
Jantungnya berdebar saat mendengar bahwa Redo menyukainya.
Usia Alia memang sudah 20 tahun sementara Redo jika hitungan usia manusia baru berusia 15 tahun. Alia pernah melihat wajah tampan Redo yang sangat mirip dengan Almira dan dia tidak pernah lupa saat melihat wajah itu untuk pertama kalinya.
Begitu Redo bangun dari semedinya, Alia cepat-cepat menyelinap pergi dari tempat persembunyiannya.
"Aunty...apakah aunty mau makan? jika mau makan, Rafa bisa meminta pelayan untuk mengantarkan makanan ke kamar ini!!" kata Rafa.
"Boleh deh Rafa...aunty sudah lama tidak pernah makan enak lagi." Dengan senang hati Alia menerima tawaran Rafa yang menggiurkan.
Melihat wanita yang telah memikat hatinya itu makan dengan lahap, pangeran Redo merasa sangat senang.
"Makanlah yang banyak my aunty, aku tak ingin melihat kesayanganku kelaparan." Dia tersenyum senang.
*
*
"Purnama merah tinggal menghitung hari lagi, yah...itu pertanda ratu dari segala kejahatan akan menyempurnakan wujudnya menjadi manusia seutuhnya!!"
"Apa kita hanya berdiam diri berpangku tangan melihat mereka berempat di sana berjibaku melawan ratu Hikaru dan antek-anteknya?" tanya Hiro pada Kakegawa ayahnya.
"Jika kita diperlukan kita akan membantu mereka, Hiro!!" kata ayahnya.
"Ngomong-ngomong...apakah istrimu sudah mengandung, Hiro?" tanya Kakegawa.
Uhuk...uhuk
Hiro yang tengah meminum tehnya langsung tersedak mendengar ayahnya bertanya seperti itu kepadanya.
"Atau kamu malah belum menyentuhnya sama sekali?" mata Kakegawa menatap meneliti putranya itu.
"Ada apa ini?? sepertinya pembicaraan ayah dan Hiro seru sekali?" tanya ibu Matsuyama datang dengan membawa camilan sore.
"Ayah pengen nimang cucu bu, memang salah ya??" kata Kakegawa.
Istrinya hanya tertawa mendengar ucapan suaminya karena dia tau bahwa Hiro tidak mencintai Daniah istrinya.
"Kamu tidak usah mengkhawatirkan mereka, Hiro...mereka semua berilmu tinggi dan di sana juga ada Matsuyama adikmu."
"Walaupun Matsuyama itu anaknya slengean dan rada penakut tetapi ilmunya juga tidak rendah.
"Ya sudah yah, Hiro mau jalan-jalan sebentar untuk menenangkan diri!!" katanya.
Setelah kepergian Hiro anak tirinya itu, Ivone berbisik pada suaminya.
"Yah...apakah keputusan kita untuk menikahkan Hiro dan Daniah itu sudah tepat? karena ibu melihat hingga detik ini tak ada tanda-tanda Hiro menyukai Daniah...mereka seperti musafir di gurun sahara, bertemu sesaat lalu berpisah lagi." ucap Ivone
"Ayah tau jika Hiro itu hanya mencintai Almira, tetapi mencintai gadis itu adalah keputusan yang salah!!" ucap Kakegawa.
"Maksud ayah salah gimana?" tanya istrinya.
"Bu, Almira itu putri dari ratu naga biru Nilakandi atau biasa yang di sebut Seiryu, dengan kata lain dia bukan manusia seutuhnya."
"Dari mana ayah tau tentang asal usul Almira??" tanya Ivone pada suaminya.
"Belum saatnya ibu tau tentang hal itu!!" kata Kakegawa pada istrinya.
Ivone hanya menghela napas panjang sebelum akhirnya mengangguk.
Sementara Hiro yang sedang galau berat terus melangkah tak tentu arah di sekitar lembah perguruannya.
"Almira...aku kangen sama kamu!! Ingin rasanya saat ini aku terbang menuju ke tempat kamu di sana."
Hiro memejamkan matanya sambil menghembuskan napas berat.
__ADS_1
"Aku tau maksud ayah melarangku untuk mencintaimu, ayah tak ingin aku benar-benar patah hati suatu hari kelak...tetapi tetap saja hati ini tak bisa menerima kenyataan seperti itu."
Sementara itu di rumah pantai...
"Kamu sudah siapkan malam ini untuk mengikuti panglima Kebomicak itu Mira?" tanya Xavier
"Kok Kebomicak sih!!! Kebebitak abang..." ucap Almira.
"Habis susah banget sih nyebutnya di lidah kita." Jawab Xavier.
"Mira harus siap bang, sebelum purnama merah datang, karena jika purnama merah itu datang artinya ratu Hikaru sudah menyempurnakan wujud keratuan nya.
"Kita akan kekurangan orang untuk membantu kita, tenaga dan ilmu bela diri kakek Dahlan lumayan tinggi.
"Lagi pula Mira sangat khawatir dengan keselamatan kakek Dahlan bang," ucap Almira."
"Sebaiknya kita harus fokus pada usaha penyelamatan ini."
"Kamu bersiap mengikuti kakek palsu itu, Mira..sementara kami akan mengawasi dari kejauhan." ucap Xavier.
Tepat tengah malam semua orang sudah berada di posisinya masing-masing untuk menangkap kak Dahlan palsu.
Seperti biasa tepat jam 12 malam kakek Dahlan keluar dari kamarnya sambil mengendap-endap persis seperti maling.
Dia membuka pintu kamar. Dilihatnya rumah telah sepi. Dengan cepat dia menuju pintu luar dan membukanya perlahan lalu menutupnya kembali.
Begitu agak jauh dari rumah secara perlahan kakek Dahlan palsu itu memperlihatkan wujud aslinya.
Sosok seorang pria tinggi besar tetapi sedikit berbulu diwajah dan tangannya dengan ekor panjangnya persis seperti kera tetapi dia berjalan layaknya manusia biasa.
"Pantas ratu Hikaru begitu tergila-gila pada pria monyet itu, dia begitu tampan mungkin jika dia tidak berbulu seperti kera maka kitapun akan keliru menilai dia itu manusia atau bukan!!" bisik kakek Kojiro pada yang lainnya.
"Sssttt...diamlah kek, jangan sampai dia tau kita mengikutinya!! lihatlah, putriku juga sudah bergerak mengikuti Kebebitak." Kata Giandra sambil memberi kode pada yang lain untuk bergerak juga.
Hosh...hosh
"Kondisikan napasmu kek, jangan sampai napas bengekmu akan terdengar oleh Kebebitak!!" ucap Matsuyama yang berlari di belakang kakek Kojiro.
"Kurang ajar kau anak muda, mentang-mentang aku sudah tua!!" gerutu kakek Kojiro.
Xavier yang berlari di depan menoleh ke belakang.
"Kan memang nyata sudah tua, kek!!" kata Xavier sambil menahan tawa takut terdengar oleh Kebebitak.
Ssstttt....
Diamlah kalian dan lanjutkan larinya jangan sampai kehilangan jejak adikmu, Gio!!" kata Giandra.
"Tau nih...berisik bener kalian bertiga di belakang!!" gerutu Serafin.
Sementara Mira benar-benar harus mengerahkan ilmu larinya berusaha tak ketinggalan dari Kebebitak.
Dia juga harus mengatur jarak agar tidak terlalu dekat dengan pemimpin siluman kera itu.
Di depannya ada sebuah goa yang ditutupi semak belukar yang rimbun. Almira mulai memasukan cincin itu kedalam mulutnya, seketika tubuhnya menghilang dan tak terlihat sama sekali.
Kendi berisi roh kakeknya sudah dipersiapkannya di balik bajunya.
Serafin berhenti tiba-tiba membuat suaminya yang berlari di belakang menabrak punggung istrinya.
"Ada apa Sera? mengapa berhenti mendadak begini?" katamya.
"Putri kita menghilang yah...berarti tujuan kita sudah hampir sampai."
"Dan lihatlah di depan sana sepertinya ada sebuah goa di balik semak belukar yang rimbun itu.
__ADS_1
Mereka berlima berhenti di balik sebatang pohon besar.
"Kita tidak bisa maju lagi kah bu, sungguh Xavier khawatir dengan keselamatan Almira!!" kata Xavier gusar.
"Jangan...jika kita maju lagi, aku takut keberadaan kita akan di ketahui oleh para siluman kera itu!!" bisik Serafin.
Sementara di dalam goa...
"Aku seperti merasa ada yang mengikutiku, tapi siapa? aku tak menemukan siapapun di belakangku..." kata Kebebitak.
"Ah sudahlah...paling cuma perasaanku saja." Katanya lagi.
Sampai di sebuah ruang rahasia, Kebebitak lalu membaringkan dirinya yang masih ada di dalam tubuh kakek Dahlan di atas sebuah batu datar.
Perlahan asap tipis keluar dari dalam tubuh si kakek dan membentuk nyata menjadi seorang lelaki separuh baya.
Wajahnya itu membuat Almira yang masih dalam mode menghilang mau tak mau berdecak kagum.
Tak ada lagi bulu-bulu kasar macam monyet, tak ada lagi ekor yang panjang yang ada hanyalah sesosok laki-laki tampan dengan bola mata berwarna coklat, hidung yang mancung, rahang yang tegas dengan rambutnya yang berombak.
"Cckkk, tampan sekali pemimpin siluman kera ini...tak heran jika ratu Hikaru begitu tergila-gila padanya." bisik Almira.
Lalu si tampan itu menekan tombol di samping pintu goa yang lalu bergeser membuka secara tiba-tiba.
Lalu pintu itu kemudian menutup lagi dengan cepat.
Tapi setidaknya Almira sudah melihat di mana tombol pembuka dan penutupnya.
Setelah meyakini bahwa tak ada orang lagi yang bakal masuk ke tempat itu, Almira mengeluarkan cincin dari mulutnya dan seketika itu juga tubuhnya jadi terlihat kembali.
Dia melangkah mendekati tubuh kakek Dahlan yang terbaring di atas batu datar itu.
Lalu Almira mengeluarkan kendi kecil dari balik pinggangnya.
"Almira cepatlah buka penutup kendi ini, kakek sudah ingin keluar dari tempat sialan ini!!" kata roh kakek Dahlan berteriak-teriak dari dalam kendi.
"Sabar napa kek...ngga jadi manusia ngga jadi arwah bawaannya tetap sama, emosian aja!!" jawab Almira.
Almira melepaskan penutup kendi dengan susah payah karena penutup kendi itu susah sekali untuk dibukanya.
Saat penutup kendi itu terbuka, asap tipis keluar dari dalam kendi dan seperti tertarik masuk ke dalam.tubuh yang terbaring di atas batu datar itu.
Tak lama mata yang terpejam itu membuka perlahan, mengerjap pelan untuk mengenali keadaan sekitarnya, lalu kakek Dahlan kemudian bangun dan duduk.
Orang pertama yang dia lihat adalah cucu yang selama ini sangat dia rindukan.
"Almira..."
Kakek Dahlan tampak tercekat dan terharu melihat cucunya itu.
"Kek, acara tangis-tangisannya nanti aja dulu ya...sekarang kita lagi ada di sarang macan lebih baik kita keluar aja dulu dari tempat ini."
Almira segera menekan tombol di samping pintu yang tadi dilihatnya, tak lama pintu itupun bergeser perlahan.
Suasana sangat hening dan mencekam bahkan suara anginpun nyaris tak terdengar.
*
*
***Bersambung...
Akankah mereka selamat keluar dari tempat itu??
Ikiti terus kisah petualangan Almira ya guys😊😊🙏🙏
__ADS_1