Mr.Playboy Vs Miss.Dingin

Mr.Playboy Vs Miss.Dingin
Bab 96 Aku Cemburu


__ADS_3

"Pertanyaan bagus, boy!!" kata Almira mengacungkan jempolnya.


"Pertama, kita semua orang terpilih untuk menghadapi malam purnama merah nanti!! terutama aku dan bang Xavier."


"Masih ada 2 orang lagi di luar sana yang belum bergabung dengan kita yang menjadi inti 4 unsur kekuatan yaitu angin, api, air dan tanah."


"Apakah kedua orang yang mempunyai unsur itu mengetahui jika mereka memiliki kekuatan?" tanya Matsuyama.


"Kurasa mereka menyadarinya seperti halnya aku yang memiliki kemampuan yang tidak dimiliki oleh orang lain." Kata Almira.


"Apa inti kekuatan yang kamu miliki, Almira?" tanya Matsuyama.


"Air...aku mampu menyerap ketiga elemen lainnya dan mengendalikannya, oleh karena itu ratu Hikaru dan para anteknya memburu dan ingin membunuhku."


"Lalu bagaimana perasaanmu menjadi orang yang diburu seperti hewan buruan?" tanya Matsuyama mulai serius dengan pertanyaannya.


"Santai aja, jika memang sudah habis waktuku hidup di dunia ini, jangankan dalam keadaan diburu...dalam keadaan ngobrol denganmu beginipun aku bisa mati!!"


"Gila...santai banget hidupmu!!" kata Matsuyama.


"Sudahlah kembalilah tidur, besok aku mau masuk kuliah lagi banyak sudah pelajaranku yang tertinggal." Kata Mira.


"Mira, aku bobo di kamarmu aja ya...ngga apa-apa aku tidur di lantai asal jangan aku tidur di luar, aku takut banget." Kata Xavier.


"Ishhh, kamu ini...jika Hiro tau adiknya sepenakut ini dia pasti akan malu banget!!" jawabku.


"Bodo amat...yang penting aku tidak diganggu oleh mahluk-mahluk aneh di luar sana!!" jawab Matsuyama.


****


"Bu, yah...hari ini Gio akan ke kota, Gio akan mengambil sedikit tabungan Gio untuk membeli sebuah mobil, sengsara sekali rasanya jika tinggal di tempat terpencil begini tapi tidak punya kendaraan??"


"Masa mau kemana-mana kita harus berlari terus??" kata Xavier lagi.


"Kamu tidak usah mengambil uang tabunganmu, Gio...itu adalah hasil jerih payahmu selama ini...ambil ini saja dan jual lah!!" lalu Serafin melemparkan kantong berwarna hitam pada Xavier dan Xavier cepat menyambutnya.


Dengan ceqpat Xavier menyambutnya lalu membukanya.


"Ini uang logam terbuat dari emas murni bu, ini milik ibu dan ayah...lebih baik jangan dijual." Kata Xavier.


"Pergunakanlah, Gio...jika ibumu sudah mengijinkan maka pakailah saja untuk membeli keperluan kita, toh jika hanya untuk kebutuhan kita sehari-hari kita bisa berkebun dan beternak di sini kita juga bisa memancing di laut jika kepingin makan ikan." Kata Giandra.


"Kita tidak bisa jauh-jauh meninggalkan rumah ini yang sudah seperti markas kita, ditakutkan nanti terjadi sesuatu lagi pada kakek Dahlan." Lanjut ayahnya.


"Ya...ya...mentang-mentang ilmuku paling rendah di sini!!" kata kakek Dahlan cemberut.


"Bukan masalah paling tinggi atau paling rendah kek, tetapi kakek adalah si penjaga dari salah satu 4 unsur elemen yang hendak mereka musnahkan.


"Itulah sebabnya nyawa kakek juga ada di dalam bahaya besar!!" kata Xavier lagi.


"Heh Tosiro...kalau dikasih tau itu nurut jangan membantah terus, kamu ingin cepat menemui malaikat maut? memang kamu sudah siapkah?" kata kakek Kojiro yang habis keluar dari kamar mandi.


"Jika sekali lagi kamu diculik, kami tak yakin bisa menyelamatkanmu lagi karena bisa saja kemungkinan mereka akan memusnahkan jasadmu, kamu mau jadi roh penasaran, hah!!


"Punya roh tapi tak punya jasad, belum mati tapi sudah menjadi arwah." kata kakek Kojiro mengejek sepupunya itu.


"Berarti nyawa Almira juga dalam bahaya dong!!" kata kakek Dahlan.


"Kakek tidak usah khawatir, Almira itu penjaganya banyak...akan sulit bagi mereka untuk menyentuh Almira." Jawab Serafin.

__ADS_1


"Sebaiknya kalian berangkat sekarang...biar ayah, ibu dan kakek berjaga di sini!!" kata kakek Kojiro.


"Kita akan menjaga bayi tua ini supaya tidak ada drama penculikan lagi menimpanya!" Kojiro menambahkan lagi.


Akhirnya Almira, Xavier dan Matsuyama berangkat bersama menuju ke jalan besar menunggu bus yang lewat.


"Bang...mengapa sih mencari tempat tinggal jauh di dalam hutan belantara begini? kan mau kemana-mana repot jadinya!!" gerutu Almira.


"Ngga di dalam hutan belantara juga kali, sayang...abang memang membangun rumah pantai ini agar kelak saat abang menikahimu kita bisa hidup tenang bersama anak-anak kita jauh dari hiruk pikuk dan hingar bingar keramaian." Kata Xavier seolah dia lupa akan status mereka berdua.


"Abang..." suara Almira tercekat di tenggorokan mendengar perkataan Xavier.


Matsuyama yang paham akan keadaan itu segera mengalihkan pembicaraan.


"Mira, bagaimana menurutmu apakah aku harus membawa kak Sima secara kekerasan??" tanya Matsuyama.


Perhatian Almira teralihkan dan Xavier juga seolah tersadar pada kesalahannya.


"Jika membawanya secara baik-baik memang tidak bisa dilakukan, maka tak ada jalan lain aku akan membantumu meringkus Sima, aku juga mau lihat bagaimana tingginya ilmu Levia yang kedoknya bersembunyi di belakang saudara kembarnya itu."


"Abang juga akan membantumu, Matsuyama!!" kata Xavier.


"Mira, Matsuyama, kalian mendengar sesuatu tidak?" tanya Xavier.


"Abang dengar jugakah?? padahal tadi aku sengaja menjepit lubang pantatku rapat-rapat agar suara kentutku jangan sampai terdengar!!" kata Matsuyama meringis.


"Apa??? jadi tadi yang ada bau seperti bangkai itu kentutmu, Matsu?" tanya Almira sambil mendelik marah.


"Kupikir tadi kita sedang diikuti oleh anak buah ratu Hikaru sekalinya malah bau kentutmu!!" kata Almira lagi.


"Coba kalian dengar baik-baik, jangan bertengkar terus!!" kata Xavier.


Sayup-sayup di kejauhan seperti ada suara orang berkelahi.


Seorang wanita kira-kira seumur dengan Xavier sedang berkelahi dengan sepuluh orang laki-laki berbadan dan berotot kekar.


"Ayo kita bantu, abang paling ngga bisa melihat seorang wanita dikeroyok seperti ini, laki-laki yang beraninya mengeroyok wanita adalah laki-laki banci." Ketus Xavier.


Sementara Xavier dan wanita cantik itu berkelahi, Matsuyama dan Almira hanya berdiri sebagai penonton saja.


Entah mengapa ada perasaan lain di hati Almira. Tiba-tiba ada rasa kekosongan dan kehampaan melihat laki-laki yang dicintainya saling bahu membahu menghadapi kesepuluh orang yang rata-rata tinggi ilmu bela dirinya.


Tetapi selain itu ada hal penting yang dapat dirasakan oleh Almira.


Elemen ketiga...dia seperti merasa wanita itu adalah elemen ketiga yang sedang mereka cari.


"Wah cantiknya kakak itu??? sudah cantik, anggun, dewasa, pasti cocok nih untuk pasangan bang Xavier!!" kata Matsuyama melirik Almira yang mulai menegang sambil tersenyum nakal.


"Almira...Matsuyama...kalian menunggu kami berdua bonyok semua?? ayo cepat bantu..." teriak Xavier sambil menangkis pukulan lawannya.


Dengan masuknya Almira dan Matsuyama maka perkelahian jadi imbang malah keadaan jadi berbalik.


Tetapi karena Almira berkelahi dalam keadaan pikiran kacau maka...


Bugh...Ahhhh...


Almira terpelanting menerima tendangan lawan yang sangat keras itu.


"Mira...."

__ADS_1


Xavier melakukan tendangan putar lalu melesat mendatangi Almira yang tengah memegangi perutnya.


"Aneh...mengapa tendangan mereka bisa menembus pertahananku? ini sepertinya entah mereka yang memang berilmu tinggi atau aku yang otaknya blank."


Gumam Almira sambil meringis.


"Kamu kenapa sih??? kok bisa seceroboh ini!!" Xavier memeluk adiknya itu dan membawanya kepinggir.


"Bagaimana keadaan perutmu yang terkena tendangan tadi? sakit sekalikah?"


Lalu tanpa menunggu persetujuan Almira, Xavier menyibakkan kemeja yang dikenakan Almira di bagian perutnya.


Luka memar tampak melintang diperut mulus Almira.


Xavier tampak merapalkan sesuatu lalu mengusap dua kali di atas perut Almira. Seketika memar memanjang itu lenyap dan Almira tidak merasakan nyeri lagi di sekitar perutnya.


"Ceroboh..." Xavier mengacak rambut Almira.


"Ngga usah punya pikiran yang aneh-aneh, sebab di hati abang itu cuma ada kamu!!" sekali lagi dia mengacak rambut Almira lalu kembali ke pertarungan.


Almira termangu, dia lupa bahwa Xavier juga sama seperti dirinya mampu membaca pikiran orang lain. Tiba-tiba wajah Almira sangat merah karena menahan malu pada perkataan di dalam hatinya yang tadi sempat di dengar oleh Xavier.


Satu persatu lawan mereka tumbang. Yang masih tersisa kabur dengan membawa temannya yang terluka.


"Terima kasih atas pertolongan kalian berdua...gadis yang di sana itu?? bagaimana keadaannya??" tunjuknya pada Almira.


"Dia sudah baik-baik saja!!" kata Xavier.


"Kalian siapa dan mau kemana?" tanya wanita cantik itu.


"Namaku Giovanno ini Matsuyama dan itu Almira!!" terang Xavier.


"Dia adikmu atau kekasihmu??" tanyanya lagi.


"Almira adiknya bang Giovanno..." sahut Matsuyama.


Xavier melototkan matanya pada Matsuyama yang hanya cengar cengir mendapat tatapan horor dari Xavier.


"Namaku Shiera...aku dosen di unibersitas xxx!!"


"Lho, Almira juga berkuliah di sana dan aku dulu juga mengajar di sana, tapi sekarang sudah tidak lagi."


"Kenapa tidak kembali mengajar lagi di sana? jadi kita punya banyak kesempatan untuk ngobrol." Kata Shiera.


"Ini kalian mau kemana? bagaimana jika ikut mobilku saja!!" tawar Shiera.


"Ah, tidak u..." belum selesai Xavier bicara, Matsuyama sudah memotongnya.


"Boleh kak, dari pada kita bertiga menunggu bus yang lewat, lagi pula Almira perutnya sakit kena tendangan tadi." jawab Matsuyama.


Shiera membukakan pintu depannya untuk Xavier, sementara Almira duduk di belakang bersama Matsuyama.


Xavier dan Shiera terlibat obrolan serius, apalagi mereka berdua sama-sama dosen, sementara Almira dan Matsuyama hanya diam saja di belakang.


*


*


***Bersambung...

__ADS_1


Siapa sebenarnya Shiera? benarkah dia salah satu dari ke 4 element yang sedang dicari?


Ikuti terus kisahnya ya guys...mampir, baca, like, komen, vote, favorit dan ratenya sangat kuharapkan🙏🙏🙏


__ADS_2