
"Yang laki-laki ini jika umurnya masih panjang, dia akan mengalami kebutaan sepanjang hidupnya karena sinar pukulan itu menyerempet kewajahnya dan racun mematikan pukulan itu sudah masuk kedalam dua bola matanya."
"Sementara si wanita ini sudah sekarat, hanya keajaiban yang bisa membuatnya hidup kembali!! Kalaupun dia hidup wajahnya akan cacat...kasihan mereka ini, mengapa mereka sampai berurusan dengan ratu jahat itu?"
Lalu seperti mengangkat bantal bulu, orang berjubah misterius itu mengangkat Serafin di pundak kirinya dan Giandra di pundak kanannya lalu melesat pergi meninggalkan tempat itu.
Tak lama setelah dia pergi orang-orang ratu Hikaru balik lagi ketempat itu seperti mencari-cari sesuatu.
"Tapi benar Toshan aku sama sekali tak melihat kalung berliontin kepala naga itu di jasad keduanya!!"
"Lho, kemana lenyapnya kedua mayat suami istri itu? Tak mungkinkan mereka sudah menjadi hantu? Cepat amat!!" Koro sahabat Toshan bergidik ngeri. Apalagi bau gosong dan amisnya darah berbaur menusuk hidung di pagi itu. Suasana hutan yang porak poranda tampak mencekam.
Toshan dan Koro menggeledah isi hutan itu tetapi mereka bersama anak buahnya tak menemukan jejak Giandra dan Serafin. Kedua mayat suami istri itu bagai lenyap ditelan bumi.
"Toshan...kita pergi aja yuk...aku sudah kepengen kencing nih!! Jangan sampai nanti aku beser di celana, celanaku cuma satu-satunya ini yang masih bagus, yang lain robek semua." Koro bergidik ngeri dan takut.
"Tak ada hantu pagi-pagi buta begini Koro!!" Sahut Toshan. Tetapi dia dan yang lainnya sebenarnya sudah ketakutan apalagi sejak tadi seperti ada yang mencolek-colek bo* kongnya.
"Coba turunkan tangan jahilmu itu dari bo* kongku Koro kurang ajar!! Tidak usah mencolek-colekku begitu!!" Seru Toshan marah.
"Apasih aneh?? Siapa juga yang mencolek bo*kongmu? Memang aku kurang kerjaan? Masih banyak bo*kong indah nan seksi yang siap kucolek, untuk apa mencolek bo*kong tepos dan rata seperti talenan begini...korengan lagi!!" Seru Koro dengan suara lantangnya membelah pagi yang dingin dan mencekam itu.
Sssttttt...
Anak buahnya yang lain berbisik!! Jangan teriak-teriak di tengah hutan begini ketua...apa ketua tidak takut?" Bisiknya pada Koro.
"Ngga" Kata Koro.
"Ngga salah lagi!!!" Lalu tanpa dikomando dia ngacir lebih dahulu meninggalkan yang lainnya lari secepat-cepatnya keluar dari hutan itu.
Si manusia berjubah menurunkan tubuh kedua orang itu dan membaringkannya di lantai kayu.
Suara gemericik air dan burung-burung menyambut pagi. Dia membuka jubahnya dan nampaklah wajah orang itu.
Seorang wanita tua berusia kurang lebih tujuh puluhan tahun tetapi dengan perawakan tubuh yang masih tinggi tegap. Tubuhnya yang tinggi semampai dan masih menyisakan sisa-sisa kecantikannya semasa muda.
__ADS_1
Dialah semasa muda yang dijuluki para pendekar dunia persilatan sebagai Futago no samurai atau samurai kembar.
Dulu dia berdua dengan saudari kembarnya tetapi saudarinya tewas terbunuh, lalu dia mengambil samurai saudari kembarnya dan mulai mempelajari dua samurai sekaligus dan terciptalah ilmu baru yang beberapa waktu lalu menggegerkan dunia persilatan di sana bahkan ratu Hikarupun dibuat tak berkutik dengan kedasyatan sepasang samurai kembar itu dan sempat memporak porandakan kediaman ratu Hikaru.
Dia terlahir dengan nama Megumi tetapi nama itu sudah dilupakan dan hanya julukannyalah yang selalu diingat.
"Kalian berdua harus bangkit dan membalaskan semuanya!! Hanya kalian berdua yang mampu menandingi kejahatan Hikaru dan aku tau kalian bukan orang sembarangan."
"Apalagi yang wanita ini, sepertinya ilmu kanuragannya lebih tinggi dari pada suaminya."
"Cacat wajah dan kebutaan tak akan menghalangi kalian untuk belajar, dan akulah yang akan menjadi guru kalian sekarang."
Dia menyalurkan hawa murninya ke dalam tubuh Serafin dan Giandra. Berusaha mengeluarkan racun jahat pukulan tapak merapi sebelum sampai ke jantung keduanya.
Selama tujuh hari tujuh malam barulah kondisi Serafin dan Giandra mulai membaik. Dan di hari kedelapan mereka berdua mulai sadar.
Argghhh...
Suara erangan dari keduanya terdengar. Dan Serafin perlahan mulai bangkit dari pembaringannya dan duduk.
Dia menoleh kesamping dan ternyata suaminya terbaring di dekatnya.
"Kau sudah sadar cah ayu?" Sebuah suara mengagetkan Serafin dari lamunannya.
"Kau siapa nek?" Lalu kami berdua ini apakah ada di tempat kediamanmu?" Tanya Serafin.
"Iya nak, nenek menemukan kalian berdua di hutan seminggu lalu dalam keadaan sekarat." Nenek Megumi tersenyum sambil memberikan dua gelas ramuan pada Serafin.
"Berikan yang segelas lagi pada suamimu jika dia sudah sadar nanti, nenek akan mencari ikan dulu di sungai untuk makan siang kita."
Sepeninggal nenek Megumi, Serafin menuju kedapur untuk membasuh wajahnya. Betapa terkejutnya dia melihat pantulan wajahnya di air kuali sebelah wajah cantiknya sudah berwarna biru kehitaman.
Pada awalnya dia tidak bisa menerima kenyataan ini, tetapi dia berpikir lagi dia harus tetap hidup untuk membalas kejahatan ratu Hikaru bila perlu menghentikan perbuatan jahatnya untuk selamanya agar tidak ada lagi korban kejahatan Hikaru.
Dia tersadar kembali saat mendengar suara batuk kecil dari suaminya yang telah terbangun dari pingsannya.
__ADS_1
"Sayang...kamu sudah bangun?" Dia lalu duduk di samping suaminya.
"Serafin!!! Mengapa aku hanya bisa melihat kegelapan? Apakah mataku ini masih terpejam?" Giandra mulai meraba-raba di sekitarnya.
Serafinpun bingung, dia nyata-nyata melihat mata suaminya nyalang terbuka tetapi Giandra bilang dia tidak bisa melihat apa-apa. "Apakah Giandra buta?" Batin Serafin.
"Suamimu sudah sadar?" Tampak nenek Megumi berdiri diambang pintu dengan membawa ikan dan sayuran.
"Siapa itu Serafin?" Bisik Giandra pada istrinya.
"Dialah dewi penolong kita, dia sudah mengobati kita selama seminggu ini." Serafin memberitahu suaminya.
"Nak...kalian harus kuat ya!! Terutama suamimu, mungkin kebutaan yang dialaminya akan berlangsung selamanya."
"Apa? Aku buta selamanya?" Giandra nampak terpukul mendengar semua itu.
"Sabarlah suamiku...kita harus mengucap syukur pada yang Kuasa karena masih diberi kesempatan kedua untuk hidup." Serafin memeluk suaminya untuk memberi semangat dan kekuatan.
"Mungkin dengan kebutaanmu, kamu tidak bisa melihat cacat di wajahku!!" Batin sang istri dengan sedih.
*
*
"Serafin, di mana suamimu? Suruh makan dulu...akhir-akhir ini angin bertiup sangat kencang dari arah lembah, jangan sampai nanti dia sakit." Nenek Megumi yang sudah semakin tua berteriak dari kamarnya.
Sudah hampir setahun ini nenek Megumi sakit-sakitan. Seluruh ilmu kesaktiannya sudah diturunkannya semua pada kedua muridnya itu. Giandrapun sudah bisa menerima kenyataan bahwa dirinya buta.
Hanya terkadang dia sering melamun di teras pondok sambil mendengarkan gemericik air yang mengalir dari sungai Nishizawa...mendengarkan suara burung-burung dan binatang-binatang hutan. Jujur dia sangat merindukan anak-anaknya yang sudah 17 tahun tak ditemuinya lagi, dan entah di mana mereka berada sekarang!!
*
*
***Bersambung...
__ADS_1
Mampir, baca, berikan like dan komennya jangan lupa vote dan favoritnya serta rate nya...🙏🙏