Mr.Playboy Vs Miss.Dingin

Mr.Playboy Vs Miss.Dingin
Bab126 Punya Banyak Musuh


__ADS_3

"Makanya aku dulu suka menggodamu dan sering membuatmu marah untuk menarik perhatianmu."


"Almira...jujur dulu aku begitu cemburu saat kamu dekat dengan kak Hiro, tuan Aliandhara, dan bang Xavier."


"Ingin aku membunuh mereka semua yang hendak mengambilmu dariku!!" kata Matsuyama lalu menarik tubuh Almira agar bersender di bahunya.


Mereka tidur di sofa yang hangat sambil berpelukan di depan perapian.


Matsuyama tampak sangat bahagia bisa berada dekat selalu dengan wanita yang sangat dia cintai.


****


"Yah...apakah Matsuyama akan pergi lama?" tanya Hiro saat mereka berempat sarapan pagi di pagi hari nan sejuk itu.


"Mungkin adikmu itu lama baru kembali, Hiro...biarkan saja dia anak laki-laki yang tak selamanya harus berlindung di bawah ketiak ayah dan ibu."


"Semoga saja suatu hari dia akan pulang membawa cucu untuk ayah dan ibu yang akan menyusul kalian berdua punya momongan." Kata ibunya.


"Maksud ayah dan ibu, Matsuyama sekarang sudah punya pacar?" tanya Hiro.


"Terus apa dia akan mengantarkan Almira pulang ke rumah pantai?" tanya Hiro penasaran.


Kakegawa dan istrinya tersenyum senang.


"Justru sekarang Matsuyama pergi bersama Almira dan Rafa untuk mencari kehidupan baru dan ayah serta ibu pun tak tau di mana mereka sekarang berada." Kata Kakegawa.


Prang....


Hiro membanting piring makannya lalu beranjak berdiri dan masuk ke kamar.


"Kenapa sih anak itu?? Sudah mau menjadi seorang ayah kelakuannya masih emosian." kata ibunya.


"Kurang ajar Matsuyama...berani-beraninya dia mau mengambil Almira dari aku!!" sentak Hiro.


Dia sampai tak menyadari ada sepasang mata yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca.


Daniah istri Hiro yang kini tengah mengandung anak Hiro. Walaupun kehamilannya dengan Hiro ada ikut campur kedua mertuanya yang menjebak Hiro agar mau meniduri Daniah.


"Awas kau Matsuyama..." tangan Hiro mengepal dengan rahang menggembung.


****


"Kenapa ayah tersenyum-senyum sendiri? ada berita bahagiakah?" tanya Alia saat mereka bertiga ada di meja makan.


"Lihatlah!!"


Tuan Kelvin memperlihatkan foto Almira, Matsuyama dan Rafa yang tengah berbahagia di sebuah peternakan sambil berpelukan mesra seperti sebuah keluarga bahagia.


Aliandhara melirik sesaat. Hatinya sedih melihat itu. Seandainya dulu dia cukup tegas untuk berani mengambil sebuah keputusan tentu saja bukan Matsuyama yang ada di sana tetapi dirinya.


"Rafa sudah nyaman bersama mommynya sampai kini dia lupa untuk pulang!!" jawab Alia tersenyum ikut bahagia.


"Lihatlah yah perut Almira yang tambah membuncit...lucunya wajah bumil satu ini!!" kata Alia berkata gemas.


Aliandhara melirik lagi. Wajahnya seperti ditampar memakai selop kayu rasanya melihat Almira dan Matsuyama serta Rafa berfoto bertiga saling berpelukan.


"Ayah tau...walau putra Kakegawa itu masih nampak seperti bocah tetapi dia mempunyai rasa cinta dan kesetiaan yang luar biasa!!" ucapan ayahnya seperti menyentil hati Aliandhara yang dulu bersikap plin-plan yang pada akhirnya membuat dia menyesal tiada akhir.


"Kirim pada Alia, yah...Alia mau membuat hati seseorang terbakar karena cemburu!!" kata Alia sambil senyum-senyum.


Dia tampak mengganti kartunya lalu mengirimkan foto-foto itu pada seseorang setelah yakin merasa sudah terkirim, dia melepas kartunya dan menyimpan kembali serta mengganti dengan kartunya semula.


Tuan Kelvin hanya menggelengkan kepalanya karena dia tau siapa sasaran keusilan Alia.


Dan benar saja Xavier yang baru saja bangun dari tidurnya setelah semalaman mabuk berat dan depresi karena telah kehilangan istri dan bayinya begitu membuka ponsel pagi ini di apartemennya sendiri langsung seperti orang kebakaran jenggot.


Semalam dia memang tidak pulang kerumah, melainkan menginap di apartemen yang telah dia beli untuk Almira dan anaknya.


Bahkan suasana di dalam apartemen itu didominan dengan warna biru warna kesukaan istrinya itu.


Ribuan panggilan di ponselnya yang kebanyakan dari Sullivan diabaikannya saat matanya tertuju pada pengirim pesan misterius yang mengirim beberapa foto itu.


Xavier mengamuk di apartemennya saat dia membuka foto-foto yang menampilkan kemesraan Matsuyama dan Almira.


"Awas kau Matsuyama...kubunuh kamu jika suatu hari kita bisa bertemu!!" giginya bergemeletukan menahan amarah yang sudah memuncak.


Jika dia tidak cepat sadar ingin rasanya dia ledakan semua apartemen di sini dengan kekuatannya.


Dielusnya perut Almira yang membuncit.


"Sayang...apa kamu dan ibumu sekarang baik-baik saja tanpa ayah? tanyakan pada ibumu apakah dia tidak merindukan ayahmu ini!!" Xavier tertawa geli dalam tangisnya.


****


"Tosiro...kamu mau pergi kemana dengan baju garis-garis begitu? seperti orang baru keluar dari penjara saja!!" sapa Kojiro pada sepupunya itu.


"Aku mau berjalan-jalan kekota aku suntuk di rumah ini ngga ada suara bayi!!" kata kakek Dahlan


"Itu bayi!!" tunjuk Kojiro pada dua anak Kadir yang tengah sibuk mengekori emaknya kemana-mana.


"Kadir....Silvia....sudah kubilang jangan bawa anak kalian keliaran di dalam rumah nanti terinjak!!!" teriak kakek Dahlan.


"Luna...Luni....pergi main keluar sana!!!" kata kakek Kojiro.


Keempat ular anak beranak itu lalu meliuk-liuk di lantai menuju ke halaman.


"Haduh...Kadir sendiri aja sudah membuat tensiku naik, ditambah lagi dengan kehadiran Silvia dan Luna Luni, tambah bikin mumet kepalaku!!" keluh kakek Dahlan.


****


"Siapa yang sudah memusnahkan jantung ibundaku??" tanya Levia sambil mengeratkan pegangan tangannya pada cangkir yang dia pegang.


"Nama pemuda itu Matsuyama..." kata Sheira.

__ADS_1


"Dia lagi..." Desis Levia penuh dendam.


"Kamu mengenalnya?" tanya Sheira.


"Dia adik dari Hiro dan Sima...tak ada yang tau ketinggian ilmunya sebab Sima pun berhasil ditaklukannya." Kata Levia.


"Apakah pemuda yang bertampang imut yang selalu senyum-senyum menjengkelkan itukah??" tanya Shiera lagi.


Levia hanya mengangguk mengiyakan.


"Kau tunggulah pembalasanku Matsuyama!!" kata Levia penuh dendam.


"Bagaimana jika kita meminta bantuan kanda Kebebitak, Levia??" Sheira memberi saran.


"Kita berdua sudah menjadi pemuas ranjangnya setiap hari, masakan dia tidak mau menolong kita?" kata Sheira.


Akhirnya mereka berdua berinisiatif menemui Kebebitak di kamarnya.


"Kanda..." kata Levia.


Kebebitak membuka matanya melihat siapa yang datang ke kamarnya.


Matanya berkilat melihat dua wanita cantik itu.


"Iya ada apa para permaisuriku??" katanya tersenyum mesum.


"Kami mau meminta tolong pada kanda Kebebitak!!" ucap Sheira sambil duduk dipangkuan Kebebitak.


"Pasti kalian ingin meminta bantuanku untuk membalaskan dendam pada seorang pemuda yang bernama Matsuyama yang telah menghancurkan jantung ibunda Levia kan?" tanya Kebenitak lagi.


"Tepat sekali kanda..." kata Levia sambil mengelus dada dan perut Kebebitak yang bidang.


"Kanda akan bantu dinda berdua tetapi ada syaratnya!!" kata Kebebitak mengerling nakal pada dada dan paha mulus milik Levia dan Sheira.


"Kami mengerti kok, kanda!! Seharian ini sampai besok pagi kami milik kanda sambil mengecup bibir Kebebitak nakal.


****


"Mommy kenapa??" tanya Rafa yang sedang bermain dihalaman tiba-tiba mendengar suara benda pecah dari arah dapur.


Bocah kecil itu berlari masuk ke dalam mendengar suara itu. Dilihatnya Mira sedang terduduk dengan lelehan darah di antara betisnya.


"Rafa tolong mommy telepon uncle Matsuya agar cepat segera pulang!! sepertinya dedek bayinya mommy sudah tak sabar ingin keluar untuk melihat dunia!!" Rintih Almira.


"Sabar ya dedek...abang teleponkan uncle dulu ya!!" kata Rafa sambil mengelus lembut perut Almira.


πŸ“±"Halo uncle Matsuya...mommy Mira sepertinya mau melahirkan...kaki mommy ada darahnya...


πŸ“±"Sayang coba berikan ponselnya pada mommy sebentar!!"


"Mommy...uncle mau bicara sama mommy!!" kata Rafa sambil menyerahkan ponsel di tangannya pada Almira.


Almira mengambil ponsel dengan tangan bergetar menahan sakit.


πŸ“±"Jangan lama ya Matsuya...aku sudah ngga tahan lagi...sakit banget...


πŸ“±"iya Sayang sabar ya....


Lalu panggilan terputus. Rafa berusaha menolong Almira dengan semampunya bocah itu.


"Aduh sakit sekali....Almira duduk di sofa di depan perapian sambil menunggu Matsuyama pulang.


Tak sampai lima belas menit Matsuyama pulang dengan seorang wanita berseragam putih bersama seorang asistennya.


Mereka segera menangani Almira yang tampak kesakitan.


"Tolong istri saya dokter, dia sudah sangat kesakitan..." kata Matsuyama gelisah.


Sambil menunggu di luar pintu dia segera menghubungi kakek Dahlan.


πŸ“±"Kek...Almira akan melahirkan doakan persalinannya lancar ya...


πŸ“±"Apa?? Almira mau melahirkan??


Serentak semua orang yang ada di situ tersentak. Apalagi saat itu ada Xavier yang datang mengunjungi ayah, ibu dan ayah angkatnya.


πŸ“±"Coba nanti kamu video call setelah Almira selesai bersalinnya, Matsuya!!"


Kakek Dahlan tampak sangat tegang begitu pula dengan yang lainnya.


Dan Xavier jangan ditanya lagi berkali-kali air matanya lolos tak tertahankan.


Oekkk...oeekkk


πŸ“±"Dengar kek...Almira sudah melahirkan!!


Almira masih terbaring lemah sambil memeluk putranya saat Matsuyama memberikan ponsel padanya.


πŸ“±"Kakek...ayah...ibu....anak Mira laki-laki!!"


Almira melambaikan tangannya dengan lemah. Terbayang wajah lelah dan kesakitan masih kentara di wajah cantiknya.


Tanpa dia tau satu sosok ikut melihat dia dan bayinya sambil terisak.


Kek...tolong Xavier berikan ponselnya...Xavier ingin melihat istri dan putra Xavier!!" mohonnya.


Karena tak tega maka kakek Dahlan memberikan ponsel itu kepada Xavier.


πŸ“±"Selamat ya sayang...bolehkah abang melihat putra kita??"


Tangisan Xavier sudah pecah saat melihat sosok yang sudah lima bulan tidak pernah lagi dia lihat dan dia dengar kabarnya.


Awalnya Almira terkejut. Tapi dia juga tak bisa egois...yang dia kandung adalah putra Xavier, Xavier adalah ayah biologisnya.

__ADS_1


Dengan besar hati Almira berusaha menatap wajah yang sebenarnya sudah tidak ingin lagi dia lihat itu.


Xavier dengan tangan bergetar membelai layar ponsel. Membelai wajah putranya yang diberi nama Xander oleh Almira.


Lalu dia beralih menatap Almira.


πŸ“±"Bagaimana kabarmu selama ini, Mira??? abang kangen sama kamu dan Xander!!"


πŸ“±"Abang selalu mencarimu kemana-mana...pulang ya sayang...kita berkumpul lagi seperti dulu!!"


πŸ“±"Bang, jalan kita sudah berbeda...tempuhlah hidup kita masing-masing...hiduplah bahagia dengan istrimu dan aku juga mungkin akan menikah dengan Matsuyama...


Lalu dia memberikan ponsel itu pada Matsuyama.


πŸ“±"Maaf bang, apa yang dikatakan Almira benar, kami akan segera menikah, sebaiknya abang urus saja istri abang yang sah jangan lagi pikirkan Almira dan Xander biarkan kami bahagia!!"


Tut...tut...


Tidak...tidak...halo...halo....


Xavier jatuh merosot kelantai sangking lemasnya. Dia benar-benar syok mendengar kabar Almira akan menikah dengan Matsuyama.


"Akhirnya dia benar-benar pergi dari hidupku....hik...hik..."


Xavier menutup wajah dengan kedua tangannya.


Melihat keadaan Xavier yang seperti itu ketiga orang tua angkatnya juga merasa sangat sedih, tapi apa daya...semua terjadi karena ulah Xavier sendiri yang memulainya.


"Tenangkan dulu dirimu, Gio...Sera tolong ambilkan putramu minum biar dia bisa sedikit lebih tenang!!" kata Giandra.


Serafin mengambilkan segelas air putih untuk Xavier.


Ditepuknya pundak yang rapuh itu. Keadaan Xavier sekarang jauh lebih kurus. Dia benar-benar seperti orang yang depresi.


"Bu, malam ini Xavier mau menginap di sini ya?? Xavier mau tidur di kamar pengantin Xavier dan Almira dulu!!" kata Xavier.


"Sebaiknya memang begitu, Gio...kamu jangan berkendara dalam keadaan frustasi seperti sekarang ini akan sangat berbahaya bagi keselamatanmu sendiri.


"Sekarang kamu mandi dan beristirahatlah...sebentar lagi makan malam akan tiba!! kita akan makan bersama!!" kata Serafin ibunya.


Xavier hanya mengangguk dan menuruti semua perkataan ibunya.


Selama ini dia memang kurang tidur dan makannya sudah tidak terurus lagi.


*****


"Ayah, lihatlah siapa bayi montok ini?? duh lucunya...ganteng banget!!" kata Alia.


"Anak siapa itu Alia?" tanya tuan Kelvin masih sibuk dengan koran sorenya dan Aliandhara sibuk dengan gawai cerdasnya.


"Ya putranya Almiralah...cucunya ayah!!" kata Alia sumringah.


"Apa???"


Tuan Kelvin langsung melempar korannya lalu menyambar ponsel di tangan Alia.


Begitu pula dengan Aliandhara yang langsung menghentikan kegiatannya mengutak atik gawainya.


"Gantengnya!!" kata tuan Kelvin dengan mata berkaca-kaca terharu dan bahagia karena akhirnya dia mendapat cucu dari putri kandungnya sendiri bersama Nilakandi sedangkan Rafa hanya cucu angkatnya karena Aliandhara maupun Alia bukanlah anak kandungnya.


"Kapan Almira melahirkan, Alia?? Tanya Aliandhara pada adiknya.


"Sepertinya siang tadi deh, bang...ini Almira di dalam foto sudah lebih sehatan dan lihatlah Rafa bang Ali, tampaknya dia sangat bahagia dengan keluarga barunya dibandingkan dengan kita...wajahnya berseri-seri..." kata Alia.


"Ngga apa-apa...toh Almira dan Matsuyama sangat sayang pada Rafa!!" kata tuan Kelvin.


"Jadi kalau tak ada Rafa maka bang Ali bebas pacaran lagi dong!!" goda Alia kepada abangnya itu.


"Apa sih Alia, abang sudah ngga kepikiran mau pacaran lagi, sekarang ini mending fokus sama kerjaan dan sama masa depan Aliarafa!!" kata Aliandhara.


Padahal dalam hatinya membatin, "jika saja wanita itu adalah Almira, aku mau karena sangat sulit bagiku untuk membuka hati bagi cinta yang baru."


****


"Mira, Xander jangan dibawa keluar dulu...angin bertiup sangat dingin akhir-akhir ini...aku dan Rafa mau membantu Kiki dan Koko untuk menghalau hewan ternak kita masuk ke kandang, tampaknya mereka sudah cukup makan hari ini!!" kata Matsuyama yang baru datang habis mengangon itik-itik peninggalan kakek Abraham di rawa-rawa sambil memunguti telur-telur mereka.


"Iya, Matsuya..." kata Almira.


Untung ada Matsuyama dan Rafa yang kerap sibuk mengurus keperluan mereka. Pagi Matsuya menjual telur-telur kepasar sekedar untuk membeli bumbu dapur, karena jika hanya soal makanan, mereka tidak kekurangan sama sekali.


"Uncle...besok Rafa mau memerah susu sendiri di kandang!!" kata Rafa pada Matsuyama.


"Oh ya??? memang bisa?" kata Matsuyama sambil mengacak rambut ikal bocah itu.


"Bisa dong...kan sudah sering uncle mengajarkannya pada Rafa!!" katanya.


"Uncle...jika nanti uncle menikah dengan mommy, bolehkah Rafa mengganti panggilan uncle menjadi daddy?" katanya sambil membantu menghalau domba-domba itu bersama kedua anjing peternakan yang bernama Kiki dan Koko.


"Menurut Rafa...apakah mommy Mira akan menerima uncle Matsuya sebagai daddynya Xander?" tanya Matsuyama.


"Tentu...uncle pria yang sangat baik dan bertanggung jawab pada kami!!" kata Rafa.


"Rafa doakan saja semoga mommy Mira mau menerima uncle Matsuya menjadi daddynya Xander ya!!" kata Matsuya penuh harap.


*


*


****Bersambung....


Duh Matsuyama...kamu mempunyai banyak musuh deh...jadi banyak yang membencimu...


Akankah pernikahan mereka dapat terwujud??

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote, favorit dan rate nya ya reader😊😊😊


__ADS_2