
Akhirnya Almira mengangguk dan menghentikan tangisannya.
Dia membuka cincin pemberian Hiro itu pada suaminya.
"Kamu tunggu sebentar ya...abang akan pergi dulu, tetapi malam bayar rasa lelah abang dengan ini ya!!" Xavier menggesekan senjata pusakanya kelengan Almira membuat si empunya lengan jadi merah jengah wajahnya.
"Perasaan lelah ngga lelah setiap malam minta jatah terus!!" gerutu Almira.
"Iyalah sayang...kamu merupakan candu bagi abang!! ya, iyalah abang minta jatah setiap malam mau nya minta jatah setiap jam, kamu nya lagi yang ngga tahan!!" Xavier mengedipkan matanya.
"Ya sudah, kamu tunggu dulu ya..." Xavier mendekati istrinya lalu berjongkok di depan Almira dan menempelkan telinganya di perut Almira yang masih rata.
"Jangan nakal di dalam sana ya girl...boy...jangan cerewet nanti ayah yang jadi sasaran ibumu." katanya lalu mengusap perut itu.
Anehnya rasa mual itu mendadak hilang.
"Kok abang tau anak kita kembar?" tanyaku menyela pembicaraannya.
"Ya tau lah sayang, waktu kamu hamil aja abang tau!! Ingat...kamu milik abang dari luar sampai ke dalamnya.
"Iya...ya sudah cepat pergi sana biar cepat pulang!!" kata Almira.
"Kamu mau pergi kemana, Gio??" tegur Giandra saat berpapasan dengan putranya itu di ruang tamu.
"Mau beli keinginannya Almira, yah!!" kata Xavier.
"Terus bagaimana kamu bisa melewati semua mahluk yang ada di luar sana tanpa terlihat oleh mereka?" tanya Giandra lagi.
"Gio pinjam cincin Almira supaya bisa menghilang terus lari aja dari sini ngga usah pakai mobil." Jawab Xavier.
"Temani anakmu itu, yah...jangan biarkan dia keluar sendiri!!" Serafin muncul dari arah dapur menghampiri mereka berdua.
"Memang bisa bu?? apa ayah bisa tidak terlihat juga??" tanya Xavier.
"Kamu genggam tangan ayahmu saat melewati mereka!! cobalah..." kata Serafin.
Xavier memegang tangan Giandra lalu memasukan cincin itu ke dalam mulutnya. Mereka berdua langsung menghilang bersamaan.
"Kalian pergilah, pergunakan ilmu lari cepat kalian!!" Serafin ikut mengantar sampai kedepan pintu.
Di luar puluhan mahluk melayang berbagai rupa. Serafin menyaksikan bahwa tak satu pun dari mereka melihat kehadiran Giovanno dan Giandra.
"Persis sudah seperti di dunia bawah tanah!! gumam Serafin melihat mahluk dari yang melayang, merangkak sampai mengesot jauh di luar pagar halaman mereka.
"Benar-benar uji nyali ya!!" kata kakek Kojiro tiba-tiba sudah ada di sampingnya.
"Iya kek, untung pagar gaib yang kita buat sampai keluar halaman, jika tidak habis ternak kita dan kebun kita di belakang di acak-acak oleh mereka."
"Entah sampai kapan kita harus melihat pemandangan yang sangat tak layak untuk dilihat ini berlangsung." kata Setafin pada kakek Kojiro.
"Sampai si empunya peliharaan ini bisa kita binasakan!!" jawab kakek Kojiro.
"Dulu sebelum ada mahluk-mahluk sialan ini berkeliaran, kita bersama sering menghabiskan waktu di pantai bersama!!" kata kakek Kojiro.
***
"Xavana...mengapa sejak tadi daddy perhatikan kamu tuh senyum-senyum sendiri, katanya habis putus cinta tapi kok keliatan bahagia banget??" tanya tuan Anderson saat dia menuju keteras di depan mansion dia melihat Xavana.
"Bukan daddy, tetapi Xavana hanya merasa lucu setiap ingat sama kakek Bilis...orangnya lucu banget dan juga sangat baik!!" kata Xavana lagi.
Lalu dia menceritakan pertemuannya dengan kakek Bilis tadi siang.
"Syukurlah kalau begitu, jika kamu sedih terus, apa yang akan daddy katakan pada almarhumah mommymu di atas sana!!" jawab tuan Anderson sedih.
"Daddy, mommy itu orangnya bagaimana? karena saat mommy pergi, Xavana itu masih kecil banget...satu yang Xavana ingat saat masih taman kanak-kanak Xavana sering diantar sekolah oleh mommy, lalu tiba-tiba mommy jatuh sakit dan kenangan yang tak bisa Xavana lupakan adalah saat tubuh mama ditutup seluruhnya dengan kain putih dan Xavana melihat banyak orang lalu Xavana lihat daddy menangis."
"Xavana juga menangis tak rela saat mommy yang sedang tidur kok ditutup dengan kain sampai ke kepala mommy, nantikan mommy ngga bisa bernapas!!" kata Xavana.
"Lalu semenjak itu daddy selalu berbohong pada Xavana dengan bilang mommy tidak akan pulang dalam waktu dekat karena mommy bekerja di luar negeri bersama grandfa dan grandma.
"Sampai saat Xavana sudah kelas 4 sekolah dasar akhirnya Xavana benar-benar tau jika mommy memang telah tiada." Airmata Xavana tak henti menetes mengingat semua kenangan indah tentang mommynya walaupun hanya secara samar yang masih bisa dia ingat.
Tuan Anderson memeluk Xavana dengan erat.
"Daddy juga mau minta maaf padamu dan almarhumah mommymu."
"Seandainya daddy tak terlalu sibuk mengurusi perusahaan, tentu daddy tau pada saat itu mommymu sedang sakit, tetapi dia tetap pasang wajah ceria di depanmu dan daddy seolah seperti tak terjadi apapun."
"Daddy...seingat Xavana bahwa mommy itu seorang wanita yang sangat...sangat cantik...dimana kalian bertemu? apakah daddy pernah mengunjungi keluarga mommy?" tanya Xavana.
Tuan Anderson menerawang mengingat kembali saat pertama dengan Xixie ibu kandung Xavana.
__ADS_1
**** Flashback on****
Anderson muda membawa mobil dengan kecepatan tinggi menuju pantai yang sering dia datangi saat dia merasa suntuk melihat setiap hari daddy dan mommynya selalu bertengkar saja.
Hampir tak ada waktu baginya bersama daddy dan mommynya di mansion karena kedua orang tuanya yang selalu sibuk.
Daddynya Stefan Anderson dan mommynya Liliana Anderson selalu sibuk.
Yang satu sibuk mengurusi bisnisnya di dalam dan di luar negeri dan satu sibuk berkumpul dan liburan bersama teman-teman sosialitanya.
Anderson muda seakan terabaikan. Dia hanya hidup dan diasuh oleh para maid di mansion.
Setiap bertemu, daddy dan mommynya selalu bertengkar.
Kata daddy mommy itu disuruh di suruh diam di mansion mengasuh Anderson biar daddy yang mencari uang. Tetapi kata mommy lagi dia bosan tinggal di sangkar emas sepanjang hari, dia juga ingin berkumpul dengan teman-temannya semasa belum menikah dengan daddy dulu.
Hingga suatu hari pertengkaran besar itupun terjadi saat daddy memergoki mommy yang sedang arisan berondong dan membawa seorang berondong pulang ke mansion.
Daddy bertengkar hebat dengan mommy, dan mommy yang juga berasal dari keluarga kaya raya pergi dari mansion meninggalkan Anderson.
Perasaan Anderson muda hancur. Dia menuju garasi mengambil kunci dan mengeluarkan si merah mobil sport kesayangannya dan melaju dengan kecepatan tinggi menuju pantai tempat di mana dia biasa menenangkan diri.
"Hei...siapa wanita berbaju pink yang berdiri membelakangiku itu?"
"Tak biasa-biasanya pantai ini dikunjungi orang, biasanya hanya aku yang datang ke pantai ini dari pagi hingga sore, tetapi sekarang ada wanita itu, apakah dia miss kun?? tapi apa iya ada miss kun sepagi begini??" gumam Anderson.
Entah mengapa walau baru melihat dari belakang saja, Anderson muda sudah tertarik pada wanita yang sedang bermain air itu.
"Hei..." sapa Anderson dari belakang.
Wanita itu menoleh dan Anderson begitu terpesona pada gadis berkulit hitam manis dan rambut berombak sepinggang memakai baju berwarna pink berbahan sutra itu.
Tubuh mungilnya dipadu dengan bentuk wajahnya yang juga mungil, sungguh kontras dengan kulit Anderson yang putih seperti susu dengan perawakannya yang kekar dan tinggi besar.
Si manis itu hanya sampai sebatas lehernya saja saat berdiri.
Dia menoleh kiri kanan seperti mencari-cari sesuatu.
Anderson pikir si manis itu takut padanya tapi ternyata dia salah.
"Dengan apa dan dengan siapa kamu datang ke pantai ini?" suaranya begitu merdu terdengar di telinga Anderson.
"Sendirian, memang kenapa?" tanya Anderson balik bertanya sambil ikut memainkan air dengan kakinya.
"Apa maksudmu??" tanya Anderson tak mengerti.
"Tidak kah kamu merasa aneh dengan keadaan sekitar pantai ini yang sangat sunyi? hanya kamulah satu-satunya manusia yang berani menginjakan kakimu ke tempat ini!!" jelas si jelita itu.
"Berarti kamu bukan manusia??" tanya Anderson tapi dia sama sekali tak merasa takut.
"Aku manusia biasa sepertimu, tetapi aku telah dikorbankan sebagai tumbal pesugihan oleh keluargaku dan harus menikah dengan panglima perang kerajaan siluman kera." Terangnya.
"Jadi kamu sudah seorang nyonya?? dan bukan lagi seorang nona??" tanya Anderson.
"Iya, aku menikah dengan seorang panglima perang yang bernama Bilygong yang sudah mempunyai dua orang istri tapi dari bangsa mereka!!" jawab si jelita.
"Apa suamimu pergi berperang saat ini??" tanya Anderson.
"Suamiku sedang pergi bertapa agar bisa menjadi seorang manusia seutuhnya!!" jelita itu menerawang jauh.
"Tapi sepertinya kamu tak bahagia? mengapa? kan sebentar lagi suamimu bisa menjadi manusia??" kata Anderson sambil tak bosan matanya menatap si jelita itu.
"Sebenarnya aku bahagia, kanda Bilygong begitu baik dan anak tiriku dari istri pertamanya yang bernama Kebebitak juga sangat baik...dia begitu manja padaku, tetapi dua istri kanda Bilygong selalu membullyku apalagi jika suamiku tak ada begini!!" ucap gadis jelita itu sambil berusaha menahan air matanya.
"Aku ingin pulang kedunia manusia tapi batas aku keluar hanya sampai di sini terkecuali..."
Gadis manis itu memutus pembicaraannya dan terdiam.
"Kecuali apa??" tekan Anderson penasaran.
"Kecuali ada seorang manusia lain yang mau membawaku keluar dari sini!!" katanya dengan wajah sedih.
"Tapi siapa? semua manusia dari kampungku merasa jijik padaku karena mau menikah dan digauli oleh manusia kera, tapi ini semua bukan salahku, aku adalah tumbal pesugihan dan suami keraku juga tak pernah memaksaku untuk tidur dengannya, akulah yang berinisiatif untuk menyerahkan diriku karena aku adalah seorang istri dan sekarang aku sedang mengandung anaknya!!" ucapnya lirih.
"Kamu sungguh ingin pergi? bukankah kamu mulai mencintai suamimu? apalagi suamimu sedang bertapa saat ini??" tanya Anderson.
"Di sana bukan duniaku, aku manusia dan aku tidak tahan setiap kali mendengar mereka membantai bangsaku dan memasak mereka yang kalah berperang, menguliti mereka hidup-hidup...berpesta beramai-ramai." Katanya.
"Apakah suamimu pemakan manusia??" tanya Anderson agak bergidik.
"Suamiku seorang vegetarian!! dia hanya memakan buah dan sayuran, anak tiriku pun tak mau memakan daging dan vegetarian sama seperti ayahnya tetapi kedua istri dari kanda Bilygong?? mereka yang aku takutkan akan memakanku."
__ADS_1
"Siapa namamu??" tanya Anderson mengulurkan tangannya.
"Xiexie!!"
"Aku Anderson!!"
"Aku mau membawamu pergi dari sini!!" kata Anderson.
Si manis Xiexie mengangkat wajahnya menatap Anderson seolah tak percaya.
"Kamu?? kamu serius??" tanyanya pada Anderson tak percaya.
Anderson menganggukan kepalanya sambil tersenyum. Jatuh cinta seolah telah menutup mata hati dan pikirannya, bahwa yang akan dia bawa pergi itu adalah istri orang, istri siluman pula.
"Ayo..." kata Anderson menarik tangan Xiexie agar segera pergi dari situ.
"Tapi aku tidak membawa persiapan apapun!!" kata Xiexie lagi.
"Kamu mau kabur atau mau liburan??" tanya Anderson gemas.
Akhirnya mereka berdua kabur bersama. Anderson tetap menjaga Xiexie dan menikahinya setelah gadis manis itu melahirkan.
Pernikahannya dengan Xiexie tak sempat memiliki seorang anak karena Xiexie keburu meninggal terkena penyakit yang Anderson sendiri tak tau istrinya itu sakit apa karena dia sudah membawa Xiexie berobat kemanapun tapi hasilnya tetap nihil.
Anderson sangat menyayangi putra dari Bilygong yang kemudian diberinya nama Xavana.
Xavana kecil hanya sampai berumur 4 tahun saat ibunya menghembuskan nafasnya yang terakhir dan meninggalkan suami serta putranya yang tercinta.
Sebenarnya sakit Xiexie itu di karenakan dia sudah banyak makan dan minum dari kampung siluman kera itu sehingga pencernaannya dan kondisi tubuhnya tak mampu menerima kehidupan di dunia luar, walaupun itu di dunia manusia.
Jangan tanya lagi saat Biliygong mengetahui istri manusianya kabur, pertapaannya yang belum sempurna dia tinggalkan untuk mencari keberadaan istrinya. Bilygong tau Xiexie kabur karena dia takut dengan kedua istrinya, makanya dia berniat bertapa agar bisa menjadi manusia dan dapat hidup di dunia berbeda alam untuk menyelamatkan istrinya.
Karena pertapaannya yang tidak sempurna, Bilygong memang menjadi manusia, tetapi wajah tampan dan garangnya sebagai seorang panglima perang berubah menjadi wajah seorang kakek. Hanya bedanya ekornya hilang pada saat menjelang pagi dan muncul kembali pada saat menjelang petang.
Jika saat itu dia menjadi manusia yang sempurna, mungkin rupanya tidak akan seperti sekarang ini.
Saat istrinya meninggal di usia Xavana yang baru berumur 4 tahun, membuat Anderson sering mengajak putranya itu walaupun jika ada meeting sekalipun dia akan tetap mengajak Xavana.
Dia bisa meninggalkan Xavana dengan tenang saat dia menemukan Giovanno yang diangkatnya sebagai anak dan diberinya nama Xavier.
Karena telah ada Xavier yang menemani Xavana, Anderson bisa memulai fokus pada pekerjaannya kembali.
****Flashback off****
Mommymu tak mempunyai keluarga lagi Xavana, dia seorang diri oleh sebab itu daddy sangat mencintai mommymu hingga kini daddy tak ingin menggantikan mommymu dengan wanita manapun di muka bumi ini!!" mata tuan Anderson berkaca-kaca mengenang Xiexie yang sangat dicintainya.
Xavana memeluk daddynya dengan erat. Pria yang separuh hidupnya telah dia korbankan untuk membesarkannya seorang diri tanpa cinta dari wanita manapun. Andai Xavana tau bahwa dia bukanlah anak kandung tuan Anderson.
"Xavana...apakah kamu akan tetap mencintai daddy dan akan tetap menganggap daddy sebagai ayahmu seandainya kamu tau bahwa daddy bukanlah ayahmu??" batin Anderson.
Selalu kata itu yang terngiang di kepalanya. Karena hanya Xavanalah kenangan dari Xiexie yang tertinggal di dalam hidupnya.
Walaupun Xavana bukan darah dagingnya, tetapi cintanya kepada Xavana melebihi cintanya pada dirinya sendiri.
Dia yakin suatu hari nanti Xavana pasti akan bertemu dengan ayah kandungnya. Jika Xavana bertemu dengan ayah kandungnya, akankah Xavana pergi meninggalkan dan melupakannya?
Tuan Anderson amat takut jika hal itu terjadi. Dia belum siap bahkan tak akan pernah siap untuk kehilangan Xavana.
"Daddy...mengapa daddy melamun?? daddy teringat sama mommy ya!!" tanya Xavana mengagetkannya.
"Iya, Xavana...daddy sangat merindukan mommymu!!" kata tuan Anderson sambil menyeka air matanya.
Sementara di tempat lain Bilygong atau yang lebih dikenal dengan nama kakek Bilis juga gelisah.
Entah mengapa dia selalu teringat terus pada Xavana?? seolah pemuda dewasa yang tadi siang bersamanya mempunyai maghnet tersendiri.
"Mata itu?? mata berwarna Hazel persis seperti mataku dan wajahnya?? wajah itu seperti mengingatkanku pada Xiexieku!!"
"Sepintas wajahnya mirip dengan Kebebitak, hanya bedanya Kebebitak berekor dan Xavana tidak!!" gumam kakek Bilis.
"Tampaknya aku harus sering-sering datang kepantai perbatasan itu, siapa tau aku bisa bertemu dengan anak muda itu lagi !!" bisik kakek Bilis pada dirinya sendiri.
Perubahan sikap pada ayahnya tak luput dari perhatian Kebebitak. Kebebitak adalah putra dari istri pertamanya, sedangkan istri kedua tidak mempunyai anak.
"Ada apa sih sebenarnya yang terjadi dengan ayahku?? mengapa semenjak sore tadi ayah berubah jadi lebih pendiam??" gumam Kebebitak.
*
*
***Bersambung...
__ADS_1
Akankah Xavana mengetahui siapa ayahnya yang sesungguhnya? lalu bagaimana sikap Xavana nanti!!
Mohon dukungannya selalu ya guys...kehadiran kalian selalu kutunggu😁😁🙏😍😍