
Stevi langsung mengerucut mendengar bentakan Hiro.
"Sekali lagi kudengar kamu menghinanya, kumandikan kalian bertiga pakai air comberan, dan aku tak pernah main-main sama ancamanku...ingat itu!!"
Lalu Hiro meninggalkan kerumunan orang banyak menyusul Almira.
"Wuidih...habis makan apa tuh kembaranmu? sate buayakah atau rendang singa? galak bener hari ini!!" Levia tertawa sementara Sima mengerucutkan bibirnya.
"Tampaknya cinta sudah membuat hati dan mata Hiro jadi katarak, perlu di kerok pakai parang kayaknya katarak si Hiro."
"Atau mandikan dia pakai air sekontainer, biar melek dan bangun sekalian," kata Levia.
"Weleh nona...buang-buang air aja, getok aja kepalanya pakai highheels yang kamu pakai itu niscaya dia segera sadar." Sima memanyunkan bibirnya.
"Mir...Mira...!!"
Hiro mengejar Almira. Almira berhenti lalu memutar badannya menghadap Hiro.
"Kenapa kamu membiarkan mereka menghinamu, melecehkanmu dan terang-terangan menyindirmu?" tanya Hiro masih geram.
"Apakah jika aku marah, aku memukul mereka semua...abangku akan kembali menjadi kekasihku? tidak kan? semua tidak akan pernah berubah!!" jawab Almira pasrah.
"Ya sudah, aku ke kelas duluan ya Hiro...aku mau duduk, rasanya aku lelah sekali pagi ini!!" lalu Almira melangkah dengan gontai meninggalkan Hiro menuju kelasnya.
"Hei...melamun saja!"
Alia menepuk bahu Almira dan duduk di samping gadis itu.
"Ada salam dari Rafa...dia selalu menanyakanmu!! sudah sebulan ini kamu tak ada menjenguknya, dia selalu menangis mencarimu!!"
Aku tersentak, aku baru ingat kalau aku telah lama tak mengunjungi Rafa. Aku hanya malas bertemu dengan daddynya yang sok kegantengan itu.
"Bagaimana kabarnya anak itu, Alia? tanya Almira.
"Rafa sekarang sering menangis...dia selalu mencari dan memanggil-manggil namamu."
"Eh ngomong-ngomong....aku turut berduka ya, aku tak menyangka kamu dan pak Xavier itu saudara kandung!! pantas wajah kalian itu mirip."
"Lalu di mana abangmu itu sekarang? katanya dia sudah berhenti mengajar..."
Aku menggeleng lemah, aku tidak tau di mana dia...yang jelas dia sudah pergi bersama ayah angkatnya kembali ke Jepang.
"Apakah suatu hari nanti dia akan kembali?" tanya Alia.
"Mungkin..." jawabku.
"Mungkin jika nanti dia sudah mampu melupakan hubungan kami baru dia akan kembali."
"Kenapa kamu ngga terima aja cintanya abang gue? dijamin tak akan ada masalah apapun!!" kata Alia.
__ADS_1
"Kamu mau nyuruh aku ribut sama Valeria? Secara Valeria masih sayang dengan tuan Aliandhara."
Obrolan kami terputus saat dosen datang. Aku mengikuti mata kuliah dengan setengah hati. Rasa rindu menyeruak di saat begini biasanya dia mengomel jika aku dan Alia ketauan ngobrol di kelas.
Hingga tiba saat istirahat. Aku melangkah gontai ke taman tempat biasa kami duduk. Tempat biasa dia menyuapiku sampai aku kenyang.
"Pak Xavier, aku kangen!!" desahku pelan seolah hilang ditelan desiran angin yang berhembus.
"Kamu lapar? sini aku suapi!!"
Hiro datamg sambil membawa kotak makanan.
"Maaf aku terlambat, aku ribut dulu dengan Sima."
"Dia pasti tak setuju kamu dekat denganku, iya kan??" jawabku.
"Ngga usah dipikirkan Mira, ini hidupku bukan hidup Sima!! dan dia tidak berhak mencampuri urusanku apalagi urusan percintaanku."
"Duduklah, kita makan dulu!! aku akan menyuapimu." Senyum Hiro merekah menatapku.
"Hiro, pulang nanti aku mau singgah ke mansion tuan Kelvin...aku ingin bertemu Aliarafa." Kataku.
"Bertemu Aliarafa kan?? bukan Aliandhara??" Hiro menegaskan perkataannya.
"Iya Aliarafa...untuk apa aku bertemu Aliandhara?? kayak ngga ada kerjaan aja.
*
*
Mereka berdua sejak kemarin tak ada beristirahat karena mereka tak mau tersesat di dalam hutan dan tak bisa keluar dari sana.
Sepasang suami istri itu memakai caping bambu yang lebar selain bisa menahan teriknya matahari juga agar mereka tak mudah dikenali
"Itu ada warung yah, sebaiknya kita berhenti untuk mengisi perut kita!!"
Sang suami hanya mengangguk setuju. Mereka masuk tanpa banyak bicara dan segera makan dengan cepat karena Serafin melihat ada beberapa pasang mata sedang mengawasi mereka
"Yah, sebaiknya kita segera tinggalkan tempat ini...searah jarum jam aku melihat beberapa orang sedang makan tapi aku tau mereka sedang mengawasi kita.
Lalu lima orang berpakaian ungu gelap itu keluar mendahului Serafin dan Giandra.
"Sera, perasaanku ngga enak!! sepertinya kita akan dihadang sesuatu sekeluarnya dari warung ini nanti.
"Ayah ngga usah khawatir, selama kita masih bersama kita akan kuat."
Sang istri berusaha untuk terus menguatkan sang suami. Dan benar saja di tikungan jalan sepi mereka berdua dihadang oleh lima orang yang mereka lihat di warung makan tadi.
"Serahkan samurai kembar dan kitab 1000 pengobatan milik tabib Megumi."
__ADS_1
Salah seorang dari mereka mengangsurkan tangannya meminta pada Serafin.
"Hari gini minta...belilah...apa sih yang gratis sekarang? berak aja bayar apalagi samurai sakti sama kitab obat-obatan?" sahut Giandra.
"Kurang ajar kau buta, sudah buta...pembualan pula, emang kamu mengerti uang? jalan aja pakai tongkat!!"
Giandra menyahut tak mau kalah, "aku memang buta tapi aku berani bertaruh bahwa tampangku sepuluh kali lipat lebih bagus dari kalian berlima, ya kan?"
Salah satu dari mereka berbisik, "kok dia tau ya kalau tampang kita jelek semua, tampang kita sih kalau diberi nilai, minus semua ngga ada bagus-bagusnya...aku jadi minder!!"
Plak...
Teman di sebelahnya menepuk kepala botak temannya dengan ujung kipasnya.
"Apa sih kipas besi?? sakit tau!!"
Makanya jangan suka merendahkan diri sendiri, percaya diri dikit napa!!"
Dewi racun yang jadi pemimpin mereka berdecak kesal pada anak buahnya. Lalu dia maju pada Giandra dan Serafin.
"Kamu buta, tapi memang wajahmu sangat tampan...kulihat matamu itu masih bisa disembuhkan, jika aku bisa menyembuhkan matamu...maukah kau ikut denganku tampan?" Dewi racun senyum-senyum menjijikan.
"Oh tidak, terima kasih...jika aku bisa sembuh dari kebutaanku tapi hanya untuk melihat tampang kalian semua lebih baik aku tak usah sembuh sekalian.
"Sudahlah cepat serahkan kitab dan samurai itu kalau kalian sayang nyawa."
"Boleh, tapi langkahi dulu mayat kawanmu yang botak bergigi tonggos itu!!"
"Hah??? kok aku sih?" sibotak langsung memegang giginya.
Sementara Serafin hanya diam jadi pendengar tapi dalam hatinya bertanya-tanya mengapa yang diucapkan oleh suaminya kok bisa benar semua? Seolah suaminya itu tidak buta.
"Aku sudah muak berdebat dengan kalian, cepat serahkan!!" teriak Dewi racun lantang.
Sreeetttt...
Serafin mencabut dua samurai kembar yang tergantung di pinggangnya.
"Kau mau ini? ambillah dariku jika kau mampu, Dewi racun...aku mau lihat seberapa dahsyat racunmu mampu menandingi ketajaman dua samuraiku."
Empat anak buahnya yang lain bergerak mengepung Serafin dan Giandra.
"Hei botak, kamu mau maju duluan? biar kupukul kepala botakmu itu dengan tongkat di tanganku ini?" sentak Giandra.
*
*
***Bersambung...
__ADS_1
Apakah kedua suami istri itu kelak bisa bertemu dengan Giovanno putra angkat mereka?
Ikuti terus kisahnya ya...jangan lupa tekan like, komen, vote, favorit dan rate nya...🙏🙏🙏