
"Pertanggung jawaban apa bang?? Pertanggung jawaban sedarah??" rintih Almira.
"Siapa bilang kita bersaudara?? Kita tidak mempunyai hubungan darah sama sekali, Mira...persis seperti dugaan abang waktu itu!!"
"Apa??? Mira sangat terkejut mendengar perkataan Xavier padanya.
"Dari mana abang tau bahwa kita tidak ada hubungan darah sama sekali??" tanya Mira berusaha untuk berdiri dan melepaskan jepitannya pada tongkat pusaka milik Xavier yang masih betah dan masih mengeras di dalam sana.
Xavier menahan pinggang Almira supaya tidak berdiri.
"Jangan berdiri dulu sayang, punya abang masih keras dan masih betah berlama-lama di dalam sana!!" bisik Xavier yang rupanya masih dipenuhi kabut birahinya.
"Nanti ketauan Sima dan Matsuyama, bang!!" rintih Almira antara rasa sakit dan rasa nikmat.
"Tidak akan...cukup kita bertempur satu ronde lagi!!" bisik Xavier lalu membalikan posisi Mira dan sekarang dia yang memegang kendali pada kekasih hatinya itu.
Sudah hampir setengah jam mereka bergulat hingga erangan Almira dan Xavier bersamaan dengan teriakan kesakitan dan sumpah serapah Sima saat punggungnya telah di totok oleh Matsuyama.
"Kena kau kakakku sayang...detik ini juga aku akan membawamu kembali keperguruan agar kejahatanmu mengikuti jejak putrinya ratu Hikaru itu tidak bertambah semakin banyak...syukur-syukur ayah dan ibu bisa memaafkan perbuatanmu dengan tidak mencabut seluruh ilmu kanuraganmu kalau tidak maka mati saja kau jadi kodok dan menjadi penghuni lembah!! " ujar Matsuyama.
Matsuyama tampak berkomat-kamit, dia menggunakan ilmu berpindah raga untuk membawa Sima pulang kelembah.
Tak ada hitungan detik, tubuh keduanya telah lenyap dari pandangan dan mendarat dengan mulus tepat di depan meja makan saat keluarga besarnya tengah menanti makan malam.
"Hei anak kurang ajar, tidak bisakah kamu mendarat di tempat lain selain di atas mangkuk sup ku?" tanya Hiro kesal.
"Apa?? mangkuk sup?? pantas pantatku rasa terbakar!!" Matsuyama langsung melompat dari atas meja.
"Kalian berdua datang di waktu yang tidak tepat!!" kata Kakegawa.
"Kedatangan kalian berdua merusak mod makan malamku!!" kata Hiro kesal.
Hiro yang pada dasarnya sudah kesal, bete, jadi bertambah kesal dengan nongkrongnya Matsuyama dan Sima di atas meja.
"Akhirnya si anak hilang pulang juga...selamat datang kembali, Sima!!" kata Kakegawa.
Ucapan ayahnya terdengar biasa saja tetapi bagai petir menggelegar di telinganya.
Dia takut apa yang diucapkan Matsuyama bahwa ilmunya akan dicabut oleh ayahnya akan jadi kenyataan.
Akan jadi apa dia tanpa ilmu kanuragannya? bagai malam gelap tanpa bintang dan cahaya bulan.
"Bawa Sima keruang penyesalan!!" perintah sang ayah kepada Hiro dan Matsuyama.
"Yah, tak bisakah membiarkan Matsuyama makan dulu sup buatan ibu? Matsuyama sangat lapar, sudah lama Matsuyama tidak makan masakan ibu." Kata Matsuyama.
"Kalau kerja itu sekalian, jangan tanggung-tanggung..." kata Hiro pada adiknya.
Akhirnya mereka berdua membawa Sima keruang penyesalan tanpa membuka totokan Sima.
Xavier buru-buru mengancingkan risleting celananya. Juniornya yang tadi membengkak besar dan membuat Almira sangat kesakitan kini sudah tidur kembali dalam damai karena sudah memuntahkan laharnya.
Almira bangkit tertatih-tatih karena beberapa jam telah digempur habis-habisan oleh Xavier.
"Ayo abang bantu!!" lalu tanpa persetujuan gadis terkasihnya itu, dia menggendong Almira yang terang saja kesakitan karena ulahnya tadi.
"Kemana Matsuyama dan Sima tadi bang??" kata Almira sambil celingukan.
"Sepertinya Matsuyama berhasil mengalahkan Sima dan membawanya kembali keperguruan mereka" jawab Xavier.
"Sebaiknya kita pulang, obati dulu anumu yang tadi membengkak!!" kata Xavier pada Mira yang wajahnya semakin memerah.
"Kan tadi abang yang memaksa Mira untuk memasukannya...sudah tau lubangnya kecil tidak muat terus abang dorong dan paksa masuk!!" ocehan Mira membuat Xavier kembali panas dingin dibuatnya.
"Sayang, diamlah...atau nanti kembali abang garap di dalam mobil bahkan lebih ganas dari yang tadi barusan kita lakukan, mau??" kata Xavier tersenyum menggoda.
Sontak Almira menggelengkan kepalanya ketakutan. Yang tadi aja sakitnya belum hilang, apa jadinya jika abangnya itu mengulanginya lagi??
Sepanjang perjalanan pulang Almira terus merenungi apa yang telah mereka lakukan tadi seperti bagai kan mimpi.
"Apa yang kamu pikirkan, sayang?? Tanya Xavier menoleh pada Almira.
Almira memandang Xavier sesaat sebelum akhirnya dia menggelengkan kepalanya.
"Yang jelas ayah, ibu, dan kakek tidak akan pernah mengijinkan kita untuk bersama, bang!!" kata Almira.
__ADS_1
"Jangan berkata seperti itu, kita kan belum mencoba bicara dengan mereka, abang akan terus terang mengatakan bahwa abang telah khilaf dan akhirnya menidurimu." Xavier mengacak rambut Almira dengan penuh kasih sayang.
"Dari mana saja kalian sudah hampir gelap begini?? kalian kan tau menjelang malam tiba situasi tidak aman lagi??" kakek Kojiro dan kakek Dahlan berdiri di muka pintu.
"Kok kalian cuma berdua?? Mana bocah sableng anaknya Kakegawa itu?" tanya Kojiro celingukan.
"Dan kamu Mira kenapa jalanmu ngangkang dan diseret begitu? apa yang habis Xavier lakukan padamu?" sentak kakek Dahlan.
Deg...
Jantung Almira terasa mau copot mendengar ucapan kakeknya yang sudah seperti ayah baginya.
Tentu saja kakek Dahlan langsung menebak demikian karena selama ini dia tau cucunya itu gadis yang gesit, lincah...tetapi sore ini Almira pulang dalam keadaan tidak seperti biasanya, ada yang berbeda dari cara jalan Almira walaupun dia sudah berusaha menutupinya.
"Kaki Almira sakit, kek...tadi Almira habis jatuh!!" kata Almira berusaha setenang mungkin.
"Habis jatuh ya...bukan habis jatuh karena ulah Xavier yang telah menindihmu kan??" ketusnya tajam.
"Tosiro..."
Kakek Kojiro menggelengkan kepala dan mengisyaratkan dengan kedipan mata.
Tetapi sayangnya kakek Dahlan tidak paham dengan isyarat yang diberikan sepupunya itu malah kembali berteriak lantang...
"Apa??? kenapa kamu main mata denganku, Kojiro?? ingat aku masih laki-laki normal walaupun sudah tua begini, atau matamu kelilipan pasir secontainer??" entah mengapa dia benar-benar merasa sangat buruk sore ini dia takut apa yang dikhawatirkannya selama belasan tahun ini akan terjadi juga.
Dia keras selama ini pada Almira karena dia begitu menyayangi Almira, dia tidak ingin Almira pergi dari sisinya suatu hari nanti.
Sisi gelap dari seorang Shahnaz Almira yang hanya diketahui oleh orang-orang terdekat saja dan itu menjadi rahasia mereka semua.
"Biarkan mereka masuk dulu dan beristirahat sambil membersihkan diri, Tosiro kampret!!" ucap kakek Kojiro sedikit kesal dengan sepupunya itu.
Langkah Almira agak goyah, jika bahunya tidak dirangkul oleh Xavier maka Almira sudah jatuh terduduk.
"Tenanglah sayang...nanti malam abang akan jujur pada mereka semua tentang kebenaran hubungan kita!!" bisik Xavier pada Almira pelan.
"Masuklah kalian dan beristirahatlah di dalam!!" kata Kojiro pada Xavier dan Almira.
Almira langsung masuk ke kamarnya dan Xavier menuju ke kamar belakang yang dulu adalah kamar yang ditempati oleh Matsuyama..
Darimana saja kamu membawa adikmu dan Matsuyama, Gio!!" sapa Giandra sementara Serafin hanya memandang tajam padanya.
"Kami hanya berjalan-jalan saja, yah...nanti Gio ceritakan, Gio mau mandi dulu yah!!"
Tanpa menunggu persetujuan kedua orang tuanya, Xavier masuk ke dalam kamar.
Saat dia membuka kemejanya tampak ada tanda biru bekas gigitan Almira di dadanya dan di lengan kekarnya.
itu terjadi saat penyatuan mereka yang mengakibatkan Almira menggigit dadanya dan mencengkeram lengannya karena merasa kesakitan.
Xavier malah tersenyum membayangkan apa yang telah dia alami hari ini. Dia bahagia sekali karena dialah orang pertama yang menjebol keperawanan kekasihnya itu.
"Kamu pertama sekaligus yang terakhir, Mira!! abang sangat mencintaimu...abang mohon apapun yang terjadi kita harus kuat dan harus kita jalani sebesar apapun rintangannya itu...abang harap kamu juga tidak akan pernah meninggalkan abang, seperti abang yang juga tidak akan pernah meninggalkanmu." Gumam Xavier.
Dia hanya memakai handuk yang membelit di pinggangnya menuju kamar mandi. Dia berselisihan dengan Almira yang baru saja selesai dengan ritual mandinya.
Wajahnya bertambah cantik berkali-kali lipat, dengan rambut panjangnya yang basah tergerai.
Wajah Almira memerah saat bertemu pandang dengan Xavier, apalagi saat laki-laki tampan itu menempelkan dua jari kebibirnya lalu meniupkannya pada Almira sebagai tanda kiss jarak jauh lalu mengedipkan sebelah matanya.
Sempat tertangkap oleh mata Xavier kedua gunung kembar yang membusung dan menantang untuk kembali dia jelajahi tersembunyi di balik kimono yang dikenakan oleh Almira.
Tak mau berlama-lama dengan traveling kotornya, Xavier cepat-cepat masuk ke kamar mandi.
Mereka semua yang duduk di ruang makan itu tampak sangat tegang terutama Serafin. Berkali-kali wanita cantik itu menarik napasnya.
"Sekarang kamu bisa bercerita Xavier!!" kata Kojiro pada putra angkatnya itu.
Almira tampak menunduk dalam. Dia benar-benar takut dalam menghadapi situasi seperti ini.
Xavier menarik napas dulu sebelum bicara.
Semua yang terjadi dengan pertempuran Sima dan Matsuyama hingga hubungannya yang sudah melewati batas dengan Almira.
Tubuh kakek Dahlan dan Serafin tampak bergetar hebat, sementara Giandra dan Kojiro masih mampu untuk tidak bergetar seperti yang lainnya.
__ADS_1
"Xavier Giovanno...." kata kakek Dahlan.
"Kamu tau mengapa selama ini kami berbohong dengan mengatakan kau dan Almira itu bersaudara?" kata kakek Dahlan sementara Serafin sudah terisak dalam pelukan suaminya.
"Kenyataannya kau memang bukan bersaudara kandung dengan Almira...orang tuamu bernama Ichiko dan Kikio, mereka berdua adalah seorang prajurit, mereka gugur dalam peperangan meninggalkanmu yang saat itu masih berusia 4 tahun."
"Giandra dan Serafin yang memang belum memiliki momongan lalu berniat mengadopsimu dari pada kamu dititipkan di panti asuhan."
"Dan Almirapun sebenarnya adalah anak titipan dari ratu Nilakandi karena sang ratu harus menjalankan takdirnya dan menerima kutukan karena kesalahannya."
"Dan ternyata kesalahan sang ratu terulang kembali kepada putrinya yaitu Almira...dan namamu sebenarnya adalah Refanya...kamu mempunyai seorang adik laki-laki lain ayah bernama Redo."
Kakek Kojiro menjeda sejenak penjelasannya karena diapun mendengar isakan Almira dalam dekapan Xavier mendengat semua tentang kisah hidupnya.
"Lalu Ratu Nilakandi itu siapa kek? dan bagaimana bisa Almira dirawat oleh ibu Serafin dan ayah Giandra? lalu siapa ayahku sebenarnya?"
****
***Flashback on***
Seekor naga bermata biru dengan mahkota kecil di kepalanya tengah melingkar di atas batu pualam datar memandang pada seorang gadis cantik jelita dan seorang pemuda tampan yang terduduk tak bergerak di samping si gadis.
"Nilakandi...kamu tau apa kesalahan besar yang sudah kamu perbuat?" tanya naga besar yang ternyata bisa berbicara itu.
"Tau ibunda ratu Nilasari..." jawab Nilakandi semakin menunduk.
"Kamu tau mengapa ibunda sampai bisa berwujud seperti ini dan menjadi naga penunggu goa pualam ini?"
Nilakandi hanya menggeleng karena dia memang tak pernah tau apa yang sesungguhnya telah terjadi.
Sang naga besar itu meneteskan air mata mengingat apa yang dialaminya juga akan menimpa putri tunggalnya.
"Ibunda dulu juga sepertimu, cantik, anggun tetapi apa gunanya kecantikan ini jika terus terkurung di dalam goa ini."
"Kakek dan nenekmu selalu melarang ibunda untuk melihat dunia di luar sana, mereka mengatakan bahwa manusia itu mahluk yang jahat."
"Kami para naga biru sudah memiliki kawasan kekuasaan masing-masing dan sudah mempunyai jodoh masing-masing untuk meneruskan keturunan kami."
"Tetapi ibunda berpikiran lain, apa untungnya kami para gadis hanya menikah dengan pria yang hanya menjadi manusia jika ada di dalam goa ini, sementara jika ada diluar goa para pria itu akan kembali kewujudnya semula."
"Akhirnya suatu hari ibunda keluar dengan diam-diam dari dalam goa...sampai di pinggir hutan, ibunda bertemu dengan seorang pria yang tengah terluka.
"Karena kasihan padanya, ibunda lalu membawanya ketempat yang aman dan mulai merawatnya."
"Berhari-hari kami lewati bersama hingga tumbuh rasa cinta di antara kami berdua."
"Hingga terjadilah hubungan terlarang di antara kami dan di situlah awal kutukan itu bermula."
"Hubungan kami tak direstui, pria yang menjadi ayahmu tewas terbunuh oleh kakekmu sendiri."
"Ibunda amat berduka, apalagi mereka dengan kejam mengasingkan ibunda ketempat ini dan mengutuk ibunda dengan menjadikan ibunda sebagai ratu naga penjaga goa pualam ini."
"Bukan hanya di situ penderitaan ibunda, jika ada di dalam goa wujud ibunda tetap sebagai seorang manusia, tetapi saat melewati pintu kutukan dari kakekmu maka wujud ibunda akan berubah seperti ini."
"Tak lama ibunda menyadari bahwa ibunda tengah mengandung dirimu."
"Ibunda menangis siang dan malam meratapi nasib dan meratapi kepergian ayahmu karena kesalahan dan keegoisan ibunda."
"Dan ternyata kamu mengulangi apa yang telah ibunda lakukan, Nilakandi!!" lirih ratu Nilasari.
"Bunda maafkan Nilakandi tetapi Nila dan Kevin saling mencintai bunda dan kami juga sudah..." Nilakandi tak sanggup untuk meneruskan perkataannya.
"Kevin membawa Nila menghadap ayahnya dan kami telah menikah karena sekarang Nila sedang mengandung bunda!!" lirih suara Nilakandi.
"Kamu tau nak, setiap yang melanggar peraturan, maka kutukan itu akan tercabut dari si penerima sebelumnya dan berpindah pada sosok yang baru."
"Itu artinya bunda akan terbebas dari kutukan ini dan kembali kedunia bunda dan kamu karena kamu tengah mengandung, maka otomatis kutukan itu akan berpindah padamu."
"Sebenarnya ada cara untuk mematahkan kutukan itu dan mencegahmu untuk berwujud seperti ibunda tetapi ibunda yakin kamu tak akan tega melakukannya, Nila karena ibunda tau kamu berhati baik dan mulia.
*
*
***Bersambung....
__ADS_1
Hai reader...author mohon dukungannya selalu ya...like, komen, vote, favorit, ratenya... terima kasih🙏🙏