Mr.Playboy Vs Miss.Dingin

Mr.Playboy Vs Miss.Dingin
Bab 83 Bertemu Para Musuh


__ADS_3

"Iya Mira, walaupun kita bertemu lagi hanya sebagai saudara bukan sebagai kekasih!!" Xavier menelan salivanya dengan susah payah.


"Tidak mengapa bang, kita terima saja keadaan ini mungkin jalan hidup kita memang ditakdirka bukan sebagai kekasih tetapi hanya sebagai saudara." ucapku berusaha setenang mungkin di hadapan Xavier.


Padahal dalam hatiku serasa hancur berkeping-keping. Sepenuh hati aku mencoba menata hatiku agar terlihat tenang di hadapannya.


Kupandangi wajah yang sedikit kuyu dan pucat itu. Tapi sama sekali tak mengurangi kadar ketampanannya.


"Abangku sayang!!" bisik hati Almira


Tak disangka dia langsung mengangkat wajahnya menatap dalam pada Almira.


Tiba-tiba dia reflek melepaskan masakannya. Ditangkupnya kedua pipi yang kemerahan itu. Awalnya Almira terkejut dan hendak memberontak tetapi entah dorongan apa yang membuatnya mengurungkan niatnya.


Tanpa banyak bicara Xavier mengangkat wajah itu dan mendekatkan ke wajahnya. Perlahan bibir mereka saling bertemu. Perlahan disentuhnya bibir basah kemerahan itu dengan bibirnya.


Almira tak menolak, hanya matanya saja yang membulat sempurna memandang wajah Xavier yang sedemikian dekat dengan wajahnya.


Lama mereka saling mengeksplor bibir masing-masing hingga dengan wajah memerah dan napas yang masih terengah-engah, Almira melepaskan diri dari pagutan Xavier.


"Ini salah bang..." lirihnya.


"Tidak sepantasnya kita melakukan ini, kita adalah saudara!! bisiknya dengan mata terpejam dan penuh linangan air mata.


Xavier kembali memeluk tubuh indah itu dan mengecup pucuk kepala Almira.


"Abang tau ini salah, tapi entah mengapa setiap mengingatmu, setiap dekat denganmu hati dan perasaan abang berbeda."


"Abang tak merasakan apapun perasaan sayang sebagai adik dan kakak, yang abang rasakan adalah cinta dan sayang kepada pasangannya saja."


"Maafkan abang ya Almira adikku!" suara Xavier terdengar bergetar saat mengucapkannya.


"Bang, mengapa abang tidak mencari penggantiku agar abang bisa cepat melupakanku?" tanyaku padanya.


"Almira dengar perkataan abang, cukup sekali ini abang mendengar itu dari bibirmu...abang tak akan pernah ingin mencari wanita lain sebagai gantimu karena kamu tak akan pernah terganti oleh apapun dan siapapun."


"Seandainya benar kamu memang adik kandung abang, abang akan tetap memilih sendiri sampai mati sekalipun."


Aku memeluknya erat. Masih kurasakan jantungnya berdegup kencang antara meluapkan emosi kemarahan, rasa cinta dan rasa tak mungkin memiliki.


Dia balas memelukku


"Maafkan abang tadi telah membentakmu, sayangku..." lalu dia memelukku lebih erat.


"Hoi...masakan gosong...gosong...kebakaran...." teriak Matsuyama dari pintu dapur.


Sontak kami berdua saling melepaskan pelukan dengan wajah sangat merah.


"Masakan abang gosongkah?" bisikku perlahan sambil melihat ke arah penggorengan.


"Mana ada? kan tadi kompornya sudah abang matikan!!" jawabnya.

__ADS_1


"Lho terus gosong dari mananya? kebakaran dari mananya? jangan kata asap, apinya aja ngga ada!!" ketusku.


"Dasar Matsuyama mengganggu saja!!" kataku dengan cemberut, sementara Xavier hanya tersenyum melihat kelakuanku, ingin rasanya dilumatnya kembali bibir ranum merah yang basah itu.


Tetapi kesadaran keburu menghampirinya dan mengingatkannya agar otaknya dan hatinya menjadi normal kembali.


"Cowi...."


Almira sudah berteriak sekencang mungkin dan Matsuyama sudah ngibrit entah kemana semenjak tadi. Melihat pujaannya marah-marah, Xavier hanya tersenyum. Hatinya berdegup jika ingat kejadian barusan. Berkali-kali diusapnya bibirnya yang tadi baru saja ******* bibir ranum milik adiknya itu.


Bruugghhh...


Almira bertabrakan dengan kakek Dahlan di pintu luar. Tampak wajah dan tubuh kakek Dahlan yang kering padahal hujan turun dengan derasnya di luar.


Kakek Dahlan mengerenyit menahan sakit saat kulitnya bersentuhan dengan kulit Almira.


"Kakek...dari mana? di dalam.ada Xavier dan kakek Kojiro juga ada ayah dan ibuku," kataku."


"Ayah dan ibumu?" kata kakek Dahlan terkejut, tapi dia pandai menyembunyikan perasaannya.


"Kok di luar hujan lebat tetapi mengapa kakek tidak basah sama sekali?" ujarku heran.


"Kakek pakai payung dan mantel , Mira!!!" jawab kakek Dahlan.


Di ruang tamu kakek disambut oleh kakek Kojiro, sepupunya.


"Dari mana saja kamu Dahlan, hujan-hujan begini?" kata kakek Kojiro.


Lalu matanya bersitatap dengan Giandra dan Serafin. Kakek Dahlan hanya mengangguk memberi hormat.


"Aku ke dalam dulu ya!! silakan kalian beristirahat!!" ucapnya tersenyum sambil setengah menyeringai.


Sepeninggal kakek Dahlan, Serafin berbisik kepada suaminya.


"Yah, mengapa kulihat ada yang janggal pada kakek itu ya?" tanya Serafin.


"Maksudmu dia mempunyai ekor seperti kera yang dia sembunyikan di balik jubahnya, begitukan??" kata Giandra menanggapi perkataan istrinya.


Serafin hanya mengangguk menyetujui ucapan sang suami.


"Itu sebabnya dia tidak berani lebih lama bersitatap dengan kita karena dia tau kita memiliki ilmu memutus jaring yang mampu menembus apapun walau dinding baja sekalipun.


"Dia bukan kakek Dahlan asli, yah!!" sambung Serafin.


"Apakah kamu tidak memperhatikan saat tadi dia bertabrakan dengan Almira, dia tampak mengerenyit kesakitan saat kulitnya bersentuhan dengan putri kita?" jelas Serafin lagi.


"Apa maksud kalian, dia bukan Dahlan sepupuku?" tiba-tiba Kojiro muncul di ruang tamu.


"Dia memang bukan kakek Dahlan yang asli, kalau kakek tidak percaya coba tanyakan pada bocah tampan yang sedang tidur-tidur ayam di pojok ruangan itu!!" tunjuk Giandra pada Matsuyama.


"Matsuyama, bangun...jelaskan padaku apa benar kata paman Giandra jika kakek Dahlan itu palsu?" tanya kakek Kojiro.

__ADS_1


Matsuyama membuka matanya dan mengangguk membenarkan ucapan Giandra itu.


"Dari mana kau tau tentang itu bocah? mengapa kamu bisa tau sedangkan aku tak tau?" cecar kakek Kojiro pada Matsuyama.


"Jangan lupa kek, ayahku Kakegawa adalah seorang cenayang...seluruh keluarga kami semua tahu dan bisa merasakan, aku juga tau kalau kakakku Sima sekarang sedang di manfaatkan kelebihan yang dia miliki oleh putri dari ratu Hikaru itu, oleh sebab itu aku diutus oleh ayah untuk menjemputnya secara baik-baik atau ayah sendiri nanti yang akan menariknya pulang dengan kekuatan gaibnya."


Matsuyama menjelaskan perlahan agar suaranya tak tembus sampai ketelinga kakek Dahlan yang sedang berada di kamarnya.


Tanpa mereka sadari sosok gelap yang menyerupai kakak Dahlan itu menyeringai mendengar percakapan mereka yang ada di luar. Sosok bertaring, tinggi besar dan berekor seperti kera itu kembali kewujud aslinya.


"Bocah yang bernama Matsuyama, Almira, Xavier, si ular kadut, ditambah lagi Serafin dan Giandra...bertambah banyak saja musuh-musuhku ini, belum lagi tujuan sang ratu tercapai sudah banyak sekali rintangannya."


"Aku harus menyingkirkan mereka satu persatu, Almira dan ular kobra itu tidak bisa membunuhku karena aku menguasai tubuh kakeknya."


"Tapi wanita yang bernama Serafin itu cantik sekali, aku jadi bergairah melihatnya!!" air liur mahluk itu menetes-netes saat membayangkan Serafin.


"Tetapi nampaknya sepasang suami istri itu juga sangat hebat, ah...aku tidak peduli, aku harus bisa mencicipi tubuh ranum yang menggoda itu."


Sosok mengerikan itu tak sadar jika ada sosok lain juga yang melingkar di tiang rumah di atas kepalanya. Kadir tampak mendesis perlahan menatap penuh kebencian pada mahluk itu.


Dia membuka mulutnya perlahan, tampak taringnya yang mulai kelihatan, dari sela-sela giginya dia mengucurkan cairan berwarna biru kehitaman menandakan air liur itu mengandung racun.


Arrggghhhh....sialan....!!


Mahluk itu menggeletar menahan sakit yang luar biasa pada kepalanya yang terkena tetesan air liur Kadir.


Sebelum dia sempat menyadari, ular cerdas dan sakti itu merayap menghilang dibalik atap rumah.


Bang*sat.....


Kakek Dahlan palsu mengeluarkan bermacam umpatan sumpah serapahnya. Dia memang tidak melihat siapa tapi dia tahu itu cairan si ular busuk musuh bebuyutannya itu.


"Awas kau ular jaha*nam!!! Aku akan membalasmu...kamu lihat dan tunggulah pembalasanku nanti!! akan kukuliti kulitmu itu untuk menjadi hiasan dinding kamar ini!!"


"Sakit sekali..."


Tubuhnya terasa bergetar berusaha melawan racun jahat yang tadi disemprotkan Kadir dari mulutnya.


"Kamu dari mana?" tanya Almira pada Kadir yang baru saja datang.


Tampak Almira, Matsuyama dan Xavier sedang duduk bertiga.


*


*


***Bersambung...


Apakah sosok jahat yang menyerupai kakek Dahlan akan selamat berhadapan dengan trio 1c 2 t itu?"


Ikuti terus kisahnya jangan lupa like, komen, vote, favorit dan rate nya🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2