
"Kamu berhati-hatilah, juga suamimu Matsuyama...jangan terlalu sering kalian terpisah karena akan memudahkan masuknya ancaman dari luar."
Setelah puas memberikan wejangan kepada putrinya, ratu Nilakandi kemudian pergi dengan meninggalkan Revita kembali pada Almira.
"Sini sayang dekat sama mommy!!" lalu Almira memeluk putri kecilnya itu.
"Kita bobo dekat Xander ya!!" kata Almira.
Begitu Revita masuk kedunia manusia, seluruh pakaian kebesaran dan mahkota kerajaan yang dia kenakan lenyap berganti dengan pakaian biasa.
"Inikah saudara kembarku mommy??" kata Revita sambil memandangi Xander yang tidur mendengkur pelan.
"Lucunya...!!" kata Revita memandangi saudaranya membust Almira tersenyum.
Tok...tok...tok
"Mira...dek..kamu belum tidur?? kamu ngobrol dengan siapa??" suara panggilan Xavier menggema dari luar.
Ceklek
Almira membukakan pintu untuk Xavier, bagaimanapun Xander dan Revita adalah putra dan putri Xavier juga pikirnya.
"Masuk bang...!!" kata Almira.
Xavier masuk dan alangkah kagetnya dia melihat seorang balita perempuan cantik berbaring di samoing Xander.
"Ayah..." katanya sambil tersenyum manis pada Xavier.
"Kau???"
"Dek...ini putri kita yang dirawat oleh ibunda ratu Nilakandi, kan??" tanya Xavier.
Almira hanya mengangguk.
"Sungkem sama ayah sana!!" katanya lagi.
Balita cantik yang wajahnya sangat mirip dengan Almira itu menyalami ayahnya.
Xavier langsung memeluk putrinya dengan penuh rasa haru. Dia bersyukur...mungkin Almira masih membencinya tetapi dia tidak pernah melarang putra dan putrinya bertemu dengan ayahnya.
Almira memandangi interaksi ayah dan anak itu. Mendadak hatinya sedih, bagaimana tidak saat dia melahirkan kedua anak kembarnya, bukan suaminya yang ada di sampingnya untuk memberinya semangat dan kekuatan, tetapi orang lain!!
Xavier yang tahu isi hati Almirapun hanya bisa menangis pelan.
"Maafkan kekhilafan abang, dek!!" lirihnya.
Seolah tau apa yang sedang dirasakan oleh kedua orang tuanya, balita perempuan itu memeluk Xavier sebentar lalu meraih kedua tangan orang tuanya dan menggenggamkannya menjadi satu.
"Kalian berdua boleh berpisah...tetapi bersatulah dalam merawat kami putra putrimu, ayah...mommy!!" kata Revita.
Xavier dan Almira saling memandang. Genggaman tangan besar Xavier terasa hangat memegang jari-jari mungilnya.
"Maafkan abang ya, dek...abang mendekatimu bukan karena semata abang ingin mengganggu kehidupan barumu bersama Matsuyama...abang sudah berusaha mengikhlaskan pernikahan kalian, karena abang sadar ini karma buat abang, ini semua terjadi karena kesalahan abang!!" lirih Xavier.
"Tetapi abang juga berusaha untuk melindungimu, abang tau setelah kamu menjadi manusia seutuhnya...separuh kesaktianmu telah lenyap dan lagi-lagi ini semua karena kesalahan abang!!"
"Jika kamu tanyakan tentang cinta dan kasih sayang abang, jangan pernah kamu tanyakan lagi...tidak ada satu wanitapun di muka bumi ini yang mampu menggantikan posisimu di hati abang...kamu tetap menjadi ratu di hati abang, Mira!!"
"Jadi ijinkan abang tetap menyayangimu dan anak-anak kita walaupun rasa sayang abang padamu tidak bisa seperti saat kita masih bersama dulu." Kata Xavier mengakhiri penjelasannya.
"Bang, Almira sudah memaafkan abang jauh sebelum abang meminta maaf pada Almira, dari awal perselingkuhan abang Almira lebih memilih pergi dari kehidupan abang agar Almira tidak menyita perhatian abang lagi!!" kata Almira pelan.
"Stop dek, stop...tolong jangan melanjutkan kata-kata itu lagi, abang merasa amat bersalah padamu dan anak-anak kita!!" tangisan Xavier terdengar tertahan.
Almira memeluk mantan suaminya itu.
"Bang, maafkan Almira juga ya...semoga walaupun kita sudah tidak lagi bersama kita masih bisa saling bersatu untuk membesarkan anak-anak...semoga abang di kemudian hari bisa mendapatkan jodoh yang lebih baik dari Mira dan satu Mira mohon ke abang jika nanti abang bisa menemukan jodoh abang, tolong jangan sakiti dia dan duakan dia seperti saat dulu abang menyakiti dan menduakan Mira!!"
Senyuman Almira terkembang. Mungkin sudah waktunya dia mengakhiri permusuhan dengan mantan suaminya itu, toh sekarang dia juga sudah menikah lagi dengan Matsuyama.
Xavier memandang wajah cantik mantan istrinya yang tengah terlelap tidur sambil memeluk kedua putra dan putrimya.
"Maafkan aku sayangku, inilah kesalahan terbesar yang pernah kubuat dalam hidupku." Xavier hanya mampu memandang.
Baginya Almira sekarang dekat tetapi terasa jauh.
"Tapi tak apalah dari pada tidak bisa dilihat sama sekali!!" pikir Xavier.
*****
"Matsuyama memacu kudanya melewati jalan-jalan berbatu. Jalan setapak yang menuju kesebuah rumah besar yang dulu Matsuyama ingat sebagai milik pengasuh mereka, ibu Saki.
"Demi ibu, aku akan mencoba meminta penawarnya pada kak Hiro, semoga dia mau berbaik hati membuka pintu maafnya dan memberikan penawar racun kala biru itu."
Jubah dan rambut Matsuyama berkibar ditiup angin sore yang sudah semakin dingin itu.
__ADS_1
Dia berhenti sesaat untuk mengingat-ingat letak rumah ibu asuh mereka semasa kecil tersebut.
"Kalau tidak salah jalannya itu menuju kemari, kalau tidak salah tak ada simpangan di ujung jalan ini...apa aku yang tersesat dan salah jalan, ya??" Matsuyama terus menatap sekeliling dengan lebih teliti.
"Jalan mana yang harus kutempuh ya?? atau aku kembali saja ke jalan semula??"
Selagi berpikir-pikir demikian, mendadak awan mendung di sore itu, angin bertiup sangat kencang...baju di bagian dada Matsuyama berkibar memperlihatkan dada bidangnya yang tersibak tertiup angin kencang.
"Kok tiba-tiba mau turun hujan??? perasaan tadi cuacanya baik-baik saja??" gumam Matsuyama sambil memandang ke langit.
"Kenapa perasaanku tiba-tiba tidak enak ya?? mengapa perubahan cuaca mendadak begini??"
Tes...tes...tes
"waduh...hari hujan lagi...kemana aku harus berteduh?? mata Matsuyama menelisik cepat.
"Sebaiknya aku dan Snow beristirahat di bawah pohon besar ini saja!!" kata Matsuyama sambil mengusap punggung kuda putihnya yang juga nampak gelisah.
Samar-samar di dalam keremangan senja menuju malam dia melihat kelap kelip di kejauhan seperti cahaya lampu.
Kakinya ingin melangkah mendatangi cahaya lampu yang bekelip-kelip itu tetapi hatinya mengatakan jangan karena seperti ada bahaya besar sedang menunggunya di sana.
Matsuyama jadi hanya memilih duduk di akar pohon yang bertonjolan di bawah pohon itu.
Setidaknya pohon tempat dia berteduh cukup rimbun hingga menghalangi hujan masuk.
Sementara di dalam sebuah rumah besar yang lampunya nampak berkelap kelip dari kejauhan dan dilihat oleh Matsuyama tadi.
"Mengapa calon pengantinku tak juga datang ke rumah ini ayah??" kata seorang gadis cantik tetapi berkulit agak pucat sedang berbicara kepada kedua orang tuanya.
"Apakah badai ini perlu ayah tambah agar angin membawanya terbang kesini??" tanya lelaki setengah baya yang dipanggil ayah itu."
"Jangan ayah...iya kalau lelaki tampan itu terbang kemari tertiup angin, kalau terbang kelaut?? siapa yang akan menolongnya? tanya wanita cantik itu.
Seorang wanita juga setengah baya masuk menuju ruang makan??
"Belum datang jugakah orang yang yang kita tunggu?? di luar hujan badai begini!!" tanya wanita yang bisa diperkirakan adalah ibu dari gadis cantik itu.
"Ayah...mana calon pengantin susie!!" rengeknya lagi pada ayah dan ibunya.
"Coba ayah cek keluar, siapa tau calon menantu kita itu tersesat tidak tau jalan kemari!!" kata istrinya.
"Aku??? yang benar saja...ayah anti kena air hujan." Sahut sang ayah membuat putrinya semakin cemberut dan merengek."
"Ayah tidak mau bulu-bulu di tubuh ayah basah kena hujan...bisa jamuran nanti ayah!!"
Siapa mereka sebenarnya??
Laki-laki setengah baya yang mengenakan baju besar berwarna putih itu adalah Kazuma...
Dan wanita setengah baya yang adalah istrinya serta Susie putri tunggalnya. Mereka bertiga adalah sepasang siluman rubah.
Sudah beratus-ratus tahun lamanya kelompok siluman rubah yang dipimpin oleh Kazuma bersiteru dengan siluman kera yang dipimpin oleh Kebebitak.
Tetapi para siluman rubah itu tidak pernah mencelakai manusia sejauh ini, mereka hidup dengan kelompok mereka sendiri sampai suatu waktu terdengar kabar bahwa ratu pemimpin para siluman telah tewas di tangan seorang pemuda yang bernama Matsuyama dan dimulailah sejumlah kekacauan terjadi.
Cincin pusaka yang dimiliki oleh mereka di dunia bawah tanah telah berhasil direbut oleh seseorang yang disebut Ketua.
Para siluman saling bentrok satu dengan yang lain untuk saling berebut kekuasaan setelah ratu mereka tewas.
Mereka yang tahu bahwa Matsuyamalah yang menewaskan ratu mereka saling berlomba-lomba untuk mendapatkan pemuda tampan itu.
Ada yang ingin membunuhnya dan ada yang ingin mengambilnya menjadi menantu dan suami mereka.
Termasuk kelompok siluman rubah yang dipimpin oleh Kazuma. Dia ingin putrinya Susie menikah dengan manusia hebat itu agar kelak mempunyai keturunan yang hebat pula di kemudian hari.
Matsuyama yang sebenarnya mempunyai sifat yang sama seperti istrinya Almira, cuek dan tidak mau tau...tentu saja tidak tau jika dia diperebutkan oleh para siluman itu.
"Susie ngga mau tau...pokoknya ayah harus jemput pangeran berkuda putih Susie, bawa kemari dan Susie mau menikah dengannya!!" kata putri manja Kazuma itu.
"Iya...iya...!!" gerutu sang ayah.
Bakalan berhari-hari lagi nih buluku menjadi lembab dan bau...syukur-syukur ngga jamuran...aku benci hujan di tempat ini bisa-bisa membuatku menjadi rubah kudisan.
Dengan hati-hati Kazuma membuka payung kertasnya berjalan menyusuri hujan.
Dia sampai di bawah pohon besar tempat Matsuyama berteduh tadi. Sesaat hidungnya mengendus mencium sesuatu.
Tadi memang ada manusia berteduh di sini, tetapi di mana lagi dia?? masa dia pergi di bawah guyuran hujan lebat begini?" gumamnya.
Kembali hidung Kazuma mengendus-endus lalu dia berjalan mengelilingi pohon besar itu tanpa dia tahu bahwa sebenarnya Matsuyama dan Snow kudanya sedang berdiri tak jauh darinya.
Netra Matsuyama terbelalak saat Kazuma mengendus-endus dekat sekali dengan wajahnya.
Bagaimanakah Matsuyama bisa menghilangkan diri seperti itu??
__ADS_1
****Flashback on****
Matsuyama yakin ada sebuah rumah di kejauhan yang lampunya nampak berkelap kelip itu.
Matsuyama sudah hampir menunggang Snow kudanya menuju kesana tetapi dia melihat dan merasakan bahwa Snow kudanya teramat gelisah.
Naluri hewan itu tak bisa dibohongi bahwa jika berjalan terus maka akan ada bahaya menghadangnya.
Terpaksa Matsuyama membatalkan niatnya untuk terus dan berinisiatif untuk tetap beristirahat di bawah pohon yang rindang itu saja.
Matsuyama mengeluarkan cincin yang pasangannya dicuri oleh kelompok ketua itu.
"Aku tidak tau apa kegunaanmu tapi kumohon saat ini hilangkanlah aku dan kuda putihku dari pandangan semua mahluk apapun."
Setelahnya baru Matsuyama memakai cincin sakti itu dan tetap tegak berdiri di samping Snow karena tidak tau harus sembunyi kemana lagi.
Benar saja dugaan Matsuyama dari kejauhan nampak seseorang berpayung-payung menuju kearahnya.
Mata tajam Matsuyama tak bisa di bohongi. Bagaimanapun rapinya orang itu berpakaian tetap saja mata tajam Matsuyama melihat jika orang itu memiliki ekor yang sangat lebat.
Semakin mendekat Matsuyama semakin khawatir dan menahan napasnya.
Diusapnya tengkuk kuda itu untuk menenangkan supaya tidak mengeluarkan suara yang bisa mengakibat tahunya sosok itu pada keberadaan Matsuyama dan kudanya.
Seolah mengerti maka kuda itupun diam di tempatnya berdiri.
****Flashback off
Wajah Kazuma begitu dekatnya dengan Matsuyama dan hidung mereka hampir bertubrukan.
Sampai siluman itu melewati mereka dan berusaha mencari di sekitaran pohon tempat mereka berteduh.
Matsuyama tetap menahan napas dan mengelus-elus kuda tunggangannya itu agar tenang dan tidak bersuara.
"Kemana manusia tampan yang akan aku jadikan calon menantuku itu menghilangnya?? raib bagai hilang ditelan bumi.
Tak lama kemudian pemimpin kelompok siluman rubah itu kembali pulang kerumah yang lampunya nampak berkelap kelip itu menerobos hujan.
Di depan pintu Kazuma disambut oleh istri dan Susie putrinya.
"Mana pemuda tampan itu ayah!!" Susie celingukan mencari-cari kesekitar ayahnya.
"Tidak ada satu pemuda tampanpun, Susie...jangan kata pemuda tampan, bayangannya aja ngga ada!!" kata Kazuma.
"Apa peramal itu salah meramalkan ya??" tanya istrinya.
"Ya mana aku tau...yang mendengar ramalan itukan kalian berdua sementara aku tidak tau menahu tentang ramalan itu...tetapi aku yang disuruh kesana kemari mencari manusia itu."
Kazuma terus mengeluarkan ocehan kekesalannya pada putri dan istrinya itu.
"Ya memang harus ayah yang mencari, masa ibu atau Susie yang mencari pemuda itu??" kata Susi sambil cemberut.
"Terus dia kemana dong, yah??" tanya Susie kesal.
"Ya mungkin dia kabur saat tau mau menikah denganmu!!" kata Kazuma tertawa mengekeh.
"Tau dari mana??" tanya istŕrinya.
"istriku yang telat mikir dan putriku yang cengeng...jangan kata hanya untuk mengetahui pernikahannya sang ratu kegelapan saja bisa dia musnahkan!!" kata Kazuma.
"Lagi pula menurut berita yang ayah dengar, dia telah mempersunting putri dari ratu Nilakandi dan telah menikah...kini mereka tengah menunggu kelahiran bayi mereka."
"Lha ini kamu tiba-tiba mau main nyosor aja sama suami orang!!" kata Kazuma.
"Syukurlah aku selamat..." kata Matsuyama pelan.
"Terima kasih kamu telah membantuku..." kata Matsuyama sambil mengusap cincin itu perlahan.
Dia melihat sekitar. Hari mulai gelap walaupun hujan yang tersisa hanya tinggal gerimis, tetap saja jalanan setapak itu sangat berbahaya untuk dilewati.
"Sebaiknya untuk berjaga-jaga cincin ini tetap aku kenakan saja!!"gumam Matsuyama.
Snow berbaring di bawah pohon di tanah rata. Lalu Matsuyama berbaring sambil bersender pada kuda putihnya.
"Sebaiknya besok saja aku melanjutkan perjalanan mencari kak Hiro dan kak Sima!!" gumamnya lalu perlahan memejamkan mata.
*
*
***Bersambung...
Wah...ternyata Matsuyama tenar di antara manusia dan juga para siluman ya!!! selamat Matsuyama😁😁
Dukungannya selalu ya reader...terima kasih🙏🙏
__ADS_1