
"Hiro...tolong jaga dia untukku karena mungkin dia tak ingin aku mendekatinya lagi, seperti janjiku waktu itu...aku tetap akan mencintainya dan selalu mengenangnya walaupun kini dengan cara yang berbeda!!"
"Kamu tak usah khawatir Xavier, aku akan mengikutinya diam-diam...aku takut anak buah ratu Hikaru akan menculiknya." Lalu Hiro melesat pergi secepat hembusan angin menyusul Almira yang berlari membabi buta entah kemana tujuannya.
"Maafkan kakak Almira, maafkan kakakmu ini!!" Giovanno menatap kosong kearah lautan lepas.
"Berteriaklah nak, jika itu mampu mengurangi beban hidupmu, lepaskan beban yang menghimpit di dadamu." Kojiro menepuk pundak putra angkatnya itu memberinya semangat dan kekuatan.
"Mengapa semua harus jadi seperti ini ayah? Aku temukan adikku tapi aku kehilangan kekasihku...Gio tak pernah jatuh cinta pada wanita manapun ayah, Gio berharap Almira yang pertama dan akan jadi yang terakhir."
"Gio ingin bersama dengan Almira hingga maut memisahkan, padahal Gio berencana untuk melamar Almira saat usianya tepat 18 tahun nanti, Gio ingin menikah muda dengan Almira ayah, tapi takdir mengapa harus jadi seperti ini?"
Suara serak Giovanno yang menahan gejolak hatinya dan bahunya yang bergetar menahan isaknya membuat Kojiro yang sudah menganggap Giovanno sebagai putranya pun seolah ikut merasa luka hati yang dirasakan oleh putranya itu.
"Jiro...mana anak si Kakegawa itu? Bagaimana caranya aku untuk menghubunginya kalau ponselnya pun tertinggal di sini?" Kakek Dahlan berteriak dari dalam rumah.
"Kenapa si Hiro ini harus ketiban oon seperti ini coba, yang bermasalah siapa? Yang panik kok dia!!" Kakek Dahlan masih mengomel sambil berjalan mondar-mandir tak bisa diam.
"Kau ini seperti pohon dilanda tsunami, meliuk-liuk seperti ular keket saja...coba diam, aku jadi ikutan pusing melihatmu begitu." Kakek Kojiro berteriak dari pantai.
"Ular? Iya...kenapa ngga kepikiran sama Kadir ya? Kusuruh saja Kadir mencari induknya yang sedang galau itu." Wajah kakek Dahlan kembali berseri-seri.
"Di mana pantat kuali itu tidurnya ya? Kalau ngga dicari ada saja keliaran di dalam rumah, tapi kalau dicari susahnya setengah mati." Kakek Dahlan tampak sibuk memasukan tangannya kebawah kolong ranjang meraba-raba ketika ada rasa sakit di tangannya.
Dengan cepat dia menarik tangannya keluar dan benar saja Kadir ikut tertarik keluar sambil menggigit tangan sikakek.
"Anak sialan...lepaskan ngga tanganku dari mulut jelekmu kalau ngga mau melepaskan juga sebentar kuketok kepalamu pakai entong sayur ini." Kakek Dahlan mengambil ancang-ancang untuk memukul. Dan seolah mengerti, anak ular cerdas itu melepaskan tangan kakek Dahlan dari gigitannya sambil mendesis kesenangan.
"Senang loe tong...karena berhasil menggigit tanganku, hah???"
"Sana kamu pergi cari indukmu, dia lagi galau berat...jangan sampai kamu pulang bawa kabar tak enak ya!! Langsung kamu kujadikan sate jika terjadi apa-apa pada bocah sableng itu.
Sssss...ssssss
__ADS_1
Kadir meliuk-liukkan badannya seolah memberi tanda.
"Apa sih Kadir? Mau apa lagi pantatnya panci ini?" Kakek Dahlan bingung.
"Kamu lapar?" Tanya kakek Dahlan lagi.
Ssssss...sssss
Makanya jadi ular aja belagu, maunya makan nasi sama ikan...biasanya tuh makanan ular itu kalau ngga kodok ya tikus, ini malah nasi sama ikan."
"Ya sudah kamu makan dulu lalu cari emakmu ya!!" Kakek menaruh semangkok rebusan nasi dan ikan agar dimakan oleh Kadir.
Sementara itu...
Almira sedang duduk di atas batu karang sambil merendam kaki mulusnya. Dia termenung sambil memandang kelaut lepas.
Hatinya boleh galau tingkat dewa tapi telinganya masih berfungsi dengan baik, dia mendengar gesekan sesuatu di balik batu karang di sebelahnya walau gesekan itu sangat halus nyaris tak terdengar oleh telinga biasa.
Akhirnya Hiro keluar dari tempat persembunyiannya dan menghampiri Almira.
"Hebat sekali indra pendengaranmu bisa mendengar gesekan tanganku di batu karang tadi?" Hiro duduk di batu karang di sebelah Almira.
Mira menoleh pada Hiro, matanya tampak sayu dan wajah cantiknya terlihat pucat dan kuyu. Rambut hitam panjangnya melambai-lambai di terbangkan angin menebarkan wangi yang menyegarkan.
"Ada apa kamu menyusulku kemari Hiro? Apakah kakek menyuruhmu menyusulku?" Tanyanya parau.
"Kakakmu yang menyuruhku menyusulmu!!" Jawab Hiro memandang wajah cantik itu sebentar lalu kemudian menunduk sambil memainkan kakinya di dalam air.
"Kenapa bukan pak Xavier...eh kak Giovanno aja yang menyusulku kesini?" Ada nada ratapan dalam setiap ucapannya. Tapi tak ada setetes air matapun yang mengalir dari dua kelopak bola mata indahnya.
Tapi Hiro tau, gadis dingin, jutek dan keras kepala itu sedang berperang melawan batinnya sendiri.
"Mira, jika kamu ingin menangis maka menangislah...jika kamu ingin berteriak maka teriaklah...aku tau luka di hatimu!!" Hiro menatap gadis yang diam-diam dicintainya itu.
__ADS_1
"Tau apa kamu soal hatiku Hiro? Tak selamanya kesedihan harus dilampiaskan dengan tangisan dan air mata...tak selamanya pula kesedihan harus diungkapkan dengan teriakan supaya terlihat lega, aku lebih memilih diam sendiri di tempat sunyi begini untuk menenangkan diriku." Almira menatap lurus dan kosong kedepan.
"Inikah yang berkali-kali ingin kamu sampaikan padaku Hiro?" Tanya Almira tanpa melepaskan tatapannya kelaut lepas.
Ehemmm...
Hiro tak mampu menjawab pertanyaan itu. Diapun merasa bersalah, jika saja dia cepat memberitahukan kenyataan jika mereka berdua bersaudara jauh sebelum cinta di antara mereka tumbuh semakin dalam, tentu rasanya tak sesakit ini.
"Maafkan aku Mira!!" Ucap Hiro pelan.
"Di sini tak ada yang bisa di salahkan Hiro, ini sudah merupakan garis kehidupan...mungkin Allah punya rencana lain untuk hidup kami kedepannya." Almira tersenyum pahit.
Setegar apapun gadis cantik itu, tapi dia tetap seorang manusia terlebih lagi dia seorang wanita yang mudah terluka hati dan perasaannya.
Air mata perlahan runtuh juga membasahi kedua pipinya yang terlihat sangat pucat. Tapi secepat itu juga air mata itu dihapusnya dengan jari telunjuknya.
"Mira, hari sudah menjelang senja...sebentar lagi maghrib kita cari tempat berteduh dulu yuk...lihat mendung juga menggantung sepertinya akan turun hujan." Kata Hiro.
"Aku di sini saja Hiro, kalaupun ada badai yang mau membawaku sekalipun aku sudah tak peduli." Ucap Almira pasrah.
"Kamu tak peduli walaupun badai akan membawamu, tapi aku peduli Mira...aku yang takut kehilangan kamu karena aku..." Hiro menggantungkan kata-katanya sesaat.
"Karena kamu kenapa Hiro?" Jawab Almira pelan.
"Karena aku mencintaimu Almira!!" Hiro buru-buru membuang pandangannya kearah lain tak mau beradu pandang pada pemilik mata boneka tapi tajam seperti elang itu karena dia selalu mati kutu jika sudah ditatap dengan tajam oleh Almira.
*
*
***Bersambung...
Jangan lupa mampir, baca setelah itu berikan like, komen, vote, favorit dan ratw nya🙏🙏
__ADS_1