
"Kan...kan....baru aja patah hati, pulang-pulang kerumah mulut tengilnya sudah kurang ajar lagi." Kakek Dahlan melempar sandal yang dipakainya tepat mendarat cantik di jidatnya Hiro.
"Kakek dendam sama aku ya...kira-kira kalau mau lempar dong kek, sakit nih!!" Hiro mengusap jidat putih mulusnya yang kemerahan sambil meringis.
Mira mendekati Hiro. Dan memeriksa jidatnya.
"Parah nih kakek, jidat semulus jalan tol gini mau dibuat berlubang." Lalu Mira mengusap dengan lembut sambil sesekali meniupnya.
Hiro berdiri kaku seperti patung batu, bernapas pun dia tahan. Matanya melotot pada wajah Mira yang sangat dekat di depan matanya.
Karena merasa ditatap oleh Hiro, Almira balik menatapnya.
"Kenapa loe mangap-mangap seperti ikan louhan kehabisan air, perlu napas buatan?"
Ekspresi pertanyaan Mira itu biasa saja tetapi sangat luar biasa buat Hiro yang memang tak pernah dekat dengan wanita kecuali saudari kembarnya, Sima!!
Tubuh tingginya sampai menggigil. Keringat dingin keluar membanjiri dahinya.
"Aduh...kok aku serasa mati kutu gini sih? Ayo dong hati jangan buat aku malu, please!!" Batin Hiro.
"Please....jangan bikin aku malu dong!!" Almira mengejeknya lalu dengan sengaja dikecupnya pipi Hiro.
"Itu sebagai ungkapan rasa terima kasihku karena kamu sudah menemaniku beberapa hari ini, dan menggendongku dari goa kemari, dan terima kasih juga sudah mengatakan bahwa aku gendut." Lalu dia masuk kedalam rumah sambil tertawa.
Hiro lupa bahwa Almira mempunyai kemampuan membaca apa yang dipikirkannya.
Setelah Mira masuk, kakek Dahlan mendekati Hiro.
"Kamu melakukan apa dengan Mira di dalam goa? Kamu tidak mengobok-obok Mira kan?" Selidik kakek Dahlan.
"Mengobok-obok gimana maksudnya, kek?" Hiro malah bingung.
"Kamu berduaan di dalam goa ngga bikin dedek bayikan? Secara laki-laki dan perempuan bersama yang ketiganya itu pasti setan." Kata kakek Dahlan.
"Berarti yang kakek sebut setan itu si Kadir dong...karena pihak ketiganya itu ya dia, keliaran kemana-mana di dalam goa nangkepin kodok sama tikus."
"Anak pungut itukan ngga ngerti apa-apa...bisa aja dia keliaran kemana-mana maka tangan kalian juga keliaran merem*as ini dan itu."
"Ih...kurang ajarnya mulut kakek ini, ngga pernah makan cabe sekebon kah?" Tanya Hiro dengan wajah memerah.
__ADS_1
"Kakek memang belum pernah makan cabe sekebon tapi makan cabe sekampung sudah." Jawab Mira yang tiba-tiba muncul dari dalam kamar.
"Kok kalian marah sih? Kan kakek cuma bertanya aja, siapa tau aja kakek bisa punya cucu lagi." Katanya cengengesan.
"Cucu...cicit kali...ingat umur kek!! Jawab Mira dan Hiro kompak.
"Cie cie cie...kompak bener jawabnya, sepertinya sudah sehati nih!!" Kakek Dahlan terus menggoda mereka.
Kalau Mira memang sudah terbiasa dengan candaan kakeknya yang sering kelewat batas, lain halnya dengan Hiro. Mukanya sudah merah padam menahan malu.
"Sudah...ngga usah berakting malu gitu nanti malah malu-maluin...kita ke dapur aja yuk masak!!" Mira menarik tangan Hiro.
"Memang kamu bisa masak?" Tanya Hiro lagi sambil mengikuti Mira kedapur.
"Ngga...maksudku kamu yang masak, aku yang nunggu tinggal makan, simpelkan? Ayo...gibah terus, kalau ada perlombaan gibah kudaftarkan kamu dan kakek Dahlan sebagai pesertanya." cg Jawab Mira.
Hiro hanya geleng-geleng kepala sambil mengikuti langkah Mira kedapur.
Benar saja, Hiro berkutat dengan sayuran dan ikan untuk dimasak...sementara Mira malah melamun memandangnya.
Dia teringat semua ocehan Xavier padanya kala itu...
Lalu seperti biasa dia mengambilkan piring berisi nasi dan lauk pauknya. Duduk di depan Mira dan menyuapinya. Setelah memastikan perut kekasihnya kenyang baru dia sendiri mau makan!!
"Belajarlah memasak, bulan depan saya akan melamarmu!! Bersifatlah lebih feminim jangan urakan terus...duduk yang sopan, jangan kaki diangkat kayak di warung kopi, jangan suka berantem lagi."
Tiba-tiba Hiro yang secara tak sengaja memandang wajah Almira melihat gadis jelita itu menitikan air mata.
"*Dia menangis dalam diam, mungkin dia teringat semua kenangan yang pernah dilaluinya di dapur ini berdua dengan Xavier*."
Bisik hati Hiro dengan perasaan iba.
Dibalik sifat cerianya rupanya dia masih menyimpan luka hatinya.
"Aku ingin menjadi orang yang mampu menjadi dokter untuk mengobati luka hatimu, Almira!! Bukalah pintu hatimu untukku, belajarlah untuk mencintaiku, mungkin cintamu padaku tak akan sebesar cintamu pada Xavier, tapi aku akan tetap menerimanya." Bisik Hiro perlahan.
"Sudah jangan menangis terus, sini aku suapi." Hiro menggeser kursi mendekati Almira.
"Duduk menghadap sini dong, nanti masuk ketelinga kalau miring gitu." Hiro ingin memperlakukan dan memanjakan Almira sepersis mungkin seperti yang dulu pernah dilakukan Xavier padanya.
__ADS_1
Kakek Dahlan dari kejauhan menatap iba pada cucunya itu.
"Kasihan kamu nak, Xavier mampu merubahmu menjadi lebih baik, dia mampu mengontrol dirimu yang urakan...kakek tau kalian saling mencintai satu dengan yang lain tapi rasa cinta kalian itu terlarang." Ada rasa tak ikhlas di hatinya melihat sang cucu menderita seperti sekarang ini.
*
*
Di mansion megah kediaman keluarga Anderson...
"Daddy, mengapa Xavier pergi ke Jepang lagi bersama paman Kojiro? Kok perginya dadakan, kenapa ngga pamit sama Xavana?" Xavana tampak kesal karena ditinggal lagi oleh adiknya itu.
"Ada masalah yang harus Xavier selesaikan, Xavana!! Daddypun belum diberi tahu oleh pamanmu, ada masalah apa itu!!" Jawab tuan Anderson.
"Lalu kapan Xavier akan balik kemari lagi, yah? Dia ngga akan seterusnya tinggal di sana kan?" Xavana masih kurang puas pada jawaban ayahnya.
"Yah, semoga masalah adikmu itu cepat selesai, Xavana!!"
"Yah, beberapa hari yang lalu Xavana pernah berpapasan dengan mobil Xavier...Xavana melihat di samping Xavier duduk seorang bidadari." Xavana mengingat saat dia berpapasan dengan Xavier tiga hari yang lalu.
"Hah??? Memang Xavier itu Jaka Tingkir yang mengambil selendang Purbasari?" Tanya Anderson.
"Ngawurnya daddy ini...bukan Jaka Tingkir tapi Jaka Tarub...dan bukan Purbasari tapi Nawang Wulan!!! Huhhhh asal sebut aja daddy ini.
"Ya mana daddy tau, kan daddy ngga ada di sana waktu selendangnya dicuri, daddy kan di rumah...gimana sih kamu ini!!" Tuan Anderson ngga mau kalah debat sama putranya walaupun salah harus tetap ngotot agar kelihatan benar.
"Tau ah...terserah daddy aja!! Tapi benar gadis muda yang bersama Xavier itu cantik sekali, daddy!!" Xavana terbayang saat dia melihat Almira pertama kalinya.
"Terus jika Xavier kembali ke Jepang, bagaimana dengan gadis itu?" Xavana tampak serius berpikir sambil mengetuk-ngetuk dagu dengan jarinya.
*
*
***Bersambung...
Hayo Xavana...jangan bilang kamu jatuh cinta pada Almira saat pertama kamu melihatnya...😊😊
Jangan lupa tinggalkan jejak ya guys...agar author tetap semangat berkaryanya, oke!!!😊😊🙏🙏
__ADS_1