
"Saya ini Xavana, kakak angkat abangmu yang sekaligus jadi kekasihmu itu!!"
"Om kakak angkatnya pak Xavier? kok ngga mirip?" tanyaku.
"Ya Allah...ampunilah dosa hambamu ini...beginikah sifat asli gadis ini? tengil, menjengkelkan, huh...untung cinta!!"
"Jelas ngga miriplah Minah...namanya juga saudara angkat, saudara kandung aja kadang ada yang ngga mirip apalagi hanya saudara angkat!!" jawab Xavana agak mangkel sama Almira yang dari tadi memanggilnya om.
"Iya ya.." jawab Mira cengengesan. Lalu sambil bersiul dia melangkah meninggalkam Xavana yang malah bengong karena ditinggalkan Almira begitu aja.
"Hei Minah...mau kemana loe???" teriak Xavana.
"Mau nguli dulu om, buat biaya sehari-hari!!" kata Mira santai.
"Aduh...gadis ini!! tengil banget kelakuannya...bahkan dia seolah tak peduli kupanggil Minah.
"Ayo ikut...kita bareng ke kampusmu!!"
Lalu tanpa menunggu persetujuan Mira, Xavana menarik tangannya masuk ke dalam mobil.
"Kamu tidak marah namamu kupanggil Minah?" tanya Xavana sambil sesekali menoleh pada Almira.
"Ngga, apalah artinya sebuah nama!!" jawabnya enteng.
"Kok om tau saya tinggal di sekitar sini? om ngikuti saya ya!!" kata Almira.
"Kalau saya ngikuti kamu, apakah kamu keberatan, Minah?" tanya Xavana.
"Ngga...jalan inikan bukan jalan nenek moyangku atau jalan nenek moyamgmu!! Jadi siapapun bebas melewatinya.
"Tujuan om mengikuti saya mau apa? mau meminta saya untuk menggantikan pak Xavier dengan anda?"
Wajah Xavana memerah mendengar ucapan Mira yang to the point.
"Pantas adikku juga berubah sifatnya...seingat saya dulu Xavier itu pendiam dan susah sekali bicara dengan orang asing setelah bertemu dan bersama denganmu sifatnya juga berubah jadi usil sama sepertimu."
"Om, apa sekarang pak Xavier baik-baik saja?" tanya Mira. Tampang cueknya berubah jadi sedih.
"Saya juga tidak tau Mira, ponselnya sama sekali tidak bisa dihubungi sampai sekarang..." jawab Xavana sambil menyetir.
"Ngga manggil saya Minah lagi om? tumben betul biasamya keliru terus." Mira tersenyum menampilkan lesung pipit di pipi nya kiri dan kanan.
Xavana seketika terpana melihat senyumnya Almira!!"
"Cantik banget!!" katanya bergumam sendiri.
"Saya memang cantik dari bayi, om!!" kata Mira penuh percaya diri.
"Iya kamu memamg cantik banget, saya aja sampai terpesona sama kamu!!" ujar Xavana tanpa basa basi lagi.
"Awas lho om, nanti jatuh cinta sama saya repot urusannya..." sahut Mira.
__ADS_1
"Mana mungkin saya jatuh cinta sama kamu, kamu bukan tipe saya..." kata Xavana pasti.
"Syukurlah..." jawab Almira.
"Kok syukurlah? kamu ngga suka ditaksir sama orang ganteng kayak saya?" kata Xavana kesal tapi juga penasaran.
"Ya saya hanya ngga mau ditaksir om..om!!" kata Mira.
Tak terasa mereka sudah sampai di gerbang kampus dengan diiringi puluhan pasang mata.
"Wah...seleramu boleh juga, sudah jadi simpenan om...om ya?"
"Kalau kamu mau ambillah...." jawab Mira sambil melenggang pergi.
Xavana langsung keluar dari mobil menghampiri gerombolan mahasiswi yang tadi mengatai Mira simpanan om...om!"
"Siapa tadi yang berani-berani mengatakan Almira simpanan om...om?" bentaknya geram.
Serentak para mahasiswi yang bergerombol tadi diam seketika saat seseorang membentak mereka.
Bahkan beberapa dari mereka bersiul melihat Xavana. Siapa yang tidak terpesona pada pria tampan yang walaupun sudah memasuki usia 28 tahun tetapi belum menikah itu. Kaya, tampan, mapan...itulah kesan pertama mereka.
"Ingat, Almira itu calon istri saya...jangan ada yang berani-berani mengganggunya jika masih ingin kuliah lebih lama di sini!!" lalu dia berbalik pergi dan masuk ke dalam mobil sport merahnya dan berlalu.
"Siapa pria tampan tadi? apa yang dia katakan? Mira calon istrinya? wah hebat juga ya, potongan gadis tomboy, kucel dan dekil gitu aja banyak yang naksir...masa kita yang sudah berdandan cantik begini kok ngga ada om...om tajir yang naksir sih??"
"Kalau tidak salah dia itukan kakak pak Xavier? berarti kakak tirinya atau kakak angkatnya kalau memang pak Xavier bersaudara dengan Almira.
"Mereka itu orang-orang kaya se Asia jadi sebaiknya kita ngga usah cari masalah dengan orang seperti itu deh!!" lalu mereka membubarkan diri.
"Dengarlah nona...saya kan tidak tuli!!" jawab Sima.
"Hei Sima, sampai kapan kamu mampu bersembunyi dari adik kecilmu yang mau mengajakmu pulang keperguruan?" Levia memberi kode dengan lirikan matanya kearah gerbang.
'Aduh..Matsuyama sialan!!! aku bukan Hiro yang patuh untuk dinikahkan dengan Daniah...aku masih ingin bebas!!" bisik Sima lalu perlahan menghilangkan diri mundur dari kerumunan sebelum Matsuyama menyadari keberadaannya.
"Bang Aliandhara harus tau tentang berita ini...aku sangat senang jika melihatnya gusar mendengar gadisnya sudah di klaim menjadi milik orang lain."
"Hohoho Alia...enak juga ya hidup di duniamu yang serba gemerlap ini, yah...kamu sabar aja di dalam cermin sana ya!!" senyum smirk Alia palsu terkembang.
Sementara Almira melamun di kursinya. Dia memandang keluar dengan hampa.
"Sepeninggal pak Xavier ada Hiro yang selalu menemaniku tapi sekarang Hiropun pergi...dan tau-tau muncul om...om yang mengaku kakak angkatnya pak Xavier dan mengklaimku di depan mereka semua bahwa dia calon suamiku!!"
"Mereka semua itu berpikiran apa ya? kirain enak kali menikah muda punya anak dan kemana-mana digelendotin sama suami dan anak?"
Almira berkali-kali menepuk jidatnya membayangkan semua itu.
"Hei...kenapa jidatmu kamu tepuk-tepuk begitu?" tanya Alia lalu melemparkan bokongnya duduk di samping Mira.
"Aku hanya kesal pagi-pagi gini!!" jawab Almira.
__ADS_1
"Tapi emang bener kamu calon istri pria tampan yang mengaku kakaknya pak Xavier tadi?" tanya Alia menyelidik.
"Ya enggaklah...aku aja kenalnya baru tadi pagi di jalan kok, waktu dia maksa-maksa supaya aku ikut naik mobilnya."
"Hati-hati Mira, abangku sangat mencintaimu dan keponakanku sangat menyayangimu...jangan sakiti dan kecewakan mereka, Mira!!" kata Alia.
Kepala Almira bertambah pusing mendengar ucapan Alia barusan.
"Pokoknya kamu harus menikah dengan bang Ali dan menjadi kakak iparku...oke!!" kata Alia sambil menepuk bahuku.
*
*
"Ayah...haruskah Hiro menikah dengan Daniah? Hiro sudah mempunyai pilihan hati yang sangat Hiro cintai." Hiro bersujud di depan ayahnya.
"Hiro, mestinya kamu sadar tidak boleh jatuh cinta pada gadis lain karena kamu sudah dijodohkan." Kakegawa menatap putranya.
"Sudah jangan membuat ayah bertambah pusing, apalagi sampai sekarang Matsuyama belum berhasil membawa Sima pulang ke perguruan." kata Kakegawa.
Hancur sudah mimpi dan harapan Hiro untuk bisa hidup bersama dengan AlmiΕa..kini dia harus menjalani takdirnya.
"Hiro, nanti siang calon istrimu mau datang berkunjung kemari, bersikaplah manis jangan jutek-jutek...ayah tidak mau mendapat malu...sudah Sima belum di temukan sampai sekarang, lagi!!"
"Iya ayah!!" jawab Hiro lemas lalu melangkah gontai meninggalkan ayahnya.
"Apa kabar cinta? apakah kamu di sana baik-baik saja tanpa aku?" inginnya aku menelpon Almira tapi tempat ini sama sekali tak ada sinyal karena lembah ini terisolasi dari dunia luar.
Hiro melangkah keluar dan berjalan menuju bukit di belakang lembah. Dia benar-benar galau tingkat Asia Tenggara, baru dua hari dia tidak bersama Almira, tidak memandangnya, tidak mendengar celotehannya seperti dua ribu tahun rasanya.
Hiro duduk di atas batu datar dan bersila di sana memejamkan matanya menyatukan diri dengan alam.
Tiba-tiba....
Syutttt....
Sesosok tubuh yang mirip sekali dengan Hiro keluar dari tubuhnya.
Inilah salah satu ilmu yang dimiliki Hiro...meraga sukma!!"
Dia melangkah meninggalkan tubuh kasarnya, tujuannya ingin pergi menemui Almira.
Hiro tak sadar jika perbuatannya itu di ketahui oleh Kakegawa ayahnya.
"Hiro, sekali ini ayah akan membiarkanmu menemui gadis pujaanmu itu, ini pertemuan pertama dan terakhir, karena setelah ini jangankan tubuh kasarmu tubuh halusmu pun tak akan kuijinkan keluar dari lembah ini."
*
*
***Bersambung...
__ADS_1
Babang Hiro galau banget kayaknya berpisah dengan sang pujaan yang tengil dan usilnya setengah mati tapi ngangenin itu...bisa ngga babang Hiro bertahan dengan keadaan ini ya?
Jangan lupa mampir, baca, like, komen, vote, favorit dan rate nya ya!!πππ