
"Sekarang kamu beristirahatlah...kakek akan menjagamu dan juga putrimu."
"Lalu di mana Revita dan Xander, kek?? Mira tidak melihat mereka berdua!!" kata Almira.
"Xander dan siapa tadi namanya balita cantik itu!!" tanya kakek Dahlan.
"Revita kek...namanya Revita!!" kata Almira lagi pada kakeknya sambil tersenyum.
"Mereka berdua tadi dengan ayah Kelvin, Redo sama Alia...Rafa sama bang Ali tadi pulang duluan!!" kata Mira.
"Bagaimana kabar ayah dan ibumu di sana Almira??" tanya kakek Dahlan.
"Ibu dan ayah baik-baik saja, kek!!" kata Almira.
"Lalu apakah Matsuyama berlaku baik denganmu, nak?? kakek trauma saat Xavier meninggalkanmu hanya demi wanita lain." Kata kakek Dahlan.
"Bang Matsuya selalu baik pada Mira, kek...bahkan pada Xander dan Rafa yang bukan putranya pun dia sangat baik!!" kata Almira.
"Syukurlah...kakek tenang mendengarnya!! kakek sampai sakit karena kepikiran kamu terus nak!!" kakek Dahlan membelai rambut Almira dengan penuh kasih sayang.
"Kakek tidak ikhlas rasanya jika ada seseorang yang menyakitimu, Mira!!" kata kakek Dahlan lagi.
"Kakek sangat sayang padamu, nak...rasanya kakek tidak ikhlas untuk pergi!! " kata kakek Dahlan dalam hati.
"Kakek sebaiknya istirahat...kakek kan sedang sakit!!" kata Almira sambil menggenggam tangan kakek Dahlan.
Tak lama Xavier muncul di depan pintu.
"Kek...dicari sama ayah!!" kata Xavier.
Kakek Dahlan berdiri tapi matanya tak pernah lepas memandang Almira dan bayinya, dia seperti berat meninggalkan cucunya itu.
"Kakek keluar dulu ya Mira...Xavier, jaga adikmu baik-baik...jika sampai terjadi sesuatu pada adikmu maka akan kakek potong kepalamu atas bawah."
Xavier langsung terdiam dan mengkeret mendengar ucapan kakek Dahlan yang bar-bar itu.
"Iya kek, pasti akan Xavier jaga!!' katanya lagi.
Malam itu kakek Kojiro dan kakek Dahlan pulang kerumah pantai dan Almira dijaga oleh Xavier. Rombongan Alia beserta Revita dan Xander dibawa pulang kemansion.
"Nak...kamu istirahat yang tenang malam ini ya, kedua anak kembarmu ayah bawa pulang...Alia juga ikut pulang karena besok dia ada ujian pagi hari, Redo yang akan mengantar kami...dan kamu Xavier, jaga Almira dan bayinya baik-baik ya...!!" kata tuan Kelvin berpesan sebelum pergi.
"Kamu tidurlah...abang akan berjaga!!" kata Xavier.
Tak lama...
Oek...oek...oek...
Bayi cantik yang diberi nama Miranda itu menangis keras.
Dengan susah payah Almira dibantu oleh Xavier untuk duduk dan memangku serta menyusui Miranda.
Bayi itu mengisap rakus ASI dari mommynya.
Xavier menelan Salivanya kasar berusaha membuang jauh-jauh sesuatu yang telah menegang di bawah sana.
"Dek...apakah Xander dan Revita dulu begini saat masih bayi??" tanya Xavier.
"Revita tidak sempat Almira susui, bang...karena Revita keburu diambil oleh ibunda ratu Nilakandi...hanya Xander yang begini bang!!" kata Almira.
"Lalu siapa yang bangun di tengah malam begini jika Xander rewel??" kata Xavier.
"Xander itu bayi yang pintar bang, dia tidak pernah rewel, mungkin karena dia tau kalau dia tidak punya ayah!!" kata Mira yang spontan membuat Xavier seperti tertampar wajahnya.
"Apa maksudmu Xander tidak punya ayah Almira??" kata Xavier pelan.
"Jadi kamu anggap abang ini bukan ayah dari Revita dan Xander, ya dek??" tanya Xavier lagi.
"Kan memang abang tak pernah peduli pada Almira, iya kan bang?? abang hanya sibuk memperhatikan selingkuhan abang yang masih fresh dan segar bukan seperti Almira yang sudah membawa tambur kemana-mana...apa menariknya ibu-ibu hamil yang sudah menjadi bulat dan gendut?? abangkan tipe suami yang seperti pepatah habis manis sepah dibuang seperti sampah??" kata Almira bicara lancar seperti biasanya tanpa filter sama sekali.
Plak....
Seperti ditampar oleh terompah kayu wajah Xavier langsung pucat pasi sesaat lalu menjadi merah seperti dipanggang di bara api.
"Dek!!"
Hanya kata itu yang bisa dia ucapkan dari mulutnya. Seluruh persediaan kata-katanya sudah dibabat habis oleh Almira.
"Tapi sudahlah bang...Xander termasuk bayi yang beruntung, karena sebelum lahir dia sudah menemukan daddy yang baru yang menyayangi mulai dari Xander dalam kandungan sampai dia besar seperti ini." Almira menarik napas menjeda kata-katanya sebentar.
Tanpa mempedulikan perasaan Xavier, Almira menyusui Miranda hingga bayi itu tertidur kembali.
Almira meletakan bayi Miranda di sampingnya lalu berusaha untuk berbaring kembali.
Melihat sang mantan agak kesulitan, Xavier berinisiatif untuk membantunya.
Almira tampak meringis karena bekas operasi tadi sudah menimbulkan efeknya.
"Sakit dek??" kata Xavier merasa khawatir pada Almira.
"Iya bang...!!" kata Almira pelan.
"Almira pengen ke toilet bang...!!" kata Almira.
"Abang temani ya...tapi tunggu sebentar!!" kata Xavier lalu dia menuju boks bayi tempat Miranda tidur.
Sesaat mulut Xavier berkomat kamit lalu mengusapkan keseluruh tubuh Miranda kemudian dia mengantarkan Almira ke toilet.
"Miranda gimana bang??" tanya Almira saat Xavier membantu mengangkat infusan dan memapahnya ke kamar mandi.
"Ngga usah khawatir...Miranda akan aman!!" kata Xavier.
Benar dugaan Xavier. Sepeninggal mereka ada sesosok bayangan yang sejak tadi berdiri di dekat pohon samping jendela perlahan mendekat.
Sosok itu tampak melayang menembus dinding menuju ke tempat boks bayi Miranda.
Sosok berbaju putih berwajah pucat dengan sepuluh kuku jari tanganya yang runcing itu mendekat, saat tangannya yang berkuku runcing itu hendak menyibak penutup boks tiba-tiba cahaya putih menyelimuti boks kecil itu.
__ADS_1
Tidak kehilangan akal dia mengacungkan telunjuknya bermaksud untuk menghisap darah bayi Miranda.
Tetapi belum sempat niatnya terlaksana tiba-tiba...
"Mau kamu apa kan putriku kunti kampret??" tegur Almira membuat mahluk itu terkejut bukan main.
Dilihatnya Almira berdiri tak jauh darinya didampingi oleh Xavier.
Hihihihi....
Mahluk itu tertawa melengking tinggi dan menyeramkan.
Hihihihihi...uhuk...uhuk...
"Mampus!!" kata Almira saat dia lihat Xavier melempar dua butir telur kedalam mulut mahluk itu.
Matanya mendelik pada Xavier dan Almira lalu kembali meneruskan niatnya melukai bayi Miranda.
Begitu kukunya menyentuh boks sontak kuku itu meleleh seperti terkena cairan timah panas membuat mahluk itu menjerit.
"Pergi kamu...itu baru kuku jari tanganmu yang kubuat meleleh belum lagi seluruh tubuhmu, mau??" gertak Xavier.
"Jangan kamu berani-berani mengganggu ketenangan bayi kecil kami!!" geram Xavier.
"Terima kasih ya bang, telah melindungi putriku!!" kata Almira.
"Di saat aku tak di sampingmu untuk menjaga Xander, Matsuyama menjaga putra kita tanpa mempedulikan itu putranya atau bukan, sekarang giliranku untuk melindungi putrinya di saat dia tak ada di sini di sampingmu!!" kata Xavier.
"Abang menyayangi Miranda sama seperti abang menyayangi Xander dan Revita, Mira??" lalu Xavier membantu Mira duduk di tepi pembaringan.
Dipandanginya wajah ibu yang baru saja melahirkan itu.
Walaupun wajah Almira masih nampak pucat tapi sama sekali tak mengurangi kecantikan parasnya.
Xavier tersenyum padanya membuat wajah Almira bersemu merah.
"Sekarang kamu tidurlah...abang yang akan menjaga kalian!!" kata Xavier.
****
"Tosiro, kamu kenapa?? dadamu sakit lagi??" tanya kakek Kojiro merasa khawatir melihat kondisi sepupunya.
Malam ini mereka berdua balik kerumah pantai mengendarai sepeda listrik milik Almira.
"Iya, Kojiro dadaku terasa sedikit sesak!!" kata kakek Dahlan.
"Aku ingin berbaring Kojiro!!" kata kakek Dahlan lagi.
"Tahan sebentar lagi ya!! sebentar lagi kita sampai rumah...nanti kubuatkan teh jahe hangat untukmu, Tosiro!!" kata kakek Kojiro.
Tak lama mereka tiba di rumah pantai.
Segera kakek Kojiro membuatkan makanan hangat dan teh jahe untuk sepupunya itu.
Tosiro memakannya sedikit lalu meminumnya setelah itu dia pamit masuk kedalam kamarnya untuk beristirahat.
Kakek Dahlan merasakan dadanya seperti dihimpit batu sebesar gunung, napasnya nampak tersengal-sengal sesaat lalu tak lama tubuhnya mengejang dan tegang seperti tengah merasakan sakit yang teramat sangat.
"Lho...itukan aku yang tengah terbaring di sana!!" kata kakek Dahlan.
"Kok aku bisa keluar dari tubuhku, ya??" kata kakek Dahlan lagi.
"Aku mau menjenguk Almira, ah...aku takut terjadi sesuatu pada cucuku...aku tak bisa mengandalkan Xavier brengsek itu untuk menjaga Almira." Kata kakek Dahlan.
Almira membuka matanya saat terasa ada sepasang tangan membelai rambutnya.
"Kakek?? kapan kakek datang?? Kakek sendirian saja??' tanya Almira memberondong kakeknya dengan pertanyaan.
"Iya kakek sendirian saja...karena kakek tidak begitu percaya pada Xavier, lihat tuh dia malah molor!!" kata kakek Dahlan.
Almira melihat Xavier tertidur sambil duduk di kursi.
"Abang..." kata Almira sambil geleng kepala.
Lalu dia perlahan bangun dibantu oleh kakek Dahlan.
"Mira mau ke toilet dulu kek, titip Miranda ya, kek!!" kata Almira yang hanya ditanggapi anggukan oleh kakek Dahlan.
Tak lama Almira keluar dari kamar mandi saat di dengarnya suara ribut orang menelpon di luar.
Dia melihat Xavier sedang serius menelpon dengan wajah yang tegang.
Setelah selesai menelpon Xavier terdiam sambil menatap Mira.
"Bang, kakek Dahlan tadi mana??" tanya Almira sambil beranjak melihat bayinya di dalam.boks.
"Mira...duduklah dulu di sini di dekat abang!!" kata Xavier sambil menepuk Sofa di sebelahnya.
Karena Miranda masih tertidur pulas akhirnya Almira kembali lalu duduk di sebelah Xavier yang masih menatapnya dengan tatapan yang sukar diartikan.
"Kamu tadi bilang bahwa kakek Dahlan tadi kemari??" tanya Xavier pelan.
"Iya...bahkan tadi Almira sempat titip Miranda pada kakek untuk dijaga karena abang Mira lihat tertidur sangat pulas." Kata Almira.
"Sekarang kakeknya mana, bang!!" tanya Almira.
Xavier terdiam mendengar perkataan Almira.
"Tadi ayah Kojiro menelpon abang, Mira!!"
"Tapi kamu jangan kaget mendengar berita yang akan abang sampaikan ini, ya!!" kata Xavier pelan.
"Ayah bilang kalau kakek Dahlan..." Xavier tidak melanjutkan ucapannya.
"Ayah bilang apa, bang??" tanya Almira penasaran tetapi sekaligus seperti merasa abangnya akan menyampaikan sesuatu yang penting tentang kakeknya.
"Ayah bilang kalau kakek Dahlan, sudah...sudah meninggal dunia!!" kata Xavier.
__ADS_1
JEDARRR...
Almira yang tadinya mau berdiri dari kursi jadi terduduk kembali.
Seperti mendengar suara halilintar menyambar di depan hidungnya saat dia mendengar penuturan Xavier.
"Apa bang?? jangan bercanda kelewatan bang, kamu tau watak kakek kan?? nanti abang dihadiahi telur mengeram sama kakek, disuruhnya mengeram sampai telurnya menetas nanti!!" kata Almira yang masih menganggap Xavier bercanda.
"Tatap abang Mira!! apa abang terlihat bercanda?" tanya Xavier lagi.
"Tidak...tidak mungkin bang...barusan tadi Almira titip Miranda sama kakek untuk dijaga sebentar sementara Almira ketoilet dan abang sedang tertidur pulas!!" kata Almira tetap mempertahankan Alibinya.
"Ayah Kojiro tidak mungkin bercanda kalau soal nyawa, sayang!!" kata Xavier saat melihat mata Almira sudah berkaca-kaca.
"Tidak mungkin bang...hikhikhik...tadi itu benar-benar kakek Mira, bang...bahkan kakek sempat membelai rambut Mira dan sempat mengatakan abang brengsek karena abang tertidur di kursi saat menjaga Mira!!" tangis Mira mulai terisak.
"Kalau kamu pikir abang bohong, akan abang telepon ayah ya...biar kamu tidak berpikir bahwa abang membohongimu!!" kata Xavier dengan lembut sambil memeluk Almira.
Xavier dengan tangannya yang masih bebas lalu menelpon ayahnya sementara tangan satunya merangkul Almira dan meletakan di dada bidangnya.
📱"Ayah...apakah yang ayah katakan tadi tentang kakek Dahlan benar??"
Xavier sengaja menyalakan loudspeakernya agar Almira mendengar percakapan mereka.
📱"Mira...yang sabar ya nak...ini para tetangga jauh sudah pada berdatangan...juga ada ayahmu tuan Kelvin dan tuan Aliandhara serta Rafa di sini!!"
📱"ayah tidak tau kapan persisnya kakekmu meninggal karena tadi malam kakekmu setelah makan dan minum lalu pamit untuk tidur."
📱"Memang saat kami di perjalanan dari rumah sakit ke rumah pantai, kakekmu memang seperti menahan sakit di wajahnya...."
BRAKKK...
Belum sempat kakek Kojiro menyelesaikan ucapannya, ponsel di tangan Almira sudah terlepas dari tangannya dan Almira sudah terkulai pingsan dalam pelukan Xavier.
"Mira...Mira..." teriak Xavier dengan panik.
📱"Ada apa Xavier?? apa yabg terjadi dengan Almira??"
📱"Yah, teleponnya Xavier tutup dulu ya...Almira jatuh pingsan, yah!!"
📱"Ya sudah...kamu urus dahulu adikmu itu, ayah juga akan mengurus semuanya di sini!!"
Lalu suara telepon terputus. Xavier segera menekan bel memanggil perawat.
Almira segera dibaringkan di bed nya kembali.
"Ibunya kenapa bisa pingsan pak??" tanya dokter yang menangani Almira.
"Syok dokter...dia mendengar kabar bahwa kakeknya telah meninggal dunia." kata Xavier.
"Innalillahi Wa Innalillahi Rojiun!! yang sabar ya pak...bu..." kata dokter yang memeriksa Almira.
"Iya, terima kasih dokter!!" kata Xavier.
Xavier menatap Almira dengan wajah prihatin.
"Kasihan kamu, dek!! semoga akan datang sebuah keajaiban yang bisa membuat kita bersatu kembali, abang akan melindungimu dan anak-anak kita dengan segenap jiwa dan raga abang!!" lirih Xavier sambil mengecup kening Almira.
"Semoga penyesalan abang di dengar oleh yang Maha Kuasa, dek!!" bisik Xavier ketelinga Almira.
Xavier membiarkan Almira dan Miranda beristirahat karena siang nanti Almira dan bayinya sudah bisa diperbolehkan untuk pulang kerumah.
Xavier di samping dinding kamar rawat inap Almira.
Dia segera menelpon ayah dan ibunya di peternakan untuk memberitahukan tentang kabar duka ini.
📱"Halo ayah...ibu...Xavier mau memberi dua kabar sekaligus untuk kalian berdua,...satu kabar duka dan yang satu lagi kabar bahagia."
📱"Kabar sukanya dululah Gio..."
Loudspeaker sengaja di aktifkan oleh Serafin agar terdengar oleh suaminya.
📱"Baiklah bu, kabar bahagianya Almira sudah melahirkan walaupun belum cukup bulannya bu!!"
📱"Kok bisa?? apakah dia di sana terlalu lelah Xavier Giovanno??"
📱"Bukan bu, ada insiden yang menyebabkan Mira pendarahan sampai harus di operasi.
📱"Insiden apa, Gio?"
Giandrapun terlihat panik mendengar Xavier berbicara di telepon dengan Serafin ibunya.
📱"Sullivan tiba-tiba muncul saat kami sedang berbelanja dan mendorong Almira tiba-tiba dari belakang, bu!!"
📱"Almira dijambak dan ditarik sehingga Almira jatuh terseret di lantai dan belakangnya menghantam lantai dengan keras sehingga menyebabkan Almira pendarahan hebat dan dokter mengharuskan dia melakukan operasi untuk menyelamatkan dia dan bayinya.
📱"Kurang ajar sekali mantan istrimu itu, Xavier Giovanno!!😡😡 jika suatu hari ibu bisa bertemu dengan dia, akan ibu beri dia pelajaran yang tak akan.pernah dia lupakan seumur hidupnya..."
📱"ini semua terjadi juga karena ulahmu, Giovanno...seandainya kamu tidak kepentok dengan cinta masa lalumu itu dan tidak terbawa sama perasaanmu dan seandainya kamu jadi seorang laki-laki bisa tegas dalam mengambil keputusan, tentu semua tidak akan jadi seperti ini."
📱"Sebenarnya ibu dan ayah sangat kecewa padamu, Giovanno...seandainya kamu tidak membawa si Sullivan itu masuk dalam kehidupanmu tentu rumah tanggamu dan Almira masih baik-baik saja!!"
Serafin ceramah panjang lebar karena kesal pada Xavier mendengar apa yang telah menimpa pada putri mereka.
📱"Lalu berita buruknya apa Gio??
Serafin tiba-tiba jadi tak enak hati dan perasaannya begitu pula denga Giandra.
*
*
***Bersambung...
Bagaimana reaksi Serafin dan Giandra jika mendengar kabar buruk dari Xavier??
Ikuti terus kelanjutannya, jangan lupa like dan komennya, vote dan favoritnya juga rate nya🙏🙏🙏
__ADS_1