Mr.Playboy Vs Miss.Dingin

Mr.Playboy Vs Miss.Dingin
Bab 180 Terbongkar


__ADS_3

"Siapa itu bu??" tanya Matsuyama yang baru selesai mandi dan ikut memandang keluar jendela.


"Sepertinya Revita kenal kedua orang itu!!" kata Revita.


"Iyakan Xander??" katanya pada saudara kembarnya itu!!"


Anak-anak Almira itu pada dasarnya adalah anak-anak yang sangat cerdas dan mempunyai daya ingat yang luar biasa.


"Iya Candel ingat...abang itu kan yang ada di dalam utan waktu itu cama kita kan Levita??" jawab Xander dalam mode cadelnya.


"Ngapain di dalam hutan sama mommy??" tanya Matsuyama tak bisa menutupi rasa cemburunya.


"Daddy ingatkan waktu Revita, mommy sama Xander mau kesungai terus daddy jagain dede Miranda??" tanya Revita.


"Nah babang yang ganteng itu disandera oleh orang jahat terus kakak cantik itu lagi mencari adiknya si babang ganteng yang masuk perangkap dan tergantung di pohon."


"Kakak cantik bertempur dengan musuh yang menyandera babang ganteng, terus mommy sama Revita dan Xander ngelepasin babang ganteng dari perangkapnya terus waktu balik kearah sungai Xander digendong sama babang ganteng itu!!"


"Terus ngapain mereka sampai di sini ya?? jangan-jangan babang ganteng itu suka sama mommy Mira lagi sebab waktu itu Revita liat itu babang ganteng ngeliati mommy Mira ngga kedip-kedip!!" sahut Revita.


"Revita....jangan jadi kompor mleduk ditengah hujan deh...nanti ada yang meledak!!" sahut Giandra memperingatkan perkataan cucu cantiknya itu apalagi dia lihat wajah Matsuyama sudah memerah.


"Kacihan meleka kek...di lual sangat dingin....nanti meleka bica mati kaku!!" kata Xander menimpali.


Lalu tanpa persetujuan daddy, kakek dan neneknya, Xander dan Revita mengambil dua payung dan lari ke luar menembus hujan.


"Aduh...anak-anaknya Almira ini ngeyel sama kayak mommynya!!" kata Serafin akhirnya mengikuti mereka sampai ke teras rumah.


"Kakak cantik...babang ganteng...ayo masuk ke dalam?? nanti kakak berdua di luar kedinginan terus masuk angin terus sakit!!" kata Revita sambil menyerahkan payung di tangannya.


Dua orang muda mudi di luar yang ternyata adalah Rana dan Rini menajamkan penglihatannya untuk mengenali penolong kecilnya itu.


"Lho...kalian kan Revita dan Xander putra dan putrinya kak Mira!!" kata Rana gembira sementara Rini juga ikut gembira.


"Jadi kalian tinggal di sini??" tanya Rini sambil menerima payung yang disodorkan oleh Revita.


Walaupun tubuh mereka sudah basah kuyup tetapi mereka senang bisa dapat tumpangan berteduh sementara di tengah badai seperti ini.


"Iya kami tinggal di sini, itu nenek kami yang sedang menggendong adik bayi!!" kata Revita lagi.


Lalu mereka berempat melangkah masuk ke halaman. Persis seperti yang dikatakan Serafin, bangsa siluman seperti mereka bisa masuk daerah yang dilindungi seperti peternakan ini kecuali atas seijin yang punya tempat.


Permisi bibi...bolehkah kami numpang istirahat di sini sementara badai belum reda?? kami tidak mempunyai tujuan pasti di tengah badai begini!!" kata Rana dengan sopan.


"Jika kami tidak diperkenankan untuk masuk, berteduh di teras begini pun kami tak ada masalah...selepas badai kami segera pergi!!" kata Rini menambahkan.


Tak lama Giandra keluar dan disusul ole Matsuyama.

__ADS_1


"Kau...!!


Teriak mereka bertiga bersamaan.


Mereka bertiga sudah memasang kuda-kuda untuk kembali bertarung seperti waktu itu.


"Ada apa ini??" tanya Giandra.


"Merekalah pembunuh kedua orang tuaku, ayah!!" teriak Matsuyama penuh dendam.


"Apa?? membunuh teriak pembunuh...bukankah kamu yang telah membunuh ibu kami??" kata Rini tak kalah garang.


"Stop...stop...stop!!" teriak Rana menengahi.


Sepertinya ada kesalah pahaman di sini!!" teriak Rana menyaringkan suaranya untuk mengalahkan gemuruh hujan.


"Sudah...sudah...mari kita bicara di dalam saja jangan berbicara sambil berdiri begini seperti tidak punya pantat saja!!" teriak Giandra.


"Bu, tolong ambilkan baju kering untuk keduanya dan kamu Matsuyama...tenangkan dulu dirimu!!" kata Giandra.


Akhirnya walaupun mereka bertiga masih dalam kondisi yang panas mereka menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu dulu.


"Kalian semua duduklah dan sekarang berceritalah apa yang telah terjadi!!" ajak Giandra pada ketiganya.


"Begini yah...ayah ingatkan sewaktu Matsuya keluar dari perut ular sanca raksasa yang bernama Sinoe itu?? Matsuyama tidak membunuhnya, bagaimanapun bencinya Matsuya pada Sinoe tetapi pantang bagi Matsuya untuk membunuh mereka yang sudah tidak berdaya!!"


"Waktu kita pergi meninggalkan Sinoe saat itu, ular itukan masih dalam keadaan hidup lalu kemudian ada yang memanfaatkan keadaan itu untuk membunuh Sinoe yang dalam keadaan tak berdaya dan terluka, mereka memenggal kepala Sinoe dan menyebar fitnah bahwa Matsuyalah pembunuhnya."


"Gara-gara mereka jugalah sampai Matsuyama berhubungan intim dengan Bonita dan mengkhianati Almira istri Matsuya!! semua itu gara-gara panas dan demam tinggi yang Matsuya alami sehingga Matsuya tidak menyadari semuanya telah terjadi!!" geram Matsuyama.


"Dan mereka jugalah yang telah membunuh kedua orang tua Matsuya!!" teriak Matsuyama dengan tangan terkepal dan dada menggemuruh karena dendam.


"Tapi kami berdua tak pernah mendatangi perguruanmu apalagi membunuh kedua orang tuamu, memang kami akui saat itu mencederaimu karena dendam kami padamu mendengar ibu kami terbunuh olehmu!!" teriak Rini tak mau kalah.


Sementara Rana tertegun saat Matsuyama menyebut satu nama seorang wanita dan mengatakan bahwa wanita itu adalah istrinya.


Giandra mengetuk-ngetuk dagunya perlahan berusaha mencerna perdebatan kedua orang yang saling tidak mau mengalah dalam bicara itu.


"Dasar ular...kalian pandai sekali bersilat lidah licin seperti tubuh kalian!!" teriak Matsuyama.


"Kami memang siluman ular...tubuh kami menang licin tetapi kami tidak licik sepertimu!!" teriak Rini lagi tak mau kalah.


"Stop...cukup kalian bertengkarnya!!" teriak Giandra keras untuk menghentikan keributan kedua orang itu karena tak ada yang mau mengalah.


"Saya serahkan dulu kamu untuk bicara, Rana...dan kamu Matsuyama dan Rini diamlah dulu makan saja ubi rebus itu, mengunyahlah sambil mendengarkan Rana bicara." Kata Giandra kesal pada keduanya.


"Aku ngga makan ubi rebus kek, eh tuan!!" kata Rini serba salah memanggil Giandra.

__ADS_1


"Kenapa kamu bingung memanggil saya begitu, Rini??" tanya Giandra heran.


"Jelaslah kakak cantik ini bingung memanggil kakek dengan sebutan apa...wajah tampan kakek itu seperti laki-laki yang masih berumur tiga puluh tahunan...dan bukan seperti wajah kakek-kakek yang berusia lima puluh tahunan...begitu juga dengan nenek Serafin." Kata Revita sambil tertawa geli.


"Kami di sini senang makan sesuatu yang direbus Rini supaya tidak kolesterol dan diabetes!!" ucap Giandra.


"Bicaralah Rana!!" katanya lagi.


"Paman..." kata Rana mengambil jalan tengah panggilannya, tidak memanggil kakek juga tidak memanggil tuan.


"Paman tau kan kami bangsa ular saling merekam kejadian lewat tatapan mata kami...jika salah satu dari kami mati dan tidak tau siapa yang membunuh...di mata kami sudah terekam semua kejadian itu asalkan mata kami tidak dihancurkan, kami masih bisa saling memberi tahu."


"Dan aku sudah mengecek dari mata ibunda kami yang kepalanya terpotong waktu itu, tak ada Matsuyama...justru aku melihat ada beberapa orang berjubah hitam yang menebas kepala ibu kami walaupun ibu sudah dalam keadaan tak berdaya akibat luka robek diperutnya!!" ucap Rana sambil meneteskan air mata.


"Lalu mengenai pembunuhan kedua orang tua Matsuyama itu, aku juga melihat sepertinya pembunuh itu orang yang sama atau setidaknya kostum yang mereka pakai itu sama!!" ucap Rana.


"Kami bahkan tiba di perguruan ayah Matsuyama saat mereka berdua telah dimakamkan!!" kata Rana lagi.


"Akulah yang telah memakamkan kedua orang tuaku!!" kata Matsuyama setelah sekian lama berdiam diri.


"Sepertinya ayah merasa ada yang tak beres di sini!!" kata Giandra.


"Ada pihak lain yang memanfaatkan keadaan ini dan mengambil keuntungan untuk kelompok atau diri mereka sendiri...karena mereka tau baik Matsuyama maupun Rana dan Rini adalah lawan yang tangguh maka mereka lalu mengadu domba antara kakak beradik ini dan Matsuyama." Kata Serafin setelah ikut menyimak pembicaraan mereka berempat.


"Pertanyaannya, siapa mereka itu??" tanya Giandra pada mereka semua.


"Mereka itu ada ekornya, kek!!" kata Revita nyeletuk.


"Revita!!" kata Serafin.


"Tapi Levita benal nek...Candel juga pelnah melihat ekol meleka waktu di utan!!" kata Xander membenarkan ucapan Revita.


"Berekor?? masa mereka adalah kelompok siluman kera??" kata Rana.


"Sebab aku selama perjalanan sering mendengar sepak terjang juga kelicikan mereka!!" kata Rana.


Sementara Rini yang masih kesal dan marah pada Matsuyama memilih untuk diam saja.


Rana pun sering mencuri pandang pada wajah Matsuyama. Dalam hatinya meringis sedih.


"Dia manusia...aku hanya siluman!! Dia sangat tampan sementara wajahku hanya pas-pasan!!" mendadak Rana merasa rendah diri.


*


*


***Bersambung...

__ADS_1


Akhirnya kesalah pahaman antara Matsuyama dan kedua anak Sinoe itu berakhir, dapatkah mereka mengungkap dalang di balik semua masalah itu?


Jangan lupa dukungannya ya reader tercinta🙏🙏


__ADS_2