
"Apa yang menyebabkan aku terjatuh tadi?? sepertinya kaki dan tanganku tadi memegang sesuatu yang licin dan membuatku hilang keseimbangan!!" kata orang itu dengan penasaran.
"Kampret...hilang deh buruanku itu??" katanya dengan kesal.
"Ihhh...jorok Matsuyama ya??? Ini kan oli bekas campur sama minyak jelantah...mana bau lagi!!"
Orang bertopeng itu membuka kain penutup wajah dan kepalanya. Dia tak lain adalah nona Akiko yang berusaha menguntit Matsuyama dengan caranya sendiri tetapi berakhir dengan jatuh bangun dari pohon ke tanah karena keusilan pemuda gondrong itu.
"Awas jika kamu jadi milikku, Matsuyama...seumur hidupmu kamu tak akan aku lepaskan lagi!!" dia menyeringai sambil merasakan sakit di pinggang dan bo*kongnya akibat jatuhnya dia ke tanah tadi.
Jika Akiko adalah orang biasa mungkin dia sudah mengalami patah tulang pinggang dan cedera bo*kong akibat kerasnya hantaman tubuhnya ke tanah tadi.
"Mampus...siapa suruh jadi penguntit!!" kata Matsuyama senang. Dari bibir tipisnya selalu bersenandung dengan riang.
"Kamu kenapa Akiko?? mengapa jalanmu miring seperti layangan singit??" tegur ibunya.
"Anu bu, tadi habis jatuh!!" jawab Akiko sambil meringis.
"Oh iya, kamu tadi dipanggil oleh ayahmu untuk menghadapnya." Kata sang ibu.
"Tumben ayah berinteraksi dengan kita, biasanya kita hanya dijadikan pajangan rumah...terlebih lagi ibu, ayah lebih banyak menghabiskan waktu dengan para wanitanya!!" gerutu Akiko.
"Jangan berkata seperti itu Akiko, bagaimanapun dia adalah ayahmu, kita bisa hidup enak seperti ini karena dia!!" kata sang ibu.
"Akiko tidak menginginkan kehidupan mewah seperti ini bu, jika akhirnya seperti ibu hidup di dalam kesepian, lalu harta kita yang berlimpah itu untuk apa?" tanya Akiko dengan nada berapi-api.
"Sudahlah Akiko, cepat temui ayahmu jangan membuatnya menunggu terlalu lama."
"Kamu tau jika ayahmu sudah marah, bukan??" kata ibu Akiko lagi.
Dengan malas Akiko masuk ke ruangan kerja ayahnya. Sepasang pintu yang berukir naga bergelung berwarna hijau sudah menyambutnya.
Dengan malas Akiko mengetuk pintu ruang kerja ayahnya itu.
"Masuklah saja, Akiko??" sebuah suara berat menyambutnya dari dalam.
"Ada apa mencariku?" tanya Akiko saat berhadapan dengan lelaki setengah baya yang mempunyai dingin seperti es.
"Ayah ada tugas untuk kamu kerjakan!!" kata tuan Himamura.
"Mengapa harus Akiko, ayah?? banyak anak buah ayah yang lain yang lebih jago dan lebih hebat tentunya, mengapa harus aku?" kata Akiko.
"Yang Mulia Ketua menginginkan kamulah yang harus menjalani misi ini!!" kata tuan Himamura.
Akiko memutar bola matanya malas mendengar bahwa semua yang harus dia kerjakan adalah tugas dari sang Ketua yang hingga detik ini Akikopun tak tahu bentuk dan rupanya wajah sang Ketua yang begitu diagungkan oleh ayah dan para pengikut ayahnya.
"Apa tugas itu ayah??" tanya Akiko dengan setengah hati.
"Kamu buat seorang pemuda yang bernama Matsuyama mencintaimu...terserah bagaimanapun caramu melakukannya, setelah dia memcintaimu, bertekuk lutut padamu lalu ambil cincin putih bermata permata berwarna hitam dari jari tangannya setelah berhasil maka bunuhlah dia...dia adalah halangan bagi Ketua dan sang Panglima untuk menjadi penguasa dunia."
"Hadeuh...siapa lagi sang Panglima itu?? sedangkan Ketuanya aja aku ngga pernah liat apalagi sang Panglima??" gerutu Akiko dalam hati.
"Tidak usah menggerutu begitu, Akiko!!" kata sang ayah memandang tajam pada putri tunggal dari istrinya itu.
Tuan Himamura mempunyai satu istri yaitu ibunya Akiko dengan dua belas orang selir.
"Tapi siapa tadi ayah bilang nama pemuda itu??' tanya Akiko tidak yakin dengan pendengarannya.
"Kamu dengar baik-baik, namanya Matsuyama...ciru-cirinya dia berambut gondrong, wajahnya imut, hidungnya mancung, bola matanya berwarna coklat dengan tubuh yang tinggi dan kekar." Kata tuan Himamura.
"Oh tidak...apa yang di maksud ayah itu adalah Matsuyama yang kukenal sekarang?" pikir Akiko.
"Haruskah aku membunuhnya?" batin Akiko bergejolak.
"Ingat Akiko, jangan sampai gagal...ayah bemci yang namanya kegagalan!!" kata tuan Himamura.
****
📱"Sayang...apakah kamu dan
anak-anak baik-baik saja di sana??"
📱"Anak-anak baik saja...aku yang tidak baik-baik saja."
📱"Kamu kenapa?? apakah kamu sakit??"
Matsuyama tampak panik saat mendengar istrinya sedang dalam keadaan tidak baok-baik saja.
📱"Aku merindukanmu!!"
Mira tertawa setelah berhasil menggoda suaminya.
📱"Aku juga merindukanmu..."
📱"Sayang aku dan Xander boleh pulang ya!!"
__ADS_1
Matsuyama menghela napas. Bohong jika dia tidak merindukan istri yang dulu adalah sahabatnya itu.
📱"Baiklah sayang...pulanglah!! aku di sini juga merindukanmu dan Xander!!"
📱"Terima kasih sayang!!"
****
"Ayah...Mira dan Xander mau pulang ke peternakan, tolong antarkan kami, ya!!" kata Mira.
"Mengapa dadakan sekali nak??" tanya tuan Kelvin pada putrinya.
"Mira kangen pengen ketemu ayah dan ibu juga..."
"Juga Matsuyama, gitukan??" senyum Alia dari belakang tuan Kelvin.
"Kamu ini...wajarlah dia kangen toh Matsuyama itu suaminya, lain ceritanya jika dia merindukan Xavier, itu tidak boleh karena Xavier sudah menjadi suami orang!!" kata tuan Kelvin.
Ada rasa perih dalam hati Almira mendengar perkataan ayahnya itu. Tetapi berusaha sebisa mungkin air mata itu di tutupinya dengan senyuman.
"Iya yah, Almira tau...toh selama di sini tak ada itikad baik dari dia paling tidak bertemu dengan putranya."
"Bahkan kemarin Abian bilang bahwa dia sudah tidak mengajar di sana lagi."
"Istrinya juga tempo hari datang mengamuk kemari!!" kata Almira.
"Sudahlah nak...Xavier bukan lagi jadi urusanmu sekarang...lupakan laki-laki tidak bertanggung jawab itu, mulailah hidup baru dengan Matsuyama...ayah menyesal waktu itu telah merestuimu menikah dengan si brengsek Xavier." Kata tuan Kelvin.
"Baiklah kamu dan Xander mau berangkat kapan??" kata tuan Kelvin.
"Kalau bisa sore ini yah!!" jawab Almira.
"Rafa tak usah ikut lagi, karena dia sudah mau masuk sekolah!!" kata Almira lagi.
*****
"Hati-hatilah di sana ya, nak!!sesekali tengoklah ayah, Alia, Rafa dan Aliandhara abangmu!!" kata tuan Kelvin sambil memeluk putrinya lalu memeluk Xander.
"Akur-akurlah dengan suamimu ya busui...sekarang kalian sudah suami istri, dan bukan hanya sekedar bersahabat saja seperti dulu...oke!!" Alia mengacak rambut Almira.
Rafa memeluk Aliandhara erat-erat sambil menangis.
"Mommy...mommy!!" katanya.
"Mommy tidak bisa mengajak Rafa lagi, Rafa kan sudah mau bersekolah..." kata Almira sambil memeluk Rafa dengan erat.
"Janji ya mommy dan Xander akan menjenguk Rafa jika mommy tidak juga kunjung datang, maka Rafa yang akan menyusul mommy dan Xander ke peternakan." kata Rafa.
Terakhir Almira berhadapan dengan Aliandhara.
Awalnya Almira ragu-ragu mendekatinya, tiba-tiba Aliandhara membentangkan kedua tangannya.
"Kemarilah...peluk abangmu ini...!!" katanya.
Lalu tanpa ragu dia memeluk Almira dan Xander yang ada digendongan Mira.
"Baik-baik kalian di sana ya...pintu mansion ini selalu terbuka lebar jika suatu hari kamu dan Xander memutuskan untuk kembali!!" kata Aliandhara memeluk keduanya erat-erat.
Setelah mencium pucuk kepala Almira dan Xander akhirnya dengan berat hati dia melepaskan gadis yang pernah menjadi ratu di hatinya itu.
Helikopter yang membawa Almira dan Xander perlahan naik dan terbang menjauh.
Raga datang terlambat ke mansion sore itu karena tadi sore dia ke kota bersama asisten rumah tangga tuan Kelvin untuk berbelanja.
"Tuan kecil...tuan kecil...lihat apa yang om Raga bawa??" katanya dengan riang sambil memanggil nama Xander.
"Raga...jika kau mencari Xander, Almira dan Xander tidak ada di mansion..." kata Alia saat berpapasan denga Alia.
"Oo mereka berdua sedang keluar kemana, nona??" tanya Raga lagi.
"Mereka berdua tadi sore naik helikopter pulang ke peternakan...dan Almira titip ini untukmu!!" kata Alia sambil menyerahkan sebuah bungkusan pada Raga.
Dengan lemas Raga menerima bungkusan dari tangan Alia dari Mira untuknya.
"Terima kasih nona!!" kata Raga dengan lesu.
Tadi dia di kota membelikan makanan kesukaan Almira dan membawakan mainan untuk putranya itu tetapi terlambat!! Almira dan Xander sudah keburu pergi.
Di dalam kamarnya yang berukuran 3x3 meter itu Raga duduk melamun.
Diambilnya album kecil di atas meja ada foto pernikahannya dengan Almira dulu, lalu ada foto dia dan Xander juga dengan Almira.
"Akhirnya kamu pergi juga meninggalkan abang, Mira!!"
"Rasanya abang tak lagi punya semangat hidup tanpa kamu dan Xander!!" bisik Raga berusaha menahan kesedihan dan kerinduannya.
__ADS_1
Dibukanya bungkusan titipan Almira tadi sore untuknya.
Ada syal dan sweater berwarna biru laut, rupanya hasil rajutan Almira sendiri...karena dia tau walaupun mantan istrinya itu tomboy tetapi dia memiliki keahlian menjahit dan merajut yang tak perlu diragukan lagi.
Tiba-tiba ada sepucuk kertas yang jatuh dari lipatan sweater itu.
"Raga...terima kasih atas perhatianmu pada Xander selama ini. Saat pertama aku menatap matamu, aku berharap kau adalah dia yang menyamar karena ingin berdekatan dengan putranya, tetapi ternyata aku salah...mana mungkin orang berhati batu seperti dia akan merindukan aku dan Xander. Aku dan Xander pergi ya...pakailah selalu syal dan sweater itu karena kulihat kamu selalu tak tahan terhadap udara dingin.
Jangan pernah berhenti untuk merindukan kami ya, Raga...
We Love You
Alxan
(Almira Xander).
"Ini abang Mira...ini abang...abang tak pernah kemana-mana Mira, abang rela menjadi tukang kebun berpanas-panasan di sini hanya demi bisa bersamamu dan putra kita...sekarang kamu dan Xander sudah pergi, lalu kemana lagi abang akan pergi Mira?? abang tidak mau kembali pada Sullivan lagi!!"
****
"Selamat datang nyonya Matsuyama dan pangeran Xander yang tampan di peternakan kita yang sederhana ini!!"
Matsuyama menyambut istri dan putranya tercinta dengan sangat bahagia, dia tidak mau memperlihatkan perasaan was-wasnya atas apa yang sering terjadi di peternakan ini.
"Selamat datang sayang...." peluk sayang Serafin dan Giandra pada putri dan cucu mereka.
"Akhirnya kamu dan Xander pulang kembali ke peternakan ini setelah sekian lamanya kita berpisah!!" kata Serafin.
"Ibu masak apa?? baunya enak banget??" kata Almira.
"Xander ikut daddy sama kakek dulu yuk...biar mommy dan ibu mempersiapkan makan malam dulu." kata Matsuyama sambil menggendong Xander.
"Apakah tadi kamu dan Xander sudah pamit pada kakek dan ayah mertuamu waktu mau pulang kemari??" tanya Serafin.
"Belum bu...sudah beberapa hari kakek Dahlan dan ayah Kojiro sedang sibuk memperbaiki rumah pantai!!" kata Almira sambil membantu ibunya memasak makan malam.
Berarti mereka tidak tahu jika kalian pergi ??" tanya Serafin dan dijawab dengan anggukan kepala Mira.
"Untung kamu cepat kembali ke peternakan, Mira...suamimu tenar dan sangat terkenal di sini...banyak perempuan cantik mengejar-ngejar dia."
"Pesona seorang Matsuyama lebih terasa saat sudah menikah dan saat sudah menjadi seorang ayah ketimbang waktu masih single dulu." Kata Serafin.
"Serius mereka mengejar-gejar Matsuyama bu?? berani-beraninya mereka mau mengambil Matsuyama dariku!!" geram Almira.
"Mira sekarang bukanlah lagi Mira yang dulu yang hanya diam saat miliknya dijamah oleh wanita lain." Kata Mira berapi-api.
Matsuyama yang mendengar itu jadi tersenyum bahagia melihat istrinya cemburu.
Aku tuh bukan tipe suami yang gampang tebar pesona kemana-mana, sayangku...pada saat kita menikah kita sudah berjanji untuk sehidup semati...yah buat abang, kamu lah cinta pertama sekaligus cinta terakhir buat abang!!" dia memeluk Almira dari belakang dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Almira.
"Ihhh apaan sih bang... malu tau sama ibu!!" kata Mira tetapi wajahnya sudah merah seperti udang direbus.
"Ya sudah...nanti dulu kalian bermesraannya, panggil dulu kakek dan Xander untuk makan bersama!!" kata Serafin.
"Kenapa Rafa tidak ikut kemari lagi, Mira?? padahal ibu sangat terhibur mendengar celotehannya...ibu kehilangan momen untuk mengasuhmu dan Xavier saat kalian masih kecil dulu, Mira...itu semua gara-gara Hikaru ratu keparat itu yang memporak porandakan kehidupan keluarga kita!!" geram Serafin.
"Sudahlah bu, yang pentingkan bang Matsuya telah memusnahkan ratu Hikaru!!" kata Almira menenangkan hati ibunya.
"Ada apa ini??" tanya Giandra yang masuk sambil menggendong Xander yang tertidur.
"Ngga yah...ibu hanya sedih tidak bisa merasakan momen membesarkan Mira dan Xavier saat mereka masih kecil dulu!!" kata Serafin.
"Ngga apa-apa bu...sekarang kan sudah ada Xander cucu ibu dan ayah, doakan saja malam ini Matsuya berhasil menembakan rudal tepat sasaran ke benteng pertahanan istri Matsuya yang cantik ini...sebab dua bulan kemarin Matsuya ngga sempat tanam rudal keburu Almira pergi mengantar Rafa pulang ke mansion, nanti malam titip Xander dulu ya bu...yah...biar kita berdua bisa buat dedek bayi untuk teman Xander..." ucap Matsuyama seperti biasa dengan tidak tau malunya membuat Almira merasa sudah tidak berpijak di lantai lagi sangking merasa sangat malu pada kedua orang tuanya.
"Kalian berdua tenang aja...serahkan saja Xander biar tidur sama ibu dan ayah...kalian berdua kerja keras malam ini ya...siapa tau punya Matsuyama sekali tanam langsung tokcer!!" goda Giandra pada mereka berdua.
"Ayah..."
Almira cemberut mendengar godaan ayahnya membuat mereka semua mentertawakan Almira yang bertambah imut dalam mode marah seperti itu!!"
Matsuyama sangat bersyukur istri dan putranya sudah kembali ke sisinya lagi, mau gangguan setinggi gunung Himalaya sekalipun akan dia hadapi demi melindungi keluarga yang sangat dia cintai.
Mungkin bagi Almira dia hanya yang kedua tetapi baginya, Almira akan jadi yang pertama sekaligus yang terakhir dalam hidupnya.
Mengenal Almira dan bersahabat lalu menikah dengannya merupakan suatu anugerah terindah bagi Matsuyama.
*
*
****Bersambung...
So sweet😍😍 moga kalian bertiga akan bahagia ya!!
Jangan lupa dukungannya yang reader...like, komen, vote, favorit dan rate nya🙏🙏
__ADS_1
Jangan lupa mampir guys di novel terbaruku yang berjudul "MAAF ATAS DUSTAKU"
.