Mr.Playboy Vs Miss.Dingin

Mr.Playboy Vs Miss.Dingin
Bab 128 Rencana Balas Dendam


__ADS_3

Kakek Dahlan membantu membersihkan luka di telapak tangannya. Lalu mengobatinya dan memperban agar lukanya tidak berdarah kembali.


"Yang tabah ya...anggaplah ini pelajaran untukmu di masa mendatang, jangan sampai kesenangan sesaat membuat penyesalan seumur hidup!!"


Ditepuknya bahu Xavier yang masih terduduk bersimpuh di lantai.


"Maafkan Mira ya, bang...walaupun kebersamaan kita hanya sesaat tetapi Mira tidak akan melupakan abang karena ada Xander dan Revita di antara kita...terima kasih atas luka yang telah abang torehkan pada hati dan hidup Mira, terima kasih telah mengajarkan pada Mira apa itu rasa sakit!!"


Mira menyusui Xander sambil tak henti airmata terus mengalir di pipinya.


Kesakitan Xavier juga Almira rasakan begitu pula sebaliknya, tetapi mungkin jodoh mereka hanya cukup sampai di situ sehingga tak ada lagi jalan bagi keduanya untuk kembali.


*****


Kabar pernikahan Almira bukan hanya membuat syok Xavier sebagai mantan suami, tetapi para mantan dan pengagum rahasiapun merasa syok berat mendengarnya.


"Ali...Aliiii...."


"Hah...apa??"


Aliandhara yang sedang melamun sangat terkejut saat Desiree sang sekretaris berteriak di samping telinganya.


"Sebentar lagi kita akan ada meeting penting, lho...tapi sejak tadi kulihat kamu selalu bengong saja!!" kata Desiree sedikit kesal.


"Memang apa yang kamu fikirkan sih Ali??" tanya Desiree penasaran.


"Ibu sambung putraku mau menikah hari ini!!" kata Aliandhara pelan.


"Terus dia yang mau nikah tapi kok kamu yang galau?? Ibu sambung putramu yang mana sih?? jangan bilang gadis imut dan cantik yang hamil itu ya!!" kata Desiree mulai ketus.


"Iya memang dia!!" kata Aliandhara dengan lemas.


"Lho...bukannya dia sudah menikah?? kok mau menikah lagi??" tanya Desiree.


"Suaminya yang bodoh itu selingkuh dengan temannya sendiri!!" kata Aliandhara kesal.


"Termasuk aku juga bodoh karena jadi laki-laki tak punya pendirian!!" batin Aliandhara.


"Di mana dia mau menikah dan dengan siapa??" tanya Desiree.


"Dia akan menikah jauh dari kota ini dengan sahabatnya sendiri, sahabat yang selalu mendampinginya di saat dia ada di dalam suka dan duka!!" senyum miris Aliandhara mencerminkan tentang perasaannya.


Lain halnya dengan Aliandhara dan Xavier yang nampak pasrah mendengar berita pernikahan itu, Hiro dan Xavana tampak tidak terima.


"Kurang ajar kamu Matsuyama...aku memintamu untuk menjaga dan melindunginya, bukan untuk menikahinya...dasar adik tak tau diri.."


Arrggghhh


Kembali Hiro mengarahkan telapak tangannya kanan dan kiri kearah danau yang ada di depan perguruan membuat gelombang air muncrat seperti air terjun.


"Sialaaannnn!!"


"Ayah...tidak apa-apakah anakmu itu dibiarkan seperti itu??" tanya ibu Matsuyama tak tega melihat putranya bertingkah seperti itu.


Daniah hanya bisa menangis melihat keadaan suaminya seperti itu. Di saat usia kandungannya sudah menginjak sembilan bulan, justru suaminya tampak tak menginginkan kehadirannya dan bayinya.


"Ini semua gara-gara Xavier..." umpat Xavana.


"Aku sudah kehilangan kesempatan untuk bersama dengan Almiraku."


****


Sementara itu persiapan pernikahan Almira dan Matsuyama hanya dihadiri oleh tetangga terdekat saja.


Walaupun keduanya menikah tanpa orang tua keduanya, tetapi setidaknya mereka berusaha untuk menyatukan dua hati mereka yang tadinya hanya sahabat naik menjadi suami istri.


"Selamat ya mommy...daddy..." Rafa memeluk Almira yang tengah menggendong Xander dan juga memeluk Matsuyama.


"Kita memulai kehidupan baru bagi keluarga kita, sayang!!" kata Matsuyama kepada istrinya.


"Semoga keluarga kita bisa utuh terus ya, Matsuya...!!" kata Almira balas memeluk sahabat yang kini telah menjadi suaminya.


****


"Kenapa sih sekarang kamu semakin betah tinggal di rumah pantai??" tanya Sullivan pada suatu hari pada Xavier.


"Apakah rumah ini kurang nyaman untukmu?? apakah aku cantik di bandingkan gadis kecil itu??" tanya Sullivan berang.


Xavier yang baru saja pulang mengajar tidak jadi membuka pakaiannya.


Sebenarnya tadi dia teramat lelah ingin beristirahat tetapi begitu mendengar ocehan istrinya maka Xavier kembali melangkah keluar.


"Mau kemana lagi kamu??" sentak Sullivan.


"Mau kembali ke kampus lebih baik aku beristirahat saja di sana dari pada pulang ke rumah mendengar suara celotehanmu saja." kata Xavier.


Dia melajukan mobilnya tapi bukan ke kampus tapi ke rumah pantai menemui Kojiro dan Giandra serta Serafin.


Tampak Sullivan menelpon seseorang.


πŸ“±"ikuti suamiku, kemana dia akan pergi dan segera laporkan padaku.


πŸ“±"Baik nyonya, perintah akan segera dilaksanakan."


Ucap suara dari seberang sana...lalu sambungan ponsel terputus.


"Waduh...tuan Xavier membawa mobil seperti orang kesetanan saja!!" kata salah seorang diantara ketiga orang suruhan Sullivan yang bertugas menguntitnya.


"Kita tunggu di sini saja untuk melihat siapa saja yang akan ditemui oleh tuan xavier lalu melaporkan pada nyonya."


"Wiro...kamu dengar sesuatu, tidak??" tanya dua orang anak buahnya pada Wiro.


"Tidak...aku tidak mendengar apapun....sekarang diamlah Todi, bagaimana aku bisa mengawasi tuan Xavier jika kamu terus mencerocos sendiri."


"Wo...aku pengen banget pipis tapi aku tidak berani keluar!!" kata Todi.


Wowo memandang ke langit di luar mobil.

__ADS_1


"Halooooo....ini tengah hari siang bolong, Todi!! tak akan ada hantu di siang hari bolong begini!!" kesal Wowo.


Akhirnya Todi yang penakut dengan berat hati membuka pintu mobil menuju ke semak-semak untuk buang air kecil.


Tiba-tiba...


Whuaaaa....


Todi berteriak dan lari masuk ke dalam mobil.


"Apa lagi sih yang diteriaki anak itu??" kata Wiro kesal dengan dua anak buahnya.


Hosh...hosh...


"Ada apa sih, Todi?" kata Wowo ikutan kesal.


"Guys...kalian tau apa yang aku jumpai di belakang semak-semak sewaktu aku buang air kecil tadi?" tanya Todi setelah bisa bernapas normal kembali.


"Ngga..." jawab Wiro dan Wowo kompak.


"Tadi itu aku melihat ada dua akar pohon warna hitam melingkar menjerat kaki kiriku."


"Lalu aku bermaksud membuka belitan dua akar pohon itu di kakiku...ternyata hiiii...yang kusangka akar tali itu adalah dua ekor anak ular...awalnya aku ngga tau itu ular apa, langsung saja kulempar eh ternyata emak sama bapaknya bertengger di belakang mereka sambil menaikan kepalanya."


"Maksudmu dua ekor ular itu?" tanya Wiro sambil menunjuk dengan gemetar ke samping mobil.


"Iya...itu sudah ularnya yang aku lihat!!" bisik Todi dengan suara bergetar.


"Itu kobra jawa, bos!!" kata Wowo.


"Ular itu sangat ganas dan sangat berbisa, bos!!" kata Wowo lagi.


"Aduh mereka berdua melata mendekat kemari, bos..." kata Wowo.


"Sebaiknya kita pergi saja bos...ular itu salah satunya mempunyai bola mata berwarna biru pekat dan lidahnya juga berwarna biru!!"


"Aku lebih sayang nyawa bos...harta bisa dicari tetapi nyawa tidak bisa, bos!!" kata Wowo dan Todi dengan gemetar.


Akhirnya ketiga orang itu tanpa sempat memata-matai Xavier segera kabur meninggalkan tenpat itu.


*****


"Kamu bertengkar lagi dengan Sullivan istrimu, Xavier??" tanya kakek Kojiro.


Xavier tidak menjawab. Dia hanya diam saja.


"Yah, ibu masak apa?? Xavier lapar!!" kata Xavier pada kakek Kojiro.


Kakek Kojiro menggelengkan kepalanya. Dia sangat prihatin melihat rumah tangga yang sedang dijalani oleh putranya itu.


"Masuklah ke ruang makan, ibumu sudah menyiapkan makanan di dalam tudung saji..."


"Ibu sama ayah pergi kemana, yah!!" tanya Xavier.


Kakek Kojiro agak susah untuk menjawab pertanyaan Xavier.


"Ayah sama ibumu pergi menjenguk Xander sekalian mau mengucapkan selamat atas pernikahan Mira dan Matsuyama.


"Sudahlah...pergilah makan sana...tampaknya kamu lapar dan juga lelah, akan ayah buatkan teh jahe untuk menghangatkan tubuhmu biar segeran.


"Yah...Xavier pengen ikut ibu sama ayah menjenguk istri dan anak Xavier, yah!!" sambil menyendokan nasi kepiringnya Xavier berkata seolah-olah Almira masih istrinya.


"Nak, Almira itu sekarang sudah menjadi istri Matsuyama...dan kamupun sudah menjadi suami Sullivan, kalian sudah berpisah...satu-satunya yang masih mendekatkan kalian itu adalah Xander." Kata kakek Kojiro.


"Tidak yah...bagi Xavier Mira itu tetaplah istri Xavier sampai kapanpun...Xavier yakin kami akan kembali bersama suatu hari nanti!!"


Ucapan Xavier yang tanpa dosa itu membuat kakek Kojiro bertambah sedih.


****


Jauh di dalam goa istana siluman kera, tampak dua sosok tubuh wanita sedang berlatih keras di bawah bimbingan seorang lelaki tampan.


Iya...mereka adalah Levia dan Shiera yang giat berlatih ilmu yang diturunkan oleh Kebebitak untuk menghadapi Matsuyama.


Ckckck....


Kebebitak berdecak melihat tubuh indah keduanya telah basah oleh keringat sehingga tercetak dengan sempurna.


"Para wanitaku ini...benar-benar membuat aku mabuk kepayang..."


"Mereka bukan hanya pandai berkelahi tetapi juga pandai bergoyang di atas ranjang."


"Bagaimana kanda?? gerakan kami berdua sudah sempurna kan?" tanya Levia.


"Sangat...sangat sempurna...tinggal satu ilmu lagi yang akan kanda turunkan pada kalian berdua, tetapi malam ini ya!!!" kata Kebebitak membasahi bibirnya.


"Tentu kanda...jangan khawatir soal itu!!" kata Shiera tersenyum manis.


Kakek Bilis atau Bilygong memandang dari kejauhan.


"Tampaknya Kebebitak akan menurunkan ilmu andalannya, aku harus memberi tahukan kepada Xavana...aku sudah tak mau lagi ada korban berjatuhan seperti saat Hikaru hidup dulu."


****


"Ibu...kalau Xander sudah tidur lebih baik ditaruh saja di dalam boks bayi supaya ngga jadi kebiasaan minta digendong terus."


"Ngga apa-apa...kan ngga setiap hari ibu menggendong cucu ibu seperti ini."


"Ayahmu kemana, Mira??" tanya Serafin.


"Ayah, Rafa dan bang Matsuya sedang di padang rumput belakang sekalian mengecek tanaman gandum dan jagung!!" kata Mira.


"Bu, bagaimana kabar bang Xavier sekarang??" tanya Almira pelan.


Serafin tidak langsung menjawab, dia menarik napas dahulu sambil menatap putrinya.


"Xavier baik-baik saja!! dia sering kok main ke rumah pantai!!" kata Serafin.

__ADS_1


"Oohhhh...!!" kata Almira pelan.


"Tentu dia akan baik-baik saja bu, istrinya sekarang kan cantik, terkenal, kaya raya...Almira mah ngga ada apa-apanya dibandingkan wanita itu...Almira hanya gadis kampung yang bodoh...bodoh karena telah percaya dan jatuh cinta pada seseorang yang tidak sungguh-sungguh mencintai Almira."


"Cinta tulus Almira hanya dipandang sebelah mata oleh bang Xavier....selama ini Almira tulus mencintainya tetapi belum cukup mampu untuk membuat dia lupa pada sang mantan terindahnya...yah mungkin Sullivan memang jodohnya bang Xavier!" kata Almira sambil berusaha tersenyum tegar.


"Apakah Matsuyama mencintaimu, Rafa dan Xander, Mira??"tanya Serafin memutus pembicaraan yang menyedihkan itu.


"Bang Matsuya sangat mencintai Mira dan anak-anak bu!!" kata Almira.


"Syukurlah!!" kata Serafin lagi.


"Mommy...." teriak Rafa dari luar.


"Mommy, kata daddy dan kakek, besok kita akan panen jagung dan gandum!!" kata Rafa bersemangat.


"Oh ya??? sekarang Rafa mau makan apa untuk makan malam ??" nanti Serafin.


"Rafa mau makan telur saja grandma??" kata Rafa bersemangat.


"Bocah itu sekarang tumbuh lebih besar dan semakin cerdas dan dewasa ya!!" kata Serafin memandang kepergian Rafa yang sedang bermain dengan Xander.


"Dia juga pandai mengajak Xander bermain bu!!" kata Mira.


"Selama dia tinggal bersamamu, apakah dia pernah menyinggung minta pulang ke rumah daddy dan kakeknya??" tanya Serafin sambil membantu Almira memasak di dapur.


"Tidak, bu!!" Rafa tidak pernah menyinggung untuk minta pulang atau apapun." Kata Mira.


Tak lama Matsuyama dan Giandra datang setelah memasukan ternak ke kandang...mengecek di seluruh peternakan apa ada pagar yang jebol atau rusak atau ada ternak yang masih tertinggal...mengecek listrik di peternakan lalu memasukan mobil ke halaman dan mengunci pagar depan.


Kiki dan Koko anjing yang biasa menjaga ternak tampak tidur tenang di kandang mereka di belakang.


"Mira, entah mengapa ayah merasa akhir-akhir ini perasaan ayah tentang kalian itu ngga enak...seperti ada yang akan terjadi pada keluarga kecil kalian...makanya ayah mengajak ibumu untuk berkunjung dan tinggal sementara di sini bersama kalian.


"Biar ibu dan ayah tinggal di sini seterusnya, Almira juga ngga apa-apak kok bu!!" kata Almira sambil tersenyum.


"Kamu tinggal di peternakan ini


jauh dari tetangga apakah tidak takut sendirian??" kata Serafin.


"Yaela bu, kita yang biasa berkelana di hutan masa takut hanya dengan suasana seperti ini??" tawa Mira berderai.


"Lagi ngobrolin apa sih mom??" kata Matsuya datang dari belakang lalu memeluk pinggang Almira.


"Ngga bang, ibu hanya bertanya apakah tidak takut tinggal di tempat yang cukup terpencil begini??" kata Mira.


"Ibu ngga usah khawatir, Matsuya akan menjaga keluarga Matsuya dengan taruhan nyawa sekalipun." Katanya.


****


"Tosiro, ada apa?" kenapa kamu sepertinya tampak cemas begitu?" tanya kakek Kojiro.


"Entahlah Kojiro aku merasa kematian dari ratu Hikaru ini bukan akhir dari segalanya."


"Aku merasa akan datang lagi masalah entah dari keturunan ratu Hikaru atau dari yang lainnya...." kata kakek Dahlan.


"Mungkin itu juga yang tengah dipikirkan oleh Serafin dan Giandra, apalagi sekarang Almira, Rafa dan Matsuyama tinggal sangat jauh dari sini, akan sulit bagi kami untuk memantau keselamatan mereka."


"Oleh sebab itu mereka berinisiatif pergi." kata kakek Kojiro.


"Seandainya Kadir masih sendiri dan belum berkeluarga bisa saja kukirim dia ketempat Almira sekarang untuk menjaganya."


"Lha ini ekornya sudah ada dua...bagaimana dia pergi jauh...kasihan juga Silvia nanti jika ditinggal sendiri di sini.


"Iya...sekarang Kadir sibuk mengurusi keluarganya...dua anaknya..." kata kakek Kojiro.


"Kojiro...anak ratu Hikaru yang tempo hari itu sekarang tinggal di mana ya??


'Sejak kematian ibunya pada waktu perkelahian tempo hari...Levia dan Shiera tidak nampak lagi batang hidungnya, entah mereka sembunyi di mana!!" jawab kakek Dahlan.


"Paling juga disembunyikan oleh Kebebitak...karena menurut infomasi yang kudengar bahwa Kebebitak itu mata keranjang...ngga bisa liat yang beningan dikit tongkatnya langsung menunjuk kurang ajar."


"Menunjuk apa maksudmu, Tosiro??" kata kakek Dahlan sambil tersenyum.


"Menunjuk goa!!" kata Kojiro lagi. Lalu mereka berdua tertawa geli.


*****


"Alia...mengapa kamu belum tidur??" kata tuan Kelvin saat mau mengambil minuman dingin di dapur dan melihat Alia masih duduk di ruang makan.


"Tadi Alia mau tidur, yah...tapi belum mengantuk jadi Alia memutuskan untuk turun kebawah mencari minuman dingin.


"Apa ada yang mengganjal pikiranmu sehingga kamu belum bis tidur?" tanya tuan Kelvin.


"Yah...sejujurnya Alia merasa khawatir pada keselamatan Almira, Matsuyama dan Rafa....sudah beberapa malam ini Alia selalu mimpi buruk...di dalam mimpi itu Alia melihat Shiera dan Levia hendak menuntut balas atas kematian ibunda ratu Hikaru." Kata Alia.


"Sudahlah kita berdoa saja semoga mereka akan selamat!!" jawab tuan Kelvin menenangkan putri angkatnya itu.


Alia lalu masuk kembali ke kamarnya. Kembali rasa rindunya pada pangeran Redo mengguncang hatinya.


"Pangeran Redo...kamu sedang apa sekarang??" apakah pangeran sedang merindukanku seperti aku yang merindukan pangeran??" tanyanya pada hati.


"Seandainya aku bisa mengirimkan pesan lewat angin malam yang berhembus untuk menyampaikan salamku, katakan bahwa aku sangat merindukannya!!" kata Alia dengan sedih.


"Aku juga tengah merindukanmu tuan putriku!!"


Alia tersentak mendengar suara tanpa wujud itu berbisik pelan di telinganya.


"Pangeran Redo...kamu kah itu???" mengapa sudah hampir setahun pangeran tidak lagi menemuiku?? dulu pangeran janji akan datang menjengukku ternyata hingga kini aku menanti tetapi pangeran Redo tak kunjung datang menemuiku di sini."


"Dari tempatku, aku selalu mengawasimu dan menjagamu, Alia...andainya kamu tau akupun juga sangat merindukanmu di sampingku seperti dulu."


Alia pun meneteskan air mata mendengar pengakuan pangeran tampan adik dari putri Refanya itu.


*


*

__ADS_1


****Bersambung....


Mohon dukungannya selalu ya reader...agar author selalu semangat dalam menulisπŸ™πŸ™


__ADS_2