
"Jangan tinggalkan Mira bang...mana janji abang dulu untuk tetap merawat anak-anak walaupun kita sudah tidak lagi bersama??"
Hanya terdengar suara tangisan Almira yang memilukan seolah semua yang ada di situ tak percaya bahwa Xavier kini telah tiada, sampai kemudian Xavana dan kakek Kojiro berlari bersamaan menubruk jasad Xavier.
"Xavier adikku??" teriak Xavana.
"Kakak mohon jangan tinggalkan kakak...apa yang akan kak Xavana katakan pada daddy kita nanti jika daddy pulang dari luar negeri dan mendengar bahwa kamu telah tiada??" Xavana mengguncang lengan Xavier yang masih didekap erat oleh Almira.
Sungguh hatinya teramat perih. Xavier adalah seorang kakak juga pernah menjadi seorang suami walaupun akhirnya pernikahan mereka kandas karena kehadiran orang ketiga saat itu, tetapi Xavier mampu membuktikan bahwa cintanya hanya untuk satu wanita hingga akhir hayatnya.
Kakek Kojiro berdiri mematung di tempatnya. Baru beberapa jam lalu dia dan Xavier masih bercanda dan mereka berencana mau ikut singgah ke istana ratu Nilakandi sebelum pulang.
Dengan cepat Tristan meraih tubuh Almira yang limbung. Lalu kakek Kojiro dan Xavana mengangkat Xavier ke teras yang teduh.
"Ayah...Xavana akan membawa jenazah Xavier pulang dan dimakamkan di sana."
"Aku ikut...aku mau mengantarkan bang Xavier sampai ketempat peristirahatan terakhirnya!!" kata Almira.
Hari itu pasukan Kebebitak sudah di taklukan dan diasingkan ketempat pengasingan. Xavana membawa Xavier pulang setelah di mandikan dengan didampingi Almira, kakek Kojiro dan Tristan, merekapun membawa Xavier pulang.
Perjalanan pulang terasa hening. Air mata duka masih mengiringi kepergian Xavier.
Di tengah jalan mereka berpapasan dengan keempat istri Kebebitak. Levia, Shiera, Valeria dan Sulivan.
"Ada apa ini?? siapa yang ada di dalam keranda mayat yang ditarik kuda itu??" tanya Levia.
Xavana menatap tajam pada Valeria lalu melanjutkan menghentak tali kekang kudanya pelan. Begitu pula saat Sulivan berpandangan dengan Almira. Percikan api kemarahan terpancar dari mata mereka berdua.
"Apa kamu liat-liat??" bentak Almira.
"Aku mencari suamiku Xavier, bukan mau melihatmu!!" balas Sulivan.
"Suamimu?? hoi...ngaca kamu, laki-laki yang kamu sebut suami kamu itu adalah seorang suami yang sudah mempunyai dua orang anak, kamu merebutnya paksa dariku seandainya kamu tidak hadir dalam kehidupan rumah tangga kami, aku dan bang Xavier serta kedua anak kembar kami sampai sekarang masih bersama dan bang Xavier tidak akan mungkin meninggal seperti sekarang ini!!" bentak Almira pada Sullivan yang mendadak terdiam mendengar Xavier telah meninggal.
"Apa?? Xavier meninggal??" pucat pasi wajah Sullivan mendengarnya.
BRUK...
Sullivan roboh ketanah tak sadarkan diri dan di tolong oleh Levia dan yang lainnya.
"Ayo kita lanjutkan perjalanan!!" kata Xavana tanpa menoleh lagi pada Valeria.
Xavana berinisiatif menelpon daddy nya minta dijemput dengan helikopter agar perjalanan mereka cepat sampai tujuan.
Bukan main terpukulnya tuan Anderson mendengar putranya telah berpulang.
Akhirnya mereka dijemput oleh Helikopter menuju ke kediaman tuan Anderson.
Almira menelpon ayah dan ibunya di peternakan juga menelpon tuan Kelvin di mansion utamanya.
DDRRRTTTT...
__ADS_1
π±"Ibu...ini Almira bu!!"
π±"Mira?? kapan kamu datang?? dan kamu sekarang ada di mana??"
Mendengar istrinya menyebut nama Almira membuat Giandra yang sedang bermain bersama Miranda di ruang tengah mendekati istrinya.
π±"Mira ada di mansion tuan Anderson, bu!!"
π±"Kok kamu bisa ada di sana??"
π±"Mira..."
Hiks...hiks...hiks...
Terdengar tangisan tertahan Almira dari sana.
π±"Ada apa Mira?? mengapa kamu menangis??"
Perasaan Serafin semakin tidak karuan rasa. Dia tau Almira bukan tipe wanita yang cengeng, jika sampai dia menangis...berarti ada sesuatu yang terjadi dan teramat menyakiti hatinya.
π±"Bang Xavier, bu!!"
DEG...
Jantung Serafin berdetak cepat mendengar nama putranya itu disebutkan.
π±"Ada apa dengan Xavier, Mira??"
BRUKKK...
π±"Ibu??? ibu???"
Bukan main kagetnya Giandra melihat istrinya jatuh pingsan tiba-tiba. Cepat diraihnya ponsel itu.
π±"Halo...bu...apa ibu baik-baik saja??"
Teriakan panik Almira dari seberang sana.
π±"Almira, ini ayah...apa yang sudah terjadi??"
π±"Ibu kenapa yah??"
π±"Ibumu pingsan...katakan sebenarnya apa yang sudah terjadi??"
π±"Bang Xavier sudah meninggal, yah...sebaiknya ayah dan ibu bersiap helikopter tuan Anderson akan menjemput kalian di sana!!"
Saat sambungan telepon terputus Giandra terkulai lemas. Sekuat apapun lelaki itu bertahan, air mata tetap saja lolos dari matanya mendengar berita kematian putranya itu.
Tak lama Serafin sadar kemudian menangis lagi.
"Sebaiknya kita bersiap-siap, bu...sebentar lagi helikopter tuan Anderson akan menjemput kita bertiga di sini."
__ADS_1
"Ayah akan meminta bantuan Yla dan Yuli untuk menjaga peternakan sementara kita berangkat ke kediaman tuan Andeson!!" kata Giandra.
Sore itu helikopter yang menjemput Serafin, Giandra dan Miranda sudah datang.
"Yula...Yuli...paman minta tolong titip peternakan sementara waktu ya...!!" kata Giandra pada dua siluman kembar teman Almira tersebut.
"Jangan khawatir paman, bibi...kami akan menjaga peternakan ini baik-baik selama paman dan bibi tidak ada, bawa sahabat kami Almira kembali ya paman!!" seru Yula dan Yuli sambil melambaikan tangan mereka.
"Yah, ibu masih tidak percaya bahwa Xavier putra kita telah tiada!!" isak Serafin.
"Ayah juga tidak percaya bu, tapi tidak mungkin Almira bercanda dengan kematian seseorang apalagi itu mantan suaminya sendiri!!" ucap Giandra.
Sementara itu di mansion tuan Kelvin....
"Mira ngga main-main kan yah??" tanya Aliandhara masih menganggap ini hanya lelucon.
"Tidak mungkin Almira bermain-main dengan maut, Ali!!" desis tuan Kelvin sambil susah payah menelan salivanya.
Tuan Kelvin beserta Aliandhara dan Rafa serta Alia dan kedua anak kembar Almira dan almarhum Xavier, Revita dan Xander berangkat ke kediaman Anderson sore itu. Tak ada lagi permusuhan di antara mereka semua sudah berbaikan.
Tak berapa lama kedatangan keluarga Kelvin dengan mobil mereka bersamaan dengan mendaratnya helikopter yang membawa Serafin, Giandra dan Miranda ke mansion tuan Anderson.
Jenazah Xavier di baringkan di ruang keluarga Anderson yang besar itu.
Almira masih duduk bersimpuh tak mau jauh dari sisi Xavier.
"Mommy...ayah....!!" teriak Revita, Xander dan Rafa bersamaan. Mereka berempat saling berpelukan bertangisan.
"Ayah kenapa mommy??" tanya Revita di sela-sela tangisannya.
Almira tak mampu menjawab pertanyaan putrinya, dia hanya bisa menangis.
Tak lama juga keluarga Giandra datang sambil menggendong Miranda yang sudah berusia tujuh bulan.
Almira menciumi putrinya yang sudah lima bulan lebih dia tinggalkan.
"Bang Matsuya mana bu??" tanya Almira pada Serafin.
"Lho...apakah kalian tidak bertemu?? Matsuya sudah pergi hampir dua minggu lalu untuk menyusulmu!!" kata Serafin juga jadi mulai was-was
"Tidak ada ketemu bu...Almira kan baru saja keluar dari istana Kebebitak...jadi ngga tau!!" kata Almira.
"Aduh...kemana Matsuyama oergi mencarimu, ya?? ibu kok jadi khawatir lagi, ibu pikir kalian sudah bertemu dan bersama!!" sela Serafin mulai terlihat cemas.
*
*
***Bersambung...
Sudah sampai di manakah sebenarnya perjalanan Matsuyama mencari Almira??
__ADS_1
Ikuti terus kisah mereka selanjutnya dan jangan lupa dukungannya ya readerππ