Mr.Playboy Vs Miss.Dingin

Mr.Playboy Vs Miss.Dingin
Bab 30 Alia Safira


__ADS_3

Entah mengapa hatiku terasa nyeri mendengar ucapannya. Dulu dia selalu marah-marah jika melihat aku dekat dengan Xavier. Dia selalu menentang kedekatan kami, tapi sekarang?


"Terima kasih tuan muda Aliandhara..." Tanpa menoleh padanya kuucapkan kata-kata itu, aku tak mau kekecewaan di wajahku sampai terlihat olehnya.


"Satu lagi Mira!!"


Aku berhenti tak melanjutkan langkahku tapi juga tak menoleh ke arahnya.


"Mira sebegitu bencinya kah kamu sampai tak mau berpaling kepada saya yang tengah berbicara padamu?"


"Kalau tuan muda mau bicara, bicaralah saja...toh saya juga masih mendengarkan!!" Jawabku.


"Saya minta maaf karena telah menyentakmu waktu itu!!"


"Ooo sama sekali tak masalah tuan muda, posisi sayakan hanya sebagai body quard waktu itu...dan Valeria adalah istri anda, wajar saja jika anda membelanya." Jawabku.


"Mantan istri, bukan istri...Almira!!"


Aku mengangkat bahu. "Terserahlah!!"


"Jika tak ada lagi yang mau di bicarakan kepada saya, saya pamit undur diri...tuan!!"


Tanpa menunggu jawaban persetujuan darinya, aku berlalu dari hadapannya. Tak ada gunanya juga aku berlama-lama bicara padanya seperti dulu, karena sekarang aku orang bebas...tidak bekerja kepada siapapun!!"


"Sebegitu marahnya kah kamu padaku, Mira?"


"Aku datang kemari semenjak di telepon Alia tadi siang, berharap bisa bertemu denganmu karena aku sangat merindukanmu."


Aliandhara sejenak berdiri terpaku di tempatnya, lalu tak lama dia menyusul keluar.


Dia mengintip dari balik korden tebal. Dilihatnya Alia sedang bercanda dengan Xavier, lalu juga dilihatnya Almira keluar disambut dengan senyuman hangat Xavier.


"Kok kalian bisa barengan sih berangkatnya tadi pagi?" Tanya Alia.


"Kitakan pacaran...masa saya tega membiarkan pacar saya berangkat sendiri?"


Xavier tersenyum lalu merangkul Almira. Kami tak sadar ada dua pasang mata yang satu menyorot penuh kebencian tapi sangat pandai untuk disembunyikannya lalu yang satu tatapan mata kecewa.


"Mana ada Alia...pak Xavier bohong kok, kita ngga pacaran...masa lelaki dewasa, tampan dan mapan seperti pak Xavier suka sama gadis yang masih berumur belasan? Kan ngga mungkin, kecuali suka sama kamu, aku percaya."


"Tapi ada juga tuh yang suka sama kamu, contohnya abangku yang kelakuannya melo."


"Memang Aliandhara pernah bilang suka sama pacar saya ini?" Xavier merangkul Mira dan mengacak rambut hitam tebalnya yang terasa selembut sutera.


"Bilang langsung, ngga sih...tapi dari tatapan mesranya dan sikapnya kan sudah ketauan..."


Tampaknya Alia sengaja memancing-mancing kecemburuan Xavier dengan menceritakan soal perasaan Aliandhara kepada Almira.

__ADS_1


"Sialan Alia...namaku lagi yang di jualnya kepada Xavier, dasar adik kurang ajar....bikin malu saja!!" Umpat Aliandhara.


Tapi tampaknya Xavier bukan tipe laki-laki yang gampang terpancing emosinya.


"Ngga apa-apa...Aliandhara suka sama Mira itu haknya...toh itu sebulan kemarin, sekarang kan Almira sudah jadi milik saya...iya kan baby???" Katanya lagi.


"Sebentar pak, Mira mau nanya nih...bapak panggil baby ke Mira itu yang akhiran Y atau yang akhiran I ?"


"Maksudnya gimana?: Tanya Xavier dan Alia bersamaan.


"Iya...baby pakai Y itu bayi sedangkan yang pakai I artinya babi yang bunyinya ngok...ngok...gitu."


Alia dan Xavier langsung ngakak tak terkecuali Aliandhara yang masih berdiri di balik korden.


Jawaban Almira yang polos dan apa adanya, justru terlihat kocak dan mengundang tawa orang lain.


"Pokoknya kalau ada di dekatmu, biar jutek-jutek gini tapi selalu bikin mood naik sebab mau keadaan marah mau keadaan sedih tetap aja bercanda juga ujung-ujung omonganmu."


"Iyalah...hidup itu untuk disyukuri dan dinikmati, bukan untuk di sesali!! Kalau kita selalu bersyukur, sesulit apapun hidup akan tetap terasa adem dan tentrem tapi kalau kita mengeluh terus, nanti Allah marah sama kita."


"Duh...pinternya babynya pak Xavier...gemesss deh..." Kembali rambut Almira diacaknya.


"Ya sudah, kita pulang dulu ya Alia...sampaikan salamku buat tuan Kelvin dan Rafa...kapan-kapan aku akan main kemari lagi menjenguknya." Kataku.


"Kamu hanya titip salam aja untuk ayah dan Rafa? Untuk daddynya Rafa, ngga?" Alia kembali menggoda tapi di balik ucapannya terselip suatu kalimat yang memancing kecemburuan Xavier.


"Siapa yang marah?" Kata Xavier menatapku.


"Pak Xavierlah...pasti nanti di perjalanan saya akan di cecar dengan banyak pertanyaan."


Setelah kami berdua pamit pulang dan berlalu. Alia mengambil ponselnya untuk menelpon seseorang.


"Ikuti mereka...jangan bertindak apapun dulu...aku hanya ingin tau di mana dia tinggal...."


Klik...


Lalu sambungan telepon terputus. Dan dia segera kembali masuk ke kamarnya.


Alia tak sadar, dari balkon Aliandhara sedang memperhatikannya


"Bicara dengan siapa Alia itu? Tampaknya serius banget!!"


"Mira..."


"Iya pak."


"Kamu ngerasa ada yang aneh ngga?" Tanya Xavier.

__ADS_1


"Alia sekarang lebih berani ya?? Dan terkesan lebih genit!"


"Kok bisa ngomongnya begitu?" Aku memutar arah duduk menghadapnya.


"Tadi sewaktu kamu masih di dalam, dia kan keluar duluan tuh menemuiku, sikapnya sedikit genit saat menyapaku dan tatapan matanya itu lho yang membuat saya ngga suka!!"


"Ada apa dengan tatapan matanya?" Tanyaku.


"Tatapan matanya seperti penuh damba?" Jawab Xavier.


"Penuh dampak?"


"Bukan dampak, Mira....tapi damba!!"


"Maksudnya gimana sih pak, Mira ngga ngerti!!" Mira semakin bingung dengan perkataan Xavier.


"Makanya kamu ini jangan taunya berantem aja...ngebut-ngebutan...aja, sampai hal yang sepele aja ngga ngerti."


"Oohhh Mira ngerti sekarang...Alia itu ngeliatin pak Xavier itu dengan tatapan mesra gitukah? Ya mungkin dia suka sama bapak kali!!"


Ckck...


"Ngga peka banget sih kamu!!" Xavier merengut.


"Almira ngerti pak, tapi masa Mira mau melarang dia suka sama bapak? Suka terhadap bapakkan wajar, bapakkan lawan jenis, tapi kalau Alia sukanya sama saya, nah...itu yang harus dipertanyakan.


"Ah...bicara sama gini, kadang menjengkelkan..."


"Mira kita jangan balik ke rumah pantai dulu? Kita putar haluan lagi." Aku mengikuti arah pandangan Xavier melalui kaca spion.


"Kita dibuntuti lagi ya, pak??"


Xavier hanya mengangguk sambil sesekali tatapan matanya mengarah ke spion di atas kepalanya.


"Tapi bapak memang benar...Alia sekarang memang berbeda...saya merasakan ada aura hitam setiap kali berdekatan dengannya."


"Setiap kali saya mau mencoba membaca pikirannya, setiap kali itu juga saya seperti bertumbukan dengan sesuatu yang membuat kepala saya berdenyut."


"Makanya jangan suka kegayaan baca pikiran orang, biasanya juga baca komik..." Xavier kembali menggoda.


"Saya juga tidak bisa membaca pikiran bapak!! Jawabku.


"Ya kamu ngga akan bisa bacalah, saya kan tau kelebihan yang kamu punya, dan saya juga tau kekurangannya...saya saat berhadapan sama kamu mengosongkan pikiran saya alias tidak memikirkan apapun."


***Bersambung...


Maaf...update mr. playboynya dua hari sekali, karena harus bergantian dengan kutukan cinta... selalu minta dukungannya ya guys...like, komen, vote, favorit dan rate nya...💗💗😊😊🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2