
Setelah dirasa cukup. Dengan wajah dan tubuh mereka basah bersimbah dengan keringat, mereka menghentikan kegiatan mereka.
"Ayah rasa cukup dulu, semoga pagar gaib yang kita buat ini mampu menghalau para penyusup itu." Kata Giandra.
"Kamu harus hati-hati mulai
sekarang Matsuya..." kata Serafin .
"Apa mereka ada hubungannya dengan Levia dan Shiera, bu? karena Levia amat terpukul dengan kematian ibunya, mungkin saja dia dendam sama Matsuya apalagi sekarang dia tau Matsuya sudah menikah dengan Almira!!" kata Matsuyama.
"Bisa jadi begitu, oleh karena itu kamu berhati-hatilah...apalagi.ada anak dan istrimu yang harus kamu jaga."
Tepat dugaan Matsuyama dan Giandra. Lewat tengah malam, mahluk berbentuk kelelawar itu datang kembali.
Bruak...
Grrrrgghh...
Koko dan Kiki ramai riuh mengonggong begitu pula suara angsa di samping peternakan.
"Kenapa hewan ternak itu ramai sekali, yah!!" kata Serafin keluar dari kamar. Di ruang tamu Gianndra dan Matsuyama juga bersiap mengecek keluar.
Mereka bertiga keluar bersamaan melihat keadaan di luar rumah.
Lihat yah....ada beberapa bayangan tampak berdiri di luar pagar...mereka tampaknya mencoba masuk tapi tidak bisa, hanya saja anjing dan angsa-angsa itu serta hewan yang lain peka terhadap bahaya sehingga mereka ribut."
"Kau tenangkanlah ternak itu sementara ayah dan ibu akan mengecek berkeliling sekitar pagar peternakan." Kata Giandra.
Giandra dan Serafin mendekati sosok-sosok dalam kegelapan malam itu.
"Pimpinannya yang pakai jubah hitam paling depan itu, yah!!" kata Serafin.
"Tampaknya mereka mau berusaha masuk tetapi tidak bisa yah!!" kata Serafin sambil mengamati kelima sosok itu.
Tiba-tiba....
Beeerrttt...
Kelima sosok itu terbang bersamaan keudara dan...
Wuuuttttt
Serentak mereka mendorong telapak tangan mereka kearah kubah raksasa yang melindungi pertanian Matsuyama!!"
Tanah tampak bergetar hebat saat kekuatan mereka menghantam secara bersamaan.
"Mereka ini siapa sih, mahluk malamkah?? kok wajah mereka sangat menyeramkan begitu?? kakek Dahlan aja kalah seram dengan mereka!!" kata Serafin.
"Ya iya lah memangnya kakek Dahlan setan?? ntar jika ketauan orangnya ngamuk lagi." Kata Giandra.
"Yah, hidup Almira dan Matsuyama ini berat banget ya...!!" kata Serafin.
"Iya!!" kata Giandra.
"Mending banyak uangnya...lha ini banyak musuhnya!!" kata Serafin lagi.
"Lihat yah...mahluk kelelawar yang paling belakang itu!!" seru Serafin.
"Jangan tatap matanya Sera...." seru Giandra cepat sambil melindungi matanya.
"Tapi terlambat, Serafin seperti seseorang yang terkena hipnotis maju mendekat.
"Jangan kesana Sera!!" seru suaminya.
Giandra tidak berani membuka mata tetapi dia tau bahwa Serafin sedang berjalan mendekati mahluk itu.
Di saat keadaan genting begitu, jika Serafin berhasil tersentuh oleh mahluk itu maka seluruh tabir gaib yang menutupi pertanian itu akan terbuka dan para mahluk pengisap darah itu akan masuk kedalam peternakan untuk mengisap darah para ternak bahkan mungkin membunuh dan memakan ternak- ternak itu. Terutama nyawa Serafinpun menjadi taruhannya.
Sebuah tangan kuat mencengkeram bahu Serafin mengagetkannya sekaligus menyadarkannya dan satu tangan yang lain memancarkan cahaya putih keabuan menyerang mata mahluk kelelawar itu.
Terdengar suara decit kesakitan dari mulut kelelawar itu dari sepasang matanya yang kini telah menjadi buta, mengucurkan darah segar.
"Rasakan olehmu!!" seru Matsuyama.
"Aku hanya membutakan matanya bukan mengambil nyawanya jadi jangan kalian berempat serentak melotot kepadaku." Sentak Matsuyama.
"Pergilah kalian bawa teman kalian yang buta itu, jangan sampai sudah buta, menyusahkan pula..."
Dengan mengeluarkan suara bercicit yang ramai, mereka memandang penuh dendam pada Matsuyama.
"Sudahlah pergi sana, jangan bercicit seperti suara anak burung minta makan, kembalilah pada tuanmu, katakan saja bahwa kalian gagal melaksanakan tugas...gitu aja kok repot!!" seru Matsuyama.
"Terima kasih, Matsuyama...!!" kata Serafin begitu sadar bahwa menantunya itu baru saja menyelamatkan nyawanya.
"Sama-sama bu!! lain kali jika bertemu lagi jangan menatap mata mahluk itu."
"Kamu tadi bilang apa Matsuya?? mereka punya pimpinan??" tanya Giandra.
"Iya ayah...ternyata mereka tidak bertindak sendiri ada yang ingin melenyapkan nyawaku dan keluargaku." Kata Matsuyama.
"Nasibmu nak...umurmu baru 22 tahun tapi musuhmu sudah bertebaran seperti jamur di musim hujan!!" kata Serafin sambil menepuk bahu Matsuyama.
"Iya bu, tengok kanan kiri kok musuh semua!!" kata Matsuyama sambil cengengesan.
__ADS_1
"Untung Mira, Xander dan Rafa sudah pulang ke rumah ayah Kelvin, setidaknya ada kakek Kojiro dan kakek Dahlan yang akan melindungi mereka di sana." Kata Matsuyama.
"Sepertinya kamu mengetahui sesuatu Matsuyama??" tanya Giandra.
"Iya ayah, tapi nantilah Matsuya ceritakan ke ibu sama ayah!!" kata Matsuyama.
*****
Hua...hua...
Cup...cup...
"Ada apa Xander??? Xander kenapa, nak??" tanya Almira sambil terus menggendong Xander yang terus menangis.
"Raga..."
Almira memanggil Raga yang sudah bersiap hendak pulang.
Raga menoleh saat melihat bayi berumur 7 bulan itu menangisinya.
Hati Raga terasa pedih. Dia teramat dekat dengan istri dan putranya tetapi dia tak bisa memeluk mereka.
"Iya...ada apa nyonya?" Raga berbalik menatap Almira.
Deg...
"Mengapa jantungku jadi berdebar saat aku bertatapan dengan mata Raga? aku seperti merasa kembali ke masa lalu saat bang Xavier masih mengejar-ngejarku??" bisik hati Almira.
Nyesss...
Rasa luka itu kembali terasa pedih, kenangan manis dan pahit kembali berkejaran di dalam ingatan Almira membuatnya menjadi limbung. Saat dia dan Xander akan jatuh, Raga dengan sigap menangkapnya dan langsung mengambil alih Xander dalam pelukannya dan tangan sebelahnya merangkul Almira.
"Hati-hati nyonya, tampaknya nyonya sedang tak enak badan??" tanya Raga.
"Aku cuma sedikit lelah, Raga...sejak tadi Xander selalu rewel, biasanya dia tidak pernah begini!!" keluh Almira.
"Biar saya saja yang menggendongnya nyonya, supaya tuan muda tertidur lagi!!" kata Raga.
"Tetapi kamu harus pulang Raga...nanti kamu ditunggu oleh keluargamu." Kata Mira.
"Tidak apa-apa nyonya, lagi pula saya juga tidak ada yang menunggu di rumah!! jadi biar saya telatpun ngga ada yang mencari!!" kata Raga lagi.
Raga bermain bersama Xander yang ternyata belum juga mengantuk.
"Mira, mengapa Xander begitu dekat sama Raga??" tanya Alia saat dia melihat kedekatan keponakannya dengan orang yang baru dia kenal!!"
"Mungkin Xander merindukan daddynya...karena kami sudah seminggu tinggal di sini!!" kata Almira pada Alia.
Xavier tampak mencibirkan bibirnya mendengar perkataan spontan Almira.
"Kamu bisa tinggal di kamar belakang yang letaknya tak jauh dari kamarku jadi jika Xander mencarimu, maka aku tinggal memanggilmu saja!!" kata Almira.
Raga hampir saja bersorak kegirangan mendengar tawaran dari Mira tadi!!"
"Kamu maukan Raga??" tanya Almira.
"Baiklah nyonya..." kata raga lagi .
****
Kembali pada Matsuyama, yang tengah sibuk memetik sayuran di samping rumah dibantu olah Giandra dan Serafin.
"Matsuya...menurutmu apakah senja nanti, mahluk berwujud kelelawar itu akan datang lagi menyerang peternakan ini?" tanya Giandra.
"Kita bersiap-siap saja menyambutnya, ayah...kita buat kenangan yang seumur-umur tak bisa dilupakan oleh mahluk-mahluk sialan itu." Kata Matsuyama sambil memetik sambil menyeringai.
"Kamu bilang semalam, ada yang mengendalikan mahluk itu Matsuya?? kalau tidak salah mahluk seperti itu hanya hidup di pegunungan hitam dan tak pernah mengusik manusia!!" tanya Giandra.
"Ayah benar, sesungguhnya mahluk ini bukan tergolong baik, tetapi mereka juga tidak jahat, tetapi ada orang yang mengendalikan pikiran mereka dengan mengambil permata hitam milik nenek moyang mereka." Kata Matsuyama.
"Apakah menurutmu Kebebitak, Levia dan Shiera yang punya kerjaan in?" tanya Serafin.
"Jika ditanya seperti itu, Matsuya tak bisa menjawabnya tetapi sedikit demi sedikit Matsuya memiliki gambaran seseorang yang menjadi dalang biang keonaran ini!!" kata Matsuyama.
"Oh ya?? siapa menurutmu?" tanya Serafin.
"Ayah, ibu...awal membeli peternakan ini sebenarnya Matsuya sudah curiga...mengapa peternakan ini dijual sangat murah?? tetapi saat melihat Almira dan Rafa sangat antusias, Matsuya jadi tak tega untuk menolak keinginan mereka walaupun mereka tak mengatakannya pada Matsuya."
"Lalu saat Matsuyama bertemu dengan kakek Abraham si pemilik awal pertanian ini...kecurigaan Matsuya semakin besar bahwa bukan kakek Abraham ini pemilik asli peternakan ini.
"Karena kedua anjing penjaga ternak itu, Koko dan Kiki selalu menggeram saat ada di dekat kakek Abraham."
"Logika saja, tak mungkinkan. Kedua hewan itu menggeram pada pemiliknya sendiri? ini pasti ada apa-apanya!! kata Matsuyama.
"Lalu Matsuya mencoba mencari tau keesokan harinya pada tetangga yang tinggal di sekitar peternakan ini."
"Menurut mereka, pemilik peternakan ini bukan bernama Abraham...melainkan kakek Jerome dan nenek Suki....setelah itu lama mereka tak pernah melihat nenek Suki dan kakek Jerome lagi, mereka pikir kedua orang tua pemilik peternakan itu sedang pergi kerumah anak mereka di kota lalu munculah kakek Abraham yang mengaku sepupu jauh dari kakek Jerome dan nenek Suki."
"Kemudian dia yang mengelola peternakan ini.."
"Saat akad penjualan hanya kakek Abraham saja yang selalu Xavier lihat tapi tidak terlihat orang lain.
Dan kakek Abraham juga membawa saksi tetapi sepanjang perjanjian jual beli berlangsung, kedua orang saksi yang dibawa oleh kakek Abraham hanya diam membisu.
__ADS_1
"Ada yang aneh di sini, apa benar kakek Abraham ini adalah sepupu dari kakek Jerome dan nenek Suki??" tanya Serafin.
"Yah...tadi pagi ladang jagung yang sebelah pojok pagar kayu kan sudah siap dipanen, Matsuya mencoba menyibak pohon-pohon jagung yang sarat akan buah itu, terus tiba-tiba Kiki dan Koko menggonggong terus mereka seperti meratap panjang, Matsuya tidak bisa menyibak lebih jauh karena terlalu rimbun, badan Matsuya gatal semua terkena daun-daun pohon jagung itu." Kata Matsuyama.
"Besok akan kita lihat saat panen!! karena ayah juga pernah memergoki Kiki dan Koko mengendus-endus sekitar ladang jagung bagian pojok dengan tatapan mata yang sedih." Kata Giandra.
""Matsuya...sebaiknya istrimu dan anaknya..." belum selesai Serafin bicara sudah dipotong oleh Matsuyama.
"Xander dan Rafa memang bukan darah daging Matsuya, bu...tetapi Matsuya menyayangi mereka seperti putra Matsuya sendiri!!" jawab Matsuyama tegas.
Serafin tersenyum bahagia mendengar penuturan menantu keduanya itu.
"Syukurlah jika memang begitu keadaannya, Matsuya!!" kata Serafin.
"Sebaiknya istri dan anakmu jangan disuruh balik kemari dulu karena keadaan di sini lagi tak menentu seperti ini!!" kata Serafin.
"Iya bu, Matsuya juga berpikiran seperti itu...biarlah dulu Almira, Rafa dan Xander ada di tempat kediaman ayahnya."
Kembali lagi kepada Almira...
Setiap kali Raga mau melepaskan Xander dari gendongannya maka setiap itu pula Xander menangis.
Akhirnya pemuda bungkuk itu memutuskan untuk tidur meringkuk sambil memeluk Xander.
"Maaf ya nyonya...apakah tidak apa-apa saya tidur di kasur ini bersama tuan kecil?" tanyanya meminta ijin terlebih dahulu pada Almira.
"Ya sudah ngga apa-apa Raga asalkan Xander tidak menangis biar saya tidur di sofa saja!!" jawab Mira.
"Kenapa Xander jadi lengket banget gini sama Raga ya?? om bukan...ayah bukan....tapi Xander sudah merasa sangat nyaman pada Raga." batin Almira yang membuat Raga tersenyum samar saat mendengar suara hati Almira.
Dia sengaja mati-matian menahan agar pikirannya tidak memikirkan apapun, hatinya tidak membatin apapun karena takut Almira bisa mengetahui.
Jika Almira mengetahui siapa dia sebenarnya, tentu dia tidak akan mengijinkan lagi dia untuk mendekati Xander apalagi tidur cantik bareng putranya itu seperti saat ini.
Walaupun Almira sudah berubah utuh menjadi manusia biasa, tetapi ilmu yang dimilikinya tetap ada dan tak ikut menghilang.
Terdengar suara dengkuran halus dari sofa. Almira telah tertidur terbayang jelas wajah lelahnya.
"Maafkan abang sayang...bukan maksud abang mau membohongi kamu dan Xander, tetapi semua abang lakukan agar abang bisa dekat dengan kalian berdua.
Raga pun mulai tidur-tidur ayam, akhirnya mereka bertiga tidur bersama dengan tempat yang berbeda di kamar itu.
****
"Wowo, Wiro, Todi..." panggil Sullivan.
Dia yang baru pulang bekerja sangat kesal saat melihat Xavier tidak ada di rumah.
"Iya nyonya??" kata bawahan nya itu.
"Apakah tuanmu memang tidak ada pulang hari ini?" tanya Sullivan kesal.
"Tidak ada nyonya...mulai tadi malam tuan Xavier tidak pulang kerumah.
Karena tadi pagi dia buru-buru mau pergi kekantor maka dari itu dia sama sekali tidak memeriksa suaminya itu ada di rumah ataukah tidak.
Dan alangkah geramnya dia mendapati suaminya sejak semalam hingga hari ini tak pulang sama sekali??
"Keterlaluan kamu bang...kamu di mana sekarang ini menghabiskan waktumu??"
"Apakah di rumah pantai tuan Xavier tidak ada? tanyanya pada ketiga bawahan nya.
"Tidak ada nyonya...rumah mereka hanya terasnya saja yang menyala mulai kemarin pertanda orangnya pada ngga ada di rumah.
Sullivan bertambah marah mendengar penjelasan ketiga orang kepercayaannya itu.
"Antar aku ketempat kediaman ayah mertuanya siapa tau dia ada di sana!!" kata Sullivan lalu masuk ke dalam mobil.
Sore itu Raga baru selesai membersihkan halaman samping saat sebuah mobil memasuki halaman mansion.
Dia terkejut saat melihat Sullivan turun dari mobil.
Seperti orang yang tidak mempunyai etika dan tata krama, Sullivan berteriak dari pintu depan.
Untung saja saat itu tuan Kelvin dan Aliandhara sedang tidak ada di rumah, Alia masih di kampus, hanya ada Almira, Rafa dan Xander di mansion.
"Keluar kamu bang Xavier!! jangan bersembunyi dari aku istrimu!!" kata Sullivan geram.
Mendengar suara keributan di luar Almira keluar sambil menggendong Xander dan Rafa mengekor di belakangnya.
"Apa yang bisa saya bantu nyonya Sullivan yang terhormat?? suamimu hilang di mana carinya juga di mana??" tanya Almira menatap Sullivan dengan dingin.
Bukan main terkejutnya Sullivan melihat siapa yang sedang berdiri di tengah pintu sambil menatap datar dan dingin kepadanya.
"Almira..."
Desis Sullivan sambil balas menatap Almira dengan garang.
*
*
***Bersambung...
__ADS_1
Nah...nah...apakah yang akan mereka berdua lakukan di saat momen mereka berdua bertemu??
Jangan lupa dukungannya ya reader...like, komen, vote, favorit dan rate nya🙏🙏