
"Tenang aunty, menghadapi orang-orang licik dan berbahaya seperti Levia dan antek-anteknya itu kita harus pakai strategi agar tidak mendatangkan bahaya yang lebih besar pada kita."
Alia diam berusaha mencerna ucapan keponakannya yang masih berusia 3 tahun tetapi memiliki pemikiran seperti orang dewasa.
"Aliarafa...siapa kamu sebenarnya? aku tau kamu bukanlah Aliarafa keponakanku, siapa kamu?"
Pertanyaan yang sedari tadi ditahan oleh Alia akhirnya terucap juga.
Rafa tersenyum. Dia tau pertanyaan itu akan terlontar juga dari mulut aunty tersayangnya itu.
"Aunty sungguh ingin tau aku siapa?" tanyanya sambil tersenyum manis.
Alia hanya mengangguk sambil memandang tajam pada ponakannya itu.
"Aunty mau melihat wujudku yang mana dulu? wujud manusiaku atau wujud asliku?" katanya terus tersenyum.
"Keduanya!!" sahut Alia.
Rafa bergerak menuju pembaringan dan membaringkan diri di sana lalu memejamkan matanya.
Tak lama ada sesosok putih seperti kabut keluar dari tubuh Rafa. Semakin lama semakin jelas dan nyata membentuk sosok tubuh remaja laki-laki yang tampan sekali.
Remaja lelaki itu mempunyai wajah sangat mirip dengan Almira, sama-sama mempunyai bola mata berwarna biru dengan mahkota kecil di kepalanya.
Dia tersenyum pada Alia yang sangat takjub memandangnya.
"Aku sangat tampan kan aunty? wajahku bisa jauh lebih tampan jika aku telah beranjak dewasa nanti."
"Perkenalkan, namaku pangeran Redo...aku dan yundaku putri Refanya atau yang kalian lebih kenal dengan sebutan Shahnaz Almira adalah anak dari ratu Nilakandi atau Seiryu musuh bebuyutan ratu Hikaru."
"Ayah kami tewas saat bertarung melawan ratu Hikaru yang telah mengalahkannya secara licik, bunda ratu lalu menitipkan yunda Refanya kedalam rahim seorang wanita yang janinnya telah dimakan oleh ratu Hikaru. Sekaligus untuk melindungi yundaku yang menurut ramalan bakal memusnahkan seluruh keturunan ratu Hikaru termasuk kamu aunty!!"
Alia sangat terkejut mendengar penuturan pangeran Redo.
"Kamu bilang apa? aku adalah putri dari ratu jahat itu? tidak...tidak mungkin...aku adalah putri dari tuan Kelvin bukan dari ratu Hikaru."
Alia terus menggelengkan kepalanya mendengar penuturan yang terasa hendak meledakan telinga dan kepalanya.
"Aunty memang putri dari Hikaru... nama asli aunty bukan Alia tetapi adalah Lunella."
"Ayahmu Axelo bersahabat dengan kedua orang tua Almira juga orang tua Hiro, mereka semua satu perguruan, tetapi entah mengapa Axelo ayahmu bisa menikahi wanita sejahat ratu Hikaru."
"Ayahmu tau jika aunty akan mendominan kearah sikap dan sifatnya, sementara Levia jahat seperti ibunya makanya semenjak kalian masih bayi sudah dipisahkan."
"Levia dikurung di dalam goa simbra setelah kekalahan ratu Hikaru melawan keempat orang sakti itu yang menyebabkan meninggalnya ibu Hiro dan Sima."
"Aunty dititipkan oleh Axelo ayahmu kepada seorang sahabat yang sangat dia percaya yaitu tuan Kelvin sekarang."
Alia sangat sedih mendengarnya.
"Jadi anak dari tuan Kelvin itu hanya bang Ali!!!" tanyanya lagi.
__ADS_1
"Juga bukan!!" jawab Redo.
"Aliandhara adalah anak dari adik lelaki tuan Kelvin...adik dan istrinya telah meninggal sehingga Aliandhara menjadi yatim piatu sejak kecil dan dirawat oleh pamannya yang sudah menganggapnya sebagai putanya sendiri."
"Tuan Kelvin sendiri tidak pernah menikah karena dia lebih memfokuskan diri untuk merawat kalian berdua."
"Lalu jika aunty adalah keturunan ratu Hikaru, apakah aunty akan ikut dimusnahkan juga?" tanya Alia sedih.
"Aku tak akan membiarkan itu terjadi aunty!!" jawab Redo sambil tersenyum misterius.
"Lalu apakah kamu akan memperlihatkan wujudmu yang sebenarnya?" tanya Alia.
"Belum waktunya aunty, nanti jika tiba waktunya pasti aunty akan tahu dan melihatnya sendiri!!" jawab Redo lagi.
"Sudah ya aunty, Redo akan masuk kembali kedalam tubuh Rafa...aunty tenang saja di sini, aku akan mencari cara supaya yundaku bisa main ke mansion ini lagi dan akan kuajak untuk menemuimu."
*
*
"Abang, tidak akan pergi lagi meninggalkan Mira sendirian kan?" Mira merangkul Xavier dari belakang saat Xavier sedang duduk di teras depan.
Xavier memalingkan wajahnya memandang Almira. Wajah mereka jadi sedemikian dekatnya sehingga napas hangat keduanya pun terasa di wajah masing-masing.
"Cantik..."
"Apa bang? siapa yang cantik?" tanya Almira sambil menatap lekat manik mata Xavier.
Xavier balas menatap Almira dengan mesra. Wajah keduanya semakin dekat...semakin dekat...dan...
Eheemmm
Matsuyama datang dari arah belakang Almira sambil terbatuk kecil.
"Mesranya adik dan abang ini...seperti sepasang kekasih saja layaknya!!" kata Matsuyama.
Almira dengan cepat melepaskan rangkulan tangannya pada leher Xavier, begitu pula sebaliknya Xavier juga melepaskan pegangan tangannya pada lengan almira.
Wajah keduanya memerah menahan malu saat kepergok hampir berciuman oleh Matsuyama.
"Bocah ini...mengganggu saja!!" ucap Xavier kesal.
"Hargailah bocah kecil ini, jangan juga bermesraan di depanku begini!!" lanjut Matsuyama.
"Kalian kakak beradik tetapi kalah-kalah pasangan kekasih!!" jawab Matsuyama pada Xavier dan Almira.
"Justru kami adalah kakak beradik harus tampak mesra...iya ngga sayang!!" kata Xavier sambil memeluk adiknya itu.
"Modus!!" kata Matsuyama mencibir lalu berdiri dan beranjak pergi.
"Mau kemana??" tanya Xavier sambil tertawa setelah puas mempermainkan Matsuyama.
__ADS_1
"Mau nemani bibi sama paman aja di kebun belakang!!" sahutnya.
"Keadaan rumah memang sepi hanya suara deburan ombak yang terdengar sampai ke rumah.
Matsuyama menuju ke kebun belakang melewati kamar kakek Dahlan yang sekarang jadi penuh misteri.
"Hati-hatilah kamu sekarang, Dahlan...musuh sudah mengelilingimu sekarang, jangan sampai kamu salah langkah!!"
Matsuyama seperti mendengar sayup-sayup suara percakapan seseorang.
Dia menajamkan pendengarannya untuk mencari sumber suara tadi.
Dan dia menemukan suara itu berasal dari dalam kamar kakek Dahlan.
Perlahan Matsuyama mengintip ke dalam melalui celah pintu.
Deg...
Jantung Matsuyama berdetak dua kali lebih cepat saat melihat kakek Dahlan sedang mengobrol dengan wanita berpakaian putih yang tempo hari di lihat oleh Almira dan dia.
Wanita berkulit sangat pucat seperti hantu berambut sangat panjang. Walaupun wajahnya sangat cantik, tetapi karena Matsuyama memang takut sama hantu tetap saja itu sangat mengerikan bagi Matsuyama.
"Tampaknya mereka sudah mengetahui siapa kamu sebenarnya, Dahlan...jadi berhati-hatilah, kamu bisa mati berdiri jika mereka mengeroyokmu.
"Baiklah ratu, jika aku dalam keadaan terdesak, aku bisa menggunakan tubuh ini untuk mengancam mereka."
"Aku tau hingga detik ini mereka tak berani berbuat macam-macam karena takut tubuh orang tua ini kuhancurkan." Dahlan palsu tampak menyeringai dan bagi Matsuyama sangatlah menyeramkan.
Dengan cepat Matsuyama berkelebat pergi saat keduanya mengakhiri percakapan mereka dengan melakukan adegan yang Matsuyama sendiri jijik untuk melihatnya.
"Menjijikan sekali kedua mahluk itu, bisa-bisanya mereka mau melampiaskan hasratnya di tengah musuh seperti ini!!" gerutu Matsuyama.
"Di luar Almira dan Xavier yang bermesraan, wajarlah mereka melakukan hanya batas-batas yang wajar, lha...yang di dalam kamar itu??"
Hiiiihhh
Matsuyama bertabrakan dengan kakek Kojiro di pintu dapur. Untung sayuran dan ikan yang dibawa kakek Kojiro tidak tumpah ke lantai.
"Mengapa kamu berlari seperti di kejar setan Matsuyama?" tanya kakek Kojiro.
"Aku memang sedang dikejar setan, kek!!" seru Matsuyama lalu bergegas pergi.
"Anak bungsu Kakegawa itu, aku tau ilmu bela diri dan kesaktian yang dimilikinya hampir setara dengan Hiro dan Sima, tetapi dia tetap saja takut sama hantu!!"
"Tapi sebenarnya aku juga takut sih!!" kata kakek Kojiro sambil meringis dan masuk menuju dapur.
*
*
***Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa mampir, baca, like, komen, vote, favorit dan ratenya.🙏🙏