Mr.Playboy Vs Miss.Dingin

Mr.Playboy Vs Miss.Dingin
Bab 25 Rumah Pantai


__ADS_3

"Itu rumahnya..." Tunjuk Xavier.


Mereka bertiga turun dari mobil dan menuju rumah tersebut.


"Wah....rumahnya mungil tapi bersih dan terawat pak.." Almira memandang takjub.


Xavier tersenyum melihat binar-binar kegembiraan yang terpancar dari wajah gadis yang dicintainya itu.


"Jika kamu suka, tinggalah di sini seterusnya...mungkin kita akan tinggal di sini sambil menyaksikan keindahan senja dan matahari terbit berdua."


Mata Almira membulat. Tapi masih sempat terlihat oleh Xavier rona kemerahan di pipinya.


Ke duanya jadi salah tingkah dan saling membuang pandangan masing-masing.


"Hoi....tolong ya...hargailah orang tua di depan kalian ini dan hargailah Kadir yang badannya kejepit di dalam ransel itu...mau masuk ngga bisa keluar juga ngga bisa."


Almira dan Xavier sama-sama tersipu malu. Almira cepat-cepat menurunkan ranselnya dan mengeluarkan Kadir dari dalam ransel.


Sssss...ssssss


Kadir mendesis-desis...mungkin dia kesal pada kami lalu dia melata dan naik ke atas bangku kecil di teras dan melingkar di sana.


"Ayo masuk..." Ajak Xavier lalu melangkah lebih dulu untuk membukakan pintunya.


"Wah bagus sekali pak..." Almira terkagum-kagum menatap rumah mungil tapi perabotannya tertata dengan rapi itu.


"Syukurlah kalau kamu suka...." Xavier menatap dalam wajah Almira.


Almira membuang pandangannya ke arah pantai.


"Sialan...sialan...kenapa aku jadi deg-degan gini ya? Tak pernah rasanya dalam sejarah hidupku aku seperti sekarang ini." Almira membatin dalam hatinya.


"Ehheeeemmm"


"Tidak adakah yang peduli pada perasaan orang tua renta ini?" Kakek Dahlan menggerutu.


"Jangan terlalu merendahkan diri sendiri dengan mengatakan tua renta kek, harusnya tua bangka..." Sambil berucap Almira lari menjauhi kakeknya takut terkena amuk masa.


"Cucu sialan....awas kamu ya...kakek sumpahin...."


"Kakek sumpahin aku menikah muda terus punya banyak anak, gitukan?" Almira menyambung ucapan kakeknya.


"Saya siap kok kek jika kakek sedang mencari pasangan hidup buat Almira...walaupun saya masih berusia 24 tahun tapi saya rasa usia saya sudah cukup matang untuk menikah, ya kan Mira?"


Uhukk


Almira tersedak air liurnya sendiri mendengar ucapan Xavier yang terang-terangan.


"Ya sudah...kalian beristirahatlah...dalam kulkas di dapur ada bahan makanan untuk di masak."


Xavier jadi tak tega melihat Almira yang selalu salah tingkah di dekatnya.


*


*

__ADS_1


"Aliandhara...kamu di mana? Rafa menangis terus ini?" Tuan Kelvin menelpon dengan geram.


"Lho biasanya Rafa selalu diam jika bersama Almira, yah?"


"Almira kepalamu itu!! Almira dan kakeknya sudah 2 jam lalu pergi...mereka sudah tidak tinggal di sini lagi."


"Apa??? Kok bisa yah??? Kenapa tidak ayah cegah??"


"Dia sudah terlalu kecewa denganmu...suruh itu ibu kandungnya membujuk putranya...jangan cuma tau.berfoya-foya saja.


Tiiit..tiiitt


"Yah...ayah...."


"Shiittt telepon terputus..."


Dengan cepat Aliandhara berjalan ke kamarnya. Di kamar Valeria tidur hanya menggunakan lingerie saja.


"Bangun Valeria...Rafa menangis terus...kamu kan ibunya, kamu harus membujuknya."


Eeemmmm


"Kan ada babysitter nya honey!! Juga ada gadis kampungan itu."


"Cukup Valeria, jika kamu tidak mau ikut maka aku akan pergi sendiri."


"Memang benar bahwa kamu ini ibu yang tak berguna ." Aliandhara semakin geram dengan tingkah menyebalkan dari mantan istrinya itu.


Dia melangkah dengan cepat keluar apartemennya setelah sebelumnya mengambil kunci mobil di atas nakas.


Pikiran Aliandhara bertambah kalut tak karuan. Mendengar Rafa menangis terus, mendengar lagi Almira dan kakeknya pergi dari mansion.


Dia terus melajukan mobilnya membelah malam. Timbul rasa penyesalannya tadi sudah menyentak Almira.


"Bodohnya aku? Aku tak tau bagaimana perasaanku tapi yang jelas aku begitu kehilangan dia."


"Dan Valeria? Aku tak merasakan apapun lagi, aku hanya berusaha menghindarkan dia dari amukan keluargaku."


Setengah berlari Aliandhara masuk ke dalam kamar Rafa. Seluruh kamar kacau balau tampak bi Asih, Alia bahkan tuan Kelvin ikut membantu membujuk Rafa yang kehilangan Almira.


"Au mommy...au mommy...mana mommy Afa..."


"Rafa...ini daddy...kenapa Rafa menangis??" Aliandhara menggendong putranya.


"Mana mommy...daddy??"


"Mommy pergi sebentar...nanti mommy balik lagi tapi asal Rafa janji ngga akan cengeng dan rewel lagi, oke??"


Bocah 2 tahun itu menghentikan tangisannya. "Tul daddy?" Rafa tampaknya masih kurang yakin.


"Betullah...kapan sih daddy pernah bohong sama Rafa?" Aliandhara terus menggendong dan membujuk putranya.


"Sekarang Rafa bobo ya sama bi Asih, oke??"


Setelah Rafa tidur Aliandhara keluar, memerintahkan dan mengerahkan seluruh orang-orangnya untuk mencari Mira dan kakek Dahlan malam itu juga.

__ADS_1


Tuan Kelvin tak mengucapkan sepatah katapun, begitu pula dengan Alia...dia masih kesal melihat abangnya itu.


"Maafkan aku mommyku sayang, Almira!! Entah setan apa yang ada di kepalaku sampai aku tadi tega menyentakmu.


*


*


Alia sengaja berangkat pagi-pagi ke kampus, dia ingin segera bertemu Almira...satu-satunya sahabat yang dia punya di kampus itu.


Sementara itu...


"Mira, sepertinya kakek harus mencari pekerjaan baru untuk menghidupi kita."


Tampak pagi itu di rumah dekat pantai, Almira dan kakek Dahlan sedang duduk sarapan. Xavier sudah pulang tadi malam.


"Kakek tidak usah lagi bekerja, biar Mira saja yang mencari uang kek!!"


"Apa? Pasti kamu akan kembali pada kebiasaan lamamu...bertarung dan balapan motor lagi, ya kan?" Kakek Dahlan mulai sengit.


"Kek, yang penting Almira tidak nencuri dan tidak menjual diri...apa salahnya?"


"Tapi pekerjaanmu itu penuh resiko dan bahaya, Mira...kamu itu perempuan, jangan sampai Kadir jadi yatim piatu untuk kedua kalinya."


"Kakek tenang aja, Insyaallah tak akan terjadi apa-apa pada Mira."


"Lagian mana tega Almira membiarkan kakek bekerja? Kakek sudah tua, Almira tak mau kakek sakit karena kelelahan." Dalam hati Almira membatin.


Tiittt...tiitttt


"Itu pasti Xavier datang menjemputmu Mira??"


"Iya sudah kek, Almira berangkat dulu ya...Assalamualaikum.."


"Waalaikum salam...hati-hati ya..." Almira menyalami dan mencium punggung tangan kakeknya lalu bergegas keluar.


"Selamat pagi cantik?? Melihatmu keluar rumah, matahari seakan enggan menampakan dirinya pagi ini!!" Xavier tersenyum sambil tak henti-hentinya memandang kagum pada Almira.


"Pagi pak Xavier."


"Pak, bapak ini mengajar Anatomi tubuh lho, bukan mengajar mata kuliah sastra."


"Mira kan mahasiswi fakuktas kedokteran, bukan fakultas sastra yang bisa merangkai kata-kata."


"Memang kalau bukan kuliah di fakultas sastra, kita tidak bisa berpuisi gitu?"


"Mira juga sebenarnya pintar merangkai kata, tuh buktinya semalamkan menang adu bersilat lidah dengan istrinya tuan Aliandhara."


"Kalau bersilat lidah mah jangan ditanya lagi pak, sejak kecil Almira selalu perang mulut sama kakek!!"


Xavier hanya tertawa mendengar cerita Almira.


"Bagaimana? Betah tinggal di rumah pantai?" Xavier mengalihkan pembicaraan.


"Kalau Almira di mana aja betah pak, asal kakek tidak kedinginan tidur di jalanan saja...Almira sudah senang.

__ADS_1


***Bersambung....


"Jatuh cinta...berjuta rasanya..." Mira tanggap ngga ya? Jika Xavier jatuh hati padanya??" Dukung terus karya author receh ini dengan menekan like, komen, vote, favorit, dan rate nya...ya guys🙏🙏


__ADS_2