
"Ya Allah...selamatkan suami dan ke dua anak hamba, jika memang harus mati biarlah hamba yang mati di sini..."Jerit hati Serafin
Hatinya tersayat-sayat...jika memang harus mati, dia ingin rasanya mati bersama dengan istri yang sangat dicintainya...tapi bagaimana dengan nasib ke dua anak mereka?"
Giandra terus lari menjauh masuk ke dalam hutan. Satu tangan menggendong Almira, satu tangannya lagi menggandeng Giovanno.
"Ayah...Giovanno lelah sekali!!! Mengapa ibu kita tinggalkan bersama orang-orang jahat itu, ayah?" Giandra tak menjawab pertanyaan putranya.
Hingga sampai di tempat yang dirasa aman, Giandra berhenti.
"Gio...Gio sayang sama adik Mira kan?" Giovanno yang ditanya cuma mengangguk.
"Jika Gio sayang sama adik, Giovanno tolong jaga adik bayi dulu di sini ya...ayah akan kembali kesana untuk membantu ibu kalian."
"Tapi Gio takut ayah...tempat ini gelap sekali, bagaimana nanti jika adik bayi menangis?" Giovanno menangis tertahan.
"Giovanno seorang laki-laki kan? Seorang laki-laki tidak boleh penakut dan pantang menangis...oke!! Ayah dan ibu janji kami pergi tak akan lama."
"Jaga adik baik-baik ya, Gio!!" Giandra mengusap lembut rambut Gio dan setelah mencium keduanya, Giandra berlari kembali ketempat pertarungan antara istrinya melawan ratu Hikaru dan para antek-anteknya.
Dia kembali bertepatan saat istrinya terkena telak pukulan tapak merapi yang dulu juga membunuh Abesira ibu dari Hiro dan Sima.
Tubuh Serafin terpental jauh. Di dada kirinya ada gambar telapak lima jari milik Hikaru. Dari warnanya yang biru kehitaman sudah menandakan bahwa pukulan itu sangat beracun.
Serafin memuntahkan darah segar berwarna kehitaman.
"Serafin...." Teriak Giandra!!
"Ayah...ke..napa menyu..sul kemari? Aku sudah bilang jaga anak-anak kita!!" Suara Serafin terbata-bata...hueek...kembali Serafin memuntahkan darah kehitaman.
Tampaknya umur Serafin tak akan lama lagi. Racun pukulan itu sudah hampir menjalar ke jantungnya dan meninggalkan warna kebiruan.
"Jaha*nam kamu Hikaru..." Sebegitu besarkah dendam itu padaku? Sehingga istriku juga harus kamu binasakan?" Giandra berdiri dengan geram.
"Tentu aku sangat membenci kalian, Giandra!!"
"Lupakah kau saat menolak cintaku dan lebih memilih wanita dari klan naga biru itu? Dan memilih menentangku?"
"Aku akan mengampuni kalian berdua bahkan aku akan memberikan penawar racun pukulanku itu asal kau mau berjanji untuk kembali padaku dan menjadi suamiku."
__ADS_1
Cihhh...Giandra meludah ke tanah.
"Suamimu sendiri saja turut serta untuk membunuhmu karena ke jahatanmu sudah kelewat batas, apalagi aku?" Teriak Giandra lantang.
"Oh...jadi kau ingin mati juga bersama istri bodohmu itu? Akan aku kabulkan sesuai dengan permintaanmu."
Giandra tau, dia bukan lawan Hikaru tapi tak ada dalam kamus hidupnya untuk menyerah sebelum melawan.
Tapi apalah daya, ilmu Hikaru setelah di anggap mati selama tiga tahun itu ternyata telah berkembang pesat.
Giandra akhirnya terkena pukulan telak di bahunya. Sebelum mati, dia merangkak mendekati istrinya dan memeluk tubuh yang sudah tak bernyawa itu dengan keseluruhan tubuhnya sudah berwarna hitam kebiruan.
"Giandra bodoh...." Umpat Hikaru!!
"Kenapa kamu lebih memilih dia dari pada aku?" Dasar manusia bodoh!!"
**********
Sementara di tempat lain Giovanno mulai ketakutan mendengar suara binatang malam yang terus menerus bersahutan.
Dia terus duduk di dekat keranjang bayi adiknya.
Akhirnya dengan nekat Giovanno kecil mengangkat keranjang bayi adiknya dan berjalan untuk mencari air di dalam pekatnya malam.
Langkahnya membawa dia ke pinggiran sebuah sungai. Giovanno meletakan keranjang adiknya di pinggir sungai.
"Mira, abang mau mencari sesuatu untuk bisa menampung air ini ya...lalu kita kembali ketempat semula kita di tinggalkan oleh ayah tadi!!"
"Abang takut ayah dan ibu mencari-cari kita jika kita terlalu lama di sini."
Bocah-bocah malang itu tak tau bahwa ke dua orang tua mereka telah tiada.
Saat akan kembali ketempat dia menaruh keranjang bayi Mira, dia terkejut dan sangat ketakutan saat dia melihat tepat di depan keranjang adiknya telah berdiri sosok hitam yang melingkar dan meninggikan kepalanya yang gepeng seperti sendok.
Matanya menyorot merah memandang kepada Giovanno.
Ular kobra betina itu tengah hamil dan juga sedang kelaparan.
Giovanno tercekat ditempat dia berdiri. Dia sangat khawatir akan keselamatan adiknya, tapi dia juga sangat takut untuk mendekat.
__ADS_1
Kobra betina itu mendesis dan mulai mendekati mangsanya yaitu Almira yang masih tampak tertidur pulas.
Giovanno yang tak kuasa melihat itu mencoba melompat maju untuk menolong adiknya. Tapi kakinya tersandung dan dia jatuh tepat menghantam batu kali besar di depannya. Dahinya tampak banyak mengeluarkan darah.
"Tolong...tolong....ayah, ibu, Giovanno takut bu..." Hanya kalimat itu yang sempat diucapkan oleh bocal 6 tahun itu sebelum kemudian dia jatuh tak sadarkan diri.
Sementara ular betina itu maju semakin mendekat pada keranjang Mira. Taring panjangnya sudah siap ditancapkan nya ke kepala mungil bayi itu.
Tiba-tiba kalung kepala naga bermata biru di leher Almira bersinar terang.
Perhatian si kobra jadi terpecah pada kalung yang bersinar.
Dia tak jadi mau menancapkan taringnya ke kepala Almira. Perhatiannya teralih pada suatu benda menyala yang terbuat dari batu giok itu.
Tak...suara taringnya beradu dengan kerasnya kalung batu giok itu.sehingga giok itu terpecah sedikit.
Anehnya pecahan batu giok itu ikut tertelan ke dalam tenggorokan si ular dan meluncur masuk ke dalam perutnya. Perut kobra betina hitam itu bersinar kebiruan.
Entah dia merasa kaget atau apa hewan buas itu terlonjak lalu tak sengaja ekornya menghantam keranjang Almira dan menyebabkan keranjang itu terlempar ke sungai dan mulai hanyut terbawa arus sungai.
Tak lama dari itu beberapa orang tampak berjalan kaki menyusuri tepian sungai. Mereka kehilangan jejak hewan buruannya yang menghilang di pinggir sungai ini.
"Ah...sial...pasti Xavana akan mengamuk lagi jika aku tak berhasil mendapatkan hewan buruanku."
Lelaki dengan tubuh kekar dan berambut pirang dengan netra berwarna coklat itu tampak sangat geram.
Beberapa orang pengawalnya hanya bisa terdiam tak berani ada yang membuka suara.
Tiba-tiba pengawal yang berjalan paling depan berhenti mendadak saat kakinya tersandung sesuatu.
Sontak saja orang yang berjalan di belakangnya pun saling bertumbukan.
"Heh...Dodo...kenapa kamu berhenti mendadak? Bikin mood saya tambah buruk saja kamu ini!!" Si pirang menggeram marah.
"Maaf tuan, bukan maksud saya untuk berhenti mendadak begini...tapi kaki saya tersandung sesuatu...jangan-jangan kaki saya terinjak ular!!" Belum apa-apa laki-laki yang di panggil Dodo itu bergidik ngeri dan takut.
***Bersambung....
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak ya!!! Like, komen, vote, favorit dan rate nya...terima kasih🙏🙏
__ADS_1