Mr.Playboy Vs Miss.Dingin

Mr.Playboy Vs Miss.Dingin
Bab 158 Firasat


__ADS_3

"Ya Tuhan...apa yang sudah terjadi?? apa yang telah aku lakukan?? tetapi aku tak merasakan apapun semalam selain tubuhku yang menggigil karena demam tetapi mengapa sekarang Bonita sudah tertidur di sampingku tanpa sehelai benangpun??" pikiran Matsuyama bergejolak hebat berusaha mengingat apa yang telah terjadi dengannya dan Bonita semalam.


Tak lama tampak Bonita menggeliat.


"Hah??? apa yang telah kamu lakukan padaku, Matsuya??" teriak Bonita berusaha menutupi tubuh polosnya.


"Tentu saja dia ingat semuanya karena dialah maka malam penuh petaka itu terjadi pada Matsuyama yang mungkin akan berdampak pada pernikahannya dengan Almira kelak.


Hik...hik...hik


Bonita pura-pura menangis untuk menutupi sandiwaranya sementara Matsuyama masih bingung dan belum mengingat apapun tentang kejadian semalam.


"Apa nanti yang harus aku katakan pada ayah jika mengetahui bahwa aku ternyata telah ternoda?" tangisan Bonita menyayat hati.


Matsuyama meraih pundak Bonita untuk menenangkan gadis itu.


"Kamu tidak usah khawatir Bonita, aku bukanlah lelaki pengecut yang tidak mau bertanggung jawab pada apa yang telah aku lakukan, walau semua yang kulakukan adalah di luar kesadaranku karena semua yang kuingat bahwa aku melakukannya dengan Almira istriku!!" kata Matsuyama membuat Bonita cemberut.


"Kita akan pulang dan aku akan menikahi di depan ayahmu!!" kata Matsuyama.


"Lalu bagaimana dengan Almira istrimu?? apakah kamu akan menceraikannya?" tanya Bonita penuh harap karena harapannya adalah memiliki lelaki idamannya itu seutuhnya.


"Jangan gila kamu, Bonita??" kata Matsuyama mendelik kesal dengan perkataan Bonita.


"Aku menikahi kamu bukan karena aku mencintaimu sampai harus menceraikan istriku tetapi karena aku mau bertanggung jawab pada perbuatanku yang aku sendiri tidak tau tentang kebenarannya!!" geram Matsuyama.


"Jangan sekali-kali kamu memintaku menceraikan Almira, dia satu-satunya wanita yang aku cintai bahkan sampai aku mati!!" tegas Matsuyama.


"Benahi pakaianmu kita akan pergi menemui ayahmu!!" kata Matsuyama.


Walaupun tubuhnya masih terasa lemah tetapi karena hatinya sedang diliputi amarah, maka rasa sakit itu diabaikannya.


Inilah takdir yang harus dijalankan oleh Matsuyama, takdir yang sama yang dulu menimpa pernikahan ayahnya dan ibu saudaranya Hiro dan Sima.


Bonitapun terdiam. Dia hanya melirik Matsuyama yang bungkam tak bersuara sama sekali.


Pikirannya berkecamuk, apa yang akan dia sampaikan kelak pada istrinya Almira?? apakah Almira akan memaafkan dirinya?? sungguh dia takut kehilangan istri dan anaknya itu.


PRANG....


"Sejak semalam sudah berapa banyak barang pecah belah yang kamu pecahkan Almira??" tanya Xavier pada Almira yang sedang menyapu bekas pecahan kaca yang pecah dan berserakan di lantai.


"Kenapa sejak semalam aku kepikiran dengan bang Matsuya terus ya?? aku merasakan hatiku berdenyut nyeri seolah sedang merasa sakit dan terluka tetapi mengapa dan apa sebabnya??" Almira membatin.


"Apa yang sedang terjadi padamu, bang?? sejak semalam juga Miranda rewel ngga ketulungan!!" gumam Almira pada dirinya sendiri.


"Kamu melamun lagi, nanti pecah lagi gelas yang kamu pegang!!" teguran Xavier sontak mengagetkannya.


"Eh, iya bang...!" kata Almira sadar dari lamunannya.


"Aku hanya bisa menyerahkan semua keputusan kepada Yang Maha Kuasa..." bisik Almira.


Sungguh hatinya teramat risau seperti ada sesuatu yang akan hilang dari hidupnya.


"Firasat apa ini?? pertanda apa gerangan yang akan terjadi??" pikir Almira.


Sungguh berat memang takdir yang harus dia jalani sebagai manusia biasa, tetapi itulah keputusannya dulu!!


Oek...oek...oek


"Dek...!!! Miranda sudah bangun tuh..."


Teriakan Xavier dari arah dapur kembali mengagetkan lamunannya. Dengan cepat dia menyelesaikan pekerjaannya dan masuk ke kamar menghampiri bayi perempuannya.


"Yah, ada apa dengan Almira dan Miranda, ya?? sejak semalam Xavier perhatikan mereka teramat gelisah?? semoga tidak terjadi sesuatu lagi yang akan menimpa kehidupannya!!" kata Xavier saat menemani ayahnya di meja makan.


"Sudah...jangan berprasangka yang buruk dahulu!!" kata kakek Kojiro sambil menghirup kopinya pelan. Karena sesungguhnya dia juga punya firasat yang jelek akibat mimpinya semalam yang membuatnya tidak bisa melanjutkan tidurnya lagi.


******


"Ayah....tolong Mira....tolong Miranda...."


Almira dan Miranda terkepung api di dalam rumahnya di peternakan sana.


Kakek Kojiro yang sedang berjalan-jalan menikmati udara pagi jadi ikut tegang dan panik melihat mantan menantunya yang sekarang sudah dianggapnya sebagai anaknya sendiri terkepung api di rumahnya sendiri.


Dengan mengandalkan segenap keberaniannya kakek Kojiro melesat cepat menembus kobaran api yang semakin lama semakin membesar untuk menolong Miranda dan Almira.


Almira dan Miranda tertolong tetapi seluruh pakaian Almira ikut habis dilalap oleh si jago merah.


Seketika kakek Kojiro terbangun. Seluruh badannya juga ikut mandi keringat, seolah mimpi yang dia alami barusan adalah kenyataan.


Hingga malam menjelang pagi, kakek Kojiro tidak dapat memejamkan matanya kembali untuk tidur.

__ADS_1


Akhirnya dia memilih duduk dan minum teh untuk menenangkan pikirannya.


Lain lagi halnya dengan Almira. Dia bermimpi persis seperti mimpinya dua tahun yang lalu. Mimpi yang telah menjadi nyata di dalam kehidupannya.


Dia bermimpi janji bertemu dengan Matsuyama di sebuah danau.


Tak lama Matsuyama datang dengan sebuah rakit. Almira sangat senang bisa bertemu lagi dengan suaminya mereka saling berpegangan tangan tetapi bayangan yang sedari tadi berdiri di belakang Matsuyama menampakan diri. Bayangan yang ternyata adalah seorang wanita itu berdiri di samping Matsuyama, dia tersenyum dan tiba-tiba dia menghentakan tangan Almira yang saling berpegangan dengan Matsuyama.


Lalu perlahan rakit membawa mereka berdua menjauh dari Almira dan lenyap di dalam kabut.


HOSH...HOSH


Almira terbangun di tidurnya yang singkat itu. Karena baru dua jam dia tertidur setelah Miranda rewel semalaman tetapi harus terbangun lagi karena sebuah mimpi.


Mimpi yang sama yang pernah dia alami dua tahun lalu saat Xavier pergi meninggalkannya bersama wanita lain.


Dengan sempoyongan Almira berjalan ke kamar mandi untuk mencuci muka dan bersiap untuk ke dapur ketimbang dia tidur lagi dan mimpi buruk lagi.


Di dapur pun Almira berulang kali memecahkan gelas dan piring seperti yang diawal ditegur oleh Xavier tadi.


"Kamu kenapa abang perhatikan sejak tadi melamun terus??' tanya Xavier duduk di sebelah Almira.


"Mira semalam bermimpi, bang...mimpi yang sama seperti dua tahun lalu


"Mimpi apa dek??" tanya Xavier sambil menyeruput tehnya.


"Mimpi saat abang bersama wanita lain dan ternyata itu adalah gambaran perselingkuhan abang!!" kata Almira.


Uhuk...uhuk


Xavier tersedak air teh yang diminumnya.


"Akankah mimpi itu menjadi kenyataan, dan di sana bang Matsuya juga berselingkuh dengan wanita lain??" gumam Almira yang nyata terdengar di telinga Xavier.


Hati Xavier jadi miris mendengarnya. Kesalahan yang telah dia perbuat walaupun dia sudah menyadari kesalahannya akan tetap diingat dan diungkit sampai kapanpun.


"Jika itu benar terjadi, Mira akan membawa Miranda, Xander dan Revita pulang ke istana dan Almira akan menetap di sana selamanya...mungkin di sanalah tempat Almira, bukan di dunia manusia yang penuh tipu-tipu ini!!" kata Almira lirih.


"Jangan berkata begitu dek, itu kan cuma mimpi jangan sama kan Matsuyama dengan abang dahulu...Matsuyama teramat mencintaimu...jika kamu pergi membawa anak-anak, bagaimana abang bisa melihat dan bertemu dengan mereka lagi??" kata Xavier memelas.


"Di hidup abang hanya ada anak-anak sekarang, karena untuk rujuk kembali denganmu, itu tak mungkin!!" kata Xavier tertunduk lesu.


"Gampang bang...abang cari aja istri lagi pengganti Sullivan atau rujuk lagi dengannya dan buatlah anak dengannya...simpel kan?? gitu aja hidup kok dibuat repot!!" lalu Almira berdiri dan meninggalkan Xavier serta kakek Kojiro yang semenjak tadi terdiam mendengar pembicaraan mereka berdua.


"Jujur Xavier masih berharap bisa rujuk dan berkumpul kembali bersama Almira dan anak-anak, yaah!!" Kata Xavier lesu.


"Xavier Giovanno...memaafkan itu bukan berarti melupakan semua kesalahan yang telah kita perbuat!! hati wanita itu lembut dan pemaaf tetapi marahnya mereka bisa membuatmu tak termaafkan walau dengan usaha apapun yang kamu lakukan, bahkan dia akan membencimu sampai kamu benar-benar hilang dari pandangan matanya dan kehidupannya."


"Begitulah dengan kasus Almira sekarang ini...dia mungkin memaafkanmu, tetapi untuk menerimamu kembali...ayah rasa kamu harus membunuh semua harapanmu!!" kata kakek Kojiro.


Xavier terdiam dan menundukan kepalanya memainkan cangkir yang ada di tangannya.


Kesalahannya atas perselingkuhannya dulu memang pantas untuk tidak di maafkan...baginya sekarang dia ingin menebus semua kesalahannya dengan membantu merawat anak-anak.


*****


Sepanjang perjalanan Matsuyama hanya berdiam diri sambil memacu Snow kuda putihnya.


Tangan Bonita yang melingkar di pinggangnya sejak tadi tak dia hiraukan. Dia asyik dengan lamunannya sendiri.


"Matsuya....Matsuya...." Bonita menepuk bahunya dan membuat kesadaran Matsuyama kembali.


"Kita akan melangsungkan pernikahan kita secara besar-besaran...bagaimana menurutmu??" tanya Bonita dengan penuh semangat.


"Terserah kau saja!!" kata Matsuyama lesu.


"Mengapa kamu jadi dingin begini padaku, Matsuyama?? sikapmu beda dengan semalam yang penuh kehangatan.


"Aku tidak ingat apa-apa, Bonita...aku sedang sakit dan demam tinggi lagi pula untuk apa aku mengingat hal yang tak penting seperti semalam??" ketus Matsuyama dingin.


Wajah Bonita seperti ditampar mendengar jawaban lelaki yang sejak tadi pagi sudah memasang tampang dingin padanya.


Sikap Matsuyama yang selalu hangat padanya, kini berubah seperti bongkahan es...dingin membeku.


"Terlambat...pikir Bonita, semua telah terjadi...demi cinta aku harus meneruskan sandiwara cinta ini."


"Dan sebaiknya kamu singkirkan tanganmu dari pinggangku, karena aku merasa sangat risih...hanya istriku Almira yang boleh memegangku begini." katanya dingin.


Perjalanan mereka telah sampai ke perkampungan dunia bawah tanah...semua orang menunduk hormat pada Bonita yang merupakan putri dari pemimpin mereka Bara Seta.


Di rumah yang paling besar mereka di sambut pengawal di depan gerbang dan mereka langsung masuk.


Bonita turun lebih dulu memeluk ayah dan ibunya, sementara Maysuyama mengikat kudanya di pohon tak jauh dari halaman.

__ADS_1


"Selamat datang putriku, selamat datang Matsuyama!!" senang kalian kembali kemari dengan selamat, kecuali..." ucapan Bara Seta menggantung melihat wajah Matsuyama yang bertekuk-tekuk.


Bara Seta dengan kesaktiannya sebenarnya sudah tau apa yang telah terjadi, tapi inilah takdir yang harus dijalani Matsuyama, Almira dan Bonita putrinya, terlepas dari semua itu, diapun bingung bagaimana nanti harus menjelaskan semua ini pada Serafin dan Giandra sahabatnya.


"Masuklah kalian...dan kamu Matsuyama, beristirahatlah, pulihkan tenagamu karena cedera di dadamu itu!!" kata Bara Seta.


"Terima kasih paman Bara Seta." Kata Matsuyama lalu diantar oleh istri Bara Seta ke kamarnya.


"Temui ayah di pendopo belakang, Bonita!!" kata Bara Seta tegas sambil meninggalkan putrinya yang menunduk


"Ini kamarmu, nak...jangan khawatir, tidak ada yang akan mengganggu istirahatmu di sini!!" kata istri Bara Seta.


"Terima kasih, bi!!" kata Matsuyama mengangguk hormat setelah itu dia masuk ke kamar yang sudah di sediakan untuknya.


"Kasihan anak itu, aku tau dia pemuda yang baik, hanya karena kutukan pada kesalahan kedua orang tuanya di masa lalu maka dia pun harus menanggung juga segala akibatnya."


"Kasihan juga wanita yang bernama Almira yang menjadi istrinya itu...mengapa harus Bonita yang hadir di tengah mereka?? mengapa harus putri semata wayang kami??" kata istri Bara Seta sambil menarik napasnya gundah.


"Duduklah Bonita...apa kaki mu tidak capek berdiri begitu setelah setengah malaman kamu jongkok di atas tubuh Matsuyama yang tergeletak pingsan??" ucapan Bara Seta seperti cambuk yang menguliti seluruh permukaan kulit halus Bonita.


Dia memilih diam dan duduk walaupun rasanya dia seperti menduduki bara api.


"Sekarang jelaskan pada ayah dan ibu, apa maksudmu melakukan semua ini??" tanya Bara Seta memandang tajam pada putri tunggalnya.


"Kita memang bukan manusia seperti mereka, tetapi justru itu kita jangan merendahkan martabat dan harga diri kita pada mereka, tetapi apa yang telah kamu lakukan??' geram Bara Seta yang dipegang erat oleh istrinya.


"Ayah dan ibu tidak pernah mengajarkan kepadamu untuk merebut milik orang lain...apalagi laki-laki yang statusnya adalah suami orang, Bonitaaaa!!" suara Bara Seta tampak bergetar menahan amarahnya.


"Tidak kah kamu bayangkan seandainya semua di balik, kamu ada di posisi Almira dan Almira merebut Matsuyama darimu?? bagaimana perasaanmu, Bonita??? kamu pasti sakit, terluka dan kecewa!!"


"Apalagi sekarang mereka itu mempunyai seorang bayi yang butuh kasih sayang kedua orang tuanya, di mana kamu letakan otakmu itu, Bonita??? sebegitu dangkalnya kah pikiran dan akal sehatmu hanya karena tertutup oleh cinta butamu??"


"Ayah dan ibu mengutusmu untuk melindunginya dari segala bahaya para siluman yang mengincarnya bukan malah kamu yang mendominan atas hidupnya...dasar kamu wanita tak bermalu, kelakuanmu tak ubahnya bahkan lebih rendah dari pela*cur sekalipun!!" napas Bara Seta terengah-engah menatap nyalang pada putrinya yang semakin menunduk dalam.


"Sekarang ayah dan ibu mau bertanya kepadamu!!! apakah setelah Matsuyama bertanggung jawab dengan menikahimu karena suatu perbuatan yang tak dia lakukan??? kamu yang telah memperko*sa dia bukan sebaliknya...lalu setelah kami menikahkan kalian berdua, kamu akan mengintili dia pergi menemui istrinya dan menjelaskan bahwa kamu adalah madunya?? begitu Bonita?? di mana hati nuranimu sebagai sesama perempuan, di mana kamu ikat urat malu kamu?? kok ada ya, wanita seperti ini!!" geram Matsuyama.


"Sabar yah, sabar...." kata istrinya.


"Ya adalah wanita seperti itu, noh...putrimu sendiri contohnya!!" kata istri Bara Seta menunjuk putrinya.


"Untung kamu Matsuyama mau menikahimu, tetapi sebagai hukumannya...setelah menikah maka Matsuyama harus pergi dan pulang kembali kepeternakan berkumpul bersama lagi dengan keluarga yang semestinya dan sangat dicintainya."


"Setidaknya jika kamu hamil, ayah dan ibu tidak malu karena mempunyai anak yang hamil di luar nikah...mau ditaruh di mana muka ayahmu ini sebagai seorang pimpinan??" kata Bara Seta.


"Tapi ayah...bagaimana Bonita bisa hidup tanpa Matsuyama??" kata Bonita mulai terisak.


"Terus tidak kamu pikirkan sebelum kamu berbuat?? apa kamu pikir istri dan anaknya siap hidup tanpa ayah dan suaminya??" tanya Bara Seta geram.


Bonita terdiam mendengar perkataan ayahnya.


"Kamu pikir wanita mana yang mau di madu di dunia ini, nak!!" kata ibu Bonita menangis.


"Ingat Bonita, kamu adalah duri dalam kehidupan rumah tangga mereka, karma itu ada nak...bukan hanya di dunia manusia tetapi juga berlaku di dunia kita!!" kata sang ayah.


"Kamu terima ataupun tidak keputusan ayah sudah bulat...jika dalam tiga bulan Matsuyama tak kembali menemuimu dan memberikan nafkah lahir dan batin untukmu maka bercerailah kalian!!"


Sesak sudah napas Bonita mendengar ultimatum dari Bara Seta ayahnya. Tetapi dia juga tidak bisa membantahnya karena ayahnya adalah orang yang pantang dibantah. Sebagai pimpinan kaumnya maka titahnya adalah perintah yang harus dilaksanakan.


Sementara Matsuyama termenung menatap keluar jendela. Padahal tadi tubuh dan otaknya terasa lelah saat ada kesempatan untuk beristirahat matanya malah tak bisa terpejam.


"Istriku...anak ku...maafkan abang ya Mira...maafkan daddy ya girl, Xander...daddy tidak bisa menjaga kepercayaan kalian semua...abang sudah kotor Mira, abang telah menyetubuhi wanita lain yang bukan istri abang!!"


"Masihkah kamu akan menerima abang kembali??? masihkah kamu mau memaafkan suamimu ini, Mira??


"Kak Hiro benar selama ini...aku dan bang Xavier memang tidak pantas untukmu, kak Hiro memang lebih pantas tetapi justru malah ayah dan ibu menjauhkan dan memisahkan cinta kalian berdua!!"


Matsuyama ingat pesan terakhir dari Almira sebelum dia pergi!!


"Bang, cepat kembali ya....Mira mau saat melahirkan nanti ada abang di sisi Mira seperti saat abang mendampingi Mira saat melahirkan Xander!!"


Lalu senyum di wajah nan cantik itu merekah mengiringi kepergian suaminya walaupun dengan berat hati.


Tok...tok..tok...


Matsuyama dengan malas mengalihkan netranya kearah pintu yang diketuk dari luar!!


*


*


****Bersambung....


Sanggupkah Almira menerima kenyataan saat suami yang dinantikannya menikah lagi???

__ADS_1


Jangan lupa mampir ya reader tercinta, baca, like, komen, vote, favorite dan rate nya ya😊😊🙏🙏


__ADS_2