Mr.Playboy Vs Miss.Dingin

Mr.Playboy Vs Miss.Dingin
Bab 120 Kampung Hantu


__ADS_3

Aku hanya bagian dari masa lalumu dan lupakan, dan dia adalah bagian dari masa depanmu...pertahankan!! agar nasibnya tidak tercampakkan seperti nasibku.


"Ayo mommy kita tinggalkan tempat ini, kita bertiga dengan dedek bayi akan berjuang bersama memulai hidup kita yang baru!!" kata Rafa sambil menggandeng tangan Almira masuk ke mobil.


"Rafa...bangun...kita cari sarapan dulu yuk!!" ajakku.


Rafa menggeliat di sampingku lalu perlahan membuka matanya.


"Kita sudah sampai di mana, mommy??" tanya Rafa memandang berkeliling.


"Entahlah Rafa...mommy hanya membawa mobil ini kemanapun dia pergi mommy hanya ikut saja!!" kataku lirih.


"Ayolah kita sarapan dulu, ngga apa-apakan kita hanya makan di warung pinggir jalan?" tanyaku pada Rafa.


"Tidak apa-apa mom asalkan bisa tetap bersama mommy Rafa bahagia." kata bocah lelaki itu membuat semangatku yang sempat jatuh jadi bangkit kembali.


*


*


Xavier mengendarai mobil seperti kesetanan menuju rumah pantai.


Tadi dia mencari ke mansion tuan Kelvin tapi hanya para maid yang dia temui karena ayah mertuanya itu dan Aliandhara sedang pergi keluar negeri mengurus bisnis mereka.


Alia sudah berangkat kuliah dan memang tak ada tanda-tanda keberadaan Mira di sana.


Menurut maid yang dia temui tadi, Almira dan Rafa pergi ke rumah pantai, begitu kata mereka.


"Sayang...tunggu abang...kita harus menyelesaikan masalah ini, abang tidak ingin kehilanganmu dan anak kita!!" Xavier terus melaju kencang hingga perjalanan yang seharusnya di batas normal memakan waktu hampir sejam hanya ditempuh Xavier dalam waktu 15 menit saja.


Bergegas Xavier menuju kerumah tetapi dia melihat lampu di teras masih menyala dan pintu depan masih tergembok.


Dengan panik Xavier berlari mencari kunci rumah di bawah pot bunga di depan teras.


Dia membuka pintu lalu lari ke kamar mereka. Langsung dia masuk dan melihat ke sekeliling kamar.


Saat dibuka lemari pakaian, Xavier bertambah panik karena pakaian Almira banyak berkurang dan ada yang menarik perhatian Xavier yaitu Mira meletakan cincin pernikahannya di atas selembar kertas yang bertulis;


Good bye...kukembalikan cincin ini pakaikanlah kewanitamu, karena dia lebih pantas memakainya dari pada aku.


Maaf jika selama ini belum bisa menjadi istri yang baik semoga dia bisa lebih baik dan semoga kalian berbahagia.


Xavier berteriak seperti orang gila mencari kesana kemari sampai ke halaman belakang, tapi Almira kini benar-benar telah menghilang.


Menyesal pun kini sudah tak lagi berguna, pintu maaf sepertinya telah tertutup.


Xavier tau persis tabiat Almira. Dia bukan tipe wanita yang senang berdebat dan senang ribut...jika memang sudah tak berkenan maka dia lebih baik memilih pergi selamanya dan tak akan kembali, itulah yang sangat ditakutkan oleh Xavier.


"Ayah...ibu...kakek...maafkan Xavier yang tidak bisa menjaga Almira dengan baik...apa yang harus aku katakan pada mereka nanti??" Xavier panik setengah mati.


Dia mencoba menelpon Almira setelah dua minggu dia tak pernah berani menelpon istrinya lagi, tetapi nihil nomor yang dia tuju sudah tak aktif lagi.


Xavier tak kehilangan akal, dia duduk bersila di tempat tidur untuk mencoba merasakan di mana keberadaan istrinya sekarang.


"Jalan...mobil...rumah makan...Almira tidak sendirian...sepertinya dia bersama dengan Rafa...mereka berada sekitar satu hari perjalanan dari sini!!" ucap Xavier mengeluarkan apa yang ada di dalam bayangannya.


Dia sudah menghubungi keluarga Sullivan tadi walaupun mendapaf cacian dan makian dari keluarga gadis tersebut, tetapi setidaknya Xavier bisa bebas pergi untuk mencari dan menemukan apa yang seharusnya dia pertahankan.


Dia sadar selama dua minggu ini dia hanya terobsesi pada masa lalu tetapi dia harus kembali pada realita bahwa sekarang dia dan Sullivan sudah berpisah. Sullivan adalah masa lalu dan Almira adalah masa depannya.


Dengan cepat Xavier bangkit dari tempat tidur untuk mencoba menyusul Almira.


"Maafkan abang yang telah mengabaikanmu Almira!!" katanya lalu segera mengunci pintu dan menaiki mobilnya kearah matahari terbit di mana tadi dia mendapat penglihatan letak keberadaan istrinya.


****


Di sebuah rumah sakit di mana Sullivan dirawat terjadilah drama keluarga.


"Mommy...daddy...Sullivan tidak mau pulang, Sulli ingin tinggal di kota ini saja bersama Xavier dan anak kami??" kata Sullivan.


Dion dan Rosi mengerenyitkan dahinya mendengar penuturan Sullivan putri tunggal mereka.


"Apa maksudmu dengan anak kami Sullivan?? jangan katakan kamu sedang mengandung anak Xavier, ya!!" seru Dion geram.


Sullivan hanya mengangguk dalam diam. Dia terpaksa berbohong kepada kedua orang tuanya. Dia sangat mencintai Xavier dia tidak ingin wanita hamil yang diakui Xavier itu sebagai istrinya, mengandung anak Xavier.


Hanya dia yang boleh memiliki Xavier, bukan perempuan lainnya.


"Kami akan mencari laki-laki yang bernama Xavier itu untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya!!" kata Dion pada putrinya.


"Aku tak peduli walaupun aku harus berbohong, Xavier...kamu harus kembali padaku!!" batin Sullivan.

__ADS_1


*****


Almira dan Rafa memasuki suatu perkampungan yang jauh letaknya dari kota.


"Kita harus menginap di sini malam ini, Rafa...tampaknya akan turun hujan badai, tak mungkin kita melanjutkan perjalanan dalam cuaca ekstrim seperti ini." Kata Almira pada Rafa.


"Tetapi mengapa perkampungan rasanya begitu menyeramkan mommy!!" kata Rafa bergidik.


"Menyeramkan bagaimana Rafa?? Itu hanya perasaanmu saja, sayang!!" kata Almira sambil mengacak rambut Rafa.


Entahlah mengapa Rafa merasa sejak memasuki perkampungan tadi dia merasa seperti ada yang mengikuti mobil mereka tapi saat Rafa menoleh kebelakang tak ada siapapun yang menguntit mereka.


Sebenarnya Almira pun merasakan seperti apa yang dirasakan oleh Rafa maka dari itu dia merasa penasaran siapa yang telah mengikuti mereka tanpa mereka tau itu siapa.


"Mommy sebaiknya kita tidur di dalam mobil saja, Rafa tau mobil kakek Kelvin ini kebal dari senjata apapun....apalagi mommy sekarang sedang hamil!!" kata Rafa.


Akhirnya Almira menuruti nasehat Rafa. Walau hujan sekalipun mereka tak usah khawatir justru jika mereka tidur di penginapan Mira malah merasa khawatir karena dia kini tak segesit saat dia belum mengandung dulu.


"Apa yang kamu rasakan Rafa??" tanya Almira saat mereka memarkirkan mobil di ujung jalan kampung.


"Tadi Rafa merasa seperti ada yang mengikuti mobil kita tetapi berkali-kali Rafa menoleh dan memcari tapi tak menemukan apapun!!" kata Rafa.


"Sepertinya kita memang lebih baik menginap di dalam mobil saja jika kita tetap melanjutkan perjalanan juga akan sangat berbahaya di malam buta tanpa penerangan begini!!" kata Almira.


"Sayang...walau apapun yang terjadi, apapun nanti yang kamu lihat, mommy harap Rafa jangan takut ya!!" kata Almira sambil mengusap rambut Rafa.


"Bersama dengan mommy Rafa akan menjadi lebih berani!!" kata Rafa mantap.


"Good boy!!" kata Almira lagi.


"Mom, tadi sore sewaktu kita memasuki perkampungan, kampung ini terlihat sangat ramai penduduknya...tetapi saat hampir menjelang maghrib kok mendadak sangat sunyi ya!!" tanya Rafa sambil memandang kesekitar jalan tempat mereka berhenti dengan seksama.


Almira juga berbalik ke belakang memperhatikan.


"Memang ada yang aneh dengan kampung ini, bisa dikatakan suasana mistis menyelimuti kampung ini." Gumam Almira.


"Rafa mau makan? jadi nanti malam ngga kepikiran mau makan lagi!!" ucap Almira.


"Rafa sudah kenyang mom!!" jawab Rafa.


"Mom, coba lihat itu!!" tunjuk Rafa kearah depan.


Dari ujung jalan ada dua orang wanita berjalan memakai kebaya tempo dulu.


Perasaan Almira semakin tidak enak. Dan dia lalu berpesan pada Rafa agar apapun yang terjadi janganlah takut.


"Rafa diam jangan banyak gerak, jangan teriak, ya...jika takut pejamkan mata saja...ok??" kata Almira dengan dijawab anggukan kepala oleh Rafa.


Almira melepaskan cincin pemberian Hiro dan mengulum dalam mulutnya.


Tubuhnya dan Rafa juga mobil yang mereka tumpangi mendadak lenyap dari pandangan mata.


Tak lama berselang lewat dua orang gadis sambil bersenda gurau. Mereka berdua sama sekali tak melihat mobil dan dua orang penumpang di dalamnya.


Almira melirik dari kaca spion dan sempat mendengarkan pembicaraan mereka.


Hanya ada suara tetapi kedua gadis muda itu sama sekali tak terlihat di kaca spion membuat kedua mata Almira dan Rafa membulat sempurna.


"Apakah kamu sudah diberi kabar oleh penghuni kampung?" tanya gadis di sebelah kiri.


"Belum, akukan seharian ini sibuk menguliti buruan ayah yang didapat dari kampung sebelah!!" jawab gadis di sebelah kanan.


"Ada dua orang yang masuk ke kampung kita sore tadi dengan mengendarai mobil warna merah, satu wanita muda yang tengah hamil dan yang satunya seorang anak kecil."


"Berarti tiga santapan dong dengan bayi yang ada di dalam perutnya?? hihihihihi.....


Si gadis di sebelah kanan tertawa melengking.


"Sepertinya mereka menginap di penginapan mak erot!!" kata si gadis di sebelah kiri.


"Pesta besar dong nanti malam...sudah lama kampung hantu ini tak dilewati oleh manusia...kita harus mencari mangsa sampai di luar kampung."


Kedua manusia jadi-jadian itu berlalu sambil tertawa berhaha hihi meninggalkan Rafa dan Almira.


Almira memeluk Rafa erat-erat. Tubuh Rafa mengigil dalam ketakutannya tetapi pelukan Almira kembali menenangkannya.


Almira tak berani membuka suara karena cincin pemberian Hiro itu ada di dalam mulutnya.


Rafa pun terdiam membisu. Sementara waktu senja bergulir menjadi malam.


Rumah-rumah yang nampak di siang hari tadi sudah berganti menjadi pepohonan yang besar.

__ADS_1


Manusia dengan rupa yang cantik dan tampan siang tadi kini semua berubah mengerikan.


Dan tentu mereka heboh mencari Almira, Rafa dan mobilnya yang mereka perkirakan masih ada di dalam kampung mereka, tapi di mana menghilangnya??


Bagai harimau tengah mencari mangsanya untuk dijadikan santapan, para mahluk mengerikan dengan berbagai rupa itu mencari sampai kesudut-sudut kampung.


Ada yang berjalan setengah menyeret kakinya, ada yang melayang, ada juga yang mengesot di tanah, semua itu tak luput dari pandangan Rafa dan Almira.


"Terima kasih Hiro...berkat cincin pemberianmu, lagi-lagi aku terlepas dari bahaya dan maut...terima kasih Hiro!!! " batin Almira.


Dalam ketakutannya Rafa tertidur dalam pelukan Almira. Almira pun hanya tidur-tidur ayam hingga menjelang suara azan dan ayam berkokok terdengar jauh sekali.


Karena tadi Almira mengingatnya, maka jiwa Hiro seolah terhubung dengan Almira. Dia merasa Almira ada di dalam bahaya besar, dengan seluruh kekuatannya dia mengirimkan tenaganya untuk melindungi orang yang pernah dia cintai bahkan hingga detik ini tetap mampu memporak porandakan hatinya.


"Aku akan tetap melindungimu dan bayimu seperti janjiku dulu kepadamu." Bisik hati Hiro.


Begitu matahari muncul di ufuk timur, maka penghalang gaib yang di ciptakan penghuni kampung hantu itu untuk menjerat mangsanya lenyap dan berganti dengan jalan lurus biasa.


Almira melepaskan cincin itu dari dalam mulutnya yang sudah seperti kesemutan karena memendam cincin itu semalaman agar mereka berdua dan mobilnya tak kelihatan oleh para mahluk kelaparan itu.


Almira dengan cepat melanjutkan perjalanannya yang tertunda. Mereka berhasil melewati kampung mengerikan itu.


Rafa menggeliatkan badannya lalu membuka matanya.


"Kita sudah ada di mana mommy??" tanya Rafa.


"Kita harus segera keluar dari kampung ini sejauh mungkin." Kata Almira.


Lalu dia tancap gas melesat menembus jalan itu.


"Apakah Rafa lapar? atau Rafa mau makan mie instan, nanti mommy buatkan, kita kan bawa kompor gas bisa untuk masak dan membuat susu untuk Rafa!!" kata Almira.


Sementara itu Aliandhara ada dalam kecemasan luar biasa karena Rafa yang disangka pergi sebentar ternyata sudah dua hari belum kembali juga.


"Kamu tak usah khawatir, Ali...Rafa itu pergi dengan Almira bukan pergi seorang diri!!" kata tuan Kelvin sambil membolak balikan koran pagi yang ada di tangannya.


"Aliandhara itu mengkhawatirkan keduanya, yah...ini semua gara-gara perselingkuhan Xavier dan wanita itu!!" geram Aliandhara.


"Kalau kamu khawatir mengapa pagi ini tidak kamu telepon saja??" kata tuan Kelvin.


"Dari semalam Aliandhara mencoba menelpon tetapi baik Almira maupun Rafa ponselnya ngga ada yang aktif!!" kata Aliandhara nampak cemas.


Sekali lagi dia mencoba menelpon akhirnya ponsel Rafa berdering dan tersambung.


Rafa menceritakan kejadian semalam tanpa ada yang dikurangi atau dilebihkan.


Mendengar kata hantu membuat Aliandhara jadi menciut nyalinya.


"Rafa tidak takut sama hantu??" tanya Aliandhata lagi.


"Selama Rafa bersama dengan mommy, tak ada yang bisa membuat Rafa takut!!" jawab Rafa dengan mantap.


*


*


"Yah...mengapa sejak semingguan ini perasaan Sera kok ngga enak terus ya?? rasanya keingatan Almira terus!!" kata Serafin pada Giandra.


"Sepertinya telah terjadi sesuatu pada Almira dan Xavier." Kata Serafin lagi.


"Yah, semoga mereka baik-baik saja setelah kita tinggalkan selama hampir dua bulan ini...semoga Xavier bisa menjaga Almira istrinya dengan baik." Kata Giandra.


"Mengapa kita belum juga menemukan goa simbra itu ya?? jadi kapan kita bisa pulang kalau begini caranya??" keluh Serafin.


"Aku mendapat kabar dari Kakegawa bahwa goa Simbra itu adalah goa berpindah!!" kata Giandra.


"Maksudnya goa berpindah itu apa, yah??" tanya Serafin yang belum paham maksud Giandra.


"Aku curiga, kemungkinan yang dimaksud goa Simbra adalah goa berpindah itu maksudnya goa itu sebenarnya mahluk hidup tetapi memiliki ukuran yang sangat besar.


"Kamu ingat ular besar yang kita lihat tempo hari?? mulut goa yang sangat besar itu ternyata adalah mulut seekor ular besar yang menganga sengaja menunggu mangsanya setelah berhasil masuk, kemudian dia akan menutup lalu pergi ke tempat yang lain untuk mencari mangsanya.


*


*


***Bersambung...


Bisakah mereka akan menemukan goa Simbra yang ternyata adalah seekor ular besar??


Jangan lupa untuk mengikuti terus kisahnya ya.. 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2