
"Kampret...." maki Valeria marah bukan main.
Seandainya Xavier tidak melindunginya, habis sudah dia tergilas mobil tadi!!" kata Valeria.
Wajah Sullivan mengelam antara cemburu dan marah menjadi satu.
Dia tambah membenci Almira, sangat membencinya...
Memang benar perkataan Yula si siluman tampan teman Almira tempo hari bahwa ada yang ingin mencelakainya.
Wajah Almira masih pucat pasi saat naik kedalam mobil.
Xander sengaja di dekatkan Xavier pada Almira untuk menenangkan hatinya.
"Ayo kita cepat tinggalkan tempat ini bang..." kata Almira dengan suara bergetar.
Xavier dengan cepat membawa mobilnya keluar dari parkiran restoran itu.
"Mereka pergi, apakah kita akan mengejar mereka??" tanya Sullivan.
"Ngga usah dikejar dulu...biarkan mereka menarik napas dahulu...mereka paling kalau tidak pulang ke rumah pantai paling juga ke mansion!!" kata Levia.
"Setuju..." jawab Shiera.
"Lagian aku lagi pengen ke mall nih...sesuai tujuan semula, nonton terus nanti malam kita dugem...oke??" katanya menyemangati tiga temannya yang lain.
Ketiganya tampak kembali antusias mendengar perkataan Shiera lalu keempat wanita cantik dan seksi itu cabut meninggalkan restoran tersebut.
Xavier berhenti di pinggir persawahan untuk beristirahat sejenak karena dia melihat Almira meringis dan Xander kembali tertidur.
Xavier memindahkam Xander lagi kebelakang lalu menghampiri Almira.
"Kamu kenapa, dek??" tanyanya khawatir.
"Kaki sama perut Mira terasa kram, bang!!" kata Mira makin meringis.
"Kita duduk di luar sambil selonjoran ya!!" kata Xavier lalu membuka pintu mobil.
Tidak seperti tadi Almira ngotot mau membuka seatbelt dan pintu sendiri, kali ini dia membiarkan Xavier membantunya.
Dia hanya memejamkan matanya sambil meringis untuk menghindari tatapan mata Xavier yang menghunjam langsung ke jantungnya.
Xavier hanya tersenyum melihatnya. Lalu perlahan dia mengangkat tubuh hamil Almira keluar dari dalam mobil dan mendudukannya kepinggiran sawah yang banyak jerami keringnya.
Mira bersandar pada sebatang pohon dan melonjorkan kakinya.
Xavier duduk di sampingnya dan tanpa diminta segera memijit betis ibu hamil tersebut.
Ada rasa nyeri dalam hati Xavier di saat dulu Almira mengandung Xander, susah payah berkelana kemana-mana menempuh bahaya hanya berdua dengan Rafa sementara dia hanya sibuk dengan Sullivan.
Wajah itu kini berubah menjadi lebih dewasa tanpa mengurangi kadar kecantikannya bahkan kini jauh lebih cantik.
Xavier melirik ke balik pakaian yang menyembunyikan dua gundukan besar yang dulu sering dinikmatinya setiap saat tanpa rasa bosan.
Dua gundukan itu bertambah besar semakin kencang dan menantang membuat Xavier harus membuang pandangan matanya agar pikirannya tidak travelling kemana-mana sambil menelan kasar salivanya.
"Bang..." suara Almira agak serak.
"Almira mau minta tolong ambilkan minum!!" pintanya manja seperti biasa.
Xavier berdiri dan mengambilkan air minum di dalam mobil sambil menengok Xander yang masih tertidur.
"Terima kasih bang!!" kata Almira.
Sekarang dia sudah tidak sekeras tadi pagi yang menolak semua bantuan Xavier.
"Apa perutmu sering merasa kram begitu??" tanya Xavier.
"Apakah waktu mengandung Xander juga mengalami hal seperti ini??" tanya Xavier.
"Iya...tapi kan ada bang Matsuya yang selalu membantu membelai agar kramnya sedikit demi sedikit menghilang!!" jawab Almira polos.
Wajah Xavier jadi berubah muram mendengar perkataan Almira barusan.
"Bang...apa Sullivan tidak marah jika abang menjemputku begini??" tanya Almira.
"Tidak!!" jawab Xavier singkat seolah malas membahas tentang Sullivan dan Almira mengerti pasti Xavier tak ingin dia menyinggung pertanyaan soal madunya itu.
Hati Almira mendadak merasa sedih. Mungkin efek kehamilannya sehingga hormonnya meningkat dan menyebabkan tingkat kesensitifannya juga meningkat.
Xavier yang bisa membaca pikiran Almira dengan cepat menangkup pipi ibu hamil itu.
"Bukan begitu dek...abang...abang sudah lama berpisah dengan Sullivan!!" jawab Xavier pelan.
"Abang maunya apa?? jangan permainkan hati wanita bang...Mira sudah ikhlaskan abang hidup bersama dengannya, Mira rela pergi membawa seluruh hidup Almira dari abang walaupun hati Mira amat terluka...hati wanita mana yang tidak terluka bang, di saat sedang mengandung, di saat butuh perhatian dari seorang suami, butuh cinta dan kasih sayang, tetapi sang suami malah mencurahkan cinta dan kasih sayangnya pada wanita lain!!" Almira berhenti sebentar sambil menyeka air matanya yang sudah ditahannya sejak tadi.
"Semua perempuan di muka bumi ini akan terluka jika diperlakukan demikian bang...mungkin abang beranggapan bahwa karena saat itu Almira bukan manusia seutuhnya Almira tidak bisa merasakan sakit?? abang salah besar!! Almira juga mahluk hidup yang punya jiwa yang punya rasa yang juga bisa merasakan perasaan yang dialami oleh manusia lain."
__ADS_1
"Bukan hanya Sullivan yang butuh kasih sayang dan perhatian dari abang, tetapi Mira sebagai istri abang yang sah juga perlu rasa itu, apalagi Almira tengah mengandung anak kita kala itu."
"Tetapi dengan tanpa perasaan abang hancurkan hati Mira, abang campakan seperti benda tak berharga bahkan sangking tidak maunya diketahui oleh Sullivan tentang pernikahan kita karena abang lebih memilih agar hatinya tidak terluka jika tau abang sudah menikah, setiap bertemu dan kencan dengannya abang lepaskan cincin pernikahan kita dan pada akhirnya cincin itu hilang karena terlalu sering lepas pasang dari jari abang...itu adalah pertanda alam bahwa kita harus berpisah."
"Bukan hanya Sullivan yang bisa terluka...tapi Mira juga bisa bang!! Abang terlalu sibuk menimbang perasaan Sullivan, tetapi abang lupa istri sah abang jauh lebih terluka hatinya."
"Almira bukan pengemis yang datang menghiba mengemis cinta dan perasaan, Almira yang bodoh ini beranggapan jika abang sudah berselingkuh berarti abang sudah tidak mencintai Mira, lalu apa lagi yang mau dipertahankan?? lebih baik Almira memilih pergi selamanya dari hidup abang dari pada Almira hanya jadi benalu antara abang dan Sullivan, lebih baik Almira pergi saja bang!!"
"Dan abang tau siapa yang ada di samping Almira di saat Almira menangis dalam kesendirian?? menahan sakit menahan keinginan untuk membeli makanan seperti ibu-ibu hamil lainnya...di saat Xander di dalam rahim Almira menginginkan sesuatu tetapi Almira tidak bisa mencari dan mengabulkannya, Almira hanya bisa diam dan menangis."
"Untung saat itu ada Rafa yang lebih mulia hatinya walaupun dia hanya seorang bocah kecil tetapi dia lebih mengerti!! dialah tempat Almira berkeluh kesah."
"Di saat Almira sedang menghadapi bahaya...bertarung mempertahankan diri antara hidup dan mati, abang tau siapa yang datang menolong?? iya...dialah Matsuyama yang menjadi suami Almira sekarang!! dia melindungi Mira dengan seluruh jiwa dan raganya...mati-matian menghadapi bahaya agar Almira bisa menjadi manusia seutuhnya."
"Mira memang belum sepenuhnya bisa mencintai dia bukan karena Almira masih mencintai abang, tetapi Almira trauma pada arti kata dicampakan."
"Almira tidak mau mencintai seseorang terlalu dalam seperti cinta buta Mira ke abang dulu sampai rela menyerahkan mahkota paling berharga yang Mira miliki demi apa? demi cinta penuh dusta yang abang berikan pada Almira."
Xavier diam tak bisa berkata apapun.
Semua ucapan Mira adalah pukulan telak buatnya membuat Xavier membisu kehabisan kata-kata.
Kemudian dengan susah payah Almira berdiri dan melangkah kembali kedalam mobil setelah dia merasa rasa kram di perut dan betisnya telah hilang.
"Ayo kita lanjutkan perjalanan kembali bang, takut kemalamam di jalan!!" lalu dia berjalan menuju ke mobil.
Aaahhh....
"Pelan-pelan dek, jika terjadi apa-apa denganmu...abang yang akan kena masalah!!" Xavier keburu menangkap pinggang Almira.
"Terima kasih bang...!" kata Almira.
"Mulai sekarang kamu jangan sungkan menerima pertolongan dari abang, Mira...dulu abang tidak bisa ada di dekatmu, ijinkan sekarang selama kamu bersama dengan abang, abang yang akan menjagamu!!" kata Xavier.
"Iya bang...!" hanya ucapan itu yang keluar dari mulut Almira.
Dibukakannya pintu dan dibantunya Almira duduk dengan posisi nyaman baru dia masuk ke mobil.
Lalu dipasangkannya seatbelt Almira walaupun setengah mati dia menahan diri untuk tidak mengecup bibir merekah itu.
"Mommy...!!"
Xander terbangun dan mencari Almira.
"Kenapa nak?? Xander haus??" kata Xavier.
"Xander mau pindah duduk di depan?? bareng mommy, ya!!" kata Mira pada putranya.
"Bang jika nanti nemu mini market singgah sebentar ya?? Mira sama Xander mau buang air kecil dulu..." kata Mira.
Xavier hanya mengangguk lalu melanjutkan perjalanan mereka.
******
Hingar bingar musik menghentak dan memekakan telinga.
"Bro...bukankah itu sepertinya istrimu dan adikmu??" kata rekan bisnis Aliandhara.
Aliandhara menyipitkan matanya. Pandangannya tertuju pada dua sosok wanita yang ditunjuk oleh temannya itu.
"Wah benar bos...itu sepertinya nyonya Valeria dan nona Alia!!" kata Alex asisten Aliandhara.
"Itu memang Valeria tetapi yang satunya itu bukan Alia...itu sepertinya kembaran Alia yang dulu menyusup dan menyamar menjadi Alia." batin Aliandhara.
"Wah...wah...erotis banget gerakan mereka??? aku jadi ingin ikut bergoyang!!" kata rekan-rekan bisnis Aliandhara.
Ssttt...
"Valeria...Levia...bukankah itu suamimu dan mantan abangmu??" tanya Shiera agak keras karena suaranya terkalahkan oleh suara musik yang menghentak.
"Aduh....gawat nih...bisa berabe nih urusannya!!" kata Valeria.
"Lho...kok dia malah memalingkan wajahnya, Vale??" tanya Shiera.
Valeria tercenung....
"Bahkan dia tak khawatir sama sekali saat aku hilang??" batin Valeria.
"Coba Almira yang hilang sudah heboh dia seperti orang kebakaran jenggot!!" batin Valeria lagi.
"Kita pindah tempat aja yuk!! terlanjur bete gue!!" kata Valeria dan Levia.
Setelah keempat wanita cantik itu pergi barulah Aliandhara memalingkan wajahnya.
"Dasar wanita-wanita ngga beres...gara-gara belain dia waktu itu aku jadi kehilangan kekasih hatiku!!" geram Aliandhara.
"Masihkah ada jalan untuk kembali padanya??" bisik Aliandhara sambil menggoyang gelas di tangannya.
__ADS_1
*****
"Bang buruan Almira kepengen banget buang air kecil!!" kata Mira.
Dengan tergopoh-gopoh Xavier menggendong Xander mengikuti Almira menuju toilet umum.
Mata Xavier yang tajam memandang sekeliling dengan seksama.
"Hari belum juga menjelang sore tetapi hawa magis di tempat ini begitu terasa!!" gumam Xavier.
"Mira...abang temani kamu buang air kecil ya sekalian sama Xander...perasaan abang ngga enak membiarkanmu dalam keadaan hamil sendirian di dalam toilet umum begini!!" kata Xavier.
Almira terpaksa mengiyakan karena sebenarnya dia memang merasa khawatir jika ditinggalkan oleh Xavier seorang diri.
"Tetapi abang jangan ngintip, ya!!" kata Almira.
"Ya elah...ngga lah dek...tanpa kamu kasih tau juga abang pun sudah tau seluruh lekuk di tubuhmu...bahkan jumlah tahi lalat di setiap jengkal tubuhnu abang juga hapal..." kata Xavier sontak membuat Almira menjadi merah padam wajahnya.
Sambil menunggu Almira, Xavier membantu Xander untuk buang air kecil.
"Sebentar dek..." Xavier memegang lengan Almira.
Dia mengusap seluruh tubuh Almira dengan tangan besarnya.
"Nah...kamu buang air kecil lah...sudah tidak apa-apa jangan khawatir lagi!!" katanya.
Pasti para reader bertanya-tanya...kemana kehebatan Almira yang dulu?? separuh kekuatan dan kesaktiannya telah lenyap saat Almira memutuskan untuk menjadi manusia biasa. Jadi Almira yang sekarang tidak sepeka dahulu lagi. Untung saja dia selalu dikelilingi orang-orang berilmu tinggi seperti ayah dan ibunya, Matsuyama juga cincin pemberian Hiro dan cincin yang dia dapatkan dari dalam perut ular Sinoe yang terbelah saat itu.
"Bang...Almira minta tisunya dong..." katanya.
Dari pintu yang tidak ditutup Almira mengulurkan tangannya.
Xavier memberikan tisu dengan tangan gemetar. Bagaimanapun juga dia adalah seorang laki-laki normal.
Sepintas dia melihat kulit betis dan paha yang mulus menggoda imannya.
Setengah mati dia berusaha bertahan, dia sadar bahwa Almira sekarang bukan lagi istrinya.
"Terima kasih bang!!" kata Almira.
Setelah ketiganya berlalu dari toilet itu, barulah muncul dua sosok mengerikan yang masing-masing hancur dari wajah sampai kakinya.
"Sialan laki-laki tampan itu tadi!!" dengan suara sember karena lehernya yang hampir putus dan darah terus mengucur dari luka di leher itu.
"Iya seandainya dia tidak mengusap keseluruh tubuh wanita cantik tadi penolak bala untuk kita dekati, ingin sekali rasanya aku memakan darah dan janin yang ada di dalam perutnya!!" kata temannya.
Tadi aku mencoba menggapai bo*kongnya tetapi si tampan itu ternyata melihat lalu dari dua bola mata coklatnya menyorot cahaya yang transparan menghantam tanganku...sialan betul...kamu ngga lihat tadi tanganku terkewer-kewer putus ngga karuan??" katanya kesal.
"Halah...tangan jelek, buruk dan korengan gitu aja masih kamu urusi...kalo aku jadi kamu tangan model gitu sudah aku buang ketempat sampah...atau jadi umpan ikan hiu!!" kata temannya.
"Sembarangan aja...gini-gini tanganku limited edition, tau!!" ucap si kudis kesal.
"Apa??? limited edition kamu bilang?? paling dilempar untuk jadi santapan ikan hiu, ikan hiunya mati keracunan!! cibirnya.
"Sialan loe...loe pikir loe itu berharga? dasar kunti sombong...mentang-mentang cantik!!" kata si kudis.
"Gagal deh kita dapat makan malam ini!! gegara si tampan sialan itu tadi!!" gerutu si kudis.
"Eh tapi dia memang tampan banget...lirikan matanya cok, ah...meleleh hatiku!!" kata wanita cantik separoh yang ada di sebelah si kudis.
"Woi...ngaca loe ngaca...!! Loe ngga ada apa-apanya dibandingkan dengan si cantik yang sedang hamil tadi!!"
"Menghina loe ya...loe ngga tau wajah asli gue semasa hidup dulu...semua pria klepek-klepek hanya dengan lirikan mataku!!" kata gadis di sebelahnya ngga mau kalah!!
"Coba sekarang loe melirik...copot mata loe!!" tawa sember si kudis memenuhi kamar mandi.
"Diem loe...tawa loe menjijikan tau??" kata si gadis mulai marah lalu menghilang.
"Ya elah...keyla...marah aja...sensitif aja bawaannya...sudah mati juga!!" lalu si kudis ikut menghilangkan diri.
"Bang...tadi bulu badan Mira merinding!!" kata Almira saat di mobil.
"Sudah ngga usah dibahas dan diingat...abang akan selalu melindungi kamu!!" katanya sambil tersenyum lalu membelai lembut dan membenarkan anak rambut Almira yang agak berantakan tertiup angin.
"Cantik..." desis Xavier pelan.
Almira tidak berucap apapun walaupun dia mendengar perkataan Xavier hanya wajahnya saja yang memerah.
*
*
***Bersambung...
Bagaimanakah kelanjutan kisah Almira dan Xavier?? bagaimanakah juga dengan Matsuyama??
Simak terus ya reader cerita cinta Shahnaz Almira dan terima kasih pada para reader yang sudah sudi mampir dan membaca karya author receh ini.
__ADS_1