
Dia memancing salah satunya agar menjauh dari ketiganya dengan membuat suara berisik di belakang mobil ayahnya itu.
"Coba kamu tengok, Sambas...apa sih itu?? palingan suara kucing mau kawin..." kata Wardoyong teman di sebelahnya.
Dengan cepat Sambas berjalan menuju ke belakang mobil yang dia tak tau bahwa malaikat mautnya sudah menanti di belakang sana dengan seringai dingin.
"Bunyi apa sih??" lelaki yang dipanggil Sambas nampak penasaran memperhatikan sampai kebawah mobil.
"Kok ada kaki ya dibelakangku?" gumam Sambas. Saat dia mendungking untuk melihat kebawah mobil tak sengaja dia melihat juga kearah belakang kedua kakinya.
Saat hendak bangkit dan menoleh, Sambas sudah terlambat. Sebuah pitingan di lehernya dan sebuah tangan halus tetapi sekeras baja menutup mulutnya agar tak nengeluarkan suara apapun.
Krekkkk
Bunyi tulang leher yang patah dari leher Sambas langsung mengantarkannya keakherat tanpa tau wajah malaikat maut yang telah mencabut nyawanya.
Dengan perlahan Almira menarik tubuh Sambas kesamping gudang.
Satu persatu dari ketiga orang itu dibunuhnya hanya tersisa satu orang laki-laki yang bernama Wardoyong itu yang masih hidup. Dia sama sekali tak menyadari bahwa ketiga anak buahnya telah mokat karena dia sibuk berchatingan dengan selingkuhannya.
Dia baru menyadari saat ada seseorang yang berdiri di sampingnya.
Dia reflek menoleh pada sosok gadis yang sangat cantik yang berdiri tak jauh darinya.
Almira tersenyum dingin. Surai rambutnya yang sebagian menutupi wajahnya bak seperti tante kunce di mata Wardoyong.
Tanpa sempat berteriak, Wardoyongpun mengalami nasib yang sama dengan ketiga anak buahnya.
"Itu pembalasan jika kalian berniat untuk menyakiti ayahku!!" Almira tampak menyeringai lalu kembali ke persembunyian Xavier dan ayahnya yang masih dipanggul oleh suaminya itu, sedangkan Aliandhara sudah sejak tadi leleh nyalinya melihat Almira mematahkan leher orang seperti mematahkan ranting pohon saja bunyinya.
Dengan cepat ketiganya menuju mobil dan melaju meninggalkan basement itu.
Tak berselang lama setelah kepergian mereka berempat, Gabriela dan Tristan tampak bergerak cepat menuju tempat anak buahnya berjaga.
Mereka berdua adalah pembunuh bayaran high class, bekerja tepat, cepat dan akurat tanpa meninggalkan jejak sama sekali.
"Itu Wardoyong dengan 3 orang anak buahnya kemana? disuruh berjaga di sini kok malah tak nampak batang hidungnya."
Tristan mencium sesuatu yang janggal. Wardoyong ikut mereka sudah lama, tak mungkin dia akan meninggalkan tempat dan mengabaikan perintah begitu saja, pasti telah terjadi sesuatu dengan keempat orang kepercayaannya itu.
"Tampaknya ada yang tidak beres telah terjadi di sini Gabriela, tetapi tempat ini rapih seperti tak pernah ada terjadi perkelahian." Kata Tristan sambil mata elangnya dengan jeli memandang kesekitarnya.
"Coba kamu telepon Wardoyong tanyakan sekarang mereka ada di mana?" kata Gabriela.
Tristan mengikuti saran Gabriela. Lalu dia mencoba menelpon Wardoyong.
"Kamu dengar? bunyinya tak jauh dari sini!!" kata Tristan sambil memutar mencari sumber suara bunyi dering ponsel Wardoyong, goyang dombret..."
"Keparat...." teriak Tristan kesal.
"Ada apa Tristan?" tanya Gabriela sambil menatap kearah rekan kerjanya itu.
"Mereka semua sudah mati!!" kata Tristan dengan geram.
Gabriela mendatangi tempat anak buahnya terbantai. Gabriela mengepalkan tinjunya.
Wardoyong dan ketiga orang anak buahnya bukanlah petarung kelas bulu, tetapi dengan mudahnya si penyerang nembantai keempat anak buahnya itu tanpa meninggalkan jejak sama sekali.
"Mobil tuan Kelvin tak ada di tempatnya, Tristan!! berarti tuan Kelvinlah pelakunya!!" kata Gabriela geram.
"Tidak mungkin tuan Kelvin pelakunya, orang tua itu sedang sakit dan setauku anaknya yang bernama Aliandhara itu tidak bisa berkelahi, lalu siapa yang sudah membantunya kabur??" kata Tristan.
"Nanti saja kita berpikirnya, sekarang cepat kita tinggalkan tempat ini sebelum sistem cctv di area ini aktif kembali." Kata Gabriela.
Mereka melajukan mobil dengan kecepatan tinggi menyusul mobil tuan Kelvin yang ternyata sudah dipasang penyadap oleh Tristan.
"Mengapa kita tidak serang saja mereka?" tanya Gabriela saat melihat mobil tuan Kelvin sudah tersusul.
"Jangan bertindak gegabah, Gabriela...kita tidak tau siapa yang sedang bersama tuan Kelvin dan bagaimana kekuatan mereka." Kata Tristan yang dibenarkan oleh Gabriela.
"Tubuh ayah sangat lemas, bang...bagaimana ini?" suara Almira terdengar sangat khawatir.
"Kita tidak mungkin membawanya kembali kerumah sakit lagi, terlalu besar resikonya buat ayah!!" kata Almira.
"Ibu!!"
Tiba-tiba Xavier yang menyetir teringat akan ibu mereka Serafin yang menguasai 1000 macam ilmu pengobatan.
"Ibu kita seorang tabib, semoga ibu kita bisa menolong menyembuhkan ayah!!" jawab Xavier.
"Ibu kalian??" tanya Aliandhara.
"Iya, ibu angkat kami..." jawab Almira.
"Putar arah kerumah pantai bang..." seru Almira.
Dengan manuver yang mengagumkam, Xavier memutar mobil yang mereka tumpangi berbalik arah dari mansion tuan Kelvin.
Mobil mereka berselisihan dengan mobil Tristan dan Gabriela.
Mata Tristan bertemu pandang dengan mata Almira sesaat sebelum mobil mereka saling menjauh.
Deg...
__ADS_1
Hati Tristan bergetar. Wajah gadis itu adalah wajah yang ada di wallpaper ponsel yang tadi diambilnya dari dalam kamar rumah sakit.
"Sayang aku tak melihat siapa pengemudinya, tapi tampaknya seorang laki-laki." Batin Tristan.
"Putar arah Gabriela...kita ikuti mobil mereka!!" perintah Tristan.
"Tampaknya merekalah yang membantu tuan Kelvin dan putranya!! tetapi siapa mereka?? apakah mereka adalah body quard tuan Kelvin yang tak kami ketahui??" bisik Tristan dalam hati.
Shitttt....
Gabriela mengerem mobil secara mendadak.
"Ada apa Gabriela??" tanya Tristan kaget melihat rekannya mengerem mobil secara mendadak.
"Untung aku sempat melihat gadis yang duduk di belakang itu melemparkan senjata sejenis bintang kearah ban depan kita, entah kena atau tidak!!" jawab Gabriela lalu turun mengecek ban mobilnya.
Dua senjata berbentuk bintang menancap dalam di ban depan Gabriela dan Tristan.
Gabriela menarik salah satu senjata shuriken berbentuk bintang itu dan mengamatinya.
"Aku seperti mengenal senjata ini tapi di mana ya??" pikir Gabriela.
Lain yang dipikirkan Gabriela, lain juga yang dipikirkan oleh Tristan.
Dia merenung mengingat senyuman dingin gadis cantik yang menarik perhatiannya itu.
Sambil menunggu Gabriela yang mencak-mencak di depan mobil mereka, Tristan membuka ponsel Almira yang tertinggal di kamar dan tidak diberi kata sandi olehnya.
"Cantik banget!!! tetapi aslinya jauh lebih cantik!!" bisik Tristan sambil mengusap pipi dan bibir Almira.
"Woi Tristan...turun....kok kamu enak-enakan duduk di dalam...bantu aku mengganti ban mobil ini!!" teriak Gabriela mengagetkan Tristan.
Sebelumnya...
"Bang, mobil itu sejak tadi mengikuti mobil kita!!" kata Almira sambil sesekali menoleh kebelakang.
"Lempar ini sayang!!" Xavier memberikan 4 buah senjata berbentuk bintang kepada istrinya.
"Bidik tepat di ban bagian depan!!" perintah suaminya.
Alhasil 2 senjata yang dilemparkan menancap di ban depan kiri dan kanan.
Membuat mobil yang ditumpangi oleh Tristan dan Gabriela berhenti mendadak.
"Bagus sayang, setidaknya itu bisa menghambat mereka untuk mengikuti mobil kita lebih jauh," Kata Xavier.
Mereka tiba di rumah pantai tepat jam 2 malam. Jangan ditanya lagi bagaimana seramnya suasana di luar itu.
Aliandhara jangan ditanya lagi, sudah sedari tadi dia kepengen pipis kepengen boker tapi ngga bisa, rasa takut menghambat pengeluarannya.
Kakinya sudah gemetar ketakutan melihat penampakan yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
"Abang takut??" bisik Almira perlahan disertai anggukan kepala Aliandhara.
"Ada aku dan bang Xavier...aku dan bang Xavier tak akan membiarkan mahluk-mahluk itu menyentuh abang dan ayah." Gumam Almira pelan.
Aliandhara hanya mengangguk pelan dengan wajah pucat pasi ketakutan.
"Abang takut banget, Mira!!!" Aliandhara menggenggam tangan Mira erat-erat dengan wajah tampannya penuh dengan keringat dingin.
"Woi...itu cewek ada suaminya!!" geram Xavier pada sifat lebay Aliandhara yang dia pikir mengambil kesempatan dalam kesempitan.
"Abang....ngga boleh gitu!! bang Ali memang benar-benar ketakutan, tidak semua orang berani sama hantu, contohnya Matsuyama...walaupun berilmu tinggi, sekali penakut tetap aja penakut kali!!" kata Almira.
Xavier cuma mendengus kesal mendengar pernyataan Almira.
"Kalian masuklah bersama mobil ini, aku akan memancing mahluk astral itu untuk mengikutiku menjauh dari mobil, begitu mereka menjauh, cepat teroboslah pintu masuk itu sebab jika aku tidak memancing mereka menjauh mereka bisa ikut masuk kedalam." Kata Almira.
"Tapi sayang, bagaimana caranya kamu masuk nanti?" kata Xavier terlihat sangat khawatir pada istrinya itu.
"Abang tenang saja.." kata Almira.
Lalu dia memasukan cincin pemberian Hiro kedalam mulutnya, seketika Almira menghilang dan perlahan pintu mobil depan terbuka dan dengan cepat ditutup lagi oleh Xavier.
Dari tempat yang agak jauh Almira menampakan diri dengan mengeluarkan cincin itu dari mulutnya.
"Hai...mahluk-mahluk bodoh, jelek dan buruk rupa!!" teriaknya lantang.
"Kemarilah kalian jika berani melawanku??" tantangnya pada mahluk-mahluk yang mulai menggeram marah pada celotehan Almira.
"Aduh...istriku itu punya nyawa cadangan kali ya??? ngga ada takutnya!!! mau sama manusia mau sama hantu mulutnya tetap sama...pedes kalau bicara seperti diulekin cabe sekebon." ucap Xavier.
Tapi dia tak punya waktu lama untuk berpikir...begitu perhatian mahluk itu teralihkan oleh Almira maka mobil yang ditumpangi oleh Xavier, Aliandhara dan tuan Kelvin melaju kencang menerobos pembatas gaib yang dibuat oleh kakek Kojiro dan yang lainnya.
Sementara dari teras depan pun golongan Serafin dan Giandra, Kojiro dan Dahlan serta tak ketinggalan Kadir berdiri dengan tegang.
Walaupun mobil yang berisi Xavier.
tuan Kelvin dan Aliandhara selamat sampai di dalam, tetapi Almira masih di luar sana mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan nyawa semua orang.
Almira kalah cepat, para mahluk astral yang meraung marah karena ejekan Almira tadi berhasil menarik pergelangan tangan Almira yang memakai cincin sakti pemberian dari Hiro.
Mereka yang ada di teras berteriak tegang terutama Xavier dan Aliandhara saat melihat wanita yang mereka cintai nyawanya berada dalam bahaya.
__ADS_1
Para mahluk menyeringai berjalan mendekati Almira siap untuk mencabik-cabik tubuh gadis itu.
Sebelumnya...
"Tristan, kita pulang saja kemarkas, ban mobilku rusak parah!!" kata Gabriela.
Saat hendak beranjak dari tempat dia berdiri, kalung berliontin kepala naga bermata biru yang tergantung di leher Tristan bersinar dengan terang.
Para pemegang kalung kepala naga itu akan saling bersinar kalung yang mereka pakai jika salah satu dari 4 pemakainya berada dalam bahaya.
Ya...Tristan memang salah satu pemegang kalung kepala naga itu. Dugaan Almira bahwa ibu Shiera yang hebat dan pandai berkelahi adalah salah seorang dari 4 elemen yang harus di satukan guna melawan ratu Hikaru adalah salah.
Justru Tristan yang terlahir sebagai yatim piatu dan di besarkan dan dididik keras oleh para mafia dan para gangster, dialah salah satu dari 4 elemen yang dicari oleh kelompok Almira.
Karena dia di besarkan dilingkungan yang keras dan berbahaya membuat Tristan menjadi seorang pembunuh bayaran yang tak punya perasaan, baginya nyawa manusia hanya seperti lalat saja.
Tetapi sejak dia bertemu dengan Almira, hatinya yang dingin membeku mendadak sedikit demi sedikit mencair.
Ingatannya selalu pada gadis yang ponselnya ada padanya. Senyuman dingin gadis itulah justru yang mampu mencairkan bongkahan es di hatinya.
"Tristan...kamu mau pergi kemana?" teriak Gabriela saat melihat Tristan menyambar motor besar yang terparkir di sudut halaman mansion besar itu.
Tristan tak menjawab teriakan Gabriela, dia menyalakan mesin motor dan melaju kencang membelah malam.
Entah mengapa dia merasa bahwa gadis yang menarik hatinya sekarang ini sedang berada di dalam bahaya besar yang mengancam nyawanya.
Dia mengendarai motor besar itu menuruti naluri hatinya untuk membawa kepada gadis itu.
Kedatangan Tristan benar-benar tepat saat nyawa Almira berada di ujung tanduk dan mereka yang ada di dalam tak bisa keluar untuk menyelamatkan dirinya.
Xavier berteriak frustasi saat kuku-kuku setajam pisau silet yang runcing dari para mahluk astral itu siap untuk mencabik-cabik tubuh istrinya.
Disaat yang genting itu dua buah cahaya biru pekat menyilang seperti gunting raksasa menggunting setiap tubuh mahluk yang mengeroyok Mira dan ingin mencabik-cabik tubuhnya.
Cras...cras...cras
Terdengar raungan mengerikan dari para mahluk yang tubuhnya terpotong-potong oleh cahaya biru yang berbentuk gunting raksasa yang ternyata keluar dari mata biru pemuda yang menolongnya itu.
Bau daging terpanggang dan hangus serta asap yang mengepul dari potongan-potongan tubuh mahluk-mahluk itu membuat suasana malam semakin mencekam.
Xavier berteriak seperti orang gila saat melihat semua. Dia berpikir istrinya ikut terpotong dan terpanggang oleh tebasan cahaya biru itu.
Di bawah kepulan asap tebal, Mira merasa tubuhnya ditarik oleh seseorang. Digendong dan didudukan di atas motor, lalu dengan cepat motor itu melaju meninggalkan tempat itu.
Karena tak kuasa menahan perasaannya melihat tubuh mengenaskan istrinya, akhirnya Xavier jatuh terkulai tak sadarkan diri, begitu pula dengan Serafin yang terkulai dipelukan Giandra.
Semua orang yang berada di dalam area pagar gaib itu tampak panik, hanya Kadir yang masih mampu berpikir jernih, dia merayap keluar dari pagar gaib saat ada sedikit celah terbuka.
Dia berhasil melihat kejadian yang sesungguhnya.
Tanpa harus melihat wajah orang tersebut, Kadir sudah tau siapa penolong itu.
"Tuan Tristan sudah kembali...tuan yang sudah kucari selama sekian tahun sudah menemukan kembali jati dirinya."
Gumaman Kadir si ular sakti itu tentu hanya dapat di dengar oleh dirinya sendiri.
"Aku lega ternyata nona Almira selamat, dan yang menyelamatkannya justru tuan Tristan yang menjadi musuh ayahnya."
Si Kadir merayap dengan cepat mengikuti arah motor Tristan.
Sementara Almira yang terkulai setengah sadar setengah pingsan memeluk erat pinggang orang yang telah membawa dan menyelamatkan nyawanya.
Dia benar-benar masih shock dengan kejadian yang baru saja menimpanya.
Dia baru membuka matanya saat motor yang membawanya berhenti di sebuah bukit yang temaram di sinari cahaya bulan.
Almira mengumpulkan kesadarannya dan dengan cepat melepaskan pelukannya di pinggang orang yang telah menolongnya itu.
"Kamu sudah sadar nona cantik?" sebuah suara berat yang terdengar serak tetapi seksi menyapa Almira.
"Pelan-pelan saja turun dari motornya, tubuhmu masih terasa lemas!!" kata orang yang belum terlihat wajahnya itu karena dia berdiri memunggungi sinar bulan sabit di belakangnya.
Almira sadar tubuhnya memang masih terasa lemas seperti tak bertenaga. Seluruh kekuatannya seperti terhisap habis oleh para mahluk yang mengerubutinya tadi.
"Terima kasih anda telah menolong dan menyelamatkan saya tuan!!" kata Almira akhirnya setelah dia mampu menguasai dirinya.
"Kalau saya boleh tau, siapa gerangan tuan yang telah menyelamatkan nyawa saya ini?" ucap Almira.
Perlahan pria tinggi besar yang berdiri di depannya membuka hodie yang menutup kepalanya.
Almira masih belum bisa melihat jelas siapa orang itu karena di tempat mereka berdiri sangat minim cahaya.
Dia hanya melihat secara samar-samar wajah orang itu tetapi belum benar-benar bisa dikenalinya.
*
*
***Bersambung...
Siapakah laki-laki muda yang bernama Tristan itu sebenarnya? mengapa Kadir mengenalinya?
Jangan lupa mampir, baca, like, komen, vote, favorit dan ratenya ya readers๐๐๐
__ADS_1