Mr.Playboy Vs Miss.Dingin

Mr.Playboy Vs Miss.Dingin
Bab 38 Menemukan Almira


__ADS_3

"Maaf tuan, bukan maksud saya untuk berhenti mendadak begini...tapi kaki saya tersandung sesuatu...jangan-jangan kaki saya terinjak ular!!" Belum apa-apa laki-laki yang di panggil Dodo itu bergidik ngeri dan takut.


"Hah, ular?" Sambut teman di belakangnya lagi sambil mundur menjauh dari Dodo.


"Hutan ini masih tergolong agak lebat, bisa saja ular besar sejenis pyton, ular sawa atau mungkin anaconda...hih...." Pria di belakang Dodo yang bernama Samsul sudah pucat pasi duluan wajahnya


"Hah...dasar laki-laki tak berguna, hanya badan kalian saja yang besar nyali kecil seperti kecoak." Anderson muda menggeram dengan kelakuan pengecut para pengawalnya.


Dia maju sambil menyenter kearah kaki Dodo. Dia terkejut melihat sosok anak kecil berbaring telungkup di hadapannya.


Tanpa berpikir lagi dia berjongkok dan membalikan tubuh sosok anak kecil tersebut.


"Bocah laki-laki ini terluka di kepalanya...ambilkan kotak p3k di tasku!!" Perintah Anderson cepat.


Dengan cepat Anderson membersihkan luka itu lalu mengobatinya.


"Bawa kemari air minum kamu Dodo!!" Perintahnya.


"Siap tuan!!" Jawab Dodo.


Anderson meneteskan sedikit demi sedikit air ke dalam mulut Giovanno.


Perlahan bocah malang itu sadar dan mulai membuka matanya.


"Aku di mana?" Tanyanya sambil memegang pelipisnya yang terluka.


"Kamu sudah sadar nak? Siapa namamu? Apa yang kamu lakukan di pinggir hutan malam-malam begini?" Tanya Anderson.


"Namaku?" Si bocah tampak mengerenyitkan dahinya."


"Namaku siapa ya? Kenapa aku bisa lupa siapa namaku sendiri?" Pikirnya.


"Aku tidak ingat tuan!! Jawab Giovanno.


"Kamu sudah makan nak?" Anderson memberi isyarat kepada para pengawalnya untuk beristirahat di pinggir sungai itu.


Giovanno hanya menggeleng sambil merasakan pedih di perutnya menahan lapar.


Dipandanginya bocah lelaki yang sedang makan roti itu dengan lahapnya.


"Siapa bocah ini? Dilihat dari pakaiannya yang bagus walaupun sudah nampak kotor menandakan dia bukan dari orang biasa."


"Wajahnya tampan sekali...apa bocah ini mengalami amnesia karena benturan di kepalanya yang terluka tadi ya?"


"Apa anak ini tersesat? Atau sengaja ditinggalkan di sini?" Bermacam pikiran bermain di kepalanya saat ini.

__ADS_1


"Kalau kamu tidak ingat siapa namamu, saya akan memanggilmu Xavier saja...kamu maukan ikut saya pulang? Saya mempunyai anak laki-laki yang usianya mungkin lebih tua beberapa tahun darimu."


"Mungkin jika dia punya teman bermain di rumah, dia tidak akan kesepian lagi jika saya sering tinggalkan untuk mengurus pekerjaan saya."


Bocah itu tak menjawab karena dia asyik mengunyah makanan di mulutnya.


Akhirnya Anderson memutuskan untuk membawa Giovanno yang sekarang sudah berganti nama menjadi Xavier pulang ke mansionnya untuk menjadi teman Xavana putra tunggalnya.


Sementara itu di sisi lain hutan****


"Kek...bisa ngga sih kalau jalan cepat sedikit?" Nenek pengen cepat sampai rumah tau!!"


"Lihat tuh hari mulai mendung, pasti sebentar lagi akan turun hujan lebat."


"Nek...tenang saja...mendung kan tak berarti hujan thoh..." Kakek menanggapi istrinya dengan santai seolah berjalan di pinggir sungai begini menjadi kesenangannya.


"Kakek bilang apa?" Tanya istrinya sambil melotot.


"Kakek ingatkan tadi pagi nenek menjemur ikan kering di belakang rumah? Ikan itu sudah dua hari lho nenek jemur, kalau sampai hari ini kena hujan, awas aja...nenek suruh kipas itu ikan sampai kering kembali."


"Ini gara-gara sepupumu si Kojiro itu nih...datang tak dijemput, pulang kok minta antar!! Kok kakek juga ngotot supaya nenek ikut juga, kayak kakek ngga punya kaki aja untuk ngantar sendiri."


Kakek bersiul saja sambil menanggapi omongan istrinya dengan nyanyian kecilnya.


"Nek, kamu dengar ngga?" Tiba-tiba kakek menghentikan langkah dan siulannya!!"


"Ya iya lah nenek ngga dengar, dari tadi ngomel melulu!!" Sahut kakek.


"Kakek mendengar ada suara bayi menangis...bayi siapa pagi-pagi gini nangis di pinggir sungai dekat hutan gini? Bayi jin kah?"


"Macam-macam aja si kakek, mungkin bayi penduduk sekitar sini!!" Kata nenek.


"Lagian ini lho sudah siangan, bukan pagi lagi!!"


"Sekitar sini? Bayi tarzan? Tidak kah nenek melihat di sekitar sini jauh dari pemukiman penduduk?" Kata kakek lagi.


"Makanya coba melangkah cepat sedikit...siapa tau memang ada orang yang membuang bayinya di pinggiran hutan ini."


"Orang yang membuang bayinya di hutan begini? Hanya ada dua kemungkinan saja...yang pertama dia orang gila atau yang kedua dia orang tidak waras!!" Jawab kakek.


"Gila sama tidak waras sama kali kek, setali tiga uang aja." Lalu nenek melangkah lebih cepat.


"Kek lihat lah..." Seru sang istri dengan suara nyaring.


"Lihat apa? Kakek tidak melihat apa-apa di atas pohon itu?" Teriak kakek tak kalah lantang dari suara sang istri sambil matanya menyapu di atas pepohonan di sekitarnya.

__ADS_1


"Bukan di atas pohon dodol....tapi itu lho di pinggiran sungai tersangkut di balik batu besar itu!!" Nenek bergegas menghampiri.


"Astaghfirullah...kakek, kemarilah cepat!! Jalanmu lambat amat kayak keong mau kawin!!"


Nenek mengangkat keranjang yang berisi bayi Almira yang hanyut terbawa arus sungai akibat hantaman ekor ular kobra semalam.


Masih untung keranjang itu tidak kemasukan air, hanya saja bayi mungil yang baru berusia dua bulan itu nampak memasukan jari ke dalam mulut mungilnya, mungkin dia haus dan lapar.


"Sayang...cup...cup..." Nenek mengangkat keranjang dari sela-sela batu dan membawanya naik lalu duduk di bawah pohon.


"Nek, yakin itu bayi betulan?" Kakek masih belum berani mendekat.


"Maksudmu ini bayi bohongan? Bayi jadi-jadian? Jangan mengada-ngada kek!!"


Nenek sedikit kesal pada suaminya yang sejak tadi sudah paranoid saja bawaannya.


"Lucunya bayi ini...cantik sekali, bola matanya berwarna biru, bibirnya mungil, hidungnya mancung...jadi cucunya nenek aja ya!!" Nenek mengangkat Almira dari dalam keranjangnya.


"Lucunya bayi ini, tidak seperti nenek...hidung pesek, bibir tebal, mata hijau...apalagi kalau liat lembaran kertas warna biru sama merah...tambah hijau matanya!!" Goda kakek pada sang istri.


"Kurang ajar..." Sahut si nenek.


"Kek lihat...bayi ini namanya Shahnaz Almira...dan lihat, dia memakai kalung dengan bandul kepala naga bermata biru seperti matanya.."


Sepasang kakek dan nenek itu tampaknya sedang berpikir keras.


"Nek, kakek seperti pernah melihat kalung ini tapi di mana ya? Kakek sudah lupa!!" ujar si kakek.


"Maklumlah...kakek sudah tua dan sedikit pikun...jadi wajar kalau lupa!!" Ganti sang nenek yang menggoda suaminya.


"Memang nenek ingat siapa pemilik kalung seperti ini?" Tanya kakek lagi.


"Ingat..." Sahut nenek.


"Siapa?" Tanya kakek lagi.


"Lho ini si bocah yang pakai, gimana sih? Hal sepele gitu aja kok di pertanyakan!" Sahut istrinya.


***


****Bersambung....


*


*

__ADS_1


Mohon dukungannya selalu ya guys...like, komen, vote, favorit dan rate nya...terima kasih😊😊🙏🙏🙏


__ADS_2