
"Dari tempatku, aku selalu mengawasimu dan menjagamu, Alia...andainya kamu tau akupun juga sangat merindukanmu di sampingku seperti dulu."
Alia pun meneteskan air mata mendengar pengakuan pangeran tampan adik dari putri Refanya itu.
"Aku tau kita tidak mungkin bisa bersama, kita itu bagaikan langit dan bumi yang terpisah jauh...seandainya suatu hari nanti pangeran Redo menemukan jodoh yang tepat dan sudah hidup bahagia, tolong jangan lupakan persahabatan kita, ya..!!"
Alia ingin beranjak dari balkon tempat dia berdiri tetapi bukan main terkejutnya dia saat akan memutar badan balik belakang, tak jauh di belakangnya berdiri sosok yang hampir setahun ini sangat dia rindukan.
"Pa...pangeran!!" suara Alia tercekat di tenggorokan.
Pangeran Redo berdiri di belakangnya sambil tersenyum. Dia tampak jauh lebih dewasa dan lebih berwibawa dari setahun kemarin saat mereka masih bersama.
"Pangeran...lama sekali pangeran tidak mengunjungiku...aku membencimu..sangat...aku merindukanmu tapi kamu tak pernah sekalipun mengingatku."
Alia menubruk tubuh pangeran Redo dia memeluk pemuda itu sambil tak henti memukul dadanya pertanda marah dan kecewa melebur menjadi satu dibalur pula oleh rindu yang sangat dalam.
Pangeran Redo membiarkan kekasihnya itu menangis dan memukuli dadanya.
Setelah Alia puas menangis dan puas memukul barulah pangeran Redo balas memeluknya. Seolah hanya dengan pelukan dia ingin mengatakan bahwa dia pun merindukan Alia.
"Maafkan aku Alia, aku dan ibunda sudah tidak berada di goa pualam lagi karena sejak kutukan itu tak lagi mengikat kami, aku dan ibunda sudah kembali kekerajaan."
"Aku juga sangat merindukanmu tetapi sulit sekali bagiku untuk keluar dari alamku untuk masuk keduniamu."
"Aku hanya berusaha melindungimu dan mansion ini dari gangguan jahat siapapun."
"Pangeran, perasaanku beberapa hari ini tak enak...aku takut terjadi sesuatu pada Almira dan keluarganya di sana."
"Aku takut sepupuku Shiera dan saudara kembarku Levia akan menuntut pembalasan dendam dengan musnahnya ibundaku untuk selamanya."
"Alia, yunda Refanya sekarang sudah utuh sebagai manusia biasa, sebagai manusia dia harus menjalani takdir dan kehidupannya juga sebagai manusia.
"Aku dan ibunda ratu Nilakandi juga tidak akan tinggal diam jika terjadi sesuatu pada dia dan keluarganya." Kata pangeran Redo.
"Terus bagaimana dengan hubungan kita sendiri, pangeran??? akankah semua yang berawal dengan ketidak jelasan juga akan berakhir dengan ketidak pastian?" tanya Alia.
"Kamu berdoa saja, Alia...semoga dibukakan jalan untuk kita berdua." Direngkuhnya tubuh mungil Alia di dalam pelukannya. Sudah lama sekali dia menanti momen ini, entah kapan lagi dia bisa bertemu dan memeluk kekasihnya itu setelah ini...karena sulit baginya untuk menembus dunianya masuk kedunia manusia.
"Aku mencintaimu...walaupun kita tidak ditakdirkan untuk bersama!!" kata pangeran Redo mengecupi kepala kekasihnya.
****
"Dasar kalian bertiga bodoh semuanya..." Sullivan sibuk menyumpahi anak buah yang dia tugaskan untuk mengikuti Xavier suaminya pulang ke rumah karena dipatok ular!! sunggih alasan yang tidak masuk di akal menurut Sullivan.
"Kembali kesana dan cari tau kegiatan suamiku di sana....apakah dia bertemu lagi dengan mantan istri dan bayinya atau tidak!!" kata Sullivan sambil berlalu.
"Enak bener nyonya ini kalau bicara, ya?? seandainya tuh keluarga kobra nongol di depan biji matanya, apa dia masih berani berkoar-koar seperti itu?" kata Wiro pada dua bawahannya, Todi dan Wowo.
"Terus bagaimana ini bos??" tanya kedua orang anak buahnya.
"Kita coba aja lagi datang kesana, kita intip masih ada ngga tuh grup keluarga kobra!!" kata Wiro.
Akhirnya dengan hati ketar ketir mereka menuju kembali ke rumah pantai.
"Xavier...kamu tidak pulang menjenguk istrimu?? bukan maksud ayah untuk mengusirmu, tetapi sekarang kamu sudah tidak sendiri lagi nak...ada Sullivan yang sudah menjadi tanggung jawabmu...suka atau tidak suka tapi kalian sekarang sudah menikah!!" kata Kojiro pada putranya.
"Yah, tolong jangan paksa Xavier untuk pulang dulu, yah...Xavier ingin menenangkan diri di sini dulu...pikiran Xavier lagi buntu, lagi mumet tidak bisa memikirkan apapun." Jawabnya.
Jika sudah begitu kakek Kojiro tidak bisa berkata apapun lagi, sesungguhnya dia pun memahami posisi Xavier dan bagaimana kondisinya.
Kakek Dahlan datang dan menepuk bahu sepupunya itu.
"Sudah, biarkan saja dia menenangkan diri dulu...aku tau dia sangat merindukan sosok istri dan putranya jadi biarkan dia melepaskan semua kenangannya di sini!!" kata kakek Dahlan.
"Ishhh tumben kamu bersikap bijaksana hari ini??" kata kakek Kojiro.
"Maksudmu apa??"
"Kan kamu tau bahwa aku ini orangnya selalu bijaksana, baik hati dan tidak sombong!!" kata kakek Dahlan.
"Ya...ya...ya, Dahlan...terserah kamu sajalah...aku ikut saja!!" kata Kojiro.
"Xavier membaringkan diri di ranjang di mana dia dan Almira selalu menghabiskan malam bersama. Dia bangkit membuka lemari. Diambilnya baju yang suka dikenakan oleh istrinya itu dipeluknya dan dibawanya bersama kealam mimpinya.
Hanya dengan memeluk baju itulah dia bisa tidur nyenyak karena wangi tubuh Almira tertinggal di sana.
"Bagaimana bos?? keadaan aman kah??" tanya Todi.
"Sejauh ini sih aku ngga ada liat tuh kawanan keluarga kobra, mungkin mereka sedang sibuk!!" jawab Wiro.
"Sibuk apa bos?" tanya kedua anak buahnya.
"Sibuk tidur!!" kata Wiro asal.
"Bos Sullivan itu aneh ya??" kata Todi.
"Kenapa kita harus memantau semua kegiatan suaminya? sebenarnya yang menjadi istri tuan Xavier itu siapa? nyonya Sullivan atau kita?" tanya Todi
"Atau istrinya itu kamu Todi!!" seloroh Wiro dan Wowo sambil tertawa geli.
"Kok bisa aku?? aku kan juga laki-laki?" tanya Todi tak mengerti.
"Ya siapa tau tuan Xavier itu penyuka batang dan bukan penyuka lubang!!" lalu mereka berdua tertawa terbahak-bahak sampai mengeluarkan air mata.
"Maksud kalian itu apa sih??" tanya Todi tak mengerti.
__ADS_1
"Apa yang kalian tertawakan? perasaan ngga ada yang lucu??" tanya Todi polos.
Tok...tok...tok
"Mau apa kalian selempit...selempit di sini?" kakek Dahlan yang sedang di halaman melihat mobil mencurigakan tersembunyi di jalanan yang tertutup semak rimbun.
"Luna...Luni...kemari kalian!!" teriak kakek Dahlan.
"Mampus...ketauan dah kita sembunyi di sini??? siapa juga Luna Luni yang dipanggil oleh kakek tua itu??? jangan-jangan anjing herder miliknya ya??" kata Todi gemetar.
"Bos lihat..." kata Todi sambil menunjuk dua anak ular yang datang mendekat.
"Itu anak ular yang kusangka akar pohon kemarin kan?" kata Todi.
"Aduh...aku mending berhadapan sama herder dari pada sama ular...aku geli banget!!" kata Wowo dengan wajah pucat pasi.1
"Bos...bos..." kata Wowo dan Todi bersamaan karena Wiro diam tegak duduk mematung sejak tadi!!
"Wowo...lihat...siapa yang berdiri tegak di semak belukar di samping jendela bos Wiro??" kata Todi.
"Pantas bos Wiro sejak tadi diam saja...rupanya bos Wiro terpesona dengan ular yang bertengger di samping jendela mobil itu!!" kata Todi.
Bletak...
"Dasar bodoh...bukan terpesona bodoh...bos Wiro itu diam karena jika dia membuat gerakan sedikit saja maka hanya ada dua kemungkinan."
"Kemungkinan pertama dipatok dan kemungkinan kedua disemburkan bisa oleh kedua ular itu!!"
"Turun kalian...!!" bentak kakek Dahlan.
"Jika kalian tidak mau turun maka akan kusuruh empat ekor ular itu menyeret kalian keluar dari mobil itu."
Dengan terpaksa ketiganya mengikuti perintah kakek Dahlan.
"Bawa mereka kerumah pantai, Kadir...Silvia..." perintah kakek Dahlan lagi.
"Ooh namanya Kadir sama Silvia guys...keren ya..." jawab Todi.
Bletak...
Lagi-lagi kepalanya dijitak oleh Wowo karena kesal tapi juga takut.
"Coba mulutmu itu diam ngga usah banyak bacot...ntar anumu dipatok oleh kedua ular kobra itu, impoten seumur hidup kamu!!" kata Wowo.
Mereka bertiga digiring kerumah pantai oleh keluarga Kadir dan kakek Dahlan.
"Siapa mereka itu, Tosiro??" kata kakek Kojiro di pintu depan.
"Mereka ini penguntit nampaknya...kita paksa aja mereka supaya mau mengaku!!" kata kakek Kojiro.
Sssszzzzsssszzzz
"Kenapa? Kamu ngga mau menggeledah ketiganya??" tanya Kojiro.
"Apa??? mereka panuan?? kamu takut ketularan?" tanya kakek Dahlan mulai kesal.
"Apa mau kalian mengintai di depan rumah kami??" tanya Kojiro.
Tak lama karena mendengar suara keributan di luar maka Xavierpun terbangun dari tidurnya dan menghampiri meeka.
"Lho kalian kan Wiro, Wowo dan Tobi orang-orang Sullivan...pasti dia yang telah mengirim kalian kemari untuk memata-matai kegiatanku." kata Xavier geram.
"Maaf tuan, kami hanya mengikuti perkataan Nyonya Sullivan saja...ampuni kami jangan suruh Kadir dan Silvia mematok kami!!" kata Todi panik sementara dua kawannya hanya bungkam dengan wajah pusat pasi.
"Wuidih...dari mana kamu tau kalau kedua ular itu namanya Kadir dan Silvia??" tanya kakek Kojiro.
"Itu tadi kakek yang satunya menyebutkan begitu." Kata Todi dengan suara bergetar.
"Sudahlah sekarang kalian pulanglah, katakan pada nyonya kalian.bahwa aku baik-baik saja...selama liburan panjang aku akan tinggal di rumah pantai, katakanlah seperti itu!!" kata Xavier.
Akhirnya ketiga orang suruhan Sullivan itu kembali dan mengatakan seperti apa yang telah dikatakan oleh Xavier.
*****
Suatu sore di musim semi....
📱"Halo Matsuya...bisakah ayah bicara pada Aliarafa??"
Sore itu tuan Kelvin mendadak menelpon tempat kediaman Almira.
📱"Oh, tunggu sebentar ya ayah...Rafa tadi lagi bermain bersama mommynya, sebentar Matsuya panggilkan dulu.
Dengam tergesa-gesa Matsuyama mencari keberadaan Rafa di halaman.
"Ada apa mencari Rafa, daddy..." kata Aliarafa.
"Kakek ingin bicara padamu Rafa!!" kata Matsuyama nemberikan ponsel pada Rafa.
📱"Iya, halo kakek...ada apa?"
📱"Rafa...mommy Valeria tadi pagi kecelakaan mobil keadaannya kritis, daddy Aliandhara ingin Rafa pulang untuk menjenguk mommy Valeria.
📱"Tapi kek, Rafa ngga mau pulang kalau tidak diantar oleh mommy Mira..."
📱"Okelah nanti kakek coba bicarakan dengan mommy Mira dan daddy Matsuyama, ya!!"
__ADS_1
📱"Coba Rafa berikan ponselnya pada mommy atau daddymu.
Kebetulan sekali Almira masuk sambil menggendong Xander diikuti oleh Giandta dan Serafin.
Rafa memberikan ponsel itu pada Almira dan Almira memberikan Xander kepada neneknya.
📱"Iya ayah ada apa?? ada yang bisa Mira bantu??"
📱"Valeria tadi pagi kecelakaan Mira, keadaannya kritis dan Aliandhara ingin Rafa bisa menjenguk mommynya takut jika terjadi sesuatu hal.
📱"Terus maksudnya Rafa mau dijemputkah, yah!!"
📱"Iya, dan Rafa mau kamu menemaninya pulang...nanti ayah akan kirimkan helikopter untuk menjemputmu!!"
📱"Akan Almira rundingkan dulu dengan suami Almira ya ayah...gimana baiknya kebetulan juga di sini ada ayah dan ibu.
📱"Ya sudah, segera ayah tunggu ulya Mira."
Tuan Kelvin menyudahi pembicaraannya.
"Bagaimana ayah, ibu...mommy kandung Rafa kritis dan bang Ali ingin Rafa menjenguk mommynya di rumah sakit.
"Dan Rafa ingin, Mira yang mengantarnya pergi." Kata Almira.
"Kalau abang terserah kamu saja...asal hati-hati di jalan..." kata Matsuyama.
"Iya Mira, ayah dan ibu juga akan di sini dulu membantu Matsuyama di peternakan.
Rasanya Almira berat meninggalkan Matsuyama sendirian. Entah mengapa lambat laun hatinya mulai terpatri pada suaminya itu.
"Benarkah abang tidak mengapa jika Almira dan Xander mengantarkan Rafa!!" tanya Almira memandang mesra suaminya.
"Tidak apa-apa sayang, toh ada ayah dan ibu yang nantinya akan membantuku di sini.
Akhirnya Almira setuju untuk pergi keesokan harinya dengan diantar oleh keluarga kecilnya sampai dia, Xander dan Rafa naik keatas helikopter.
Hanya memakan waktu lima jam perjalanan dengan helikopter akhirnya mereka sampai di landasan yang berada tepat di belakang mansion tuan Kelvin.
Almira turun sambil menggendong Xander dan menggandeng Rafa. Mereka disambut oleh tuan Kelvin dan Alia sedangkan Aliandhara sedang berada di rumah sakit menunggu Valeria.
"Halo...selamat datang yang dulu bumil sekarang busui!!" peluk Alia.
"Apa?? busuk??" kata Almira.
"Busui...Mira, ibu menyusui..." kata Alia lagi. Lalu dia bergantian memeluk ponakannya itu.
"Ayah..." kata Mira sambil memeluk tuan Kelvin.
"Mira...ini kah cucu kakek yang tampan?? ehhhmmm, tampan sekali..." dengan gemas tuan Kelvin menciumi pipi Xander yang nampak gembul.
"Ayo kita masuk...biar ayah menelpon Aliandhara dulu untuk menjemput Rafa ke rumah sakit!!" kata tuan Kelvin.
"Mira..." kata Alia saat ayahnya telah masuk untuk menelpon Aliandhara.
"Tempo hari ada seorang lelaki bernama Xavana datang kemari, dia mengaku saudara angkat mantan suamimu Xavier." Kata Alia.
"Iya aku tau aku mengenalnya, lalu ada apa dengan dia Alia??" kata Almira.
"Dia datang kemari mencarimu, katanya ada hal penting yang ingin dia sampaikan padamu, tetapi katena tak menemuimu maka dia menitipkan surat ini."
Almira menerima gulungan surat itu dari tangan Alia.
"Nanti aku akan membacanya, Alia!! Aku mau menyusui Xander dulu!!" kata Almira.
Mereka tidak sadar ada sepasang mata yang sedang mengawasi mereka sambil memotong rumput di halaman mansion yang luas.
"Akhirnya kamu datang juga cantik...!!" gumamnya sambil menyeringai di balik topi bundarnya itu.
Dia lalu melanjutkan pekerjaannya seolah tak terjadi apa-apa.
Almira masuk diikuti Alia menuju ke kamarnya. Alia masih duduk dengan setia menemani sahabatnya itu di tepi pembaringan.
"Apakah kamu ada bertemu dengan adikku, Alia??" tanya Almira sambil duduk menyusui Xander.
"Ada...dia titip salam padamu!!" kata Alia dengan wajah berseri-seri.
"Tampaknya kamu sangat bahagia Alia?" kata Almira tertawa geli melihat kelakuan sahabatnya itu.
"Baru saja Alia akan menjelaskan, tiba-tiba Almira melihat sekelebatan bayangan di samping jendela kamarnya.
"Ada apa??" tanya Alia pada Almira.
"Ada seseorang yang seperti berusaha mencuri dengar pembicaraan kita, tapi aku tudak sempat melihat dia siapa!!" kata Almira.
"Sekarang ini kita harus berhati-hati Mira, persis seperti yang dipesankan oleh laki-laki yang membawa surat itu kepadamu..." kata Almira pada Alia yang masih berusaha mengedarkan pandangan matanya ke halaman yang sunyi itu.
*
*
***Bersambung...
Siapa sosok yang ada di rumah itu dan sosok yang sedang mengintai Alia dan Alnira, apakah orang itu berbeda? ataukah orang yang sama!!
Ikuti terus lanjutannya ya guys...jangan ketinggalan petualangan si cantik Shahnaz Almira dan dukungannya selalu...
__ADS_1