh Miku.
"Jika kematianku membuat kalian bahagia maka aku ikhlas, tetapi dari pada aku mati percuma lebih baik aku mati dalam membela kebenaran dan memerangi kebathilan!!" gumamnya.
"Bu..." katanya suatu hari pada ibu Saki.
"Jika dalam pertarungan hidup dan mati nanti aku tidak bisa selamat, aku mohon titip Hiro dan Sima untukku ya, bi!!" katanya.
"Jangan bicara yang tidak-tidak, nyonya!! kau pasti akan pulang dengan selamat..." kata Ibu Saki.
Hingga tiba saat pertempuran berlangsung.
Abesira sudah menghindar dari pukulan Matahari dari ratu Hikaru tetapi ada sesuatu yang mendorong tubuhnya secara curang kedepan hingga membuatnya terdorong dan terkena pukulan dengan telak.
Kakegawa berteriak melihat istrinya muntah darah terkena pukulan itu.
Setelah pertempuran usai, dia cepat membawa Abesira pulang.
Abesira diletakan di tengah ruangan dengan dikelilingi oleh anak kembarnya, ibu Saki, para sahabatnya dan Kakegawa beserta Miku.
"Masih ingat dalam ingatan Miku dan Kakegawa saat Abesira membisikan ketelinga mereka.
"Aku akan mati, semoga kalian bahagia dengan perselingkuhan kalian, tetapi jangan kalian pikir ini sudah berakhir...anak yang ada di dalam rahim istri selingkuhan mu ini wahai Kakegawa, dia yang akan membayar semua perbuatan jahat kalian padaku...hidupnya tak akan pernah bahagia sehingga kalian berdua sebagai kedua orang tuanya pun juga akan selalu merasakan kepedihannya di setiap langkah-langkahnya."
Lalu Abesira mendorong Miku dan Kakegawa yang wajahnya sudah pucat pasi mendengar perkataan Abesira menjauh darinya.
__ADS_1
Hiro...Sima....jika ibu tidak ada nanti kalian jangan nakal ya !!" Abesira memeluk kedua buah hatinya, tersenyum. Dia menatap sahabatnya semua satu persatu lalu pada ibu Saki.
Mata Abesira semakin mengecil dan akhirnya terkatup dengan kedua tangannya lunglai sudah kesamping kiri dan kanan tubuhnya.
*****
Flashback off
******
Air mata Hiro berlinangan mengenang Almarhumah ibunya.
"Kamu beri ramuan ini pada Sima saudara kembarmu...agar ingatannya juga bisa kembali seperti sedia kala."
"Terima kasih, bu!!" Hiro memeluk ibu Saki lalu pamit untuk pulang.
Mulai detik itu dia begitu membenci ayah dan ibu tirinya. Apalagi adik tirinya itu telah mengambil apa yang dia cintai.
Ayah dan ibunya sengaja menjodohkannya dengan Daniah dan menjauhkannya dari Almira agar anak merekalah yang nantinya akan menjadi pendekar pilih tanding.
Lalu dia menuju ke goa tempat Sima ditahan. Memberikannya ramuan dari ibu Saki untuk Sima dan menemani saudaranya itu untuk memulihkan keadaannya pasca separuh dari ilmunya ditarik oleh Kakegawa atas permintaan ibu tiri mereka.
Akibat semua itu dendam Hiro dan Sima semakin membuncah. Mereka ingat belum kering pusara di tanah makam ibu mereka, Abesira...ayahnya dan Miku menikah kala itu.
Akhirnya Hiro memulangkan Daniah dengan alasan tidak mencintainya, bukan hanya itu...dia memang ingin mempermalukan mereka di depan besan keduanya.
Selain itu Hiro tak tega menjadikan Daniah sebagai ajang balas dendamnya.
Makanya dia berinisiatif mengembalikan Daniah secara baik-baik.
"Maafkan aku Daniah...cinta memang sungguh tidak bisa dipaksakan seberapa besarpun usahaku untuk mencintaimu, tetapi aku tidak mampu untuk melupakannya." kata Hiro.
****
"Yah...Hiro sekarang sifat dan sikapnya beda dengan ibu dan ayah, ya?? seolah dia seperti membenci kita, apalagi sorot matanya ke ibu!!" lapor Miku pada suaminya.
"Panjang umur....itu orang yang kita bicarakan datang...!!" kata Kakegawa sambil memandang kearah pintu.
Tetapi ternyata mereka berdua kaget karena Hiro tidak datang sendiri, dia datang bersama Sima kembarannya.
"Mengapa kamu membebaskan Sima, Hiro??" tanya Miku.
"Kan kamu tau bahwa Sima itu jahat dan kelakuannya liar!!" kata Miku lagi.
Wajah Sima sudah merah padam mendengar hinaan yang dilontarkan ibu tirinya itu kepadanya. Dia ingin marah tetapi dengan cepat Hiro menahan lengannya.
"Dia saudara kembarku...dia mau jahat, mau liar atau apapun tingkahnya tetapi dia tetap saudara kandungku dan bukan saudara tiriku." Jawab Hiro tenang.
"Lagi pula dia harus pulang kemana lagi jika tidak keperguruan ini...ini rumah kami juga dan perguruan ini milik ibuku almarhum."
"Jadi tolong nyonya Miku yang terhormat, jangan kucilkan saudaraku...kami sudah cukup terkucilkan semenjak ibu kami meninggal dunia, meninggal dengan membawa luka hatinya di depan kami anak-anaknya!!" jawab Hiro lalu dia menarik tangan Sima untuk masuk kembali ke kamarnya.
Kakegawa berdiri membeku di tempatnya. Pengkhianatannya pada Abesira hingga membuatnya meninggal membawa sakit hati yang tidak pernah dia ungkapkan kepada siapapun.
"Siapa yang menyuruhmu berani membawa Sima masuk kedalam kamarnya?" tanya Miku mencoba menghalangi.
"Hohoho ibu Miku...rupanya belasan tahun berlalu baru ini ketahuan belangmu...ingat ibu Miku, kau hanya orang baru dalam kehidupanku dan Sima...kami tak pernah mengakuimu sebagai ibu, ibu kami hanya ibu Abesira yang telah meninggal karena tak tahan melihat pengkhianatanmu dengan dia!!" tunjuk Hiro tepat di depan wajah Kakegawa.
"Kami hanya sebentar di sini untuk mengambil barang-barang milik kami dan peninggalan ibu kami..."
"Anggap saja sekeluarnya kami dari sini, kita adalah musuh, karena kami berdua akan menghancurkan kebahagiaan kalian sama persis seperti kalian para pengkhianat menghancurkan hati dan harapan hidup ibuku dulu!!"
"Hiro...berani sekali kamu berkata kasar kepada ibumu!!" bentak Kakegawa.
"Apa?? Ibu??" kami berdua tak sudi mempunyai ibu perempuan binal dan muharan seperti dia...ibu kami hanya ibu Abesira dan bukan perempuan itu!!" tunjuk Sima yang semenjak tadi sudah tidak dapat menahan kemarahannya.
"Anak kurang ajar...." bentak Kakegawa mau menampar Sima.
"Tetap di tempatmu tuan Kakegawa, atau ujung shurikenku yang beracun ini akan menembus jantung wanita itu!!" tunjuk Hiro.
"Selama ini kau tak pernah adil pada kami, kau ajarkan ilmu bela diri tingkat tinggi hanya pada Matsuyama tapi tidak kepada kami...tapi tampaknya anda lupa...bahwa ibu kami Abesira adalah seorang Ninja...lemparan Shuriken dan pisau beracunnya tak pernah meleset, selalu tepat sasaran...sebelum meninggal ibu memberikan kepada kami kitab ilmu ninja beliau...kitab yang selalu perempuan itu cari, bukan??" ejek Hiro.
(Perlu diingat kembali diawal cerita bahwa Hiro dan Sima adalah seorang ninja begitu pula dengan Xavier).
Kakegawa seperti tertampar wajahnya mendengar perkataan dari dua anak kandungnya sendiri.
"Sebaiknya kalian pergi dari perguruan ini..." kata Miku geram.
"Oh tentu...tanpa diusirpun kami akan pergi dari tempat neraka ini!!" kata Hiro.
"Semestinya kamulah yang harus pergi dari rumah ibu kami, kamu datang pertama dulu seperti gembel tetapi kelakuan seperti putri raja!!" ejek Hiro.
"Ayo Sima...mari kita tinggalkan sepasang pengkhianat ini...mudahan karma akan datang pada mereka dan keturunannya!!" ajak Hiro pada Sima.
Belum jauh mereka pergi, telinga Hiro yang tajam mendengar suara desingan di telinganya.
Tanpa melihat dia melambai kearah belakang dan terdengar suara teriak kesakitan dari Miku.
Dialah tadi yang melempar senjata rahasia yang langsung dibalikan oleh Hiro dan mengakibatkan luka gores yang sangat dalam di pipinya.
"Rasakan olehmu...sudah jadi pengkhianat jadi juga seorang pengecut pula!!" kata Sima.
*
*
***Bersambung....
Sisi lain kehidupan Hiro dan Sima akhirnya terkuak...akan kah cinta menjadi permusuhan di antara mereka?
Ikuti terus lanjutan kisah mereka ya reader dan jangan lupa dukungannya!!🙏🙏
__ADS_1