Mr.Playboy Vs Miss.Dingin

Mr.Playboy Vs Miss.Dingin
Bab 178 Kepergian Almira


__ADS_3

"Sejak kapan aku punya penggemar rahasia, ya??" pikir Alia.


Dia membuka coklat dan mencicipinya sedikit sementara dari kejauhan seorang pemuda berwajah oriental asyik bersorak kegirangan karena pemberiannya diterima dan dimakan oleh Alia.


"Yes...yes...yes..." teriaknya bahagia.


"Penggemar rahasiamu itu aku Alia...aku Thamrin!!


*******


"Baik bang, Mira akan coba memaafkanmu demi siapa?? demi Miranda!!" ucap Almira.


"Terima kasih sayang...abang tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan darimu!!" Matsuyama sangat senang sekali.


Sore itu saat keluarga mereka berkumpul di teras ada dua orang muncul entah dari mana tiba-tiba sudah ada dihadapan mereka semua.


"Redo??? Tristan???" Almira memeluk adik laki-lakinya dan juga Tristan.


"Hai Tristan, apa kabar??? apakah kamu masih menjadi seorang pembunuh bayaran??" tanya Almira.


"Masih!!" jawab Tristan.


"Tapi sekarang aku ingin membunuh hatimu agar mau menerima cintaku!!" jawab Tristan lagi sambil tersenyum.


"Gombalmu!!" kata Almira menepuk bahu Tristan.


"Ada angin apa yang membawa kalian datang kemari??" kata Almira


"Yunda...ibunda ratu meminta kami untuk menjemputmu...ada masalah genting di istana yang harus yunda bantu menyelesaikannya."


"Tapi jika aku pergi kesana bagaimana dengan keluargaku??" tanya Almira.


"Maaf yunda, mereka tidak bisa ikut serta masuk kedunia kita karena mereka hanya manusia biasa."


"Tetapi yunda pun sekarang sudah menjadi manusia biasa, Redo!!" kata Almira.


"Yunda berbeda karena adalah keturunan langsung dari ratu Nilakandi.


"Berapa lama aku akan pergi, Redo??" tanya Almira.


"Tergantung, jika masalah cepat selesai yunda bisa pulang kembali." Kata Redo.


Almira menatap pada ayah dan ibunya lalu pada suami dan putra dan putrinya.


"Sayang...." kata Matsuyama sambil menggendong Miranda.


Almira mendekati suaminya yang sedang menggendong bayi mereka."


"Bang jika Almira pergi, jangan lupa jaga anak kita baik-baik."


Matsuyama tak kuasa menahan air matanya. Baru saja dia berbaikan dengan istrinya sekarang harus berpisah kembali.


"Pergilah Mira, jalanilah takdirmu!!" kata Serafin sambil menangis dan Giandra tampak menenangkan istrinya.


Almira memeluk putra dan putrinya bergantian.


"Mommy mau pelgi kemana??" tanya Xander.


"Mommy mau pergi sebentar, Xander sama daddy dan Revita serta Miranda dulu yah???" Xander tersenyum mengiyakan.


Tak lama kemudian Almira, Redo dan Tristan pergi bertiga.


Tak ada lagi Almira yang memakai daster rumahan seperti saat dia menjadi seorang ibu rumah tangga.

__ADS_1


Matsuyama tak hentinya berdoa di dalam hati, karena dia seperti mempunyai firasat bahwa perpisahannya dengan Almira adalah untuk waktu yang lama karena adanya perbedaan waktu di dunia mereka.


"Selamat jalan sayang, selama umur kita masih panjang, abang akan tetap menantikanmu kembali!!" ujar Matsuyama memeluk istrinya sekali lagi.


Kita pergi Yunda...selamat tinggal semua kata Redo dan Tristan.


Sekedipan mata kemudian mereka bertiga hilang dari pandangan membuat Xander menangis di dalam pelukan neneknya.


*******


Xavier sedang membantu ayahnya Kojiro menyabit rumput di halaman samping rumah pantai jadi berhenti saat ujung sabit melukai kakinya sendiri.


"Kamu kenapa Xavier?? ngga biasa-biasanya kamu begini??" tanya Kojiro panik melihat darah menyembur dari luka di kaki Xavier.


Xavier meringis kesakitan. Tadi dia bekerja memang sambil melamun sehingga dia tak sadar ujung sabit yang tajam menancap di kakinya.


"Apa yang sedang kamu pikirkan, Xavier?? sampai kamu bisa kehilangan konsentrasi seperti sekarang ini??" tanya ayahnya sambil berusaha menghentikan pendarahan di kaki putranya itu.


"Tadi Xavier kepikiran Almira dan anak-anak yah...!!" kata Xavier sambil meringis menahan sakit saat luka itu sudah berhenti mengeluarkan darah, tinggal rasa sakitnya saat ayahnya Kojiro memperban luka itu.


"Mungkin karena kamu terlalu merindukan mereka, Xavier!!" kata kakek Kojiro.


"Mungkin yah!!" kata Xavier.


"Jika kamu merindukannya, kamu bisa berdalih menelpon anak-anak...Revita dan Xander kan anak-anak kandungmu!!" kakek Kojiro memberi saran.


"Ayah benar...kenapa tidak terpikirkan oleh Xavier sejak tadi??" kata Xavier.


"Biasa Xavier...terkadang cinta bisa membutakan kita dan membuat otak yang pintar menjadi bodoh dan otak yang bodoh menjadi semakin bertambah bodoh!!" Xavier terdiam mendengar sindiran dari ayahnya.


Sumpah mati dia memang masih mencintai mantan istrinya itu, sangat!!


Dia masih menaruh harapan setinggi langit sedalam lautan agar bisa kembali kepada istrinya itu.


Sebaiknya kamu istirahat saja...nanti ayah yang akan melanjutkan menyabit rumputnya!!"


********


Tak hentinya Almira mengagumi keindahan istana ibundanya itu ternyata di balik danau kecil di dalam goa batu pualam ada istana yang sangat megah.


Tadi Tristan dan Redo membawanya berteleportasi dari peternakan sampai kemulut goa batu pualam.


Ini pintu perbatasan antara dunia kita dan dunia manusia, yunda!!" kata Redo.


Redo berjalan di depan dan Tristan berjalan di belakang mengapit Almira di tengah-tengah.


Mereka bertiga sampai di dekat danau.


"Jalan masuk kedunia kita yunda Refanya!!" kata Redo lalu tanpa di komando dia lompat ke dalam danau kecil itu.


"Ayo lompat...atau kita melompat bersama??" kata Tristan sambil meraih tangan Almira.


"Aku takut Tristan??" kata Almira.


"Almira??? takut??? jangan buat aku tertawa Mira!!" kata Tristan lalu menarik tangan Almira dan melompat bersama.


Tristan tetap memegang tangan Almira sambil menyelam sampai jauh kedasar danau.


Almira hanya bisa menahan napas sambil berenang mengikuti Tristan. Dinginnya air danau jangan tanyakan lagi apa lagi sekarang dia adalah seorang manusia.


Beberapa menit kemudian mereka tiba di permukaan. Tristan tetap memegang tangan Almira hingga mereka berhasil keluar dari danau kecil yang dalam itu.


Redo telah menunggu mereka di atas sana.

__ADS_1


"Lama sekali kalian berdua??" kata Redo, cepatlah ibunda ratu sudah menunggu kita di istana.


Mereka berjalan menuju istana. Semakin jauh maju melangkah, baju yang mereka pakai yang tadi basah kuyup terkena air semakin mengering.


Di depan mereka tampak berdiri istana megah yang berkilauan walaupun istana itu ada di bawah gunung yang dialiri sungai yang cukup deras dan tak tersentuh oleh sinar matahari tetapi pantulan cahaya dari kubah raksasa di atas istana itu membuat cahaya warna warni perpendar keseluruh penjuru istana.


"Jika Revita dan Xander serta Miranda ikut, tentu mereka akan senang sekali melihat ini semua!!" kata Almira sampai terkagum-kagum.


Di depan gerbang mereka disambut oleh para pengawal yang berjaga dipintu gerbang istana.


"Selamat datang pangeran Redo, putri Refanya dan panglima Tristan!!" kata mereka sambil membungkukan badan memberi penghormatan.


Mereka bertiga melewati para pengawal pertama dan di halaman istana merek melewati pengawal kedua.


Lalu mereka sampai pada sebuah singgasana yang terang benderang karena dihiasi batu pualam berwarna warni.


Batu-batu itu hanya ada di istana ratu Nilakandi dan jika malam hari digunakan oleh rakyatnya untuk penerangan.


"Ibunda ratu..." teriak Almira lalu lari memeluk sesosok wanita berwajah sangat cantik memakai baju berwarna biru seperti bola matanya.


Sang ratu tersenyum dan membalas putri tunggalnya itu. Dulu semasa bayi hingga berumur dua tahun Revits sempat diasuh oleh neneknya itu.


"Apa kabarmu Almira putriku??" tanya sang ibu sambil memeluk putrinya.


Almira tak langsung menjawab. tanpa harus dia katakan pun sebenarnya ibunya telah tau bagaimana keadaannya.


"Maafkan ibunda yang telah menelantarkanmu sejak kamu masih bayi, ya...sehingga kamu menderita seperti ini...tapi inilah salah satu takdir yang harus kamu jalani, putriku??" kata ratu Nilakandi.


"Dayang...bawa tuan putri kita untuk berganti pakaian...!!" kata sang ratu.


"Dan kamu Redo dan Tristan juga pergilah berganti baju setengah jam lagi kita berkumpul di ruang makan!!" kata sang ibunda lagi.


Almira terkagum-kagum melihat kamar yang begitu besar dan mewah lebih besar dari pada mansion tuan Kelvin ayahnya.


"Tuan putri Refanya...silakan berganti pakaian yang sudah di siapkan...kami akan membantu mendandani tuan putri." Kata pelayan yang lebih tua.


Setengah jam kemudian mereka berkumpul di ruang makan istana.


Almira tampak begitu cantik dan mempesona siapa menyangka bahwa dia adalah ibu dari tiga orang anak.


Mereka semua di situ melihat Almira seperti penjelmaan ratu Nilakandi semasa remaja ratusan tahun lalu.


Aneka makanan tersaji di meja panjang itu.


"Ayo marilah kita makan dahulu setelah itu kita akan bicara membahas masalah yang sedang melanda negeri ini." Kata ratu Nilakandi.


Kita tinggalkan dahulu Almira yang bahagia telah berkumpul bersama adik dan ibu kandungnya.


Oek...oek...oek


"Matsuyama...ada apa dengan Miranda itu semenjak tadi menangis terus...jangan-jangan putrimu itu masuk angin!!" kata Serafin pada menantunya itu.


"Ngga tau bu...sepertinya Miranda kangen pada mommynya!!" kata Matsuyama.


"Coba bawa kemari kamu urusi saja dulu Xander dan Revita.


*


*


****Bersambung....


Mohon dukungannya selalu ya reader agar author lebih semangat menulisnya๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ™๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2