
Hari ini daddynya Aliarafa Antonio duduk menungguku yang sedang lelap tertidur bersama putranya. Dia benar-benar mengcancel semua jadwalnya hanya demi menemaniku hari ini.
Dipandangnya wajah cantik yang sedang pulas tertidur itu. "Ada apa sebenarnya denganku? Aku sungguh tak rela jika Almira didekati oleh laki-laki manapun, egoiskah aku?"
Sementara di tempat yang berbeda...
"Xavana....aku bosan dengan kehidupan yang begini terus!!! Aku selalu kamu tinggalkan sendirian sementara kamu bebas bersama dengan wanita-wanita lainnya..." Seorang wanita cantik berusia 30 tahunan tampak sedang bertengkar dengan kekasihnya.
"Valeria...bukankah dari awal kita telah berkomitmen menjalani hidup tanpa pernikahan? Kamu tau aku tak ingin terikat oleh apapun, apalagi dengan yang namanya pernikahan."
"Kita menjalani semua atas dasar suka sama suka."
"Kamu memberikanku kepuasan dan aku memberimu segala kemewahan...impaskan?"
"Jadi terserah aku mau bercinta dengan wanita manapun yang aku suka."
"Jika kamu merasa sudah tak nyaman dengan hubungan kita, silakan kamu pergi atau jika mau kembali kepada suami bodohmu itu, ya juga silakan."
"Aku tak pernah menahan siapapun untuk tetap bersamaku termasuk kamu Valeria."
"Jahatnya kamu Xavana!!! Aku mencintaimu makanya aku menuruti semua perintahmu termasuk menjadi mata-mata dan menikahi Aliandhara."
"Apa itu cinta Valeria? Orang sepertiku tak pernah mengenal cinta, karena semua bisa kubeli dengan uang."
"Jika kamu mau kembali padanya silakan Valeria, aku juga sudah bosan padamu."
"Sungguh kau manusia tak punya hati, Xavana..." Valeria menjerit dengan air mata yang sudah tak bisa lagi dibendungnya.
"Aku menyesal sudah mengikuti semua kemauanmu, jika tau akan begini...aku lebih baik memilih hidup bersama dengan Aliandhara walau aku tak pernah mencintai dia."
Xavana membalikkan badannya dan berlalu.
"Kamu mau pergi kemana? Pembicaraan kita belum selesai, Xavana!!"
"Aku mau pergi bersenang-senang...aku bosan mendengarkan ocehanmu yang tak bermutu itu."
Valeria menangis terisak. "Maafkan mommy ya Rafa??" Sudah sebesar apa sekarang kamu anakku?" Kalau mommy tidak salah, dua hari lagi adalah hari ulang tahunmu yang ke dua."
"Aku harus kembali bersama dengan mereka lagi, aku tau Aliandhara masih mencintaiku...tentu dia akan memaafkanku dan menerimaku kembali."
"Di hari ulang tahun Rafa, aku akan membuat kejutan pada mereka semua dengan kedatanganku."
*
*
Xavier baru saja selesai berlatih seorang diri di doujou kediaman keluarga Anderson.
"Ilmu bela dirimu semakin hebat saja Xavier, tentu akan sangat membantu dalam menghadapi musuh-musuh keluarga kita."
__ADS_1
"Kak Xavana...kapan kakak datang?" Sudah seminggu kakak tak mampir kemari."
"Aku sibuk dengan bisnis keluarga kita, kamu tak mau membantuku malah lebih memilih menjadi dosen."
"Maafkan aku kak, tapi sumpah aku sama sekali tak tertarik dengan dunia bisnis...aku lebih nyaman dengan duniaku yang sekarang."
"Apa kakak sendiri datang kemari? Atau bersama kak Valeria?"
"Aku kemari dengan pengawalku saja, Valeria lagi ngambek di apartemen."
"Ayah ada di mana Xavier? Kok sejak tadi ngga nampak?"
"Ayah sedang berada di paviliun belakang, ke sanalah jika ingin menemui beliau.
Sepeninggal Xavana, Xavier duduk bersila di tengah ruangan. Matanya terpejam berusaha menenangkan pikirannya dan hanya tertuju ke satu titik yaitu yang Maha Menciptakannya.
"Aduh...kenapa aku tak bisa memusatkan pikiranku untuk berkonsentrasi ya? Bayangan gadis itu lalu masalah penyusup gelap yang ada di kampus."
"Bagaimana caranya aku mengenali mereka di antara sekian banyak mahasiswa dan mahasiswi di kampus itu?"
"Aku yakin, Almira akan menjadi sasaran mereka selain Alia."
"Aku akan berusaha untuk melindungimu Almira, bagaimanapun caranya itu."
Karena tak bisa lagi berkonsentrasi, akhirnya Xavier berdiri di sisi kiri duojuo yang menghadap ke arah matahari terbenam. Dipejamkannya lagi matanya menuju ke satu titik...Almira.
Almira tersentak dan tiba-tiba terbangun dari tidurnya. "Xavier? Kenapa kok tiba-tiba aku ingat padanya ya?"
Dia menoleh ke samping, Rafa masih tertidur pulas di sampingnya.
Ditolehnya kearah sofa, "Dasar megalodon tua, katanya mau menjagaku dan Rafa ini malah ngorok di sana.
"Tapi kasihan juga orang tua itu, seharian ini dia benar-benar ada di rumah bersamaku."
"Padahal biasanya kalau ngga malam hari mana ada liat dia di rumah.
"Dasar mahluk purbakala yang menjengkelkan."
Aku turun dari pembaringan, tubuhku terasa lebih segar sekarang. Aku mau mengambil minuman yang selalu tersedia di dalam kulkas mini yang ada di kamarku.
Eeeemmmmm
"Astaghfirullah....megalodon gulet kaya bayinya paus." Aku tersenyum melihatnya.
"Jika dia dipandang dalam keadaan tidur begini dengan suasananya lebih tenang, dia tak selalu berisik dan heboh...ternyata dia ganteng juga ya!!"
Bulu matanya yang lentik, hidungnya yang mancung, dan bibir tipisnya yang menandakan kecerewetannya.
"Astaghfirullah...mommy....daddy pikir tadi malaikat maut yang mau nyabut nyawa daddy."
__ADS_1
Aku juga spontan kaget karena dia tiba-tiba membuka matanya.
"Mommy ngapain berdiri dekat banget dengan daddy? Mau membunuh daddy diam-diam ya!!"
"Atau mulai ada rasa suka sama daddy? Kalo suka bilang aja my, ngga usah pura-pura galak untuk menutupi perasaan di hati."
"Daddy juga suka kok sama mommy, cinta malah...besok kita ke KUA yuk my...semakin cepat semakin baik, niat baik dan itikad baik ngga boleh ditunda terlalu lama."
"Tuan muda ini ngomong apa sih? Jangan-jangan tuan ngelindur ya??" Aku memegang dahinya dengan belakang telapak tanganku lalu aku memegang pantatku sendiri..."Ngga panas kok, normal aja suhu tubuhnya."
"Perlu daddy bantu pegang pantatnya kah my, sini daddy pegang...."
"Nih..." Aku mengacungkan tinjuku di depan hidungnya.
"Mommy, dengan suami itu ngga boleh galak-galak...nanti kualat lho...nanti susah kalau mau melahirkan!!"
"Haduh" Aku menepuk jidatku.
"Begitu matanya melek, langsung mulutnya nyerocos sepeti burung beo lagi cari makan."
Aku lalu melangkah keluar dan meninggalkannya.
"My mau kemana? Kok daddy ditinggalkan sendiri?"
"Mau boker...tuan muda mau ikut?" Kataku menyeringai, karena aku tau dia tak suka mendengar hal yang menjijikkan.
"Ngga mau ah, jijik!!" Katanya.
"Ya sudah, tuan muda di situ aja bersama Rafa."
"Emang bener mommy mau boker?"
"Ngga...saya cuma mau cari kakek mau memeriksakan luka di bahu saya."
"Apakah benar-benar sudah sembuh atau belum."
"Biar daddy aja yang periksa my... daddy bisa kok!!"
"Nanti daddy periksa semuanya sampai ke lubang yang sekecil-kecilnya."
Aku berhenti di muka pintu.
"Lubang yang sekecil-kecilnya? Maksudnya pori-pori gitu? Kan yang terkena sabetan senjata tadi pagi itu bahu, bukan lubang-lubang."
Aliandhara tersenyum-senyum ngga jelas melihat kebingunganku. "Dasar masih bocil..." Katanya!!
***Bersambung...
Happy reading....jangan lupa setelah selesai membaca tekan like, komen, votenya jika ada, favoritnya dan ratenya...terima kasih🙏🙏
__ADS_1