Mr.Playboy Vs Miss.Dingin

Mr.Playboy Vs Miss.Dingin
Bab 170 Ular Versus Kera


__ADS_3

"Kamu akan membayar sedikit demi sedikit hutang keluargamu Matsuyama!!" desis Rini penuh dendam.


"Lihat itu ada sungai Rana, kita bisa minum sepuasnya di sana, siapa tau di sungai itu ada ikannya untuk kita tangkap dan kita makan malan ini." Kata Rini.


"Aku ngga makan ikan Rini...aku mau makan daging!!" kata Rana kepada saudaranya itu.


"Terus kamu mau berburu di dalam hutan sana gitu??" tanya Rini.


"Hari hampir gelap Rana mendingan kita makan apa yang ada saja...jangan cerewet!!" kata Rini.


"Ingat...saat kita memutuskan untuk menjadi manusia, separuh kekuatan kita harus hilang!!" kata Rini lagi.


"Ya sudah, aku mencari ikan kamu mengumpulkan kayu bakar, ya...." kata Rini.


Kedua kakak beradik itu asyik mengerjakan tugasnya masing-masing sampai mereka tidak menyadari kalau ada empat pasang mata sedang mengawasi gerak gerik mereka.


"Sekali ini kita jangan sampai gagal lagi!!" ucap orang berjubah hitam yang paling tinggi.


"Tempo hari kita kehilangan salah seorang kawan kita, hari ini kita harus perhitungkan dengan matang karena musuh kita ini termasuk golongan siluman yang terkuat."


"Bila perlu kita pergunakan sistem penyerangan B di mana kita menunggu mereka berdua terpisah lalu kita secepatnya menyerang salah satunya.


"Aku setuju dengan pendapatmu, jangkung...mudahan kali ini ada hasilnya." Kata kawannya yang lebih pendek.


"Lihatlah bocah yang bernama Rana itu berjalan menuju hutan, sebaiknya kita sergap dulu adiknya ini karena sepenglihatan pengamatanku ilmu bocah lelaki ini sedikit di bawah kakaknya." Kata si pendek.


Mereka mengawasi Rana dari jarak yang agak jauh karena mereka takut jika terlalu dekat remaja tanggung itu bisa mengetahui kehadiran mereka dengan indra penciumannya.


Semakin asyik Rana mencari kayu bakar sambil hendak berburu kelinci, semakin jauh juga dia terpisah dari kakaknya Rini.


Sampai dia berada di jalan diantara dua pohon tiba-tiba satu jaring raksasa jatuh menelungkup di atas kepala menutupi tubuhnya.


Semakin keras usaha Rana memberontak, semakin kuat jaring itu membelit seluruh tubihnya.


"Kak Rini???" teriak Rana sekuat tenaga dalam ketakutannya membuat Rini yang sedang asyik mencari ikan ikut merasakan sakit di sekujur tubuhnya.


"Rana, kemana anak itu tadi?? katanya mau mencari kayu bakar...kok sampai sekarang belum kembali??" gumsm Rini ikut gelisah.


Dengan cepat dia membawa ikan hasil tangkapannya ke darat.


"Rana...Rana??" teriakan Rini yang menggunakan tenaga dalamnya itu sebenarnya bisa didengar oleh Rana tetapi jaring yang membelit tubuhnya dan menggantungnya di atas pohon seolah melemahkan semua persendiannya.


Seolah tenaga dalamnya sudah terasa habis semua.


"Kamu mau melepaskan diri dari jaring siluman itu bocah?? jangan mimpi kamu."


"Sekuat apapun dan seberapa tangguhpun ilmu kamu tidak akan pernah bisa melepaskan diri dari jaring siluman."


"Aku akan melakukan barter pada kakakmu yang sombong itu...jika dia ingin adiknya kembali maka dia harus menyerahkan mutiara mustika dewi ular yang bersemayam di dalam tubuhnya dengan suka rela, maka aku akan melepaskanmu dan menggantikannya dengan kakakmu dan dia tidak mempunyai pilihan yang lain selain menuruti keinginan kami."


Rana gemetar, setiap dia berusaha memusatkan tenaga dalam yang berpusat di pusarnya, setiap kali pula tenaga dalam yang telah terkumpul itu lenyap begitu saja.


"Ada apa ini?? terbuat dari apa jaring yang membelit tubuhku ini?? bahkan untuk bersuara saja aku sudah tak mampu...seluruh tubuhku terasa sangat lemas tak bertenaga." Rana hanya mampu menyuarakan itu di dalam hatinya.


"Rini....tolong aku !!!" jerit hati Rana sambil menahan kesakitan dan ketakutannya.


"Rana....Rana....kamu di mana??? teriakan Rini menggema keseluruh penjuru hutan yang hampir keseluruhan gelap itu karena matahari sudah terbenam sejak tadi.


"Aduhhh perasaanku mendadak jadi ngga enak, kemana Rana pergi?? masa dia bisa tersesat?? atau ada hal buruk sudah terjadi padanya??" pikiran Rini sudah berspekulasi sendiri.


Dia menyusuri pinggiran hutan dan perlahan berjalan masuk kedalamnya dengan mengandalkan penciuman dan penglihatannya yang semakin terang di dalam kegelapan.

__ADS_1


"Kamu hilang kemana Rana... jangan membuat aku cemas, jika terjadi sesuatu padamu, apa yang harus aku katakan pada almarhumah ibunda??" Rini berusaha menahan air matanya. Bagaimanapun tangguhnya mereka berdua tetaplah masih seorang remaja.


Sementara Rana semakin tersiksa di dalam jeratan perangkap siluman itu.


Kita tinggalkan dulu Rana dan Rini yang terpisah satu dengan yang lain.


Almira masih diam membisu tak bicara sepatah katapun kepada Matsuyama kecuali pada ketiga putra dan putrinya.


"Mom, di depan itu kita berhenti dulu ya...Revita mau pipis!!"


"Candel juga mommy..." kata Xander dengan gaya bahasa cadelnya.


"Iya sayang...." kata Matsuyama menjawab pertanyaan dari kedua anak Xavier yang dia sayangi itu.


"Daddy tunggu di sini jagain adik Miranda ya...Revita sama Xander pergi di temani oleh mommy!!" kata Matsuyama.


Akhirnya Almira membawa kedua anaknya ke pinggir sungai.


"Mommy...itu suara teriakan siapa??" kata Revita sementara Xander sudah mengkeret ketakutan.


"Sepertinya arah teriakan itu datangnya dari dalam hutan??" kata Almira memasang telinga baik-baik.


"Ayo kita lihat mommy, siapa tau ada yang butuh pertolongan kita!!" kata Revita.


"Candel ngga mau ikut, mommy...Candel takut antu!!" seru Xander bertambah merapatkan pegangan tangannya pada Almira.


Xander dan Revita memang berbeda. Xander di bawah asuhan manusia sementara Revita yang diasuh langsung oleh ratu Nilakandi tumbuh menjadi balita pemberani.


Karena sejak dia bayi dan diambil oleh sang nenek dan digembleng secara luar biasa sering berhadapan dengan sesuatu yang juga luar biasa membuat Revita tumbuh menjadi balita yang juga tangguh.


"Ayo mommy mari kita lihat!!" ajak Revita menarik tangan Almira.


"Mommy lihatlah!!" tunjuk Revita pada sosok tubuh yang tergantung di dalam jaring di atas pohon yang sudah nampak lemas tak berdaya.


"Mari cepat kita tolong mommy, jika tidak orang itu bisa mati lemas karena haus dan kelaparan!!" kata Revita.


"Ssstttt....sebentar Revita...." bisik Almira sementara tangan kiri dan kanannya menahan putra dan putrinya.


"Ada apa mommy??" bisik Revita pelan.


"Ada empat mahluk hidup yang berdiri tak jauh dari bawah pohon bersembunyi di balik lebatnya semak belukar!!" bisik Mira kepada Xander dan Revita.


"Kalian berdua jangan berisik ya!!" bisik Almira lagi yang dibarengi anggukan oleh kedua anaknya.


Tak lama....


"Rana...kamu di mana??"


Satu sosok tubuh seorang gadis muncul dari kegelapan sambil memanggil-manggil nama Rana.


"Sepertinya orang itu sedang mencari laki-laki yang tergantung dalam jaring di atas pohon itu mommy!!" bisik Revita.


Sedangkan Xander mendadak jadi alim dan pendiam semenjak masuk ke dalam hutan tadi.


Sesaat lagi gadis itu akan mendekat, tiba-tiba keempat mahluk berjubah muncul dari kegelapan rimbunnya semak belukar.


"Akhirnya kamu datang juga gadis siluman ular!!" ucap si jangkung berjubah yang tampaknya menjadi pimpinan dari keempat orang itu.


"Mahluk itu bilang kalau gadis yang baru datang itu adalah siluman ular??" bisik Revita.


Almira hanya mengangguk saja menanggapi perkataan putri cerdas dan pemberaninya itu.

__ADS_1


"Iya mommy tau dia itu siluman dari aura tubuhnya tapi mommy tidak tau dia siluman apa!!" bisik Almira.


"Sebenarnya mereka berempat itu juga mahluk siluman, sepertinya siluman kera!!" kata Almira lagi.


Lalu ketiga anak beranak itu terdiam melihat dan mendengarkan apa yang kelima orang itu bicarakan.


"Hai gadis ular...jika kamu mau melihat saudaramu yang terjerat di atas pohon sana seperti ba*bi hutan itu selamat, serahkan mutiara mustika dewi ular yang ada di dalam tubuhmu agar saudaramu di atas pohon itu bisa selamat...jika tidak mau melihat saudaramu itu mati secara peelahan-lahan di dalam jaring perangkap siluman!!" kata mereka sambil tertawa mengekeh.


Karena fokus dengan percakapan keempat orang berjubah itu, Almira sampai lupa pada Revita dipegangan tangan kirinya.


Balita cerdas itu perlahan tanpa sepengetahuan Almira dan lainnya berjalan cepat ke arah pohon di mana terdapat sosok tubuh terjerat di dalamnya.


Sementara kelima orang di depannya sedang bernegosiasi, Revita perlahan mendekat dan tanpa sepengetahuan siapapun dia mengarahkan telapak tangan mungilnya kearah jaring yang membelit pria muda itu.


Selarik sinar tanpa warna melesat membungkus tubuh di dalam jaring dan.....


WUSSSSS...


BRAKKK...


Tubuh itu jatuh dan cepat disangga oleh Revita.


Jangan melihat dia sebagai balita yang baru berumur tiga tahun tetapi lihatlah kekuatannya.


Tubuh itu terjatuh bukan hanya mampu dia tahan dengan tenaga dalamnya tetapi juga sekaligus terlepas dari jaring yang menyiksanya itu semenjak sore tadi!!


"Haii buruan kita lepas..." teriak si gemuk memperingatkan kepada teman-temannya.


Almirapun cepat tanggap. Dia segera menarik tangan Xander mendekati Revita dan pria muda itu membawanya kebalik semak.


Almira memberi isyarat pada Revita untuk memegang tangan si pemuda lalu dia memasukan cincin pemberian Hiro kedalam mulutnya agar mereka tidak terlihat oleh siapapun dan diapun cepat memegang tangan Revita.


"Hilang...dia menghilang!!" teriak si gemuk.


Rini menyeringai melihat keempat orang itu. Setelah dilihatnya saudaranya itu telah selamat, maka keberanian Rini bangkit kembali.


"Beraninya kalian menyandera adikku untuk memaksaku menyerahkan mutiara mustika yang ada di dalam tubuhku??"


"Kalian akan merasakan akibat dari keberanian kalian itu, bersiaplah!!"


Mata Rini berubah seperti mata ular begitupun dengan lidahnya.


"Kalian tahu bahwa kera itu adalah santapan ular yang paling nikmat?? kalian telah membangkitkan kemarahanku dengan menyekap adikku dan membuatnya menderita maka kalian harus merasakan semua akibat dari perbuatan kalian."


"Aku tak akan pernah memaafkan jika adikku yang tersakiti!!"


Dengan gerakan sangat cepat lidah Rini berubah jadi panjang dan berubah menjadi sekeras tombak lalu mencari sasaran di tubuh para korbannya.


Keempat orang yang rata-rata berilmu tinggi terus melawan dan bertahan.


Lidah bercabang dua terus menukik menghantam dan mengejar keempat lawannya kemanapun mereka pergi.


*


*


****Bersambung....


Dapatkah keempat siluman kera itu bertahan dari ganasnya serangan lidah Rini si ular siluman putri dari Sinoe si ular sanca raksasa itu??


Jangan lupa ikuti terus kisah mereka ya reader dan jangan lupa selalu dukungannya.

__ADS_1


__ADS_2