Mr.Playboy Vs Miss.Dingin

Mr.Playboy Vs Miss.Dingin
Bab 102 Kebimbangan


__ADS_3

Semenjak Sima tertangkap dan dibawa pulang kembali kelembah oleh Matsuyama, Levia tidak mempunyai teman lagi.


Dia harus bertindak lebih hati-hati sekarang sambil menunggu purnama merah yang bisa mengembalikan seluruh kekuatan ratu Hikaru ibundanya.


Dia tidak mau terlalu banyak bertingkah dulu di dalam kandang macan seperti ini.


Dia tau bahwa pangeran Redo yang bersemayam di dalam tubuh Rafa selalu mengawasi gerak geriknya.


*


*


"Sayang...hari ini kamu ngga usah kuliah dulu ya?? kasihan kamu kelihatan lemas sekali!!" kata Xavier pada istrinya.


"Siapa coba yang bikin Mira lemas begini, kan abang juga yang ngga putus-putusnya nyerang Mira dari malam sampai mendekati subuh.


"Iya sayang...abang minta maaf...abang khilaf!! kata Xavier sambil nyengir.


Mira mencibirkan bibirnya kesal dengan nafsu suaminya yang seolah tak berujung itu.


"Jangan bang, Mira ada mata kuliah penting hari ini!!" jawab Mira.


"Ya sudah tapi jalannya pelan-pelan aja ya!!" kata Xavier.


Mereka berdua lalu pamit dengan ayah, ibu dan kakeknya.


"Tunggu abang nanti pulangnya jangan pulang sendiri apalagi pulang sama laki-laki lain!!" pesan Xavier sebelum mereka berpisah di halaman.


********


Almira sedang melamun di taman yang biasa dia datangi. Dia teringat pada tatapan Aliandhara yang menatapnya penuh luka.


Teringatnya saat ijab kabul, Aliandhara dengan tegar memeluk Rafa putranya sambil tersenyum pada Almira dan Xavier.


"Almira...tolong!!"


Almira tersentak karena sayup-sayup dia mendengar suara seseorang sedang dalam kesulitan dan meminta tolong.


Suara itu sangat jauh tapi Almira masih mampu mendengarnya.


"Tuan muda!!! suara itu suara tuan muda Aliandhara...apa yang tengah terjadi dengannya?" Almira bergegas berdiri.


"Joey...gue pinjem motor loe sebentar!!" Joey teman satu kelas Mira yang kebetulan lewat di depannya melemparkan kunci motornya.


"Mau kemana??" tanya Joey.


"Aku keluar sebentar, jika ada yang mencari bilang aja ngga tau!!" kata Almira.


"Kalau abang loe yang nyari?" tanya Joey lagi.


"Sama...bilang aja ngga tau!!" lalu Almira dengan cepat lari menuju parkiran dan mengambil motor Kawasaki Ninja milik Joey dan berlalu.


Xavier tampak celingukan di taman mencari istri bandelnya itu.


"Kemana lagi ngilangnya tu anak??? Main kabur aja ngga ada berubahnya!!" gerutu Xavier.


"Teman-temannya kutanya pada ngga ada yang tau semua...betul-betul ya...susah emang kalau punya istri masih bocah begini??" Xavier terus menggerutu.


"Siapa yang pak Xavier maksud dengan istri bocah??? apakah pak Xavier sudah menikah??" tanya sebuah suara manja mengejutkannya.


"Bu Shiera mengagetkan saja!!" kata Xavier sedikit heran karena telinganya sama sekali tak menangkap suara telapak kaki Shiera, padahal dia menggunakan high heels.


"Pak Xavier lho...tempo hari saya ditinggal di kantin sendirian, sampai sekarang baru kelihatan...kemana aja perginya?? jangan bilang pak Xavier bersama pacarnya, saya bisa cemburu lho..." suara tawa merdu Shiera berkumandang.


"Tadi begitu saya dengar pak Xavier kemari lalu saya susul...kita makan.di kantin yuk!!" ajaknya.


"Ayo pak..." suara manja Shiera mau tak mau membuat xavier menurut.


Sementara itu Almira melajukan motornya dengan kecepatan tinggi bertepatan saat sebuah besi menghantam kepala Aliandhara.


Almira mengangkat motornya dan terbang menghantam orang itu sementara wajah Aliandhara sudah pucat pasi ketakutan.


Enam orang pria berpakaian hitam itu melotot marah pada Almira yang mengganggu dengan menyelamatkan mangsa mereka.


"Perempuan keparat...berani-beraninya kamu menghantam pinggul saudaraku denga ban motor ninjamu??"


Mira membuka helm di kepalanya.


"Wah ternyata dia cantik dan seksi...bang!! bisa nih kita gilir malam ini di atas ranjang..." kata salah seorang dari mereka yang bermata juling.

__ADS_1


Almira menatap orang yang bicara kotor padanya tersebut dari kepala hingga kaki balik ke kepala lagi. Lalu komentar pedaspun terucap dari bibir indahnya.


"Matamu juling, gigimu tonggos, kakimu tinggi sebelah, badanmu pendek dan bau, jangan-jangan anumu hanya sebesar jari kelingkingku saja!!" ledek Almira sambil memandang sebelah mata pada si juling tonggos itu.


"Perempuan jai*ng, lidahmu tajam amat mengalahi pisau silet, apakah kamu tidak pernah makan bangku sekolah sehingga mulutmu kurang ajar sekali?" tanya si tonggos geram.


"Heh juling....kamu sebenarnya yang bodoh, bangku sekolah itu kalau tidak kayu ya besi, mengapa kamu sedemikian bodohnya mau memakan kayu atau besi?? ah...mungkin juga pengaruh matamu yang juling hingga tak bisa membedakan yang mana makanan, yang mana besi sama kayu!! dasar juling...juling..."


Keenam lelaki sangar itu sangat marah dengan ledekan Almira yang menyayat di hati mereka, dengan serentak mereka mengurung dan mengepung Almira.


"Tangkap gadis liar itu Gito...akan kita per*kosa dia beramai-ramai biar dia meraung-raung minta pengampunan dari kita!!" kata si tonggos juling sambil tertawa mengekeh menjijikan.


"Kita lihat saja nanti, juling...siapa yang akan meraung-raung minta ampun..." kata Almira mendadak suaranya berubah menjadi datar dan dingin.


"Kau minggirlah tuan muda, naiklah kembali ke dalam mobil dan bersiaplah menyalakan mesinnya untuk pergi dari sini jika tuan melihat saya nanti kalah dari mereka.


"Tapi Mira, mereka orang-orang yang kasar dan bengis, aku takut akan terjadi sesuatu padamu."


"Masuklah tuan!!" sekali lagi Almira memerintahnya yang membuat Aliandara tak bisa membantah lagi.


Almira dan keenam orang itupun terlibat perkelahian seru.


Di dalam mobil tak henti-hentinya Aliandhara berdoa untuk keselamatan sang gadis.


Sehingga dia mendengar suara bak buk sangat nyaring.


"Ya, Allah...semoga itu bukan suara Almira...aduh, apa yang bisa kulakukan untuk membantunya!!"


Ternyata dugaan Aliandhara itu salah saat melihat keenam orang itu bergedebukan terkena pukulan dan tendangan Almira.


"Pergilah kalian berenam jangan sampai aku berubah pikiran dan akan memutilasi kalian satu persatu!!" jawab Almira.


Almira mengetuk kaca jendela dan Aliandhara membukanya.


Mereka berdua berpandangan lama sekali, sebelum akhirnya Almira membuka pembicaraan.


"Kepala anda terluka tuan muda.. biarkan saya yang mengobatinya!!" kata Almira.


"Masuklah Mira!!" kata Aliandhara membuka pintu mobilnya.


Sambil menatap wajah Almira yang sangat dekat dengan wajahnya yang sedang mengobati Aliandhara sehingga hembusan napas merekapun terasa hangat.


"Hatiku sangat sakit setiap kali mendengar kamu memanggilku dengan sebutan tuan muda!!"


Aliandhara membelai wajah Almira dengan lembut.


"Kamu kan tau sejak dulu aku sudah jatuh cinta padamu walaupun sikapku terlihat sangat menjengkelkanmu tapi itu semua kulakukan untuk menarik perhatian darimu."


"Sampai kemudian Xavier hadir di antara kita dan membuatmu berubah padaku."


"Aku berubah pada abang bukan karena bang Xavier, tetapi aku berubah karena kulihat abang masih mencintai nyonya Valeria, itu terlihat jelas dari mata abang."


"Lalu perlahan aku mulai sadar akan siapa aku sebenarnya...aku hanya seorang pengawal rendahan...hanya seorang upik abu yang bermimpi untuk menjadi tuan putri!!"


"Tapi aku mencintaimu, Mira!!" ucap Aliandhara dengan sedih.


"Aku tidak mau menyatakan perasaanku kepadamu bukan karena perbedaan status, tetapi lebih kepada rasa rendah diriku belaka!!"


"Aku malu karena aku hanya seorang duda beranak satu, sedangkan kamu seorang gadis yang sangat cantik...tak mungkin lah gadis secantikmu mau padaku."


"Semua sudah terlambat tuan eh..abang!! keadaan kini telah berbeda, aku kini sudah berstatus sebagai istri orang, bang!!" jawab Almira.


"Oh iya, aku hanya mau tau mengapa abang bisa di keroyok orang-orang itu? biasanya abang selalu jalan dengan dikawal oleh para body quard, mengapa ini kok sendirian??" tanya Almira.


"Aku malu Mira, aku ingin seperti orang biasa yang bisa kemana-mana seorang diri tanpa harus dikawal."


"Tapi itu bahaya bang!! bagaimana jika abang terluka atau terbunuh?? kasihan Rafa dan keluarga abang pasti akan sangat kehilangan!!" kata Almira.


"Tapi kamu tak pernah merasa kehilanganku kan?? buktinya sekian lama kita berpisah, kamu tak pernah peduli padaku, aku ada ataupun tidak, bagimu tak ada bedanya!!" jawab Aliandhara.


Almira memalingkan wajahnya keluar jendela. Laki-laki di sampingnya adalah laki-laki pertama yang hadir dalam hidupnya dan telah membuatnya jatuh cinta.


Dia rela menjadi seorang body quard, rela dipanggil mommy walaupun kala itu usianya masih 17 tahun, karena apa? dia jatuh cinta pada tuan mudanya, tapi dia harus mengubur impiannya dalam-dalam saat kedatangan wanita yang mengaku sebagai istri Aliandhara bahkan Aliandhara membela wanita itu padahal jelas-jelas dia menyakiti Almira.


Tentu Almira sangat kecewa dan marah, dan sejak malam itu dia dan kakeknya pergi meninggalkan mansion tuan Kelvin serta meninggalkan Aliandhara dan Rafa, ikut bersama Xavier kerumah pantai karena mereka tak punya tempat tinggal lagi semenjak rumah mereka ikut dibakar oleh musuh tuan Kelvin.


"Aku mau kembali kekampus bang, pasti suamiku telah menungguku dengan cemas karena aku pergi tadi diam-diam!!" jawab Almira.


"Mira, bagaimana kamu bisa tau bahwa aku membutuhkan pertolonganmu?? padahal jarak kampus kemari sangatlah jauh??" tanya Aliandhara.

__ADS_1


"Aku mendengar suara hatimu yang berteriak minta tolong dengan memanggil-manggil namaku, bang...makanya aku tau kalau kau ada dalam bahaya!!" jawab Almira.


"Sekarang abang mau kemana, mau pulang atau kembali ke kantor? biar Mira antar sampai tujuan." Tawar Almira.


"Antarkan abang ke perusahaan saja, Mira!!" kata Aliandhara.


"Baiklah kalau begitu, abang jalanlah duluan dan aku akan mengikuti dari belakang!!" sahut Almira akhirnya.


Almira kembali ke kampus sudah siang untuk mengembalikan motornya Joey yang dia pakai tadi pagi.


"Bagus ya...dari mana saja kamu??" tanya Xavier mengagetkan Almira.


"Mata kuliah kedua ngga ikut, suami ditinggalkan, semua orang ngga ada yang liat kamu pergi kemana...sebenarnya kamu pergi kemana??" suara Xavier kembali mengagetkan Almira yang tengah melamun.


"Aku tadi keluar sebentar pas jam istirahat pinjam motornya Joey msu cari buku!!" jawab Almira ngasal.


"Kenapa ngga bilang sama abang, kenapa ngga pakai mobil kita sendiri aja, kenapa mesti pin...cup..."


Xavier langsung terpaku diam di tempatnya saat bibir mungil Almira mengecup pipinya.


Biasanya selalu dia yang mulai mencium lebih dahulu istri bar-bar nya itu, tapi ini malah sebaliknya.


"Almira masuk dulu bang, dah...." lalu Almira cepat-cepat masuk meninggalkan suami cerewetnya yang posesif itu. Terus terang pikirannya lagi kalut dan dia malas adu debat dengan suaminya.


Almira melangkah gontai menuju parkiran, di mana suaminya sudah menunggu di dalam mobil.


Almira baru mau membuka pintu mobil ketika tiba-tiba ibu Shiera datang menghampiri mereka.


"Maaf pak Xavier...Almira...bolehkah ibu menumpang mobil kalian?? mobil ibu mogok!!" kata ibu Shiera.


"Oh silakan bu!!!" Almira mundur sambil tersenyum untuk memberi kesempatan ibu Shiera duduk di depan bersama Xavier.


Xavier melototkan matanya pada Almira, sementara sang istri hanya mengangkat bahu cuek.


Mereka berdua di depan asyik mengobrol membahas banyak masalah. Sesekali Xavier melihat kearah kaca spion menatap istrinya yang sedang melamun menatap keluar jendela. Dia sama sekali tak berpengaruh pada kedekatan Xavier dan Shiera.


Xavier mencoba menyelami apa yang ada dipikiran istrinya, tetapi Almira sekarang lebih pintar menyembunyikan perasaannya sehingga pikirannya tak terbaca.


"Mira...Mira!!!


Xavier memanggil lebih keras saat panggilan pertamanya tidak direspon oleh Almira.


"Apakah kamu lapar?? kamu mau makan dulu atau langsung pulang" tanya Xavier pada istrinya yang sejak tadi hanya diam membisu.


"Terserah abang saja!!" katanya singkat.


"Kita makan di kafe yang baru dibuka itu pak..." kata bu Shiera.


Mereka bertiga berjalan menuju ke kafe yang baru saja dibuka itu. Xavier dengan rasa kesal pada istrinya berjalan di depan beriringan dengan ibu Shiera sementara Almira berjalan di belakang mereka sambil melamun.


Jujur, semua yang dikatakan oleh Aliandhara tadi pagi sangat mempengaruhi pikirannya, sehingga dia seolah tak peduli dengan kedekatan ibu Shiera dan suaminya.


Mereka masuk dan memilih tempat duduk di dekat pojok ruangan. Karena setiap tempat duduk di pojok hanya berisi 2 kursi berhadapan maka Almira mengalah untuk duduk sendiri di barengi tatapan kesal suaminya.


Tak lama duduk Almira berdiri lagi sambil menelpon menuju keluar di iringi tatapan mata curiga Xavier.


📱"Halo ya ada apa bang??


📱"Ayah sakit Mira, sekarang mau dibawa kerumah sakit tetapi rombongan kami di hadang oleh keenam pria tadi pagi yang menghadangku, ini para bodyquard sedang berkelahi melawan mereka.


📱"Abang dan ayah tunggu dulu ya...Mira akan kesana..."


Tanpa menunggu Almira menyetop ojek yang lewat dan pergi menuju lokasi ayah dan Aliandhara dihadang."


"Mira..Mira...tunggu abang...kamu mau kemana??" teriak Xavier tetapi terlambat, Mira segera berlalu.


"Mau kemana lagi dia tergesa-gesa pergi tanpa pamit pada suami." gerutu Xavier lalu masuk kembali ke dalam untuk pamit pada Shiera, dia mau menyusul istrinya.


"Pak Xavier dari mana??" tanya ibu Shiera dilihatnya Xavier muncul.


"Maaf bu, saya harus menyusul Almira...ngga apa-apakan saya tinggal duluan??" lalu tanpa menunggu persetujuan ibu Shiera maka Xavier segera lari keluar menuju parkiran mobil, meninggalkan ibu Shiera yang sangat kesal pada Xavier karena telah meninggalkannya begitu saja.


"Kenapa sih hari ini kelakuan istriku itu sangat aneh??" gumam Xavier sambil menjalankan mobilnya melaju membelah jalan raya.


*


*


***Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa mampir, baca, like, komen, vote, favorit dan ratenya 🙏🙏


__ADS_2