
"Aku curiga, kemungkinan yang dimaksud goa Simbra adalah goa berpindah itu maksudnya goa itu sebenarnya mahluk hidup tetapi memiliki ukuran yang sangat besar.
"Kamu ingat ular besar yang kita lihat tempo hari?? mulut goa yang sangat besar itu ternyata adalah mulut seekor ular besar yang menganga sengaja menunggu mangsanya setelah berhasil masuk, kemudian dia akan menutup lalu pergi ke tempat yang lain untuk mencari mangsanya.
Kakek Dahlan dan kakek Kojiro tampak meringis membayangkan jika mereka ditelan ular itu bulat-bulat.
"Tosiro, apa yang akan kamu lakukan seandainya kamu ada di dalam perut ular itu?" tanya Kojiro.
"Kalau aku, ya mencuci, mengepel, masak, bersih-bersih...dasar dodol...ya coba cari jalan keluarnya lah!!" jawab kakek Dahlan kesal.
"Mengapa semakin lama berkelana, otak tua kamu ini semakin bodoh saja bukan semakin pintar!!" kata kakek Dahlan.
"Ya habis kalau pintu keluarnya tertutup jadi kita lewat mana dong??" tanya kakek Kojiro.
"Ya kita cangkul tuh perut ular terus kita tanam jagung di sana...ihhh, tau ah...tambah kesel aku sama pertanyaanmu ini, Kojiro??" geram kakek Dahlan.
"Berarti kita harus mengetahui kemana saja pergerakan ular besar itu!!" kata Serafin.
"Dia pasti bergerak mencari mangsa menjelang malam lalu menjelang pagi pergi lagi dan menghilangkan dirinya." Kata Giandra.
"Seandainya aku tau di perut ular itu adalah tempat penyimpanan jantung ratu Hikaru, sudah pasti aku akan libas habis!!" kata kakek Kojiro berapi-api
"Apa yang mau kamu libas habis?? kutunya??? atau dakinya??" ujar kakek Dahlan tersenyum mengejek.
"Sebaiknya kakek menghubungi tuan Kakegawa dulu untuk menanyakan bagaimana ciri-ciri kemunculan ular raksasa itu jadi kita bisa waspada." Kata Giandra.
Kembali kepada Xavier....
Xavier baru saja bersiap-siap untuk mencari istrinya tiba-tiba dia dikejutkan dengan kedatangan Sullivan dan kedua orang tuanya serta beberapa orang body quardnya.
"Mau pergi kemana kamu Xavier? kamu mau melepaskan tanggung jawabmu begitu saja?" tanya Tuan Dion ayah Sullivan.
Tentu saja Xavier bingung dengan perkataan tuan Dion.
"Tanggung jawab apa? apa yang mesti kupertanggung jawabkan sementara aku tidak berbuat apapun?" tanya Xavier.
"Kurang ajar sekali kamu Xavier?? sudah kamu nodai putriku lalu mau kamu tinggalkan begitu saja?" wajah tuan Dion tampak memerah menahan amarah.
"Ini maksudnya apa, tuan Dion? aku tidak me..."
Belum kelar Xavier berbicara, Sulivan sudah memotong pembicaraannya.
"Kamu jahat Xavier, kamu yang mengatakan akan menikahiku tapi kamu juga yang mengingkarinya?? tega kamu...kalau begini caranya lebih baik aku mati saja!!" dan entah dari mana dia mendapatkan sebuah pisau dapur siap mau dihujamkan kedadanya.
Xavier cepat menahan tangan Sullivan dan memeluknya erat.
"Tolong jangan lakukan itu Sulli, jangan melakukan hal-hal yang akan menyakiti dirimu sendiri!!" ucap Xavier.
"Kalau begitu nikahi Sullivan, jangan membuat putri kami satu-satunya meregang nyawa karena cinta bodohnya padamu." Kata nyonya Rosi yang diam saja semenjak tadi.
Maka hari itu juga Xavier terpaksa ikut dengan keluarga besar Sullivan untuk melangsungkan pernikahannya dengan Sullivan.
******
"Aduhhhh!!"
Pisau yang tajam itu mengiris telapak tangan Almira membuat si empunya tangan meringis kesakitan.
"Mommy...ada apa? mengapa tangan mommy berdarah??" tanya Rafa kaget.
"Tidak apa-apa Rafa...mommy saja tadi yang agak lengah dalam bertindak!!" kata Almira meringis.
Entah mengapa tangannya yang teriris pisau tetapi sebaliknya hatinya yang tiba-tiba mendenyut sakit.
"Aku tau pasti sudah terjadi sesuatu antara abang dan wanita itu, mestinya aku tak perlu lagi memikirkan mereka, karena mereka telah bahagia sekarang."
"Mereka sudah saling menemukan cinta sejati sementara aku hanya figuran yang bermain di belakang mereka sementara dua tokoh utama belum bertemu, setelah mereka berdua bertemu...apalah lagi arti tokoh figuran sepertiku selain hanya dibuang ke tempat sampah!!"
"Mommy...luka mommy semakin banyak mengeluarkan darah!!" teriak Rafa.
Teriakan Rafa sontak mengagetkan lamunanku. Seketika lamunanku buyar berganti dengan rasa perih yang teramat sangat.
Dengan cepat aku menotok peredaran darahku agar luka itu segera terhenti.
*****
"Hiro sudah tak tahan lagi ayah...Almira terluka, mungkin luka di kulit bisa dengan mudah disembuhkannya, tetapi jika luka di hati?" kata Hiro akhirnya meneriakan suara hatinya.
"Tapi kamu sudah memiliki Daniah, Hiro...kamu mau membuat sakit hati dua wanita sekaligus?" tekan Kakegawa.
Aggghhhhhh...
"Keparat kamu Xavier....aku sudah rela mengalah karena aku tau Almira sangat mencintaimu...tapi apa balasanmu terhadap rasa cinta dan pengorbanannya?"
"Saat ini dia butuh seseorang untuk mendampingi dia dalam menghadapi semua kutukan yang menimpanya, kau jangankan membantu...kau malah meninggalkannya menikahi perempuan lain...dasar laki-laki laknat kamu, Xavier...kubunuh kau jika suatu saat kita bertemu nanti!!"
Hiaattttt....
Hiro tak mampu lagi mengendalikan amarahnya. Hutan yang menghijau di belakang perguruan habis dibuatnya menjadi lautan api, danau yang ada di depan perguruanpun habis dibuatnya membeku menjadi lapisan es.
__ADS_1
Itulah keistimewaan ilmu yang dimiliki Hiro...dia mampu mengeluarkan dua kekuatan yang berbeda di kanan dan kiri telapak tangannya.
Bahkan Kakegawa sekalipun tak bisa melakukannya. Masing-masing anak Kakegawa ini memiliki keistimewaan tersendiri yang mana satu dengan yang lain tidak saling memiliki.
"Kak Hiro...tenangkan dirimu!!" kata Matsuyama lalu membalikan kekuatan inti es ke api begitu pula sebaliknya.
Ilmu yang dimiliki Matsuyama adalah ilmu yang berlawanan dari yang dimiliki oleh Hiro.
"Hutan yang kak Hiro bumi hanguskan, danau yang kak Hiro bekukan semua itu tak bersalah...jika Xavier yang salah jangan lampiaskan kesalahannya pada benda-benda yang tak bersalah di sekitarmu."
Hiro berusaha mengatur napasnya dan menenangkan perasaannya.
"Kak Hiro tak usah ikut pergi, hargailah perasaan Daniah istrimu...mau kamu cinta ataupun tidak dia adalah istri yang harus kamu hargai dan jaga perasaannya."
"Jangan kau jadi seperti Xavier yang tidak menghargai perasaan pasangannya sama sekali!!"
Hiro terdiam mendengar penjelasan Matsuyama.
"Apa yang dikatakan adikmu itu benar, Hiro...biarkan Matsuyama yang akan mendampingi Almira hingga dia selesai menjalankan takdirnya." kata Kakegawa ayahnya.
"Baiklah Matsuya...aku minta tolong jagakan Almira untukku!!" suara Hiro berat menandakan dia tengah berusaha memgendalikan dirinya.
"Kak Hiro tak usah khawatir akan hal itu, tanpa dimintapun akan aku lakukan, Almira adalah sahabatku pasti aku akan menjaga dan melindungi dia.
Sore itu juga Matsuyama berpamitan kepada ayah dan ibunya. Dia hanya membawa bekal dan pakaian seadanya. Kemudian dia dudu bersila di lantai ruang tengah dengan di saksikan oleh anggota keluarganya.
Tak perlu bersusah payah mengeluarkan dana dan tenaga, cukup dia membayangkan wajah Almira, perlahan tubuh Matsuyama menghilang dari pandangan dengan teleportasi yang mampu memindahkan dia ke tempat atau ke dekat seseorang yang dia tuju dan dia bayangkan tadi.
Aaaahhhh...
Rafa berteriak sangking kagetnya melihat Matsuyama muncul tiba-tiba dihadapannya.
"Matsuyama...." teriak Almira senang saat Matsuyama sudah duduk di sampingnya.
Almira memeluk sahabat baiknya itu tak terasa dia menumpahkan semua perasaannya dengan isakan yang selama ini dia tahan.
Pertahanan Almira akhirnya runtuh juga. Dia menangis dipelukan Matsuyama. Ketegarannya selama ini runtuhlah sudah seiring dengan cucuran air matanya.
"Tumpahkan semua kesedihanmu, segala keluh kesahmu jika itu mampu membuatmu lega!!"
Rafa pun ikut menangis melihat Almira menangis. Bocah itu seolah tau kesedihan yang ditahan oleh Almira selama ini.
Matsuyama mengecup kepala Almira dan Rafa bergantian seolah ingin memberi semangat pada kedua orang itu.
"Biarkan dan lupakan dia yang telah menyakiti dan meninggalkanmu...hemmm, ada aku di sini sekarang bersamamu.
Setelah menenangkan Almira dan melepaskan pelukannya, Matsuyama menatap Almira yang sudah hampir 6 bulan ini tak ditemuinya lalu pandangannya turun keperut Almira yang membuncit karena kehamilannya.
"Aku janji akan membantu memusnahkan jantung ratu Hikaru agar kamu terbebas dari kutukanmu dan bisa hidup normal kembali!!" bisik Matsuyama pada Almira
Lalu kita harus menuju kemana, Matsuya??" tanya Almira.
"Kita akan menuju ke timur, semoga kita bisa bertemu dengan rombongan ayah dan ibumu...kurasa mobil ini cukup untuk kita bertujuh, jika tidak cukup suruh aja para kakek itu maraton di belakang mobil!!" kata Matsuyama.
"Mulutmu itu, Matsu!!" kata Almira.
"Halo jagoan, apakah kamu sudah siap berpetualang bersama-sama??" tanya Matsuyama bersemangat agar yang lain juga ikut bersemangat.
Melihat sahabatnya itu setelah sekian lama tidak bertemu membuat Almira jadi bisa senyum sumringah lagi.
*****
Pernikahan Sullivan dan Xavier sudah tersebar kemana-mana, televisi, media sosial, apalagi orang tua Sullivan termasuk kedalam golongan pengusaha yang sukses yang banyak dikenal dimanapun.
Xavana yang sedang bersantai sore itu di ruang keluarga mansionnya membanting cangkir teh yang dia pegang dengan amarah yang meluap sampai keubun-ubunnya.
Berita yang ditayangkan ditelevisi dengan memperlihatkan sepasang muda mudi itu yang tengah memamerkan cincin pertunangan mereka membuat Xavana sangat gusar.
"Jaha*nam kamu Xavier...aku bejat tapi ternyata kamu lebih bede*bah dibandingkan aku."
"Aku sangat mencintai Almira tetapi aku rela melepaskan dia walau sangat berat bagiku tetapi demi persaudaraan kita maka aku mengalah, tetapi apa yang telah kamu lakukan dengannya? kamu campakan dia seperti seonggok sampah tak berharga!!"
Tangan Xavana terkepal wajahnya merah mengelam menahan amarahnya.
Suara benda pecah diruang tengah sontak mengganggu rungu tuan Anderson yang baru keluar dari ruang kerjanya di lantai satu.
"Ada apa Xavana?? apa yang membuatmu marah sampai membanting cangkir kesayanganmu yang tak berdosa itu?" tanya tuan Anderson.
Xavana tak menjawab pertanyaan daddy nya, sementara matanya menatap lurus pada LCD besar di tengah ruang keluarga itu.
Mau tak mau tuan Anderson pun mengalihkan pandangan matanya kearah televisi.
Dia mengerenyitkan dahinya melihat siapa yang sedang diwawancarai oleh para wartawan itu.
"Lho itukan Xavier?? bersama siapa dia itu?? lho itukan Dion Kertajaya, salah satu pengusaha yang terkaya di negeri ini?" kata tuan Anderson.
"Daddy mengenalnya??" kata Xavana.
"Kenal lah...siapa yang tidak kenal dengan salah satu pengusaha terkaya di tanah air itu." Jawab tuan Anderson.
__ADS_1
"Lho...bukannya Xavier itu sudah menikah ya...hanya saja pernikahannya itu masih dirahasiakan??" kata tuan Anderson lagi.
"Kasihan Almira, daddy tidak menyangka jika Xavier mempunyai sifat seperti itu!!"
"Hei...kamu mau kemana Xavana??" tanya tuan Anderson melihat Xavana bangkit berdiri.
"Mau kerumah pantai mau menjemput Almira!!" katanya datar lalu mengambil kunci mobil dan berlalu dari hadapan daddynya.
"Dasar...kalau punya otak ngga dipakai untuk mikir mentingkan emosi aja, siapa yang mau dia jemput? istrinya orang? haduhhh Xavana...jangan sampai kejadian daddy dulu membawa lari istri orang juga menurun padamu!!" kata tuan Anderson memijit pelipisnya.
*****
"Apa maksudnya semua ini Sulli???" teriak Xavier!!
"Mengapa pertunangan kita diekspos oleh semua media? kenapa tidak sekalian orang eskimo di kutub sana beserta beruang kutub kapan perlu Yeti sekalian diundang supaya tau tentang pertunangan kita??"
Bluk...
Xavier membanting cincin pertunangannya ke tempat tidur.
"Aku benci dengan semua kebohongan ini, semua kepura-puraan ini!!" geram Xavier.
Sullivan duduk di tepi tempat tidur lalu mengambil cincin pertunangan mereka yang telah dibanting Xavier ke tempat tidur.
"Maafkan aku jika membawamu masuk terlalu jauh, Xavier...tetapi aku masih sangat mencintaimu." bisiknya.
"Tapi kamu tau Sulli, aku sudah menikah...istriku sekarang telah hamil 6 bulan bahkan istriku pergi dari rumah dengan meninggalkan cincin pernikahan kami dan aku tidak tau kemana sekarang dia pergi."
"Dan sialnya aku sama sekali tak diberi kesempatan untuk membela diri oleh kedua orang tuamu!!
"Mempertanggung jawabkan apa?? sementara aku tidak tau apa yang aku perbuat!!" kata Xavier geram.
Dia menggenggam cincin pernikahannya dengan Almira yang telah dia jadikan bandulan kalung berdampingan dengan kalung berliontin naga yang dimilikinya.
"Jika dia perempuan baik-baik tentu dia tidak akan pergi begitu saja dan akan menanyakan dulu kebenarannya!!" kata Sullivan membela diri.
"Kebenaran apa? kebenaran bahwa kita telah bertunangan?? kamu wanita bukan sih?? jika itu terjadi padamu, masih maukah kamu mendengarkannya dan melihat dengan mata kepalamu sendiri suamimu duduk bersanding dengan wanita lain, kamu mau istriku mati melahirkan?" geram Xavier. Dia memang sudah sangat kecewa dengan semua kebohongan yang telah dibuat oleh Sullivan.
"Aku sangat mencintainya Sullivan, terlalu banyak pengorbanan yang telah dia berikan untuk suami laknat ini!! tetapi apa balasanku untuk dia? sebuah pengkhianatan."
Lalu Xavier melangkah keluar kamar sambil mengambil kunci kontak dan jaketnya.
"Kamu mau kemana Xavier?? aku mau ikut!!" kata Sullivan.
"Aku mau pulang kerumahku, Sullivan...kuharap kamu mengerti....aku butuh waktu untuk sendiri dan menenangkan diri." Jawab Xavier dan tidak bisa dibantah lagi oleh Sullivam.
"Maafkan aku Sullivan, tetapi aku juga sangat mencintai istriku yang sampai kini aku tidak tau lagi di mana keberadaannya, setiap kali aku mau melacaknya dengan telepatiku, setiap itu juga aku melihat ada kabut tebal yang menutupi penglihatanku...mungkin Almira memang membuat tabir gaib untuk menutupi dirinya dari siapapun termasuk aku suaminya sendiri."
"Atau memang ada orang lain yang sengaja menghalangi pemandanganku!!" gumam Xavier pelan.
Dia melajukan mobilnya kerumah pantai berharap ada Almira yang akan menyambutnya di muka pintu seperti biasanya saat mereka masih bersama dulu.
Tak terasa senyuman sekaligus air mata menetes di pipi Xavier tanpa terasa.
Suara manjanya masih terngiang jelas di rumah pantai ini memenuhi gendang telinganya.
"Abang minta suapi, abang minta belikan seafood dekat kampus, abang minta gendong!!" semua teriakan Almira masih jelas terdengar di telinganya.
Bahkan suara rintihannya saat mereka berdua di dalam kamar malah membuat Xavier seperti mau gila.
Sudah hampir tiga bulan dia tidak pernah melihat Almira lagi, entah bagaimana kabar istri dan bayinya itu??
Mau bertanya dengan ayah mertuanya, dia sangat takut karena telah lalai menjalankan amanah yang telah diberikan oleh tuan Kelvin padanya untuk menjaga putri kesayangannya.
"Sayang...kamu di mana??? abang kangen...abang ingin bertemu denganmu, maafkan abang sayang...bagaimana kabarmu dan bayi kita yang ada di dalam kandungan sekarang?" Xavier membelai bantal, tempat tidur dan memeluk baju Almira yang masih tertinggal dan sering dia kenakan.
Masih tertinggal aroma parfum baby yang sangat Xavier sukai dari istrinya itu.
"Di mana kamu sayangku!!" karena terus memendam kesedihan akhirnya Xavier tertidur.
*****
"Sayang...sayang...kamu mau kemana??? ini abang, ayo kita pulang kerumah kita yuk..."
"Maaf bang, Mira sekarang sudah punya rumah lain untuk pulang selain rumah pantai!!"
"Mira tak membutuhkan rumah itu lagi, semoga abang bahagia selalu dengan dia."
"Sayang...jangan pergi...abang sangat merindukanmu..."
Tetapi Almira telah melangkah semakin jauh dan akhirnya hilang ditelan kabut.
Tangan Xavier menggapai-gapai bermaksud memanggil Almira tapi tak ada suara yang keluar dari mulutnya.
*
*
***Bersambung...
__ADS_1
Apakah Almira dan Matsuyama akan menjadi dekat kembali?? sahabatkah atau lebih dari pada itu??
Mohon selalu dukungannya ya reader agar author receh ini bisa selalu berkarya.