
Tak ada hitungan waktu, pintu yang terbuka dengan cepat bergeser tertutup kembali.
"Aduh...hampir kakiku terjepit!!" kata Almira agak kesulitan bicara karena mulutnya mengulum cincin sakti yang bisa membuat tubuh mereka menghilang.
Di tempat lain Kebebitak yang tengah membawa rombongan pasukannya menuju ke istana ratu Nilakandi menjadi gelisah.
"Ada apa ini??" kenapa perasaanku jadi tidak enak seperti ini??" pikir Kebebitak.
"Ada apa yang mulia??" tanya senopati yang mendampinginya melihat panglimanya tampak sangat gelisah.
"Entahlah senopati...aku merasa jantingku berdebar tak karuan, seperti telah terjadi sesuatu di istana kita saat ini!!" jawabnya.
"Apakah kita akan kembali lagi yang mulia??" tanyanya pada panglima nya itu!!
"Jangan...kita sudah berjalan sejauh ini, tidak sampai setengah hari perjalanan lagi, kita akan tiba di kediaman istana ratu Nilakandi.
"Kamu sudah mendapatkan laporan dari mata-mata kita bagaimana perjalanan para prajurit kita menuju ke istana Bara Seta??" tanua Kebebitak pada senopati nya itu.
"Orang-orang kita pun di sana sudah hampir tiba di tempat tujuan yang mulia!!" sahut sang senopati.
"Baguslah!!" kata Kebebitak.
**************
"Mira, batu mustika dan mahkota kerajaan kera ini sudah kita dapatkan, apa yang akan kita lakukan selanjutnya??" tanya Tristan.
"Kamu pakailah mahkota itu lalu masukan mustika merah delima itu kedalam saku pakaianmu!!" kata Almira.
"Kita akan mengumumkan diri kita pada seluruh rakyat si jelek Kebebitak bahwa kau lah raja nya sekarang!!" kata Almira berapi-api.
"Dan kamu yang akan menjadi pendamping raja nya!!" kata Tristan menimpali ucapan Almira sambil tersenyum.
"Ahh...kau ini!! aku lagi serius tapi kamu bercanda melulu!!" kata Almira pada Tristan dengan kesal.
Tristan hanya tersenyum simpul melihat Almira sewot seperti itu. Semakin sewot semakin cantik ibu tiga anak itu di matanya.
Lalu mereka menampakan diri tepat di depan pendopo istana, seluruh prajurit sisa yang berjaga di sana berlarian mengepung mereka.
__ADS_1
"Sabar saudara-saudaraku semua, kedatangan kami di sana bukan untuk membuat ribut ataupun keonaran, kami datang dengan damai dan ingin mengatakan bahwa raja kalian yang baru bukanlah Kebebitak, tetapi aku!!"
Lalu Tristan memakai mahkota kebesaran milik Kebebitak, dia juga mengacungkan permata merah delima yang membuktikan bahwa dialah kini yang menjadi pemimpin para siluman kera itu.
Para prajurit Kebebitak yang tadinya ingin melakukan perlawanan menjadi ragu, karena mereka tau persis bahwa siapapun pemegang batu merah delima dan memakai mahkota itu, artinya dialah pemimpin mereka selanjutnya.
"Bagus jika kalian sudah tau, mulai sekarang kalian hanya patuh dan tunduk pada peraturan yang kubuat, bukan pada peraturan Kebebitak lagi!!" Dengan semangat Tristan menjabarkan pada mereka semua.
Sementara pasukan Kebebitak yang sedang menuju istana Bara Seta....
"Tuan Senopati...kenapa sepanjang perjalanan menuju ke istana Bara Seta ini sepi sekali?? seperti melewati desa yang tak berpenghuni??" tanya seorang prajurit.
"Iya, tuan !!" kata prajurit satunya lagi.
"Rasanya tak masuk di akal jika mereka tidak mengetahui kedatangan kita dan tidak membuat persiapan apapun!!" kata kedua prajurit itu dan diakui juga kebenarannya oleh senopati Kebebitak tersebut.
"Sepanjang jalan rumah penduduk yang kita lewati tampak lengang, aku jadi curiga jika mereka merencanakan sesuatu untuk melumpuhkan kita.
Senopati itupun merasakan sesuatu yang ganjil di perkampungan itu yang sepi dan nampak biasa-biasa saja itu tetapi bisa saja mengandung suatu bahaya.
Belum jauh rombongan itu berjalan tiba-tiba terdengar teriakan dari prajurit yang di arah belakang mereka.
Para prajurit kera itu langsung kelojotan dengan seluruh tubuh yang tampak gosong kebiruan pertanda panah yang mengenai tubuh mereka itu mengandung racun ganas.
Belum habis rasa kaget mereka, enam prajurit kera di bagian depan secara bersamaan masuk kedalam perangkap yang mereka injak membuat tubuh mereka terjerumus masuk ke dalam lubang yang sudah ditancapi bambu runcing.
"Mundur...kita mundur dahulu!!" teriak senopati pada para prajuritnya sebelum mereka binasa secara cuma-cuma.
Banyak para prajurit kera terbunuh membuat sang senopati merasa sangat geram dan marah tetapi dia tidak bisa gegabah dalam bertindak.
"Mereka telah memasang ranjau di atas pepohonan dan di darat dan kita tidak tau di mana aja letak tersembunyi semua jebakan itu.
"Hanya ada satu cara agar seluruh prajurit kita bisa melewati jebakan ini!" kata senopati kepada para tamtama dan prajuritnya.
"Aku yang akan berangkat terlebih dahulu dan menghancurkan pemicu ranjau di atas pohon dan di tanah yang tersembunyi!!" kata senopati itu.
Akhirnya disepakatilah sebagian prajurit dan beberapa perwira tinggal membangun tempat tinggal sementara di situ sementara beberapa prajurit yang memiliki ilmu tinggi dan sang senopati pergi lebih dahulu.
__ADS_1
***********
"Bagaimana para prajurit musuh itu dan sudah sampai di mana mereka sekarang ini??" tanya Bara Seta dan berunding dengan para petinggi lainnya.
"Mereka tadi sudah maju sampai ke tengah desa, tuanku...tapi orang-orang kita yang di perbatasan keburu mengetahui dan memblokir perjalanan mereka...dan menurut mata-mata yang kita sebar, mereka membangun tenda di perbatasan desa dan beberapa dari mereka yang memiliki ilmu tinggi mencoba mencari jalan menuju kemari." Kata para petinggi Bara Seta.
"Untung seluruh rakyat sudah kita ungsikan ketempat yang aman, aku tak ingin rakyat jelata yang tidak berdosa menjadi korban peperangan ini." Kata Bara Seta.
Sementara di dalam istana...
"Dinda, kanda harap dinda tidak ikut memikirkan masalah kerajaan, kasihan bayi kita yang ada di dalam kandungan dinda, kanda tidak ingin terjadi sesuatu apapun pada bayi kita." Kata Rangga pada Bonita istrinya.
"Bagaimana dinda tidak ikut memikirkan kanda, masa depan kerajaan dan rakyat ada di tangan kita semua, kanda!!" kata Bonita nampak sangat cemas.
"Kanda mengerti, dinda...tapi kamu juga harus memikirkan bayi kita yang ada di dalam kandunganmu.
"Usia kandungan dinda sudah menginjak 9 bulan, hanya tinggal menunggu hari dinda akan melahirkan, tetapi keadaan negeri kacau seperti sekarang ini!!" kata Bonita cemas.
"Kanda akan menjaga dinda dengan taruhan nyawa kanda sekalipun!!" kata Rangga berusaha menenangkan istrinya.
"Sebaiknya dinda masuk ke kamar dan beristirahatlah agar dinda selalu sehat!!" kata Rangga mengantarkan istrinya untuk beristirahat.
**************
"Bagaimana keadaan Almira dan Tristan?? apakah mereka berdua bisa mengatasi masalah di sana??" tanya ratu Nilakandi pada orang-orang kepeecayaannya.
"Tuan putri dan panglima Tristan berhasil merebut dan mengambil alih istana musuh, mereka berhasil mengambil permata merah delima dan mahkota kebesaran milik Kebebitak yang menjadi simbol kepemimpinan raja kera tersebut."
"Bagus...jika kita bisa menguasai mereka, raja kera yang sombong itu tidak akan bisa berkutik lagi!!" sahut ratu Nilakandi sambil mengulum senyum cantiknya.
*
*
***Bersambung...
Bagaimana pertempuran ketiga kubu siluman itu??
__ADS_1
Lanjut next berikutnya😊😊jangan lupa dukungannya ya🙏🙏