Mr.Playboy Vs Miss.Dingin

Mr.Playboy Vs Miss.Dingin
Bab 181 Firasat Bara Seta


__ADS_3

Sementara Rini yang masih kesal dan marah pada Matsuyama memilih untuk diam saja.


Rana pun sering mencuri pandang pada wajah Matsuyama. Dalam hatinya meringis sedih.


"Dia manusia...aku hanya siluman!! Dia sangat tampan sementara wajahku hanya pas-pasan!!" mendadak Rana merasa rendah diri.


Tiba-tiba terdengarlah celetukan Revita.


"Babang ganteng...rendah diri itu ngga boleh, lho...tetapi terlalu percaya diri juga ngga bagus, ambil tengah-tengahnya aja!!" kata Revita sambil senyum-senyum menatap Rana.


"Dasar genit..." kata Serafin menoel hidung cucu cantiknya.


"Genit dikit nek ngga apakan?? asal jangan kegenitan." Jawab Revita lagi tak pernah kehabisan jawaban seolah ilmu bersilat lidah yang diturunkan oleh almarhum kakek Dahlan pada Almira dulu, kini juga menurun pada Revita putri kritisnya.


Sementara Rana hanya senyum-senyum mendengar celoteh Revita.


"Sekarang sudah jelaskan Matsuyama??? bukan Rana dan Rini yang membunuh kedua orang tuamu...dan kalian Rana dan Rini juga bukan Matsuyama yang telah membunuh ibu kalian berdua."


"Ada pihak atau golongan yang ingin mengadu domba kalian entah apa maksudnya!!" kata Giandra.


"Tugas kalian sekarang, saling bekerja sama lah satu dengan yang lain untuk memecahkan kasus ini!!" terang Giandra.


Kami?? bekerja sama dengannya?? ogah!!" sahut Rini sebal.


"Kamu pikir aku juga mau bekerja sama dengan siluman pemarah seperti mu?? ogah juga!!" sahut Matsuyama tidak mau kalah.


"Perasaan sejak tadi hanya suara Rini dan Matsuyama saja yang paling keras, mengalahkan suara hujan badai di luar sana." ucap Serafin.


"Rin...jangan begitu, semua yang terjadi hanya kesalah pahaman saja!!" kata Rana pada saudaranya.


"Masalahnya dia ini sangat menyebalkan!!" geram Rini.


"Aku?? menyebalkan?? jika tidak gara-gara kamu memukul dadaku waktu itu aku tidak akan sekarat dan aku tidak akan terjebak dalam perempuan seperti Bonita!!" teriak Matsuyama kesal.


"Kamu tau, rumah tanggaku nyaris hancur dan baru juga baikan sekarang istriku sudah pergi lagi!!" umpat Maysuyama mengeluarkan semua kekesalannya.


"Pergi?? pantas sejak tadi aku ngga melihat kak Mira keluar!!" batin Rana.


"Pergi kemana kak Mira di tengah hujan badai begini??" gumam Rana lagi.


"Mommy pergi ke istana naga, kak Rana!!" seolah tau apa yang sedang dipikirkan Rana, bocah kecil itu memberikan jawabannya.


"Entah kapan mommy akan kembali kami juga tidak tau!!"


"Istana naga?? ngapain kak Mira kesana?? apa hubungan kak Mira dengan ratu goa pualam biru itu??" pikir Rana lagi.


"Mommy Mira adalah putri dari ratu Nilakandi yang rela mengorbankan dirinya untuk menjadi manusia demi cinta sejati tapi semua cinta sejatinya pada ngga tau diri dan ngga tau terima kasih, kebaikan dan pengorbanan mommy malah dibalas dengan perselingkuhan." Kata Revita lancar seperti air yang mengalir.


BUGGHH...


Seperti ditinju dengan pukulan yang tak kelihatan, seketika wajah Matsuyama memucat mendengar ucapan telak dari putri sambungnya itu!!

__ADS_1


"Revita...!!" kata Giandra.


"Pedes kali ucapan Revita ini, bah?? betul-betul menohok sampai ke hati!!" kata Giandra lagi melotot pada cucu pintarnya itu.


"Tapi Revita benar kan kek...Revita sering memergoki mommy menangis sendirian setiap malam, itu karena apa?? karena memperjuangkan keinginan dan cinta yang salah!!" lirik Revita pada wajah pias Matsuyama.


"Cucu nenek pinter banget!!" kata Serafin mengalihkan pembicaraan Revita agar cucunya yang super itu jangan lagi memberikan ceramah akbar di tengah suasana yang semakin tidak kondusif ini.


*********


"Panglima monyet sialan itu sudah mulai menunjukan taringnya tuanku!!" kata Tristan saat masuk ke ruangan di mana di sana berkumpul Redo, Almira dan ratu Nilakandi ibu mereka.


"Apa maksud kamu Tristan??" kata Redo dan Almira bersamaan.


"Pasukan perusuh mereka mulai membuat onar di depan goa pintu masuk ke dalam goa pualam."


"Mereka berusaha untuk merangsak masuk menuju ke dalam goa!!" kata Tristan memberikan laporan yang dia dapat dari pengawalnya yang berjaga di sana.


"Kurang ajar si Kebebitak itu, dia memancing keributan dengan menurunkan para kroconya terlebih dahulu untuk mengelabui mata kita."


"Aku mengenal Kebebitak saat kera licik yang banyak istrinya itu menahan roh kakek Dahlan dan menggunakan tubuh kasarnya." Kata Almira.


"Dia memang licik, menyeramkan dan mata keranjang!!" kata Almira bergidik ngeri.


"Perketat penjagaan di sekitar goa pualam dan telaga yang memasuki wilayah kerajaan kita." Titah ratu Nilakandi.


"Bunda, pada waktu kera beracun Simoet masuk ke wilayah kita lewat mana?? apakah ada alternatif jalan lain selain goa menuju telaga itu??" tanya pangeran Redo.


"Ada...tapi itu jalan teramat rahasia melewati aliran sungai Xin Yue...itu salah jalan rahasia untuk meloloskan diri jika negeri kita terancam bahaya." Kata ratu Nilakandi.


"Kitapun harus memperketat penjagaan di sekitar sana!!" Tristan ikut menambahkan.


"Refanya putriku...Refanya!!" kata ratu Nilakandi.


"Hah?? apa bunda??" kata Almira.


"Kamu dengar ngga sih apa yang kami bicarakan?? kamu melamun ya...!!" kata ratu Nilakandi.


"Atau kamu sedang memikirkan Kebebitak si panglima kera yang tampan itu??" tanya Tristan sambil tersenyum-senyum menggoda Almira.


"Idih...amit-amit...!!" kata Almira mencubit Tristan dengan kesal.


"Ya habis kamu sejak tadi bengong saja kita semua berunding kamu malah bengong ngga karuan!!" kata Tristan lagi.


"Aku hanya teringat pada putra dan putriku.....kapan aku bisa pulamg menemui mereka lagi, ya??" kata Mira resah.


"Semoga masalah di sini cepat selesai nak..." kata ibunya.


*********


"Panglima....bagaimana ini semua bisa ketauan??" sang ketua tampak murka di kursi kebesarannya.

__ADS_1


"Dendam kami belum terwujud dan belum tuntas, tapi mereka nampaknya sudah bersatu untuk menghadapi masalah ini bersama...percuma dong badai fitnah yang disebarkan oleh pengikutmu kalau akhirnya ketauan juga."


"Sabar ketua Ro...kita akan atur ulang lagi rencana ini!!"


"Yang dikatakan oleh wakil ketua Ma itu benar ketua Ro...akupun telah banyak yang kukorbankan termasuk hewan langka kesayangan ayahku, harus mati mengenaskan di sana."


"Ini orang-orangku mulai merusuh di beberapa tempat dan mulai mendekati pintu masuk ke goa pualam yang menuju pintu masuk istana naga biru."


"Aku ingin melihat anak emas itu menderita...agar dia tahu bagaimana rasanya penderitaan saat kami kecil dulu!!" sang ketua yang kepalanya selalu tertutup topi tinggi merasakan seluruh ototnya mengencang menahan kemarahannya.


"Sebenarnya waktu itu aku punya rencana agar anak Sinoe dan si anak emas saling bunuh, eh...ternyata mereka berbaikan!! sialan betul!!" kata ketua Ro.


"Sekarang apa rencanamu, panglima??" tanya wakil ketua Ma.


"Tadinya aku ingin menyerang kerajaan ratu Nilakandi tetapi seperti pasukan kita belum cukup kuat menghadapi mereka yang rata-rata merupakan petarung sejati jadi aku ubah haluan, bagaimana jika kita menyerang negeri bawah tanah yang dipimpin oleh Bara Seta, buat seolah-olah orang-orang dari kerajaan naga biru yang berbuat karena putri Bara Seta telah mengambil suami dari tuan putri mereka...bagaimana?? jeniuskan rencanaku??" tanya Kebebitak.


"Oke...asalkan tidak membahayakan wanitaku saja!!" kata ketua Ro.


"Kamu tenang saja ketua Ro...kupastikan kekasih hatimu itu tidak akan apa-apa!!" kata panglima Kebebitak.


********


"Mengapa perasaanku sudah beberapa hari ini ngga enak terus ya??" gumam Bara Seta sambil memandang keluar jendela kamarnya.


"Aku seperti merasa akan terjadi sesuatu pada negeriku, rakyatku dan keluargaku!!" lirihnya lagi seorang diri.


Lalu Bara Seta melangkah keluar pintu. Putrinya Bonita dan Rangga menantunya sedang duduk bercengkerama di ruang tengah.


Kandungan Bonita sudah terlihat semakin membesar. Rangga dengan ketinggian ilmunya ridak lagi menjadi tukang kebun melainkan menjadi wakil ayah mertuanya.


"Ada apa ayah?? mengapa wajah ayah tampak ditekuk seperti itu??" tanya Bonita pada ayahnya.


"Entahlah Bonita...Rangga...perasaan ayah tidak enak, burung-burung gagak itu terbang hilir mudik di atas kampung kita seperti mencium banyak bau bangkai!!" desis Bara Seta.


Rangga dan Bonita terdiam, sejujurnya pun ibu Rangga membahas hal itu kemarin pada putranya.


Menurut ibunya itu adalah pertanda buruk, di mana akan banyak pertumpahan darah, di mana-mana!!


"Yah, kita berdoa semoga saja tidak akan terjadi apapun pada kerajaan kita ini!!"


"Bonita...Rangga...jika terjadi sesuatu pada ayah dan ibu, kalian pergilah sejauh mungkin, selamatkan diri kalian dan bawa cucu ayah agar kelak dia bisa menjadi penerus keturunan Bara Seta." kata Bara Seta.


"Kok ayah bicaranya seperti itu sih?" tanya Bonita dan Rangga bersamaan.


"Kita waspada kan ngga ada salahnya, Bonita...seandainya tidak terjadi apapun ya, disyukuri!!"


*


*


****Bersambung....

__ADS_1


Apakah yang ditakutkan Bara Seta akan terjadi? lalu bisakah mereka menghadapi para penyerang yang rata-rata berilmu tinggi itu??


Jangan lewatkan selalu kisah Almira ya reader🙏🙏


__ADS_2