Mr.Playboy Vs Miss.Dingin

Mr.Playboy Vs Miss.Dingin
Bab 125 Penyesalan Yang Terlambat


__ADS_3

Sssttt


"Cup...cup...sayang...jangan menangis...aku tidak bisa dan tidak akan kuat melihatmu menangis seperti ini!!" Matsuyama memeluk erat tubuh Almira diikuti oleh Rafa.


"Ya sudah kita cari penginapan dulu ya, agar kalian bisa beristirahat!!" ucap Matsuyama lalu melajukan mobilnya memasuki daerah pinggiran kota.


*****


"Akhirnya kita tiba juga di rumah pantai ini!!" teriak keempatnya senang.


"Yaela...baru tiga bulan kita pergi halamannya sudah penuh rumput begini!!" kata kakek Kojiro.


Awwhhh


Kakek Dahlan berteriak sambil mengibaskan kakinya saat ada benda kecil hitam pendek dan tipis seperti lidi mengagetkannya."


"Anak siapa sih ini??" kata kakek Dahlan melihat ada seekor ular kecil menggigit kakinya.


"Ouwhhh dilihat dari bentuk-bentuk jelek dan tipis gini pastilah ini anaknya Kadir!!" kata kakek Dahlan sambil mengibas-ngibaskan kakinya.


"Ohhh benar sekali...itu nyak sama babenya...yang lagi melungker di atas kursi!!" kata kakek Dahlan lagi.


"Heh Kadir...ambil nih anakmu....apa...datang-datang gigit kakiku!!' seru kakek Dahlan.


Sszzs...sssszzzss


Kadir dan istrinya seolah tertawa senang melihat kekurang ajaran anak laki-lakinya itu.


"Wah...Kadir sudah punya anak istri...selamat ya Kadir!!" ucap Serafin.


Ssszzss..


"Maaf Kadir, Almira ngga bisa pulang lagi kerumah pantai ini...dia, Rafa dan Matsuyama pergi!!" kata kakek Kojiro.


"Ngomong apa sih orang-orang ini? Kadir lho cuma mendesis-desis saja disahuti!!" kata kakek Dahlan yang sama sekali tak mengerti bahasanya Kadir.


"Iya lah...terserahlah...bilang sama anakmu jangan ganggu aku Kadir, aku mau tidur!!" kata kakek Dahlan sambil melewati ular kobra hitam yang kini semakin besar itu.


Akhirnya mereka berempat masuk ke dalam rumah.


"Besok kita kerja bakti, membersihkan pekarangan rumah!!" kata kakek Kojiro.


"Berarti selama tiga bulan ini Xavier tidak pulang kemari...kemana perginya anak itu?? apakah statusnya dengan Sullivan sekarang sudah sah sebagai suami istri??" batin kakek Kojiro.


****


Di sebuah rumah mewah berlantai dua, rumah yang di hadiahkan orang tua Sullivan untuk pernikahan Sullivan dan Xavier dua bulan yang lalu.


Xavier tetap menekuni pekerjaannya sebagai Dosen. Karena hanya dengan tetap mengajar di sana sebagai dosen, kenangannya terhadap istri bar-barnya yang sampai detik ini masih sangat dicintainya akan tetap selalu hidup di dalam hatinya. Di taman, di kelas, di kantin atau di manapun tempat yang pernah mereka lewati tetap Xavier ingat.


Sering dia datang ke tempat pertama kali dia merenggut kesucian gadis bar-bar yang polos itu, terbayang selalu olehnya *******, rintihan tertahan Almira menahan rasa sakit karena hasil perbuatannya.


Hingga detik ini dia sama sekali belum menyentuh Sullivan kecuali hanya sebatas belaian, kecupan selamat pagi dan pegangan tangan tidak lebih dari itu.


Kesibukan keduanya pun membuat mereka jarang bertemu dan bersama.


Xavier masih betah duduk di kursi kerjanya, hatinya sangat risau karena tadi dia bertemu dengan Alia dan saat dia bertanya tentang kabar Almira, Alia dengan ketus menjawab.


***Flasback on***


Dengan langkah gontai dia berjalan dari parkiran ke kantor dosen.


Di jalan dia bertemu dengan Alia yang diantar oleh supirnya.


Xavier tersenyum dan melambai pada Alia tetapi gadis manis itu malah membuang muka sambil mendengus.


Xavier tak peduli, dia mengejar langkah Alia.


"Alia...tunggu!!" dia menahan Alia sehingga tidak bisa lagi menghindarinya.


"Ada apa pak??" tanya Alia datar dan menatap Xavier dingin.


"Alia please, saya mohon...di mana Almira istri saya sekarang berada?" tanyanya memohon.


"Almira istri bapak??" Alia balik bertanya dengan heran.


"Kami di sini taunya istri bapak itu ibu Sullivan bukan wanita yang bernama Almira, siapa dia??" tanya Alia balik bertanya menyudutkan Xavier.


"Kalaupun saya tau, jangan harap saya akan memberi tahukannya pada anda!! lepas..." kibas Alia mengibaskan tangannya lalu berlalu dari hadapan Xavier.


Hati Xavier hancur berkeping-keping. Semua ini seperti seolah hukuman dari yang Kuasa untuknya yang telah menyia-nyiakan gadis berhati mulia itu.


Ngga Alia, ngga tuan Kelvin, apalagi Aliandhara yang telah melihatnya sebagai musuh belum lagi orang tua angkatnya tuan Anderson dan kakak angkatnya Xavana benar-benar telah membuangnya bahkan sangat membencinya.


"Bagaimana kabar Almira dan anakku sekarang? kalau tak salah hitung usia kandungan Almira sudah menginjak delapan bulan...berarti telah empat bulan Almira menghilangkan diri dari hidupnya.


"Ahhh, kenapa aku tidak coba kerumah pantai aja ya?? sudah cukup lama aku tidak berkunjung kesana, siapa tau ayah, ibu dan kakek dan ayah Kojiro sudah kembali??"


Sampai di situ pikiran Xavier mulai jalan lagi.


****Flashback off****

__ADS_1


Dia bangkit berdiri dari duduknya, tadi berkali-kali Sullivan menelponnya tapi tak digubris olehnya.


Dia tiba di mobilnya dan segera melajukan mobilnya menuju rumah pantai.


Dari jauh jantungnya berdebar saat melihat pintu rumah pantai terbuka dengan empat orang yang begitu dia rindukan tampak gembira bekerja bakti membersihkan halaman.


Ciiitttt


Dia rem mendadak di muka halaman membuat keempat orang itu kaget.


"Xavier...." teriak kakek Kojiro menyambutnya.


Tak peduli Xavier ada di posisi yang salah atau benar, orang tua itu tetap menyayangi anak angkatnya.


Xavier memeluk satu persatu mereka di sana termasuk kakek Dahlan.


Sambil berbasa basi menanyakan kabar, mata Xavier berkelana kemana-mana mencari kehadiran seseorang yang sejak tadi tak nampak olehnya.


"Almira kemana, bu??" tanyanya pada Serafin.


Serafin tak langsung menjawab tetapi meminta persetujuan pada suaminya terlebih dahulu, setelah suaminya mengangguk baru Serafin menjawab.


"Almira tidak ikut pulang...dia lanjut berkelana!!"


Lalu Serafin menceritakan secara singkat pertarungan mereka dengan Sinoe dan Matsuyama yang telah memusnahkan jantung ratu Hikaru.


Perasaan Xavier mendadak tak enak saat mendengar nama Matsuyama yang termasuk dia cemburui selain Hiro dan Aliandhara telah disebutkan oleh ibunya.


"Terus Almira berkelana kemana bu, dengan hamil besar seperti itu, dan dengan siapa?" tanya Xavier cemas.


Sekali ini kakek Dahlan yang menjawab pertanyaan Xavier.


"Kamu tak usah khawatir, Almira tidak sendiri, ada Rafa yang menemaninya..."


Huftt...


Baru saja Xavier menarik napas lega walaupun tetap merasa khawatir tetapi sambungan ucapan kakek Dahlan membuat tubuhnya menggigil menahan amarahnya.


"Matsuyama juga menemaninya...mereka bertiga berencana untuk mencari kehidupan baru yang lebih baik!!" kata kakek Dahlan dengan polosnya.


"Tosiro!!!!"


Kakek Kojiro melotot pada kakek Dahlan.


"Apa??? bocah tengil itu yang menemani istriku??" tanya Xavier kaget bukan main.


"Istrimu??" tanya kakek Dahlan pura-pura heran.


Ucapan kakek Dahlan yang pelan tetapi seolah samurai yang telah membelah dadanya.


"Almira itu tetap istri sah Xavier, kek dan selamanya akan tetap begitu!!" teriak Xavier.


"Tetapi sayangnya Almira tidak lagi beranggapan seperti itu!!" kata kakek Dahlan.


"Bagi Almira dia hanyalah istri terbuang seperti habis manis sepah dibuang."


"Sudahlah Xavier...lagi pula pernikahanmu dengan cucuku hanya pernikahan di bawah tangan pernikahan yang hanya sah menurut agama tapi tidak sah oleh negara...bagaimanapun istrimu yang sah itu adalah Sullivan dan bukan Almira walaupun status Almira itu adalah istri pertama dan Sullivan istri kedua tetapi Sullivanlah yang telah kamu nikahi secara sah...sekarang lupakan Almira, biarkan dia memilih jalan hidupnya."


"Kupikir Almira dan Matsuyama itu pasangan yang serasi, sama-sama dari kalangan miskin dan kalangan bawah tentu akan lebih cocok ketimbang bersanding denganmu yang terpelajar dan kaya."


"Kamu memang lebih cocok dengan Sullivan...sama-sama pintar dan terpelajar...sama-sama kaya, klop kan?? jadi lupakanlah Almira dan bayimu untuk selamanya, kamu bisa membuat anak dengan Sullivan istrimu yang sekarang!!"


Lalu kakek Dahlan memungut sabitnya yang tergeletak di tanah lalu melangkah menjauh meninggalkan Xavier yang masih bergetar tubuhnya, wajahnya pucat pasi, matanya yang sudah mengembun sejak tadi akhirnya jatuh juga tak bisa ditahan lagi.


Xavier terduduk di rumput dan menutupi wajahnya dengan dua telapak tangannya. Dia benar-benar rapuh sekarang, menyesal?? tentu saja...tapi penyesalan tidak bisa membuat keadaan kembali seperti semula.


"Gio...bangunlah nak!!" Giandra membantu membangunkan Xavier dari duduknya.


"Ayah...katakan di mana istriku sekarang berada, yah...aku ingin menjemputnya, aku ingin membawanya pulang..." ratap Xavier.


Serafin, Giandra dan kakek Kojiro menatapnya dengan sedih. Benar kata pepatah, menyesal kemudian sudah tidak ada gunanya lagi...nasi yang sudah menjadi bubur tak akan mungkin bisa berubah menjadi beras kembali.


"Seandainya pun kamu bisa membawanya kembali, tidak kah kamu akan melukai hatinya lagi dan lagi?? dan membuat keadaannya semakin bertambah parah?? sedangkan kamu tau dan semua publik tau kamu adalah menantu tuan Dion dan nyonya Rosi, kamu suami dari nona Sullivan putri tunggal pengusaha kaya raya itu?? kamu jangan membuat Almira semakin terpojok dan semakin terzalimi oleh masyarakat luas karena dianggap sebagai perusak hubunganmu denga Sullivan, walaupun sebenarnya Sullivanlah yang telah merebutmu darinya, tapi memang publik mau tau??"


"Si kaya, si tenar akan tetap dibela walaupun salah...sementara si miskin walaupun benar tetapi tetap di sudutkan dan dianggap salah!!"


"Jadi tolong mengertilah keadaan Almira sekarang, jauhi dia agar hidupnya tidak semakin menderita."


"Dulu kalian pernah dipertemukan sebagai saudara sebelum kalian berdua tau bahwa kalian tidak ada pertalian darah sama sekali, sekarang anggaplah demikian, anggaplah dia adikmu kembali!!" jelas Giandra panjang lebar pada Xavier.


"Sekarang kamu pulanglah, istrimu menunggu di rumah dengan cemas, datanglah kemari jika kamu merindukan kami, tetapi jangan lagi kamu berharap bisa bertemu dengan Almira karena sejujurnya kami juga tak tau keberadaannya yang pasti sekarang."


"Kami menghormati privasinya dan kami tidak ingin mencampuri kehidupannya, yang jelas dia tidak sendiri sekarang." Kata kakek Kojiro menepuk bahu putra angkatnya itu.


"Sekarang kamu pulanglah...perjalanan dari sini kerumahmu cukup jauh, jangan sampai kamu kemalaman di jalan." Kata Serafin.


Akhirnya Xavier menuruti nasehat orang tuanya untuk kembali pulang walaupun rasanya dia berat untuk melangkah meninggalkan tempat itu.


*


*

__ADS_1


Pagi menjelang. Almira, Matsuyama dan Rafa bersiap untuk kembali kepeternakan yang akan mereka beli kemarin.


Dengan membawa uang sejumlah harga peternakan itu, mobil yang membawa mereka meluncur ke sana.


Tampak tuan Abraham telah menunggu mereka dengan beberapa orang saksi-saksi yang akan menyaksikan pemindahan hak milik kakek Abraham kepada pemuda yang bernama Matsuyama itu.


Setelah selesai dan uang pembelian sudah diterima dan sertifikat kepemilikan juga sudah berpindah tangan, kakek Abraham dengan dijemput oleh putrinya berangkat ke kota.


"Akhirnya peternakan ini jadi milik kita, Almira!! di sinilah kita sekarang akan tinggal dan membesarkan anak-anak!!" kata Matsuyama bahagia.


Almira melihat sekeliling. Tampak sayuran menghijau, buah anggur dan stroberi yang siap dipetik, belum lagi tomat dan cabenya yang tampak menggoda.


Dia berkeliling kebelakang rumah di mana tanaman jagung dan gamdum yang siap di panen. Tanaman umbi yang menjalar di tanah ada juga semangka yang hampir siap dipetik.


"Mommy...lihat pohon apel dan pohon jeruk yang sarat dengan buah itu, Rafa jadi kepengen makan apel Mommy!!" kata Rafa sambil berlari seperti orang gila sangking senangnya.


"Mira lihatlah dua ekor anjing yang sedang menggiring sapi dan domba itu pulang ke kandang, lucunya...kata Matsuyama lalu mendekati kedua anjing itu dan memanggil namanya.


Ekor keduanya tampak bergoyang riang menatap ketiga majikannya yang baru.


Kandang hewan-hewan ini ada dibelakang di samping ladang jagung dan gandum. Sekeliling peternakan dipagar dengan pagar kayu.


"Matsuya...aku senang sekali...lihat bebek-bebek di kandang itu lucunya...juga ayam-ayam itu." Almira tampak sumringah.


"Mommy lihat kudanya, kepalanya muncul dari kandang!!" kata Rafa tertawa-tawa.


Matsuyama tampak berkeliling mengecek pertanian yang lumayan luas itu, setelah memastikan pintu pagar tertutup dan memastikan hewan-hewan itu dalam keadaan kenyang, Matsuyama kembali kerumah.


Dilihatnya Rafa dan Almira sedang membawa baskom untuk memetik sayuran, cabe dan tomat.


"Matsuya...cobalah pergi ketambak belakang tangkaplah beberapa ekor ikan yang akan aku masak untuk makan malam kita!!" seru Almira sambil membantu Rafa memetik beberapa stoberi.


"Mommy mau buat sayur apa?" tanya Rafa.


"Kita buat lalapan aja, dan menggoreng ikan!!" kata Mira.


Mereka masuk kedapur yang bersih dan rapi pertanda kakek Abraham adalah lelaki tua pecinta kebersihan.


Setelah menangkap dan membersihkan ikan, Matsuyama memeriksa listrik di rumah dan di kandang belakang menjaga agar hewan-hewan di dalamnya tetap merasa hangat dan nyaman.


Di rumah kakek Abraham masih ada kulkas di dapur walaupun tidak baru tetapi masih bagus, diruang tamu ada kursi dan diruang keluarga ada perapian dengan tumpukan kayu kering. Ada dua kamar tidur dan dapur serta satu kamar mandi.


Semua tak luput dari pengecekan Matsuyama yang memang walaupun dia masih seperti bocah yang slengean tetapi dia termasuk laki-laki yang teliti dan cermat, itulah kelebihan Matsuyama.


"Mira, sebaiknya kamu mandi dulu...tidak baik ibu hamil mandi di bawah jam empat sore." Kata Matsuyama.


"Biar aku yang menyelesaikan sisa pekerjaanmu, katanya!!"


Setelah membantu Rafa mandi dan diapun mandi maka mereka berdua keluar membantu Matsuyama.


"Bersyukur ya...kakek Abraham masih meninggalkan barang-barang yang bisa kita gunakan!!" kata Almira.


Matsuyama tersenyum bahagia melihat senyum bahagia dari Almira.


"Kamu mandilah, agar kita bisa segera makan...aku dan Rafa sangat lapar!!" katanya.


Sambil makan mereka mengobrol seperti sebuah keluarga kecil yang bahagia.


"Mommy Rafa tidur duluan ya..." katanya lalu masuk ke kamar.


Almira dibantu Matsuyama membereskan sisa makanan mereka lalu duduk di depan perapian.


"Mira, sepertinya kurang lebih sebulan lagi kamu akan melahirkan ya!!" Almira menoleh pada Matsuyama.


"Mira..." kata Matsuyama sambil membelai rambut Almira dengan penuh kasih sayang.


"Aku akan mengakui anak yang kamu kandung itu sebagai anakku agar keberadaannya bisa diakui." Kata Matsuyama.


"Aku...aku akan menikahimu setelah kamu melahirkan nanti!!" kata Matsuyama.


Mira terdiam mendengar perkataan Matsuyama.


"Masih pantaskah orang sepertiku untuk dicintai?" tanyanya sedih.


Matsuyama memeluk Almira dengan erat.


"Aku sudah mencintaimu saat pertama kak Hiro memperkenalkan kita dulu, Mira!!" kata Matsuyama.


"Makanya aku dulu suka menggodamu dan sering membuatmu marah untuk menarik perhatianmu."


"Almira...jujur dulu aku begitu cemburu saat kamu dekat dengan kak Hiro, tuan Aliandhara, dan bang Xavier."


"Ingin aku membunuh mereka semua yang hendak mengambilmu dariku!!" kata Matsuyama lalu menarik tubuh Almira agar bersender di bahunya.


*


*


***Bersambung...


Akankah cinta Matsuyama dan Almira menyatu?? lalu bagaimana dengan Xavier yang masih sangat mencintai Almira??

__ADS_1


Mohon dukungannya selalu ya reader...semoga novelnya cepat tamat karena author lain berlomba-lomba membuat novel baru, sementara author masih berkutat dengan dua novel yang sama🙏🙏😊😊


__ADS_2